Rahasia Perkawinan

Rahasia Perkawinan
Peringatan Novia


__ADS_3

Pagi itu seperti biasa, Novia mengantar Reno suaminya sampai di depan gerbang, pada saat dia hendak pergi ke kantor.


Pak Sukri sopir mereka sudah satu minggu ini tidak masuk atau meminta cuti, karena anaknya sedang sakit dan dirawat di rumah sakit, sehingga Pak Sukri tidak dapat bekerja seperti biasanya, karena dia harus menunggu anaknya di rumah sakit, bergantian dengan istrinya yang tengah mengandung.


Jadi karena Pak Sukri tidak masuk dan masih cuti, Reno yang menyetir sendiri dan untuk keperluan rumah tangga, Mbak Darmi harus naik taksi online atau bajai untuk sekedar berbelanja ke pasar atau ke supermarket.


Sementara Reno sudah melarang Novia untuk keluar rumah, apalagi dengan menyetir mobilnya sendiri, hanya boleh di antar ataupun dengan taksi online, itu juga kalau benar-benar penting.


"Mas, kita belum menjenguk anaknya Pak Sukri lho, sejak dia dirawat di rumah sakit, karena beberapa hari belakangan ini Mas Reno kelihatan sibuk sekali!" kata Novia sebelum Reno masuk ke dalam mobil.


"Iya sayang, aku juga sangat ingin menjenguk anaknya Pak Sukri, tapi jadwalku begitu padat, nanti coba aku akan atur waktunya lagi, mudah-mudahan saja hari Sabtu nanti kita bisa menjenguk mereka!" jawab Reno.


"Bagaimana kalau aku duluan yang menjenguk anaknya Pak Sukri? aku ditemani deh sama Mbak Darmi, kalau tidak boleh menyetir sendiri, ya aku akan pesan taksi online!" usul Novia.


"Sayang, perutmu kan sudah semakin besar, aku tidak mau dengan keadaan seperti ini kamu ke rumah sakit! Apalagi di rumah sakit itu kan banyak orang sakit, banyak virus-virus juga, aku tidak mau terjadi apa-apa denganmu juga dengan calon bayi kita!" tukas Reno.


"Baiklah Mas, kalau Mas Reno tidak mengizinkan, aku patuh saja, aku akan di rumah saja, mudah-mudahan Mas Reno bisa ada waktu untuk menjenguk mereka!" sahut Novia dengan raut wajah sedikit kecewa.


Terus terang Novia tidak terlalu suka kalau Reno terlalu posesif dan terkesan mengekang Novia, bahkan mengkhawatirkannya terlalu berlebihan.


Novia merasa kalau dia bisa menjaga dirinya sendiri, bukan seperti anak kecil yang harus diatur dan dikomando.


Namun karena Novia sangat menghargai dan mematuhi suaminya itu, mau tidak mau Novia harus mengerti, harus patuh dan taat, karena Bunda Lasmi seringkali mengajarkan Novia, bagaimana menjadi seorang istri yang baik, yang menyenangkan hati suaminya, bahkan mengabaikan kebebasan pribadinya.


Reno kemudian mulai naik ke dalam mobil dan mulai melajukan mobilnya itu keluar dari gerbang yang sudah terbuka lebar, hingga suara mobilnya semakin lama semakin menghilang.

__ADS_1


Tak lama kemudian, Mbak Darmi muncul sambil membawa keranjang belanjaan, seperti rutinitas biasanya, mbak Darmi akan pergi ke pasar untuk berbelanja bahan makanan.


"Bu, mumpung masih pagi, Saya berangkat ke pasar dulu ya! Kalau kesiangan sedikit nanti sudah macet di jalan!" pamit Mbak Darmi.


"Mbak Darmi sudah tahu kan Gimana cara pesan taksi online? Kan sudah di ajarin waktu itu!" tanya Novia.


"Sudah tahu bu, tapi saya naik bajai saja, sayang Kalau naik taksi online kan mahal, sama saja kok, lagian bajai juga banyak yang lewat di depan bu!" jawab Mbak Darmi.


"Ya sudah Mbak, kalau memang mau naik bajai juga tidak apa-apa, nanti jangan lupa ya Mbak titip ketupat sayur Padang seperti biasanya!" kata Novia.


"Beres Bu, kalau begitu saya langsung jalan ya Bu!" pamit Mbak Darmi yang kemudian langsung melangkah ke arah gerbang, kemudian kembali menutup pintu gerbang itu.


Kini hanya ada Novia di rumah itu, Novia berjalan mengelilingi taman rumahnya yang lumayan luas itu, untuk sekedar berolahraga pagi seperti rutinitas biasanya.


Baru saja satu putaran Novia berjalan mengelilingi area rumahnya, tiba-tiba saja pintu gerbang rumahnya itu dibuka dari luar.


Novia langsung mundur beberapa langkah ketika melihat David sudah berdiri di ambang pintu gerbang itu, sambil menatapnya dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.


"David! Mau apa kamu ke sini?! Kamu benar-benar seperti maling!" sengit Novia sambil menatap tajam ke arah David yang kini berdiri di hadapannya.


"Novia please, Aku ingin berbicara padamu, aku selalu mencari kapan saat yang tepat aku bisa bicara padamu! Tadi aku melihat Mbak Darmi pembantumu pergi keluar, Silvi juga sudah pergi ke tukang sayur di ujung jalan sana, Aku ingin bicara padamu!" kata David.


"Apalagi yang kamu mau bicarakan padaku David? Sekarang pergi kau dari rumahku! Hubungan kita hanyalah sebatas tetangga saja, dan aku tidak mau kau bersikap macam-macam terhadapku! Camkan itu!" cetus Novia.


"Sebentar saja Nov, aku janji tidak lebih dari 10 menit aku ingin bicara padamu! please!" mohon David sambil mengatupkan kedua tangannya tanda permohonan.

__ADS_1


"Tidak! Aku bilang tidak ya tidak! Atau kalau kamu tidak pergi juga aku yang akan pergi dari sini!" ancaman Novia yang wajahnya terlihat mulai memerah.


"Tapi Nov...!"


"Aku bilang pergi ya pergi!" berang Novia yang kemudian langsung mendorong tubuh David sehingga David terpaksa mundur ke belakang, dan dengan cepat Novia kemudian langsung menutup pintu gerbang rumahnya itu dan menguncinya.


"Novia sebentar saja! Kapan kita ada waktu berbicara! Novia!!" Panggil David sambil menggedor-gedor pintu gerbang itu.


"Pergi David! Kalau kau seperti ini terus itu sama saja kau menyiksa aku!" jerit Novia sambil meneteskan air matanya.


"Novia! Aku hanya ingin bicara padamu, kalau memang itu adalah anakku, asal kau tahu aku akan selalu ingin berada dekat dengannya! Aku ingin jujur padamu! Aku tidak akan pernah jauh-jauh dari anakku, ingat itu!" seru David dengan suara yang sedikit bergetar.


"Pergi!!" jerit Novia sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya, lalu dia menangis tersedu-sedu sambil berlalu masuk ke dalam rumahnya.


Novia langsung menghempaskan tubuhnya di sofa ruang keluarga rumahnya itu.


Dia menangis tersedu-sedu seolah berusaha melepaskan setiap beban yang dipikulnya sendirian.


Rasanya Novia sudah tidak tahan lagi, dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya saat ini, dia benar-benar Dilema, Novia benar-benar sedang berada dalam situasi yang teramat sulit dalam hidupnya.


Novia tidak mengerti pertemuannya dengan David akan membuatnya seperti ini.


Andai saja dia tidak pernah bertemu dengan David, mungkin sampai hari ini dia akan hidup berbahagia dengan tenang bersama dengan Reno suaminya.


Sejak kehadiran David yang menjadi tetangganya itu, rasanya seperti bumerang dan Bom waktu yang sewaktu-waktu akan meledak, dan itu membuat Novia sangat tidak tenang dan tertekan, namun dia sendiri tidak bisa mencurahkan apa yang dia rasakan.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2