
Beberapa jam Novia terbaring sambil menahan sakit yang kini sangat terasa dengan durasi yang semakin sering.
Dokter Fanny kemudian memeriksa bagian dalam Novia, ternyata masih pembukaan 2, sementara Novia semakin terlihat kesakitan dan air ketuban pun terus mengalir.
Di ruangan itu masih ada Silvi dan David yang menemani Novia, sementara Mbak Darmi Sebentar lagi baru akan tiba di ruangan ini, membawakan seluruh perlengkapan Novia.
"Bu Novia, kalau air ketuban Bu Novia sudah agak keruh, namun pembukaan tidak maju-maju, dengan terpaksa kami mengambil tindakan operasi keselamatan bayi anda!" kata Dokter Fanny.
"Ya Tuhan, Kasihan sekali Mbak Novia, Apakah itu alternatif terakhir dokter?" tanya Silvi.
"Lakukan Apapun, yang penting bayi itu selamat Dokter!" kata David tiba-tiba.
"Baik Pak, kita bisa menunggu sekitar 2 jam lagi, nanti kita lihat Bagaimana perkembangannya!" jawab Dokter Fanny.
Tak lama kemudian Dokter Fanny pun keluar dari ruangan itu.
Sementara Novia terlihat meringis kesakitan, Silvi juga kelihatan panik, maklum dia belum pernah merasakan hamil dan melahirkan.
Dia hanya bisa mengelus-elus punggung Novia yang saat itu tengah berbaring miring.
David pun hanya terpaku menatap Novia tanpa bisa berbuat apa-apa, kendati dia pun sangat ingin melakukan sesuatu untuk Novia.
"Aduh, kasihan sekali Mbak Novia! Apa tidak sebaiknya kalau kita telepon Pak Reno saja! Walau Bagaimana peran suami itu sangat penting dalam keadaan seperti ini!" kata Silvi.
"Kalau kita menelpon Pak Reno saat ini, situasi bukannya membaik, tetapi bisa saja Pak Reno akan panik dan itu juga akan mempengaruhi proses persalinannya!" ujar David berusaha mencegah.
Novia tidak memperdulikan pembicaraan mereka berdua, kini dia hanya fokus di perutnya saja, yang semakin lama semakin terasa sakit, bahkan menembus sampai tulang belakang.
Ceklek!
Tiba-tiba Mbak Darmi masuk sambil membawakan perlengkapan Novia dan calon bayinya.
__ADS_1
"Ya ampun Bu Novia, kelihatannya sangat kesakitan, tenang Bu, saya akan menemani Ibu di sini!" kata Mbak Darmi yang langsung memijiti kaki Novia.
"Terima kasih Mbak Darmi, Aduh ini sakit sekali! Rasanya aku sudah tidak tahan mbak!" ucap Novia sambil meringis.
"Ayo bu tarik nafas, tahan, sebentar lagi bayi itu akan lahir!" kata Mbak Darmi berusaha menguatkan.
Hingga 2 jam kemudian, saat kondisi Novia benar-benar lemah, Dokter Fanny pun kembali masuk ke ruangan itu untuk memeriksa bagian dalam Novia.
Pada saat dokter Fanny memeriksa Novia, David pun pergi menunggu keluar ruangan.
"Wah masih Pembukaan 3, rasanya sudah tidak mungkin lagi menunggu sampai pembukaan 10, sementara sekarang air ketubannya sudah mulai keruh!" kata Dokter Fanny.
"Jadi Bu Novia harus dioperasi dok?" tanya Mbak Darmi cemas.
"Iya, karena ini sudah menyangkut kondisi gawat darurat, dan semakin lama bayi ada di dalam, semakin berbahaya kalau air ketubannya habis!" jawab Dokter Fanny.
"Lakukan apapun Dokter! Yang penting bayi saya selamat!" seru Novia dengan sisa-sisa tenaganya.
Mbak Darmi, Silvi, dan David menunggu dengan gelisah di depan ruang operasi. David berjalan mondar-mandir, Dia kelihatan yang paling gelisah saat itu.
"Bang David Duduk dulu, dari tadi mondar-mandir saja! Tuh nanti kalau aku melahirkan seperti Mbak Novia, pasti rasanya juga seperti ini kan, tegang!" kata Silvi.
"Iya, pasti tegang sekali!" sahut David.
"Bu Silvi, apa Saya telepon pak Reno saja ya? Soalnya kasihan Bu Novia, dia kan juga butuh dukungan suami, apalagi saat dia melahirkan bayinya nanti, yang pertama-tama dipanggil dokter itu kan suaminya!" tanya Mbak Darmi tiba-tiba.
"Tapi kan jarak dari Singapura ke sini bukan sebentar Mbak, itu juga butuh waktu, lagi pula di sini kan ada kita-kita, pasti Mbak Novia tidak akan kesepian, kita akan beritahu Pak Reno setelah bayinya lahir saja!" kata Silvi.
"Iya juga sih, Tapi kasihan banget loh Bu Novia, dia seolah-olah berjuang sendirian, seharusnya kan di masa-masa seperti ini ada Pak Reno yang menemaninya!" ungkap Mbak Darmi.
"Ya namanya juga dadakan Mbak, ini kan gawat darurat, prediksi masih Minggu depan katanya! Yang penting kita doakan saja kalau bayinya Mbak Novia baik-baik saja!" sahut Silvi.
__ADS_1
Mereka terus menunggu dengan gelisah, hingga tiba-tiba ponsel Mbak Darmi bergetar, Mbak Darmi kemudian merogoh ponsel yang ada di saku bajunya itu, dan matanya sedikit melotot saat mengetahui kalau Reno yang meneleponnya.
Dengan sedikit gemetar, akhirnya Mbak Darmi mengangkat panggilan telepon dari Reno.
"Halo Mbak Darmi! Aku telepon ke ponselnya Novia tidak diangkat-angkat, aku telepon ke rumah juga tidak diangkat-angkat, sebenarnya kalian sedang di mana sih, Bagaimana keadaan istriku hari ini?" tanya Reno beruntun.
Mbak Darmi nampak bingung mendengar pertanyaan Reno, dia tidak tahu harus menjawab apa, lidahnya terasa kelu untuk diucapkan.
"Mbak Darmi? Sebenarnya kalian ada di mana sih? Tolong jangan buat aku khawatir deh! Sekarang mana istriku, aku mau bicara padanya!" kata Reno sedikit mengejutkan Mbak Darmi.
"Maaf Pak, saya minta maaf, sebenarnya... sebenarnya ... "
"Sebenarnya ada apa? Ayo katakan Cepat!" tanya Reno mulai gusar
"Itu Pak, sebenarnya, saat ini Bu Novia sedang di ruang operasi, dia mengalami pecah ketuban dan saat ini harus dilakukan tindak operasi Karena untuk menyelamatkan bayinya!" jawab Mbak Darmi terbata-bata.
"Apa? Ruang operasi? Apa yang terjadi dengan istriku? Kenapa tidak ada yang memberitahu aku?" tanya Reno dengan suara yang mulai meninggi, Mbak Darmi semakin gemetar.
"Maaf pak, ini kondisinya mendadak sekali, untung saja ada tetangga sebelah yang mengantarkan Bu Novia ke rumah sakit, karena pada saat itu pak Sukri sedang izin ke stasiun untuk mengantar istrinya pulang kampung!" jelas Mbak Darmi.
"Baik, aku akan pulang sekarang juga! Dan terus terang aku sangat kecewa dengan keadaan ini, dalam keadaan seperti ini sempat-sempatnya kalian tidak mengingat dan memberitahukan aku sebagai suaminya!" sengit Reno yang kemudian langsung menutup panggilan teleponnya.
Mbak Darmi terlihat pucat dan wajahnya nampak cemas saat baru saja dia menerima telepon dari Reno.
"Ada apa Mbak Darmi? akhirnya pak Reno tahu juga Kan kalau Bu Novia ada di Rumah Sakit dan sedang menjalani operasi caesar?" tanya Silvi.
"Iya Bu Silvi, Pak Reno kelihatannya sangat marah, karena kita tidak memberitahukan dia kalau Bu Novia ada di Rumah Sakit dan sedang menjalani operasi caesar!" jawab Mbak Darmi cemas.
Silvi dan David hanya bisa saling berpandangan mendengar perkataan dari Mbak Darmi.
Bersambung ...
__ADS_1