
Reno menutup buku ceritanya saat dilihatnya Vio sudah nampak tertidur, ketika bocah mungil itu mendengarkan dongeng yang dibacakan oleh Reno.
Setelah menyelimuti Vio, kemudian Reno mematikan lampu kamar Vio. Kini Vio sudah tidur sendiri di kamarnya, sejak dia berusia 3 tahun, Reno membiasakan Vio untuk mandiri.
Namun sebelum tidur, biasanya Reno atau Novia membacakan Vio dongeng, itu sudah menjadi rutinitas sebelum tidur, kalau tidak di bacakan dongeng, Vio akan susah tidur.
Setelah menutup pintu kamar Vio, Reno kemudian masuk ke dalam kamarnya.
Novia nampak sedang memasukkan beberapa pakaian bersih yang sudah disetrika oleh Mbak Darmi ke dalam lemari.
"Sudah tidur Vio Mas?" tanya Novia.
"Sudah!" sahut Reno sambil menghepaskan tubuhnya di atas tempat tidurnya.
Setelah Novia selesai membereskan pakaian, kemudian dia pun menyusul Reno berbaring di tempat tidur nya.
"Sayang, beberapa waktu ini aku begitu sibuk, sepertinya aku butuh refreshing, hanya berdua denganmu, aku ingin sekali mengajak mu liburan!" ucap Reno.
"Liburan ke mana Mas? Masa cuma kita berdua? Lalu bagaimana dengan Vio?" tanya Novia.
"Sepertinya kita butuh yang namanya bulan madu kembali, bagaimana menurutmu?" tanya Reno balik.
"Terserah Mas Reno saja, aku sih setuju saja, tapi bagaimana dengan Vio?" Novia menatap lekat pada wajah suaminya itu.
"Bagaimana kalau kita titipkan Vio pada David dan Silvi? Bukankah selama ini dia memang sering sekali bermain dengan mereka, bahkan mereka sudah seperti saudara kita sendiri!" usul Reno.
"Tidak! kalau untuk itu Aku tidak setuju Mas!" tukas Novia.
"Tapi kenapa? Justru aku lebih aman jika Vio dititipkan pada mereka daripada orang lain!" kata Reno.
"Pokoknya aku tidak setuju Mas, Vio itu anak kita, tanggung jawab kita, aku tidak setuju kalau dia dititipkan pada siapapun, termasuk David dan Silvi!" cetus Novia.
Reno tampak berpikir, sesungguhnya dia heran kenapa Novia tidak setuju Kalau Vio dititipkan pada David dan Silvi.
Padahal selama ini Vio sering bermain dengan mereka, dan hubungan mereka lebih daripada sekedar hubungan tetangga.
"Oke, Bagaimana kalau kita mengajak Vio dan juga David dan Silvi?" usul Reno.
__ADS_1
"Apa? mengajak David dan Silvi?" gumam Novia.
Novia tidak menyangka kalau Reno akan berpikir demikian, mau mengajak David dan Silvi ikut liburan bersama-sama dengan mereka.
"Iya, anggap saja kita bulan madu dua keluarga, jadi kita juga tenang kalau mengajak Vio dan dia juga pastinya akan lebih aman, Bagaimana Sayang?" tanya Reno.
"Maaf Mas, sepertinya usul yang ini juga kurang bagus, aku kurang setuju Kalau Mas Reno mengajak David dan Silvi liburan juga!" jawab Novia.
"Tapi kenapa? Apa ada yang salah kalau mengajak mereka?" tanya Reno bingung.
"Pokoknya aku kurang setuju saja Mas, namanya juga liburan pasti lebih enak dengan keluarga sendiri!" sahut Novia.
"Oke, sekarang sudah malam, sebaiknya kita tidur, besok kita bicarakan lagi!" ujar Reno.
Novia kemudian membalikkan tubuhnya membelakangi Reno, lagi pula matanya sudah terasa mengantuk dari tadi.
Tiba-tiba Reno memeluk Novia dari belakang sambil mencium lehernya, membuat Novia meremang seketika, merasakan desiran-desiran yang seperti biasa jikalau Reno sudah berada sangat dekat dengannya.
"Berikan padaku seorang adik untuk Vio!" bisik Reno.
Novia tidak menjawab lagi apa yang diucapkan oleh Reno, dia hanya pasrah saja, ketika Reno mulai menggerayangi tubuhnya.
Saat pagi hari di meja makan, Reno heran saat melihat Vio yang masih mengenakan pakaian tidur, padahal biasanya dia sudah mengenakan seragam TK-nya.
Vio kini sudah duduk di bangku TK A di salah satu sekolah swasta terbaik yang tidak jauh dari tempat tinggal mereka.
"Vio, Kok belum ganti pakaian? ini sudah jam berapa?" tanya Reno.
"Hari ini Vio masuk siang Papa, jadi nanti Vio berangkat jam 09.00, karena di sekolah Sedang ada acara!" jawab Novia yang terlihat sedang menyuapi Vio.
"Oh, jadi papa berangkat ke kantor Sendirian dong!" sahut Reno.
"Tenang papa, Besok aku juga masuk pagi lagi kok, Papa jangan sedih ya!" kata Vio sambil menepuk-nepuk bahu Reno, membuat Reno gemas dan langsung mencubit pipi Vio dan menciumnya.
"Duh, anak Papa memang paling pintar, pertanyaan apapun Kamu pasti bisa menjawabnya, anak kesayangan papa!" ucap Reno sambil memeluk dan mengusap rambut Vio.
"Nanti biar Vio aku yang mengantar saja Mas, jadi Pak Sukri bisa mengantar Mas Reno ke kantor, aku bisa bawa mobil sendiri!" kata Novia.
__ADS_1
"Oke, karena kebetulan Pak Sukri Aku mau tugaskan untuk mengirim beberapa dokumen, untung saja sekolah Vio dekat dari rumah, jadi Kalaupun kamu yang mengantar tidak terlalu jauh!" kata Reno.
Setelah selesai sarapan, Reno pun segera bergegas ke depan untuk naik ke mobilnya, di mana Pak Sukri sudah menunggunya.
"Dah Papa!" seru Vio sambil Melambaikan tangannya.
Reno pun kemudian melambaikan tangannya, hingga mobilnya itu hilang di balik gerbang rumahnya itu.
Setelah Reno berangkat, Novia mulai memandikan Vio dan menyiapkan segala keperluan buah hatinya itu, karena jam 09.00 nanti dia sudah harus berangkat ke sekolah.
Tiba-tiba saat Novia menyiapkan bekal untuk Vio di meja makan, Silvi datang dan langsung berjalan menghampiri Novia yang sedikit kaget melihat kedatangan Silvi.
"Silvi? Rapi amat, mau ke mana?" tanya Novia.
"Mbak Novia, aku mau pamit ya, aku mau pulang kampung, semalam Ibuku telepon, beliau sakit dan aku harus ke sana hari ini juga!" kata Silvi.
"Oh, jadi kamu sudah mau berangkat sekarang? Kamu sendirian atau sama suamimu?" tanya Novia.
"Bang David hanya mengantar sampai bandara mbak, soalnya banyak pesanan online juga yang dia nggak bisa tinggalin, jadi aku pulang kampung sendirian!" jawab Silvi.
"Oh begitu ya, kamu hati-hati ya Silvi, salam buat ibumu di kampung, mudah-mudahan kamu cepat kembali ya!" ucap Novia.
"Iya mbak, aku titip rumah ya Mbak, walaupun Bang David ada tapi namanya juga laki-laki, pokoknya kalau ada apa-apa telepon aku ya Mbak!" kata Silvi.
"Iya Silvi, mudah-mudahan ibumu cepat sembuh ya!" ucap Novia.
Mereka kemudian saling berpelukan, setelah itu Silvi bergegas keluar dari rumah Novia, karena David sudah menunggunya di depan gerbang.
"Mama, tante Silvi mau ke mana sama Om David?" tanya Vio.
"Mereka mau ke bandara sayang, tante Silvi mau pulang kampung karena ibunya sakit!" jawab Novia.
"Yah aku bakal Sendirian dong, aku tidak bisa lagi bermain di sebelah dong!" ucap Vio dengan wajah yang sedih.
"Sudahlah Vio, kan kamu bisa bermain dengan mama atau Papa di rumah, sekarang pakai sepatumu Sebentar lagi kita berangkat ke sekolah Oke!" kata Novia sambil menepuk-nepuk lembut bahu mungil Vio.
Vio hanya menganggukkan kepalanya dan langsung mengambil sepatu mungilnya kemudian langsung memakainya.
__ADS_1
Bersambung ...