
Novia terperanjat dari tidurnya, entah mengapa matanya begitu mengantuk, hingga siang ini dia tidur agak lama, saat melihat jam sudah menunjukkan pukul 11.30 siang, Novia langsung meloncat dari tempat tidurnya.
Biasanya jam segini Novia sudah menjemput Vio ke sekolah, buru-buru Novia keluar dari kamarnya lalu turun ke bawah bersiap akan menjemput Vio ke sekolah.
"Bu Novia mau menjemput Vio? Itu Pak Sukri ada di depan!" kata Mbak Darmi.
"Aku jemput sendiri saja Mbak, sudah Agak terlambat juga ini, gara-gara aku ketiduran!" sahut Novia yang langsung menyambar kunci mobilnya dan bergegas keluar dari rumahnya itu.
Tanpa menunggu lagi, Novia kemudian langsung naik ke dalam mobilnya dan langsung melajukan mobilnya itu menuju ke sekolah Vio.
Biasanya Novia tidak pernah terlambat menjemput Vio ke sekolah, namun entah kenapa hari ini dia terlambat.
Benar juga, sesampainya di sekolah suasana sekolah sudah terlihat sepi, hanya ada beberapa anak yang memang belum dijemput oleh orang tuanya.
Setelah selesai memarkirkan mobilnya, Novia langsung bergegas menuju ke lobby Sekolah, di mana biasanya Vio menunggunya untuk dijemput.
Namun setelah sampai lobby, Novia tidak melihat Vio yang biasa bermain bersama dengan teman-temannya.
"Selamat siang pak, mau jemput Vio agak terlambat, Vio di mana ya Pak?" tanya Novia pada satpam sekolah yang menjaga gerbang lobby.
"Lho, kan Vio tadi sudah dijemput Bu!" jawab Pak satpam.
"Di jemput? Siapa yang jemput Vio Pak? Kan biasanya saya yang jemput, Kenapa Bapak biarkan dia dijemput oleh orang lain?" tanya Novia yang kini terlihat mulai emosi.
"Maaf bu, tapi ini kan bukan orang lain Bu, Vio sendiri juga sangat akrab dan mengenal orang itu, katanya saudaranya Bu!" ujar Pak satpam.
"Pak, saya tidak punya saudara ya di Jakarta, kalau terjadi apa-apa pada anak saya, saya tuntut sekolah ini!" cetus Novia.
"Itu Bu, Belum lama juga kok, barangkali mereka masih ada di parkiran!" kata Pak satpam sambil menunjuk ke arah parkiran.
Tanpa bertanya lagi, Novia langsung berlari menuju ke parkiran sekolah yang luas itu.
__ADS_1
Matanya membola saat dia melihat Vio berjalan bergandengan dengan David, yang berjalan menuju ke mobilnya yang terparkir di pojok parkiran di bawah sebuah pohon.
Novia langsung berlari mengejarnya, dadanya bergemuruh kencang, dia tidak pernah menyangka kalau David akan nekat menjemput Vio tanpa seizinnya.
"Vio! Ayo pulang sama mama!" seru Novia sambil menarik tangan Vio sehingga terlepas dari gandengan David.
David nampak terkejut saat melihat kedatangan Novia yang tiba-tiba itu.
"Novia? kamu sudah sampai di sini?" tanya David bingung.
"David, jangan pura-pura, Sejak kapan aku mengizinkanmu menjemput Vio ke sekolah?" berang Novia.
"Novia dengar dulu, tadi aku tidak sengaja melewati sekolah Vio, Tadinya aku mau mampir hanya sekedar ingin melihatnya, dan apa salahnya kalau aku mengajaknya pulang bersama, bukankah kita bersebelahan?" jawab David.
"Ya, tapi tetap saja apa yang kau lakukan itu salah David! Sekarang aku mau pulang bersama Vio!" cetus Novia yang kemudian langsung menggandeng tangan Vio dan berjalan cepat menuju ke mobilnya.
David hanya termangu menatap kepergian mereka dari hadapannya itu.
"Vio Sayang dengar, kamu tidak boleh pulang dengan siapapun termasuk dengan Om David tanpa seizin Mama!" tegas Novia sambil mulai menyalakan mesin mobilnya itu.
"Tapi kenapa Ma? Om David itu kan baik, Biasanya aku juga sering main dengan Om David!" tanya Vio.
"Pokoknya tidak boleh! Vio harus dengar mama, selain mama dan papa tidak boleh ada orang yang menjemput Vio ke sekolah, mengerti?!" kata Novia sambil menatap lekat ke arah Vio.
Vio hanya menganggukkan kepalanya sambil menangis, tanpa berani lagi membantah perkataan Mamanya itu.
Dalam hati Novia begitu sedih, selama ini dia tidak pernah membentak Vio dan berkata keras seperti sekarang ini, hanya karena emosi, karena David dengan lancang datang untuk menjemput Vio ke sekolah.
Kemudian Novia menghentikan laju mobilnya dan memeluk Vio yang duduk di sebelahnya.
"Maafin mama sayang, bukan maksud Mama untuk memarahi Vio, tapi mama hanya takut kehilangan Vio!" ucap Novia sambil meneteskan air matanya.
__ADS_1
"Kenapa mama takut? Memangnya Om David itu penjahat? Om David itu kan baik dan sayang sama aku Ma!" tanya Vio dengan polosnya.
"Vio, orang tua Vio itu hanya mama dan papa Reno, bukan siapa-siapa, Vio harus ingat itu!" jawab Novia.
Vio nampak menganggukkan kepalanya meskipun dia tidak mengerti maksud perkataan Mamanya itu.
"Vio mau es krim? kalau begitu kita beli es krim sekarang ya, tapi sebelum itu Vio harus makan dulu!" ucap Novia yang kembali melajukan mobilnya itu dengan perlahan.
Hingga mereka tiba di sebuah cafe yang tidak jauh dari sekolah Vio.
Novia kemudian memarikan mobilnya itu di parkiran Cafe, lalu menuntun tangan Vio masuk ke dalam Cafe itu, mereka akan makan siang di cafe itu juga memberikan es krim untuk Vio.
Mereka kemudian duduk di Cafe, dan Novia mulai memesan menu makanan juga es krim kesukaan Vio.
Namun sejak tadi Vio terlihat diam saja, wajahnya terlihat muram dan sedih.
"Vio Kenapa mukanya sedih begitu? Bukankah Vio sangat ingin makan es krim? Ini mama sudah membelikan es krim lho buat Vio!" tanya Novia.
"Tapi aku ingin makan es krim sama Om David Ma, Om David pasti sedih karena tidak jadi makan es krim bersamaku!" jawab Vio.
"Kamu kenapa masih mikirin Om David saja sih? Kan sekarang sudah sama Mama di sini?" tanya Novia sedikit kesal.
"Karena Om David itu sayang sama aku Ma, kalau aku main ke rumahnya, Om David selalu bermain denganku dan dia selalu memberikan aku makanan kesukaan aku!" jawab Vio.
"Vio dengar, Papa Reno juga baik dan sayang sama Vio, apapun yang Vio Minta Papa Reno selalu memberikan nya, setiap malam bahkan Papa Reno selalu mendongengkan untuk Vio, Kenapa Vio malah memikirkan Om David?" tanya Novia balik sambil menatap dalam ke arah Vio.
"Maaf Ma!"
Hanya itu yang dapat Vio ucapkan, sesungguhnya di dalam hati bocah kecil itu, tidak bisa menjawab apa yang ditanyakan oleh Novia, karena dia sendiri juga tidak tahu alasannya.
Novia kembali memeluk Vio dengan erat, dia tahu apa yang dirasakan Vio, tapi Novia tidak bisa mengatakan apapun dan menjelaskan apapun pada bocah kecil di hadapannya itu.
__ADS_1
Bersambung ....