
Novia duduk bersandar di sofa ruang keluarga rumahnya itu.
Baru saja dia mengalami sedikit kram di perutnya, dan rasa mulas yang tiba-tiba datang melandanya.
Silvi memijiti kaki Novia dan sesekali mengelus perut Novia, untuk meringankan rasa sakitnya, sementara Mbak Darmi muncul dari arah dapur sambil membawakan segelas teh hangat.
"Ini Bu diminum dulu tehnya, biar perutnya hangat! Kita ke rumah sakit ya, biar Pak Sukri yang mengantar!" kata Mbak Darmi sambil menyodorkan teh hangat itu ke arah Novia.
Novia meneguk teh hangat itu sampai habis, dia juga berusaha untuk membuat perutnya itu nyaman, sehingga tidak lagi merasa sakit seperti tadi.
"Mbak Darmi, Dokter Fanny bilang, kalau kontraksi di awal itu bisa disebut kontraksi palsu, jadi kita jangan terkecoh dulu! Nanti kalau sudah mendekati hari H pasti kontraksi itu akan sering terjadi!" jelas Novia.
"Tapi apakah memang selalu seperti itu Mbak Novia? Tadi sepertinya Mbak Novia sakit sekali lho, aku saja ngeri-ngeri sedap melihatnya!" ujar Silvi.
"Iya betul tuh Bu, kan tidak ada salahnya kalau kita periksa saja ke dokter!" timpal Mbak Darmi.
"Begini saja deh, sepertinya aku memang harus istirahat saja di tempat tidur, Maaf ya Silvi aku tidak bisa menemanimu lama-lama mengobrol!" ucap Novia.
"Iya mbak, pokoknya yang utama kesehatan Mbak Novia dulu, nanti kalau ada apa-apa langsung panggil aku ya Mbak, saya siap membantu!" kata Silvi.
"Ya sudah, sini kalau begitu Biar saya antar ibu ke kamar untuk beristirahat!" tawar Mbak Darmi yang langsung dengan sigap memegang tangan Novia untuk menuntunnya sampai ke kamarnya.
"Ya sudah kalau begitu, aku langsung pulang ya Mbak Novia, pokoknya kalau ada apapun langsung panggil aku!" pamit Silvi yang kemudian langsung beranjak keluar dari ruangan itu.
Sementara Novia berjalan pelan-pelan dituntun oleh Mbak Darmi, hingga masuk ke dalam kamarnya.
"Bu, Ibu jangan jauh-jauh dari ponsel ya, pokoknya kalau butuh apapun langsung panggil Mbak Darmi!" kata Mbak Darmi sambil membantu Novia berbaring dan menyelimuti tubuhnya.
__ADS_1
"Iya mbak, tenang saja, tuh kan betul sekarang sakitnya malah sudah hilang, aku mau istirahat dulu ya mbak, mungkin memang aku harus benar-benar bedrest ini!" ucap Novia.
"Iya Bu, nanti makan siangnya Biar saya aja yang mengantar ke atas, Ibu jangan kemana-mana deh!" jawab Mbak Darmi yang langsung melangkah keluar dari kamar Novia.
Novia yang kini tengah berbaring menarik nafas panjang, rasa sakit yang tadi tiba-tiba datang kini menghilang begitu saja.
Novia berpikir, mungkin itulah yang dinamakan kontraksi palsu, dia berusaha menenangkan pikirannya supaya tidak panik, apalagi Novia selalu ingat bahwa hari perkiraan kelahiran bayinya itu masih Minggu depan, meskipun ada kemungkinan maju ataupun mundur, tapi tidak jauh-jauh dari tanggal yang sudah diprediksi oleh dokter.
****
Novia terbangun dari tidurnya, ketika dirasakannya bahwa tubuhnya di bagian belakang seperti basah.
Perlahan Novia kemudian bangkit dari posisi berbaringnya, dan duduk bersandar di dipan tempat tidurnya itu.
Matanya membola saat melihat spreinya sudah terlihat basah seperti habis mengompol, Novia mengerutkan keningnya, benarkah kalau dia baru saja mengompol?
Tiba-tiba Novia merasakan ada sesuatu yang mengalir dari bagian sensitifnya, dan Novia sedikit terkejut ketika melihat ada bercak darah yang kembali keluar bersamaan dengan air yang merembes sampai pakaiannya basah.
"Mbak Darmi!!"
Novia langsung memanggil Mbak Darmi dan lupa untuk memencet ponselnya yang sejak tadi ada di sebelahnya, karena panik dan kaget melihat apa yang terjadi dengan dirinya.
Novia merasa takut, dia takut kalau sesuatu terjadi pada bayi yang dikandungnya, yang sebentar lagi akan lahir ini.
"Mbak Darmi!!" Panggil Novia sekali lagi.
Belum ada sahutan dari Mbak Darmi, akhirnya dengan perlahan Novia berusaha bangkit dan hendak melangkah menuju ke kamar mandi, namun ada yang mengalir dari sela-sela pahanya, air bercampur darah dan kini jumlahnya semakin banyak, Novia menjadi semakin panik.
__ADS_1
"Mbak Darmi!!" panggil Novia dengan teriakan yang keras.
Tak lama kemudian terdengar suara pintu kamar Novia yang terbuka, dan Mbak Darmi langsung datang dengan wajah yang terlihat panik saat melihat keadaan Novia yang sudah seperti itu, dengan air dan bercak darah yang tercecer di lantai.
"Ya Tuhan Ibu! Kenapa tidak pakai telepon memanggil saya Bu? Kan kamar Ibu kedap suara, untung saja saya ada feeling naik ke atas!" seru Mbak Darmi sambil membantu Novia untuk kembali duduk di sisi ranjangnya.
"Panggilkan Pak Sukri mbak! Sepertinya aku harus ke rumah sakit sekarang, karena ini bukan hal yang biasa lagi!" kata Novia dengan wajah yang sedikit pucat karena panik.
"Ya ampun Bu, tadi belum lama Pak Sukri kan pamit mau mengantar istrinya pulang kampung ke stasiun, tapi nanti coba saya telepon lagi deh, sekarang saya bantu untuk ganti pakaian ya Bu, karena ini sudah basah, sepertinya air ketuban Ibu pecah dan Ibu harus pakai pembalut dulu sementara!" ujar Mbak Darmi.
"Iya mbak, sekarang Tolong telepon Pak Sukri dulu! Aku bisa mengganti pakaianku sendiri, aku harus ke rumah sakit sekarang!" titah Novia.
Mbak Darmi kemudian merogoh ponselnya yang ada di saku bajunya itu, kemudian dengan cepat dia langsung menelpon Pak Sukri.
Sementara Novia mulai mengambil pakaian bersih yang ada di lemari bajunya, dan dia dengan cepat mengganti pakaiannya itu, kini dia benar-benar yakin kalau dirinya memang harus ke rumah sakit saat ini juga.
"Bu Novia, Pak Sukri bilang dia kejebak macet total, ada kecelakaan! Jadi kemungkinan dia lama sampai di rumah, Ibu tunggu sebentar ya Saya mau panggilkan tetangga sebelah dulu!" kata Mbak Darmi yang langsung melesat keluar dari kamar itu, tanpa sempat mendengarkan lagi panggilan Novia yang berusaha untuk mencegahnya pergi.
Novia hanya pasrah saja, walaupun nanti lagi-lagi David yang akan membawanya ke rumah sakit, Kini dia sudah tidak ada pilihan lagi, demi keselamatan bayinya.
Tak lama kemudian, datanglah Mbak Darmi bersama dengan Silvi dan David yang nampak terkejut saat melihat ada air dan bercak darah di lantai kamar itu yang belum dibersihkan.
"Untung Tetangga Sebelah selalu ada di rumah! Ayo bu kita ke rumah sakit sekarang!" ujar Mbak Darmi yang kemudian langsung menuntun tangan Novia untuk berjalan keluar dari kamarnya.
"Dalam keadaan seperti ini, kenapa masih harus berjalan? itu sangat membuang waktu!" cetus David yang kemudian langsung dengan Sigap mengangkat tubuh Novia dan berjalan cepat keluar dari kamar itu, lalu menuju ke mobilnya yang sudah siap terparkir di depan gerbang rumahnya.
Bersambung....
__ADS_1