Rahasia Perkawinan

Rahasia Perkawinan
Pulang Ke Jakarta


__ADS_3

Novia turun dari taksi online yang kini sudah berhenti di depan gerbang rumah Reno di Jakarta. Suasana sudah terlihat gelap karena mereka berangkat sejak sore tadi dari Semarang.


Setelah membayar taksi online, Novia kemudian menuntun Vio dan memencet bel yang ada di gerbang, entah mengapa hatinya begitu berdebar setelah dia kembali ke rumah ini, rumah yang pernah membuat hatinya begitu sakit.


Beberapa kali memencet bel, namun tidak ada jawaban dari dalam, rumah juga terlihat gelap, lampu-lampu juga sepertinya belum dinyalakan.


Novia kemudian langsung mengambil ponselnya berniat hendak menelepon Mbak Darmi, Novia mulai memencet nomor telepon Mbak Darmi dan beberapa kali mencoba menghubunginya, namun telepon Mbak Darmi tidak diangkat-angkat, telepon rumah pun tidak diangkat-angkat, Novia menjadi heran dan bingung kenapa tiba-tiba rumah ini menjadi kosong, ke mana semua penghuni rumah ini?


Novia kemudian berjalan ke sebelah rumah, ke rumah David, rumah David juga sama, lampunya gelap dan sepertinya mobil David juga tidak ada di tempatnya, David juga pergi entah ke mana, Novia Semakin menjadi bingung.


"Mama, kok kita tidak masuk-masuk?" tanya Vio.


"Iya nih, Mbak Darmi ke mana ya? Bagaimana kita mau masuk, tidak ada yang membukakan gerbang!" jawab Novia.


"Bukannya mama punya kunci cadangan? Kita masuk saja pakai kunci cadangan, kan mama selalu bawa kemana-mana!" kata Vio.


"Oh iya! Vio Pintar juga, Mama kan punya kunci serep yang selalu ada di dalam tas, Oke sekarang kita bisa masuk!" sahut Novia sambil merogoh kantong yang ada di tasnya itu, untuk mencari kunci serep yang selalu dia Bawa kemanapun dia pergi.


Sejak dulu Reno memang sering mengingatkan Novia untuk membawa kunci serep ke mana-mana, supaya dia bisa kapanpun masuk tanpa harus menunggu orang rumah membukakan pintu.


Baru saja Novia hendak membuka pintu gerbang rumahnya itu, tiba-tiba mobil angkutan umum berhenti dan Mbak Darmi terlihat turun dari mobil angkutan umum itu.


"Bu Novia? Bu Novia sudah pulang? kok tidak ada kabar? Jadi saya tidak bisa menyiapkan makanan untuk kalian nih!" tanya Mbak Darmi yang langsung berjalan cepat menghampiri Novia dan Vio yang masih berdiri di depan gerbang rumahnya itu.


"Tidak apa-apa Mbak Darmi, aku memang sengaja tidak memberikan kabar supaya Mbak Darmi juga jangan repot-repot!" jawab Novia.


Mereka kemudian mulai berjalan masuk ke dalam rumah.


"Oh ya, Mbak Darmi dari mana malam-malam begini?" tanya Novia yang kemudian langsung duduk di sofa ruang keluarga itu untuk melepaskan rasa penat dan lelahnya.


"Itu Bu, anu Bu, saya cuman cari angin saja, kesepian di rumah!" sahut Mbak Darmi yang berusaha mencari alasan.


"Cari angin? Kalau cari angin kenapa harus naik angkutan umum segala Mbak?" tanya Novia lagi.


Ting ... Tong ...


Belum sempat Mbak Darmi menjawab pertanyaan Novia, tiba-tiba saja terdengar suara bel dari arah gerbang depan.


Mbak Darmi kemudian langsung bergegas menuju ke depan untuk melihat siapa tamu yang datang.


Tak lama kemudian, Tina datang dan berjalan cepat masuk ke dalam menghampiri Novia yang terlihat kaget melihat kedatangan Tina, sementara Mbak Darmi berjalan di belakangnya berusaha untuk mencegah Tina, namun Tina tidak memperdulikan Mbak Darmi.


"Duh Bu Tina, siapa juga yang suruh masuk! Bu Novia baru pulang jangan diganggu Bu!" seru Mbak Darmi.


"Biarkan saja Mbak! Apa maksud kedatanganmu ke sini Tina?" tanya Novia yang berusaha tetap tenang.

__ADS_1


"Novia, di mana Reno?" tanya Tina to the point.


"Kenapa kau menanyakan Mas Reno padaku? Aku baru datang dari Semarang! Aku tidak tahu di mana keberadaan dia! bukannya kamu selalu tahu dia ada di mana?" tanya Novia balik.


"Tidak! Beberapa hari ini bahkan Reno seperti hilang ditelan Bumi, aku sudah mencarinya kemanapun, namun aku tidak bertemu dengannya, dan mungkin kamu tahu dimana keberadaan Reno, Karena sekarang dia juga adalah suamiku!" kata Tina.


"Bahkan kamu tidak malu menyebut dia sebagai suamimu! Kamu benar-benar tidak bisa menghargai perasaan orang lain Tina! Selama ini aku salah menilaimu, aku bahkan lebih mempercayaimu daripada siapapun, dan menganggapmu seperti saudara, tapi ternyata ... "


"Aku tidak butuh ceramahmu Novia, kita memang pernah bersahabat, tapi asal kamu tahu, aku selalu iri akan keberhasilanmu terutama dalam hal cinta, aku selalu merasa menjadi seorang pendengar saja, tanpa tahu merasakan apa itu dicintai!" potong Tina cepat.


"Seandainya kamu mau lebih jujur padaku, tentunya aku juga akan mendengarkan setiap keluh kesahmu, tapi ternyata kau bahkan lebih licik daripada ular!" ujar Novia.


"Ya Ya aku tahu, Maafkan aku Novia, karena aku memang telah merebut suamimu, merebut kebahagiaanmu, karena aku tidak tahu lagi Bagaimana caranya aku bisa menjadi sepertimu!" kata Tina.


"Sekarang aku mohon, Kau Pergilah dari rumahku, Mas Reno tidak ada di sini, kau carilah ke mana saja, aku sudah tidak mau lagi berurusan dengan hal itu, fokusku hanya pada Vio anakku!" ucap Novia.


"Oke, aku memang akan pergi dari sini, karena aku memang mencari keberadaan suamiku, Permisi!" sahut Tina yang kemudian membalikkan tubuhnya dan berjalan ke arah pintu depan.


Saat itulah Novia kembali menangis, dia tidak menyangka sahabat yang sangat dekat dengannya dulu, kini menjadi musuh dalam selimut, dan bahkan sudah tidak ada lagi empati. Perlahan Mbak Darmi berjalan mendekati Novia dan mengusap lembut bahunya.


"Sudahlah Bu, wanita seperti itu tidak pantas untuk ditangisi, lebih Baik Ibu beristirahat saja, Vio juga sudah langsung tidur di kamarnya!" kata Mbak Darmi.


"Iya mbak, Aku mau beristirahat di kamarku dulu, tolong kalau ada kabar mengenai Mas Reno beritahu aku, aku juga tidak tahu kenapa Tina mencari di mana keberadaan Mas Reno, aku pikir selama ini mereka terus bersama!" ucap Novia.


"Asal Bu Novia tahu, sejak Bu Novia pergi ke Semarang, pak Reno tidak lagi bersama dengan Tina, dia selalu di sini dan tidak pernah lagi mau menerima Tina!" kata Mbak Darmi.


Mbak Darmi terdiam seketika, saat ini Reno masih kritis di ruang ICU di rumah sakit, dia tidak mungkin mengatakan pada Novia mengenai kondisi Reno, Mbak Darmi takut itu akan membuat Novia bertambah shock dan tertekan, setelah masalah yang mereka hadapi belakangan ini.


"Sudahlah Bu Novia, lebih baik bu Novia beristirahat saja, saya akan masak sebentar untuk makan kita!" kata Mbak Darmi.


Novia kemudian menganggukkan kepalanya dan beranjak dari tempatnya, lalu berjalan gontai menuju ke kamarnya, kamar yang sudah berapa lama ini tidak dia tempati, mungkin dia memang harus beristirahat sejenak di kamarnya itu, menanggalkan semua beban dan pikirannya yang selama ini mengganjal dirinya.


Setelah Novia masuk ke dalam kamarnya, Mbak Darmi buru-buru menuju ke meja telepon, dia hendak menelepon David yang saat ini masih berada di rumah sakit menunggui Reno.


Mbak Darmi kemudian cepat-cepat memencet nomor telepon David, untuk memberitahukan kalau Novia sudah ada di Jakarta.


"Halo, Ada apa Mbak Darmi?" tanya David.


"Pak David, Bu Novia sudah di Jakarta sekarang! Bagaimana ini? Apakah saya harus memberitahu Kalau Pak Reno sedang berada di rumah sakit karena kecelakaan?" tanya Mbak Darmi dengan suara lirih.


"Apa? Novia sudah di Jakarta? Bagaimana ya Mbak, aku juga bingung, tapi kita juga tidak bisa menyembunyikan keadaan Reno lama-lama, karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi di depan!" jawab David.


"Makanya itu Pak, saya juga bingung, saya sampai sekarang belum memberitahu Ibu soal keadaan Pak Reno, soalnya saya juga takut kalau mau bilang yang sebenarnya!" kata Mbak Darmi.


"Begini saja Mbak, kalau kita merahasiakan ini, kita yang salah, meskipun niat hati kita baik, lebih baik mbak Darmi Jujur saja ngomongnya pelan-pelan, supaya Novia tidak syok atau kaget!" ucap David.

__ADS_1


"Iya deh Pak, saya akan coba bicara sama Bu Novia besok pagi, biar malam ini dia istirahat saja dulu, Kasihan juga dia baru sampai, apalagi tadi ada Bu Tina yang datang!" jawab Mbak Darmi.


"Apa? Ngapain Tina datang-datang lagi ke rumah itu?" tanya David.


"Ya itulah Pak, dia mencari-cari di mana Pak Reno berada, Bahkan dia bertanya sama Bu Novia, berani sekali dia, sudah merebut suami orang, tidak tahu malu lagi!" sungut Mbak Darmi.


"Iya sih, Tina memang benar-benar keterlaluan! Lebih baik Kalau dia datang lagi jangan suruh dia masuk! lebih baik usir saja dia!" ujar David.


"Lah bagaimana saya mau mengusirnya Pak, baru juga saya buka pintu gerbang, dia sudah nyelonong masuk! Saya panggil-panggil dia tidak dengar, malah jalannya lebih cepat dia daripada saya!" ungkap Mbak Darmi.


"Ya Sudah cuekin saja Tina, lagi pula dia juga tidak penting! Sekarang yang harus kita pikirkan adalah bagaimana kita menjadi orang-orang yang nyaman untuk Novia, juga Vio, saat ini mereka membutuhkan kita!" ucap David.


"Iya Pak, saya tidak menyangka kalau Pak David itu begitu baik hatinya, Maafkan saya dulu pernah berburuk sangka pada bapak, tapi sekarang saya sadar ternyata Pak David itu orang yang tulus!" kata Mbak Darmi.


"Ah Mbak Darmi bisa saja, saya sejak dulu Memang tulus Mbak, cuma jarang orang yang menyadarinya, Ya sudah kalau begitu, sudah malam Istirahatlah, Aku juga mau istirahat ini di mobil!" ujar David yang kemudian langsung mematikan panggilan teleponnya.


Mbak Darmi kemudian meletakkan kembali gagang teleponnya itu ke tempatnya, dia menarik nafas lega setidaknya besok pagi dia harus membicarakan masalah Reno pada Novia, walau bagaimanapun Novia adalah istri sah dari Reno, dan dia juga harus tahu bagaimana keadaan suaminya.


****


Setelah bangun tidur dan mandi, Novia turun dan melangkah menuju ke ruang makan, Vio nampak sedang bermain puzzle dan duduk di ruang keluarga, ditemani oleh Mbak Darmi yang sudah selesai menyiapkan sarapan pagi.


"Selamat pagi Bu, Bagaimana semalam tidurnya nyenyak?" tanya Mbak Darmi.


"Iya mbak, semalam itu aku sangat nyenyak tidur, mungkin karena aku juga lelah, Oh ya Mbak, Apakah tidak ada kabar dari Mas Reno? Dia ada di mana ya? Kemarin Tina juga mencarinya ke sini, kalau dia tidak ada bersama dengan Tina, lalu dia di mana?" tanya Novia.


Sejenak Mbak Darmi terdiam mendengar semua pertanyaan Novia, Dia sedang menyusun kata-kata, supaya Novia tidak shock mendengar kenyataan kalau suaminya itu berada di rumah sakit.


"Bu Novia, Maafkan saya bu, sebenarnya beberapa hari yang lalu Pak Reno mengalami kecelakaan, dan saat ini dia masih belum sadar dan berada di ruang ICU di rumah sakit, Pak David yang menunggui!" ucap Mbak Darmi sambil menundukkan kepalanya.


"Apa? Mbak Darmi sedang tidak bercanda kan? Baru kemarin itu David menelepon dan dia tidak mengatakan apapun, sekarang apa Mbak Darmi tahu di mana suamiku?" tanya Novia yang terlihat sangat syok itu.


"Saya serius bu, kalau Ibu mau, saya antar ibu ke rumah sakit untuk melihat kondisi Pak Reno, mudah-mudahan saja kalau ibu jenguk, pak Reno bisa segera sadar!" jawab Mbak Darmi.


Novia tidak menjawab perkataan dari Mbak Darmi, tiba-tiba saja tubuhnya terasa lemas seperti tidak bertulang, dadanya begitu bergemuruh sampai menembus ke tulang punggung, bahkan Novia tidak lagi berselera melihat makanan yang sudah tersaji di atas meja makan itu, seolah separuh jiwanya kembali hilang mendengar Reno yang kini berada di rumah sakit, dalam keadaan tidak sadar.


"Bu, Ibu tidak apa-apa kan? Bu jangan seperti ini, saya yakin Bu Novia bisa melalui ini semua, ingat Vio bu!" kata Mbak Darmi yang kemudian langsung berdiri dan memegangi bahu Novia yang tubuhnya kini terlihat sedikit bergetar.


Novia tidak merespon apa yang dikatakan oleh Mbak Darmi, hanya air matanya yang kini deras mengalir seolah mewakili seluruh perasaannya saat ini.


"Mbak Darmi, antar aku ke rumah sakit sekarang! Aku ingin bertemu dengan Mas Reno, nanti aku titip Vio ya tolong jaga dia!" ucap Novia dengan suara bergetar.


"Iya Bu, tapi Ibu makan dulu ya Bu, Saya khawatir Nanti Ibu kenapa-napa kalau ibu belum makan, ibu harus kuat dan sehat demi Pak Reno dan demi Vio!" kata Mbak Darmi yang kemudian langsung mengambil piring dan menaruh makanan di atas piring itu, lalu menyodorkannya ke hadapan Novia.


Novia menganggukan kepalanya dengan lemah, meskipun saat ini lidahnya terasa kelu dan dia sangat tidak ingin sekali memakan apapun pagi ini, namun dia membenarkan ucapan Mbak Darmi, minimal dia harus kuat, harus bisa bertahan, paling tidak untuk Reno dan untuk Vio buah hatinya.

__ADS_1


Bersambung ....


*****


__ADS_2