Rahasia Perkawinan

Rahasia Perkawinan
Kesedihan David


__ADS_3

Pagi itu setelah selesai sarapan, dan Reno berangkat ke kantor bersama dengan Vio, nampak sebuah taksi online yang berhenti di depan rumah David.


Novia yang baru saja mengantarkan Reno dan Vio sampai di depan gerbang rumahnya, menghentikan langkahnya saat hendak masuk ke dalam rumah.


Novia berpikir, Apakah David dan Silvi sudah kembali pulang dari Singapura? padahal belum lama Mereka pergi ke Singapura untuk berobat Silvi.


Nampak dari dalam taksi online itu David turun, namun hanya dia seorang diri yang turun, tidak ada Silvi atau siapapun.


Karena penasaran Novia akhirnya melangkah ke rumah David, hendak menanyakan pada David, bagaimana kondisi Novia.


David nampak duduk terpekur di depan teras rumahnya itu, pandangannya terlihat kosong, Bahkan dia tidak menyadari saat Novia datang dan masuk ke dalam rumahnya, karena pintu gerbang yang masih terbuka itu.


"David, kamu sudah pulang?" tanya Novia.


Seperti tersadar, David tampak terkejut mendengar pertanyaan Novia yang tiba-tiba datang itu.


"Eh kamu Nov, Sampai kaget aku! kupikir siapa!" sahut David sambil mengelus dadanya.


"Vid, Bagaimana kabar Silvi? pengobatannya berhasil kan?" tanya Novia.


Wajah David langsung berubah murung, dan dia menundukkan kepalanya, menatap ke arah lantai yang terlihat kotor dan berdebu, karena sudah beberapa saat lamanya tidak di sapu dan dibersihkan.


"Silvi, Silvi tidak dapat tertolong, dia meninggal pada saat menjalani operasi pengangkatan rahim karena pendarahan, dan aku baru saja mengantarkan jenazahnya yang langsung dikuburkan di kampung halaman!" ungkap David dengan suara bergetar.


"Ya Tuhan Silvi! Kau tidak sedang bercanda kan David? kemarin itu Silvi masih terlihat baik-baik saja, kenapa sekarang kamu mengatakan dia sudah tidak ada?!" tanya Novia tidak percaya, sambil mengguncangkan tangan David.


"Aku sedang tidak bercanda Nov! Kamu pikir aku akan main-main dengan perkara ini? Kamu pikir hatiku tidak hancur? Silvi itu Walaupun dia begitu polos, namun dia adalah istri terbaik yang aku miliki!" ucap David yang kini terlihat meneteskan air matanya.


Novia terhenyak mendengarkan pengakuan David, Silvi benar-benar sudah tidak ada, dia meninggal dunia di Singapura, Novia dapat merasakan betapa Hancurnya hati David.


"Maafkan aku David, aku sangat tidak menyangka, kalau Silvi akan pergi secepat itu, padahal impiannya adalah hidup menua bersama denganmu, tapi mengapa takdir begitu tidak adil padanya!" kata Novia sambil menangis.


"Jujur Novia, sebenarnya sejak awal aku menikahi Silvi, aku tidak benar-benar Mencintainya, semua itu aku lakukan hanya sebagai pelampiasan saja, karena aku tidak bisa mendapatkanmu, tapi melalui Silvi aku banyak belajar tentang ketulusan, juga cinta yang sebenarnya!" ungkap David yang kini menutup wajahnya dengan kedua tangannya sambil menangis.


Punggungnya sedikit terguncang, Novia melihat saat ini David benar-benar rapuh, tanpa disadarinya Silvi telah mengukir Kenangan dan cinta yang tak mungkin David lupakan, meskipun kebersamaan mereka hanya sesaat saja.

__ADS_1


"Silvi juga adalah sosok sahabat yang baik, selama aku bertetangga dan berteman dengannya, tidak pernah sedikitpun dia berpikiran negatif, dia selalu ceria dan polos juga tulus seperti apa yang kamu katakan tadi!" ucap Novia sambil mengusap pipinya yang basah.


"Sudahlah Novia, aku butuh sendiri saat ini, lebih baik kau pulang ke rumahmu, atau ada orang yang akan melihat kita dan salah paham!" kata David yang kini telah berdiri dari tempatnya.


"Baik, aku turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas meninggalnya Silvi, tapi kau harus cepat bangkit David, karena hidup ini masih panjang!" ucap Novia sebelum dia pergi meninggalkan rumah David.


Novia terus berjalan menuju ke rumahnya, hatinya begitu hancur dan sedih mendengar berita yang tidak pernah diduganya itu.


Dari Silvi Novia belajar menjadi seorang istri yang setia dan sederhana, sehingga bisa meluluhkan hati laki-laki yang sekeras apapun.


****


Malam ini Vio nampak duduk di ruang makan bersama dengan Novia, sejak sore mereka menunggu kepulangan Reno.


Namun sampai jam makan malam, Reno belum juga pulang, berkali-kali Vio menanyakan Reno pada Novia, berkali-kali juga Novia menelepon Reno, tapi telepon Reno sedang tidak aktif.


"Mama, Papa Kenapa lama sekali pulangnya? Kan tadi pagi kita sudah janji mau makan malam sama-sama!" tanya Vio.


"Mungkin papa terjebak macet sayang, Vio makan duluan saja ya, kan tidak tahu Papa pulang jam berapa, mana tahu Papa masih di jalan dan handphonenya lowbat!" jawab Novia.


"Lho kok Vio berkata seperti itu pada papa, kan tadi mama sudah bilang, barangkali Papa terjebak macet dan ponselnya lowbat! Jadi Papa tidak bisa cepat-cepat sampai rumah!" ujar Novia Berusaha menjelaskan dengan singkat yang bisa diterima oleh Vio.


Vio hanya mengganggukan kepalanya, mencoba untuk mengerti dan memahami apa yang dimaksudkan oleh Mamanya itu.


Sesungguhnya dalam hati juga Novia bertanya-tanya, mengapa Reno pulang malam tidak menghubunginya, Padahal mereka sedang terlihat baik-baik saja.


"Sekarang Vio makan duluan ya, jangan lagi menunggu papa karena kita tidak tahu kapan papa akan pulang!" kata Novia sambil mengambil piring dan makanan untuk Vio.


****


Sementara itu, Reno nampak merapikan kemejanya, setelah dia baru saja menemani dan main dengan Tina di apartemennya .


Tina yang masih terlihat berbaring dengan mengenakan selimut dan tanpa pakaian itu, kemudian beringsut mendekati Reno yang mulai memakai kaos kaki.


"Kamu mau ke mana Reno? Seharusnya malam ini kamu nginap di sini saja, aku ini kan juga istrimu!" kata Tina sambil bergelayut manja di belakang Reno.

__ADS_1


"Aku harus pulang Tin, aku kan sudah memenuhi kewajibanku, lagi pula Novia dan Vio pasti sudah menungguku sedari tadi!" sahut Reno.


"Kamu harus adil Reno, kamu ingat walau Bagaimana sekarang aku ini adalah istrimu, dan di dalam sini ada benih yang sedang bertumbuh!" ujar Tina sambil menunjuk ke arah perutnya itu.


Reno diam saja tanpa menanggapi lagi perkataan Tina, setelah selesai dia berdiri lalu menyambar jasnya bergegas akan keluar dari apartemen Tina.


"Aku harus pulang sekarang Tin, Aku harap kau mengerti! Nanti aku akan pikirkan lagi waktunya yang tepat, aku tidak bisa seperti ini setiap malam!" kata Reno sambil melangkah ke arah pintu apartemen.


Tina kemudian bangun dari tempat tidurnya dan hanya dengan membalutkan selimut di tubuhnya dia berjalan mengejar Reno.


"Oke, sekarang kamu boleh pergi dari sini, tapi ingat Reno, aku tidak bisa menjadi cadangan terus menerus! Aku juga perempuan dan punya perasaan, aku tidak mau selalu menjadi yang nomor dua!" seru Tina.


Reno tidak menoleh lagi ke arah Tina, dia langsung membuka pintu apartemen itu dan keluar, lalu melangkah cepat menuju ke parkiran mobil, di mana mobilnya telah terparkir.


Reno terburu-buru melajukan mobilnya itu menuju ke rumahnya, waktu sudah menunjukkan pukul 11.00 malam, dia berpikir, apa alasan yang dia berikan pada Novia jikalau Novia menanyakannya, Kepalanya benar-benar pusing.


Reno merasa terjebak dalam situasi yang sungguh sangat menyulitkan dirinya, rasanya dia ingin keluar dari situasi itu tapi dia tidak bisa.


Hingga akhirnya Reno sampai juga di depan gerbang rumahnya, dia langsung membunyikan klaksonnya dan tak lama kemudian Mbak Darmi pun langsung membuka gerbang rumahnya itu.


Reno segera masuk dan langsung turun dari mobilnya, kemudian dia bergegas menuju ke kamarnya, suasana rumah saat itu sudah terlihat sepi dan sunyi.


Pada saat membuka pintu kamarnya, Novia nampak berbaring miring, sambil menangis dia menoleh ke arah Reno yang baru masuk itu dengan mata yang basah.


"Mas Reno, Kamu dari mana saja? Aku pikir sesuatu yang buruk terjadi padamu, tapi ternyata kau baik-baik saja!" kata Novia yang langsung berdiri dan memeluk suaminya itu.


"Aku baik-baik saja Sayang, maafkan aku! Tadi mendadak aku ada meeting dengan karyawan, dan ponselku sengaja kumatikan karena meeting ini begitu penting untuk kemajuan perusahaan!" ujar Reno.


"Iya, tapi lain kali tolong beritahu aku, sehingga aku tidak gelisah dan tidak berpikiran yang negatif terhadapmu!" ucap Novia sambil sedikit terisak.


"Iya sayang, Aku janji aku akan memberitahumu kalau aku ada pekerjaan mendadak, atau ada apapun, Maafkan Aku!" jawab Reno sambil memeluk dan menciumi wajah Novia.


Novia tersenyum lega, paling tidak kini suaminya pulang dengan selamat, padahal tadi dia Sempat berpikir kalau terjadi sesuatu yang buruk pada Reno, misalnya kecelakaan atau apa, dan Novia bersyukur saat ini dia masih bisa menyentuh suaminya tanpa kekurangan suatu apapun.


bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2