Rahasia Perkawinan

Rahasia Perkawinan
Tetangga Baru Lagi


__ADS_3

Mbak Darmi perlahan membuka pintu rumah itu, seorang wanita muda sudah berdiri di depan pintu rumah itu sambil tersenyum ramah.


"Selamat malam, saya bu Marni Tetangga Sebelah, Kelihatannya baru pindah ya, Boleh saya kenalan?" tanya seorang wanita muda yang bernama Marni itu.


"Oh, kalau begitu Silakan masuk, kebetulan Bapak sama Ibu sedang makan malam, tidak apa-apa masuk saja!" ajak Mbak Darmi yang kemudian langsung membuka lebar pintu rumah itu.


Reno dan Novia yang cepat-cepat menyelesaikan makannya kemudian berjalan ke arah ruang tamu, wanita muda yang bernama Marni itu sudah duduk di ruang tamu itu.


"Maaf mengganggu makan malam kalian, Saya hanya ingin berkunjung saja ke tetangga baru, Maaf ya nggak bisa bantu-bantu saat pindahan tadi, soalnya saya baru pulang kerja!" kata Marni.


Mereka kemudian saling bersalaman dan duduk di ruang tamu itu, sementara Mbak Darmi ke belakang membuatkan teh hangat.


"Saya Novia, ini suami saya Mas Reno, Kami senang sekali, baru juga Pindah sudah dikunjungi Tetangga!" ucap Novia.


"Iya mbak, kalau saya sih sudah 7 tahun tinggal di sini, kalau nanti mau tanya-tanya seputar kegiatan lingkungan, boleh ditanyakan ke saya Mbak, atau mbak Novia mungkin ingin ikut arisan RT juga info saja ke saya!" kata Marni.


"Terima kasih Mbak Marni, Saya pasti akan sering mengobrol dengan mbak Marni!" jawab Novia.


Tak lama Mbak Darmi datang sambil membawakan teh hangat.


"Aduh kok repot-repot, orang saya cuma di sebelah saja kok!" kata Marni.


"Tidak repot kok, saya ini sudah lama bekerja sama Pak Reno dan Bu Novia, dari sejak Mas Reno Belum menikah saya sudah ikut dia!" ujar Mbak Darmi.


"Wah mantap sekali dong, Oh ya apakah Pak Reno dan Bu Novia punya anak? Kebetulan saya juga punya anak dua masih kecil-kecil, yang satu umurnya 6 tahun dan yang satu lagi tiga tahun, tapi saya dan suami sudah bercerai, sekarang saya janda!" ungkap Marni.


"Oh begitu, Saya juga punya anak umur 5 tahun lebih, tapi anak saya sedang menuju ke sini, diantar sama Omnya!" lanjut Novia.


"Oh ya? besok-besok ajak anaknya main ke rumah, pasti anak-anakku senang punya teman baru!" kata Marni


"Iya deh Mbak, besok pasti kita main ke sana!" Jawab Novia.


"Ya sudah kalau begitu, aku pamit ya, nanti anak-anakku pada nyariin lagi!" pamit Marni yang kemudian langsung berdiri dari tempatnya. Setelah itu dia berjalan keluar menuju ke rumahnya.


Tin ... Tin ... Tin


Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depan rumah Reno, ternyata itu adalah mobil David. David turun dari mobil itu sambil menuntun Vio.


"Maaf kami terlambat, tadi di jalan macet sekali, apalagi sedang hujan!" ucap David.


"Tidak apa-apa, Ayo masuk, Vio sudah lapar belum, makan yuk!" ajak Novia.


"Mama, sekarang kita tinggal di sini ya?" tanya Vio sambil memandang ke sekitar rumah itu.


"Iya sayang, mulai sekarang kita tinggal di rumah ini, Ayo masuk!" ajak Novia.


"Vio, Ayo masuk, Om juga mau masuk kok!" kata David.


Kemudian David menuntun Vio masuk ke dalam rumah itu, lalu mereka pun duduk di ruang tamu.


Sementara Reno sudah dari tadi duduk saja di ruang tamu, bahkan ketika Vio dan David datang pun, dia tidak beranjak menyambut mereka, entah apa yang dipikirkan Reno saat ini.


"Vio, Ayo ikut mama, mama mau antar Vio ke kamar Vio yang baru, Vio pasti suka!" ajak Novia.


Vio pun menganggukkan kepalanya, setelah itu dia mengikuti Novia menuju ke kamarnya yang mungil.


Vio mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar itu, kamar yang jauh lebih kecil dan sempit daripada kamar yang sebelumnya.


"Kok kamarnya jadi kecil ma?" tanya Vio.


"Tidak apa-apa kan di kamar yang kecil? besar atau kecil sama saja, yang penting kita bisa tidur nyaman!" jawab Novia.


"Kita sampai kapan tinggal di sini ma? terus kita kapan balik lagi ke rumah kita yang dulu?" tanya Vio lagi.


"Vio dengar mama, saat ini Kita pindah dari rumah lama ke rumah yang ini, karena rumah lama kita sudah jadi milik orang lain, jadi kita tidak bisa lagi pindah ke sana!" jelas Novia.

__ADS_1


"Lalu sekolahku Bagaimana ma?" tanya Vio lagi.


"Vio akan pindah sekolah di dekat sini, Besok Mama akan carikan sekolah baru untuk Vio, Nanti Vio akan ketemu teman-teman baru juga!" jawab Novia.


"Jadi aku bakalan pindah sekolah dong ma? aku tidak akan ketemu teman-teman lagi dong!" tanya Vio sambil menatap ke arah Novia.


Novia memeluk buah hatinya itu, sesungguhnya dia tidak tega mengatakan itu pada Vio, di dalam hatinya Vio pasti sangat kaget sekali melihat perubahan drastis dalam keluarganya, apalagi mereka pindah ke rumah yang jauh lebih kecil daripada sebelumnya, ada kesedihan di raut wajah Vio, namun Vio juga tidak mengutarakan apapun pada Novia.


Sementara itu di ruang tamu, Reno dan David nampak tidak saling bicara, Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing, Reno sibuk memainkan ponselnya Begitu juga dengan David, mereka terlihat saling sungkan satu dengan yang lain.


"Sorry Reno, tadi aku terlalu lama membawa Vio, apalagi dalam perjalanan begitu macet!" kata David membuka pembicaraan.


"Tidak apa-apa, Vio itu kan anakmu juga, Jadi kau berhak membawanya kapanpun kau mau!" jawab Reno.


"Yah, kita sama-sama tahu tentang masa lalu kita, Aku harap kedepannya kita akan semakin baik, Anggap saja Vio itu memiliki dua Ayah, meskipun aku Ayah biologisnya, tapi Vio tidak pernah tahu!" ucap David.


"Aku akan memberitahukannya, walau bagaimana dia harus tahu kebenaran ini!" sahut Reno.


"Kurasa tidak perlu, aku cukup senang dan bahagia jika Vio menganggap kau dan Novia adalah orang tua kandung, asal aku bisa dekat dengan Vio, itu sudah cukup bagiku!" ungkap David.


"David, dulu kau dan Novia pernah ada hubungan dan kalian pernah saling mencintai, dan Vio itu adalah buah cinta kalian, Jujur aku ikhlas jikalau mimpi yang tidak pernah terwujud dulu, suatu hari nanti akan terwujud!" ucap Reno.


"Apa maksudmu Bro?" tanya David.


"Kalau memang aku tidak mampu lagi untuk menafkahi mereka, aku titipkan Novia dan Vio padamu, lagi pula aku sudah tidak punya harapan lagi untuk memiliki anak, karena dokter sudah memvonis aku mandul!" jawab Reno.


"Kau ini kekanak-kanakan sekali Reno! Apa vonis dokter membuat hidupmu akan berakhir? Dasar bodoh!" sungguh David.


"David, aku tahu sebenarnya dalam hatimu kau masih sangat mencintai Novia!" ujar Reno.


"Terus kenapa? Kau pikir Cinta itu harus memiliki? Kau salah besar!" cetus David.


Tak lama kemudian Novia muncul dari kamar Vio lalu duduk diantara mereka.


"Syukurlah kalau dia tidur, aku jadi tenang!" sahut David.


"Mulanya dia agak sulit beradaptasi dengan kamar barunya, tapi lama-kelamaan dia bisa belajar dan memahami!" ucap Novia.


"Yah, itu semua karena kesalahanku!" gumam Reno.


"Mas Reno selalu saja menyalahkan diri sendiri! Padahal tidak ada orang yang menyalakan Mas Reno!" sungut Novia.


"Baiklah, berhubung hari sudah malam, sepertinya aku harus segera pulang, kalian secaralah baik-baik dari hati ke hati, Novia, bantulah Reno untuk menemukan rasa percaya dirinya kembali!" ucap David sambil berdiri dan menepuk bahu keduanya.


Setelah itu dia keluar dari rumah itu dan langsung naik ke dalam mobilnya, dan Tak lama kemudian dia pun langsung melajukan mobilnya itu meninggalkan rumah Reno.


****


Ini adalah pagi pertama di rumah baru milik Reno dan Novia, seperti rutinitas biasanya, mbak Darmi sibuk di dapur untuk menyiapkan sarapan pagi.


Novia membuka jendela kamarnya, kini di kamarnya tidak ada balkon seperti dulu, hanya jendela saja yang berukuran satu kali dua meter.


cahaya matahari pagi menerobos masuk ke dalam kamar itu, Reno pun nampak terbangun dan mengucek matanya sebentar, kemudian dia duduk di tepi ranjang.


"Selamat pagi Mas Reno! Hari ini cerah, padahal beberapa hari yang lalu cuaca selalu mendung dan hujan terus menerus!" ucap Novia.


" Ya, Novia, Hari ini aku mau pergi ke Jakarta, Aku ada janji ingin bertemu dengan salah seorang temanku, dia menawarkan bisnis bagus padaku!" kata Reno.


"Mas Reno mau ke Jakarta? Tapi mas Reno Naik apa ke sana? Apakah Mas Reno mau aku temani?" tanya Novia.


"Kamu jangan khawatir, aku bisa naik taksi online ke sana, kamu di sini saja menjaga Vio bersama Mbak Darmi!" jawab Reno.


"Mas Reno yakin tidak apa-apa pergi sendiri? Kondisi kesehatan Mas Reno kan belum sepenuhnya pulih!" tanya Novia.


"kamu tenang saja, aku bisa mengukur keadaan diri sendiri kok!" jawab Reno.

__ADS_1


"Ya sudah deh kalau begitu, aku ke belakang dulu ya mau bantu Mbak Darmi, Mas Reno mandi saja dulu, tadi aku udah siapkan air hangat, dan pakaian Mas Reno juga sudah aku siapkan di lemari!" kata Novia.


Reno mengganggukan kepalanya, setelah itu dia langsung mengambil handuknya dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk mandi dan membersihkan dirinya.


Sementara Novia langsung beranjak ke dapur membantu Mbak Darmi menyiapkan sarapan.


Vio nampak sudah rapi, sepertinya dia baru saja selesai mandi dan berpakaian, biasanya mbak Darmi yang membantu Vio untuk memakai pakaian, dan sekarang Vio nampak sedang menonton televisi di ruang tamu, meskipun keadaannya jauh berbeda dengan rumah yang lama, tapi Vio terlihat enjoy menikmati acara televisi anak-anak kesukaannya itu.


"Apa lagi yang bisa dibantu Mbak?" tanya Novia pada Mbak Darmi yang terlihat sedang menatap meja makan.


"Sudah hampir selesai kok Bu, Oh ya, tadi pagi-pagi waktu saya belanja sayur, saya lihat penduduk di daerah sini lumayan padat Bu, Kok saya jadi kepikiran sesuatu ya!" kata Mbak Darmi.


"kepikiran apa Mbak?" tanya Novia.


"kayaknya nih kalau kita jualan makanan laku kali ya Bu, Kan lumayan bu kalau penduduknya padat, kalau makanan itu kan memang kebutuhan semua orang!" jawab Mbak Darmi.


"Iya juga sih mbak, mbak Darmi kan pintar masak, ini bisa jadi ide bisnis baru, kita buka saja ya di depan rumah, kedai nasi uduk sama lauk matang!" lanjut Novia.


"Nah itu maksud saya bu! Jadi kita kan juga ada aktivitas di rumah!" sahut Mbak Darmi.


"Aku setuju Mbak, Jadi kapan kita bisa mulai? Aku jadi tidak sabar, kita kan punya meja, kita taruh meja di depan, terus kita gelar saja deh makanannya, nanti biar aku yang buat tulisannya!" ujar Novia antusias.


"Boleh Bu, biar nanti saya yang belanja-belanja bahan makanannya, kan lumayan bu buat tambah-tambah bantuin Bapak!" kata Mbak Darmi.


"Iya Mbak, aku terima kasih banget loh mbak Darmi sudah banyak membantu, bahkan gajinya Mbak Darmi pun sudah kami turunkan, tapi Mbak Darmi tetap setia sama kami, aku benar-benar terharu!" ucap Novia sambil merangkul bahu Mbak Darmi.


"Ah Ibu, saya kan jadi ikutan terharu, selama ini saya sudah ditampung, dianggap keluarga, Itu sudah merupakan kehormatan buat saya bu!" kata Mbak Darmi.


Setelah selesai menyiapkan makanan di meja makan, mereka pun berkumpul di meja makan yang tidak terlalu besar itu untuk menikmati sarapan pagi bersama.


Reno sudah nampak rapi berpakaian, karena sehabis sarapan Reno sudah harus berangkat ke Jakarta, karena dia ada janji dengan teman lamanya.


"Mas Reno, aku dan Mbak Darmi berencana akan membuka kedai nasi uduk dan lauk matang di depan rumah, karena di daerah sini cukup padat penduduk, Siapa tahu saja akan ada rezeki dari situ!" kata Novia.


"Lakukanlah apa yang ingin kamu lakukan Novia, aku juga tidak bisa melarangmu, karena saat ini aku juga sangat terbatas memberimu kecukupan!" jawab Reno.


"Mas, kita berjualan makanan di depan bukan berarti kita kekurangan, tapi supaya kita ada aktivitas bisa bersosialisasi dengan orang-orang sekitar, dan satu lagi kita bisa menambah pengalaman baru!" ucap Novia.


"Iya, aku dukung semua rencanamu!" kata Reno singkat.


"Oh ya Mas, nanti setelah ini aku akan mencari sekolah baru untuk Vio, mudah-mudahan saja bisa dapat, Mungkin aku akan ke rumahnya Mbak Marni untuk menanyakan informasi mengenai sekolah!" ujar Novia.


"Ya, Lakukanlah apa yang ingin kamu lakukan, mudah-mudahan ada sekolah bagus yang cocok untuk Vio!" jawab Reno.


Vio dari tadi hanya fokus dengan makanan saja, Anak itu tidak banyak bicara ataupun bertanya, padahal biasanya dia selalu cerewet menanyakan ini dan itu, mungkin saja Vio sedang proses adaptasi di rumah baru ini.


Setelah selesai sarapan pagi, Reno pun langsung memesan taksi online melalui ponselnya.


Dan Tak lama kemudian taksi online yang di pesan Reno pun sudah menunggu di depan rumah, Reno kemudian pamit pada Novia dan juga Vio.


"Papa pergi Sampai kapan?" tanya Vio.


"Kalau urusan Papa sudah selesai Papa langsung pulang kok!" jawab Reno.


"Oke deh Pa!" sahut Vio.


Setelah mencium buah hatinya itu, Reno kemudian langsung naik ke dalam taksi online dan taksi online itu pun bergerak meninggalkan rumah itu.


"Vio, ikut mama yuk ke tetangga sebelah, di situ ada teman baru loh buat Vio!" ajak Novia setelah Reno berangkat ke Jakarta.


"Ayo Ma!" jawab Vio.


Novia kemudian menuntun Vio pergi ke tetangga sebelah, ke rumah Marni, untuk membuat Vio senang karena di sini Vio memiliki teman baru dan juga Novia berniat hendak menanyakan informasi mengenai sekolah.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2