Rahasia Perkawinan

Rahasia Perkawinan
Mendekati Waktunya


__ADS_3

kelahiran bayi Novia tinggal menunggu hari, kini perut Novia semakin membesar, kemungkinan dalam minggu-minggu depan Novia sudah akan melahirkan bayinya.


Novia juga semakin sering kontrol ke Dokter untuk terus memantau dan melihat perkembangan bayi yang kini semakin besar dan aktif itu.


Beberapa kali Bunda Lasmi menelepon, menanyakan kapan bayi Novia akan lahir, karena dia akan kembali ke Jakarta untuk menengok Novia dan bayinya.


Begitu juga dengan ayah dan ibu Reno, mereka berencana akan datang ke Jakarta dari Malaysia, hanya untuk melihat kelahiran calon cucu pertama mereka.


Reno juga sudah mempersiapkan segala sesuatunya untuk calon bayinya itu.


Kamar bayi yang spesial sudah disiapkan berikut isinya, seperti tempat tidur bayi, lemari bayi, dan pakaian-pakaian bayi, juga semua keperluan bayi.


Hasil rajutan Novia juga sudah banyak, dia menyimpannya di dalam lemari bayi, setelah dirasa bahwa rajutannya sudah cukup banyak, Novia tidak lagi merajut pakaian bayi, apalagi sekarang dia mudah lelah.


Kring ... Kriiing... Kriiing


Terdengar suara dering telepon dari meja telepon yang berada di lantai bawah. Biasanya Mbak Darmi yang akan langsung mengangkat telepon itu.


Beberapa saat kemudian, Mbak Darmi nampak naik ke atas dan langsung masuk ke kamar bayi, dimana Novia tengah melipat pakaian bayi yang sudah dicucinya terlebih dahulu, dan membereskan beberapa perlengkapan bayi.


"Bu Novia, ada telepon dari Bunda! Sini biar saya saja yang meneruskan membereskan kamarnya!" kata Mbak Darmi.


"Ya mbak, aku langsung turun ke bawah ya, lagian ini juga tinggal sedikit lagi kok Mbak, setelah selesai dimasukkan Mbak Darmi langsung turun saja!" ujar Novia yang dengan perlahan bangkit dari posisi duduknya, sambil berpegangan pada dinding, karena kini dia mulai kesulitan bergerak karena perutnya yang semakin besar itu.


"Hati-hati Bu! Sini saya antar ke bawah dulu, saya ngeri lihat ibu turun tangga dalam keadaan seperti itu!" tawar Mbak Darmi.


"Tidak usah Mbak, kalau cuma naik turun tangga sih, justru itu dianjurkan oleh Dokter, supaya waktu melahirkan nanti otot-otot bisa meregang!" tukas Novia.


Mbak Darmi hanya menganggukan kepalanya, meskipun dia terlihat sedikit khawatir kalau Novia turun tangga sendirian, apalagi Reno sudah wanti-wanti kalau mbak Darmi harus menjaga ekstra majikannya itu.


Novia pun perlahan mulai berjalan keluar dari kamar calon bayinya, dan dia menuruni tangga sambil berpegangan pada sisi tangga.


Kemudian dia berjalan menuju ke meja telepon, di mana Bunda Lasmi sudah menunggunya untuk berbicara dengannya.

__ADS_1


"Halo Bunda, apa kabar Bun?" tanya Novia saat dia mulai mengangkat teleponnya.


"Harusnya Bunda yang tanya, Kapan kamu akan melahirkan Nov?" tanya bunda Lasmi balik.


"Kan aku sudah berapa kali bilang Bun, kalau menurut prediksi dokter dalam minggu depan sepertinya aku sudah melahirkan Bunda!" jawab Novia.


"Oh iya, Bunda lupa, kalau begitu Sabtu ini bunda akan pesan tiket ke Jakarta, Bunda mau menemanimu saat melahirkan nanti Nov!" kata Bunda Lasmi.


"Sebenarnya Bunda tidak perlu repot-repot! Kan sudah ada Mas Reno, Aku tidak ingin merepotkan Bunda, Bukankah di Semarang Bunda banyak pekerjaan?" ungkap Novia.


"Tapi kan calon cucu Bunda lebih penting daripada pekerjaan apapun! Pokoknya Sabtu ini Bunda akan pesan tiket, kamu jaga dirimu baik-baik Nov, jangan terlalu capek, dan perhatikan setiap gerakan bayi, lihat tanda-tanda kontraksi, kalau perlu kamu nonton tutorialnya di internet!" jelas Bunda Lasmi.


"Iya Bunda!"


"Ya sudah kalau begitu, Sampaikan salam Bunda buat Reno ya, sampai ketemu nanti Nov!" ucap Bunda Lasmi yang kemudian langsung menutup panggilan teleponnya.


Novia menghela nafas panjang, sebenarnya saat ini Novia senang sekali jikalau dia berada dekat dengan Bundanya, di saat-saat dia akan melahirkan.


Tapi bagaimana dengan David, Bagaimana kalau Bunda Lasmi bertemu dan bahkan melihat David secara langsung, dan tahu kalau ternyata David adalah tetangga sebelah rumah Novia.


Tin ... Tin ... Tin ...


Suara klakson mobil Reno mengagetkan Novia, sekilas Novia melirik pada jam dinding yang ada di ruangan itu, waktu sudah menunjukkan jam 05.00 sore, memang sudah waktunya Reno pulang dari kantor.


Kemudian Novia perlahan bangkit dari duduknya dan melangkah menuju ke depan, untuk menyambut kedatangan suaminya itu.


Mobil Reno sudah terparkir di halaman rumah itu, Pak Sukri nampak turun dari mobil lalu menutup pintu gerbang yang terbuka lebar itu, kemudian Reno juga nampak turun dari mobil dan dia langsung tersenyum ketika melihat Novia sudah berdiri di ambang pintu menyambutnya.


"Wah, Bagaimana kabar Junior ku hari ini? Apalagi yang diperbuatnya padamu? Apakah dia masih suka menendang-nendang?" tanya Reno sambil langsung mengelus perut Novia.


"Dia bukan hanya menendang, bahkan di dalam seperti sedang bergelut, kadang-kadang berputar-putar!" jelas Novia.


"Wah, sepertinya bayi kita tidak sabar keluar!"

__ADS_1


Reno kemudian menggandeng istrinya itu masuk ke dalam rumah dan mereka langsung duduk di ruang keluarga.


"Sayang, Ada kabar gembira!" ucap Reno sambil tersenyum.


"Kabar gembira apa Mas?" tanya Novia.


"Tadi ayah menelponku, katanya minggu depan mereka akan datang ke sini dari Malaysia! Apalagi kan kesehatan ibu sudah mulai membaik!" jawab Reno.


"Oh ya? Tadi juga Bunda telepon, katanya Sabtu besok dia sudah datang ke sini, dia akan pesan tiket kereta api dari Semarang!" kata Novia.


"Wah, rumah kita akan menjadi ramai sayang, betapa bahagianya calon bayi kita, kelahirannya disambut oleh kakek dan nenek-neneknya!" ucap Reno sambil memeluk Novia.


"Sudah Mas Reno mandi dulu, setelah itu langsung ke meja makan ya, makanannya sudah siap!" kata Novia sambil mengurai pelukan Reno.


Reno kemudian menganggukan kepalanya, lalu mengecup kening Novia, setelah itu dia bergegas naik ke atas menuju ke kamarnya untuk mandi dan membersihkan dirinya.


Sambil menunggu Reno mandi, Novia kemudian keluar dari rumahnya dan berjalan-jalan mengelilingi taman rumahnya, Pak Sukri nampak sedang mencuci mobil.


Tiba-tiba Pak Sukri menghentikan aktivitasnya, kemudian perlahan Dia mendekati Novia yang masih berjalan pelan di taman samping rumahnya itu.


"Bu Novia, ini tadi ada surat!" kata Pak Sukri sambil menyodorkan sepucuk Surat yang berada di dalam amplop yang tertutup rapat.


"Surat? Surat dari siapa ya Pak?" tanya Novia.


"Saya juga tidak tahu Bu, saya menemukan surat ini di bawah gerbang, dan ada tulisan di depannya untuk Bu Novia!" jawab Pak Sukri.


Buru-buru Novia langsung mengambil surat itu dari tangan Pak Sukri.


"Pak Sukri, jangan bilang sama Bapak ya kalau ada surat untuk saya!" kata Novia.


Pikiran-pikiran negatif mulai kembali muncul saat dia menerima surat misterius itu.


"Iya Bu!" jawab Pak Sukri yang kemudian langsung membalikkan tubuhnya dan kembali melanjutkan aktivitasnya mencuci mobil.

__ADS_1


Novia kemudian buru-buru masuk ke dalam rumahnya dan duduk di ruang tamu, untuk membaca dengan cepat surat itu.


Bersambung ....


__ADS_2