Rahasia Perkawinan

Rahasia Perkawinan
Pertemuan Reno Dan David


__ADS_3

Siang ini David menunggu Reno di lobby kantornya. David sangat ingin bertemu dan berbicara dengan Reno, setelah apa yang mereka alami belakangan ini.


David yakin kalau Reno pasti akan datang ke kantornya, karena kantor ini adalah usaha Reno, dan dia tidak mungkin begitu saja meninggalkan kantornya itu.


Mungkin Reno tidak pulang ke rumahnya, tapi dia tidak mungkin tidak ke kantornya.


Benar Apa yang dipikirkan David, mobil Reno terparkir di parkiran kantor yang luas itu.


Reno terlihat turun dari mobil sambil menggandeng tangan Vio yang pada saat itu ikut Reno ke kantor.


David sengaja tidak beranjak dari tempatnya, menunggu Reno sampai dia masuk ke dalam lobby.


Setelah Reno dan Vio masuk ke dalam lobby kantor itu, barulah David berdiri dan melangkah mendekati mereka.


Reno nampak terkejut melihat kehadiran David di kantornya yang tidak pernah dia duga sebelumnya itu.


"David! Mau apa kau datang ke kantorku?" tanya Reno.


"Aku mau menjemput Vio untuk pulang ke rumahnya, karena mamanya sangat merindukannya!" jawab David.


"Om David! Aku kangen sama Mama! Aku ingin bertemu dengan Mama!" kata Vio.


"Tidak, Vio Bersama Papa saja, Pokoknya Vio jangan khawatir, papa akan melindungi Vio, menjaga Vio dan memberikan apa saja Vio mau!" tukas Reno.


"Kau jangan egois Reno! Jangan bawa-bawa Vio Untuk masalah ini!" seru David.


"Kau jangan ikut campur dengan urusan keluargaku! Lebih baik kau keluar dari kantorku sekarang juga, atau aku panggilkan satpam untuk menyeretmu keluar!" sengit Reno.


"Kau dengar dulu Reno, Jangan hanya karena kau melihat kesalahan seseorang, kau mengorbankan banyak hal, kasihan Novia, dia sudah terlalu banyak menderita, apalagi kini dia kehilangan Vio! Kalau kau memang masih punya hati, antarkan kembali Vio ke rumah, atau kau akan membuat istrimu semakin stres dan depresi!" kata David yang kemudian langsung melangkah pergi meninggalkan lobby, lalu berjalan menuju ke parkiran di mana mobilnya terparkir.


Reno tersenyum mendengar ucapan David, selama ini mereka tidak pernah mempunyai masalah sebesar sekarang ini, Reno mulai menyadari bahwa karena cintanya yang buta, sehingga dia merasa kalau dirinya telah dilukai, apalagi saat David mengatakan kalau saat ini Novia terlihat semakin stres dan depresi karena kehilangan Vio.


"Papa, aku mau pulang ke rumah! aku kangen sama Mama! Aku kan sudah sembuh Pa, sudah tidak sakit lagi, Mama juga pasti kangen sama aku!" kata Vio sambil mengguncang-guncangkan tangan Reno yang menggenggam erat tangannya.


"Iya sayang, nanti sebentar lagi kita akan pulang ke rumah!" jawab Reno.


"Beneran Pa?" tanya Vio nyaris tak percaya.


"Iya sayang, kita pulang nanti ya ke rumah, benar Kata Om David, mungkin papa terlalu egois, terlalu menyalahkan dan tidak memikirkan perasaan orang lain!" jawab Reno.


"Terima kasih Pa, aku sayang papa! Aku pengen Papa seperti dulu, sayang sama Mama dan Kita bersama-sama lagi!" ujar Vio yang terlihat berbinar.


"Iya sayang, tapi papa ada satu permintaan sama Vio, Maukah Vio melakukannya untuk papa?" tanya Reno sambil merangkum kedua bahu Vio sambil berjongkok.


"Apapun yang papa minta, kalau bisa aku akan melakukannya untuk papa, asalkan aku kembali pulang dan kita bisa bersama-sama lagi!" jawab Vio.


"Tolong jangan beritahu Mama kalau Vio pernah bertemu dengan tante Tina di rumah sakit, atau di apartemen, jangan sekali-kali Vio bicara tentang tante Tina di depan mama ya!" kata Reno.


"Memangnya kenapa Pak?" tanya Vio tak mengerti.


"Kalau Vio cerita tentang Tante Tina sama mama, itu akan membuat mama sedih, Vio tidak mau kan melihat mama sedih? Makanya Vio jangan cerita-cerita tentang tante Tina!" jawab Reno.


"Iya Pa, aku janji tidak akan cerita-cerita soal Tante Tina, Aku tidak ingin membuat mama sedih!" ujar Vio dengan polosnya


Reno tersenyum kemudian dia langsung mengangkat Vio dalam gendongannya dan melangkah menuju ke ruangannya.


*****


Malam itu Novia duduk termenung di sofa ruang keluarga seperti biasanya, separuh jiwanya seolah pergi dari dirinya, gelak tawa Vio yang dulu selalu menghiasi hari-harinya, kini lenyap tanpa sisa, membuat Novia seperti layang-layang yang putus yang tidak tahu akan berlabuh ke mana.


"Novia, kau perhatikan tubuhmu, bahkan kau kini tidak lagi mengurus dirimu sendiri, bunda benar-benar prihatin padamu!" ucap Bunda Lasmi yang kini duduk menemani Novia.


"Kalau Bunda sudah mengantuk, Bunda tidur saja, aku masih mau di sini bun, lagi pula aku belum mengantuk!" kata Novia.


"Bunda perhatikan beberapa hari belakangan ini, kamu jarang sekali makan, lihat tubuhmu, sudah semakin kurus seperti itu, ditambah lagi wajahmu yang kelihatan begitu pucat, ayolah Novia, paling tidak kau harus menjaga kesehatanmu sendiri demi Vio!" ucap Bunda Lasmi.


"Iya Bunda, aku sudah makan kok walaupun sedikit, mungkin untuk saat ini aku hanya butuh sendiri!" gumam Novia.


Tin ... Tin ... Tin


Terdengar suara bunyi klakson dari arah gerbang depan rumah Novia, Novia sangat mengenal betul suara klakson mobil itu milik siapa.


"Mbak Darmi kemudian berlari-lari kecil untuk membukakan pintu gerbang rumah itu, Karena Pak Sukri hari ini tidak masuk, Novia sengaja mengistirahatkan Pak Sukri di rumahnya, karena memang Pak Sukri tidak ada kerjaan semenjak Reno pergi meninggalkan rumah ini.


"Mama!"


Novia tercengang mendengar suara yang sangat khas di telinganya itu, dia langsung berdiri untuk melihat ke depan, si kecil Vio sudah terlebih dahulu masuk dan langsung melompat ke dalam pelukan Novia.


Dengan penuh rasa haru, Novia memeluk Vio sambil menangis, seolah jiwanya yang pergi sudah kembali, seolah kebahagiaan kembali datang menghampirinya, dan itu jauh lebih berharga daripada harta seberapa banyak.


"Kamu ke mana saja sayang? Mama sungguh sangat merindukanmu, sangat!" ucap Novia sambil menangis.

__ADS_1


Bunda Lasmi juga nampak menangis sambil memeluk Vio, Setelah dia datang ke rumah ini, baru hari ini dia bisa memeluk dan bertemu dengan Vio setelah beberapa waktu lamanya Reno membawanya pergi.


Reno nampak melangkah perlahan memasuki rumahnya itu, entah mengapa dia terlihat canggung, mungkin karena ada Bunda Lasmi di sana.


"Selamat malam Bunda!" sapa Reno, sopannya santunnya masih sama seperti dulu terhadap Bunda Lasmi yang adalah mertuanya.


"Selamat malam Reno, kamu pasti lelah biarkan Vio bersama Bunda dan izinkan Novia yang melayanimu!" ucap Bunda Lasmi.


Bunda Lasmi kemudian mengambil alih Vio dari gendongan Novia, dan memberikan isyarat agar Novia melayani Reno yang baru datang itu


Novia langsung paham apa yang dimaksud Bundanya, kemudian dia berjalan menghampiri Reno lalu mencium tangannya setelah itu Novia menuntun tangan Reno menuju ke kamarnya.


Sesampainya di kamar, seperti yang dahulu biasa Novia lakukan, menyiapkan air hangat juga pakaian Reno dan membuat suaminya itu nyaman.


Reno diam saja dengan perlakuan Novia yang tidak berubah terhadapnya, tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya.


"Mas Reno, air hangat dan handuk sudah ada di kamar mandi ya, Mas Reno langsung segera mandi setelah itu berpakaian dan aku sudah menyiapkan semuanya!" ucap Novia.


Reno tidak beranjak ke kamar mandi, dia menatap ke arah Novia yang terlihat canggung di hadapannya.


Kemudian Reno bersimpuh sambil menangis di hadapan Novia.


Novia nampak terkejut atas perubahan sikap suaminya ini kenapa Reno tiba-tiba jadi berubah, Novia benar-benar bingung.


"Maafkan aku Novia, ku akui aku begitu egois, hanya karena kesalahan kecil yang kau lakukan, sampai menutup semua kebaikan kebaikan yang pernah kau berikan terhadapku!" ucap Reno sambil menangis.


Novia kemudian membantu Reno untuk berdiri lalu mengusap air mata suaminya itu sambil tersenyum.


"Melihat Mas Reno pulang bersama Vio, itu sudah membuat aku sangat bahagia, yang lain tidak perlu lagi Mas Reno!" kata Novia.


Reno kemudian langsung memeluk Novia dengan erat, seolah menumpahkan seluruh perasaannya.


Malam ini Novia begitu bahagia, suaminya telah kembali bersama dengan anaknya dengan perubahan yang luar biasa, entah dari mana datangnya.


"Mas Reno mandi dulu, setelah itu aku akan membuatkan minuman hangat untuk Mas Reno!" ucap Novia


"Sayang, aku ingin kau menemaniku mandi di kamar mandi, Aku sangat merindukanmu selama ini aku menahannya sebenarnya dalam hatiku aku sangat merindukanmu!" kata David melembut.


Ada getaran-getaran aneh dalam diri Novia, seolah suami yang hilang telah kembali lagi ke pelukannya, itu adalah hal yang paling membahagiakan.


Sambil tersipu Novia menganggukan kepalanya dan Reno pun langsung menggendong Novia ke dalam kamar mandi dan mereka mulai bercinta di sana beberapa jam lamanya.


****


"Cie yang sudah baikan! Sampai Bundanya dilupain nih!" goda Bunda Lasmi.


"Ah Bunda bisa saja, aku sangat bahagia, akhirnya Mas Reno kembali padaku bersama dengan Vio!" ucap Novia tersipu.


"Bunda juga ikut senang, akhirnya keluarga kalian kembali utuh seperti dulu, Novia jaga baik-baik keluarga kecilmu ini, sehingga badai apapun yang datang kalian tetap berdiri teguh!" Kata Bunda Lasmi.


"Iya Bunda!"


Tak lama Reno nampak sudah berpakaian rapi dan dia langsung duduk di ruang makan, bersama dengan Reno yang juga sudah terlihat rapi berseragam, wajah keduanya terlihat cerah ceria.


"Mama, Kata dokter aku sudah sehat dan sembuh, jadi aku bisa sekolah lagi!" kata Vio.


"syukurlah sayang, mama senang akhirnya Vio bisa kembali ke sekolah, lain kali Mama akan lebih menjaga kesehatan Vio, supaya tidak sakit lagi!" ujar Novia.


Novia kemudian mulai menyiapkan makanan untuk Reno dan juga untuk Vio.


"Novia, Reno karena kalian sudah berbaikan dan kembali harmonis Bunda rasa Bunda tidak terlalu mengkhawatirkan kalian lagi, nanti siang Bunda berencana akan pulang ke Semarang!" kata Bunda Lasmi.


"Kenapa Bunda terburu-buru pulang? baru juga aku dan Vio datang!" kata Reno.


"Ya kan kau tahu kalau Bunda di Semarang masih mengelola usaha ayah, tapi Bunda janji akan sering-sering mengunjungi kalian di sini!" ucap Bunda Lasmi.


Akhirnya Novia dan Reno pun merelakan Bunda Lasmi pulang ke Semarang, meskipun mereka masih ingin bersama dengan Bunda Lasmi di rumah ini, terlebih Reno yang sudah memutuskan untuk kembali ke rumah ini bersama dengan Vio dan hubungan mereka pun kini kembali dipulihkan.


Setelah selesai sarapan seperti biasa yang dulu mereka lakukan, Vio bersama dengan Reno berangkat, sementara Novia nanti akan menjemput Vio di sekolahnya.


"Mas Reno hati-hati ya, dan untuk masalah masa laluku dengan David Percayalah sejak aku menikah dengan mas Reno, Aku tidak pernah punya hubungan apapun padanya, semuanya sudah berakhir Mas!" ucap Novia saat mengantarkan mereka naik ke dalam mobil.


"Jangan bahas masalah itu lagi sayang, aku paham kalian memang tidak ada hubungan apapun, semuanya hanya masa lalu, aku yang terlalu egois dan gelap mata, aku mohon lupakan kejadian itu kita rajut kembali masa depan kita!" kata Reno sambil mengusap rambut Novia dan mengecup keningnya.


Reno kemudian mulai melajukan mobilnya itu bersama dengan Vio, Novia Melambaikan tangannya sampai mobil yang Reno kemudian itu hilang di balik tikungan jalan.


Baru saja Novia hendak masuk ke dalam rumah tiba-tiba ada mobil travel yang berhenti tepat di depan rumah David.


Novia menghentikan langkahnya kemudian melihat dari tembok samping rumahnya itu siapa orang yang datang ke rumah David.


Novia membulatkan matanya saat melihat Silvi yang turun perlahan dari mobil itu, dengan membawa satu tas koper dan kini dia memakai penutup kepala.

__ADS_1


Tubuhnya terlihat sangat kurus dan wajahnya pun terlihat sangat tirus, matanya sangat cekung dan kelihatan kalau Silvi sedang tidak baik-baik saja.


Novia kemudian langsung keluar dari gerbang rumahnya, dan berjalan menghampiri Silvi yang terlihat berjalan tertatih-tatih untuk memasuki gerbang rumah David.


"Silvi!" Panggil Novia.


Silvi menoleh kemudian tersenyum ke arah Novia yang berjalan semakin mendekat.


Dan mereka pun akhirnya saling berpelukan karena sudah sekian lama ini tidak bertemu.


"Mbak Novia? Sudah lama kita tidak bertemu aku kangen sekali Mbak!" kata Silvi sambil menarik tangan Novia untuk duduk di teras depan rumahnya itu.


"Silvi, Aku senang melihatmu kembali, memang seharusnya apapun yang terjadi, tempat Seorang Istri adalah di samping suaminya!" ucap Novia.


"Iya mbak, aku memutuskan untuk kembali ke rumah Bang David, karena di kampung juga aku kesepian, ditambah lagi penyakitku yang semakin lama semakin menggerogoti, paling tidak kalau aku mati aku tidak mati dalam kesendirian!" ungkap Silvi.


"Hush, Kamu ini bicara apa sih, yakinlah bersama dengan suamimu kamu pasti akan baik-baik saja!" sergah Novia.


"Aku juga berharap begitu Mbak, aku sudah mengambil keputusan untuk jujur dengan penyakitku ini pada Bang David, terserah Apakah Bang David masih mau menerimaku atau tidak!" kata Silvi.


"Laki-laki yang baik pasti akan menerima istrinya dalam kondisi apapun, dan aku yakin David dengan senang hati akan menerima kehadiranmu apa adanya!" ucap Novia.


Tak lama David pun keluar dari dalam rumahnya, dan dia terkejut melihat Silvi istrinya sudah di situ bersama dengan Novia.


Tidak mau mengganggu kebahagiaan David dan Silvi, akhirnya Novia kembali pulang ke rumahnya, Tapi paling tidak sekarang dirinya menjadi tenang, Reno sudah kembali padanya dan David juga sudah bersatu kembali pada istrinya.


****


Sementara itu Reno menghempaskan tubuhnya di kursi kebesarannya itu, banyak sekali dokumen dan file file yang belum sempat ia periksa dan tanda tangani, akibat masalah rumah tangganya kemarin itu.


Ceklek!


Ambar sekretaris Reno masuk sambil membawa beberapa dokumen di tangannya.


"Maaf Pak Reno, ini ada beberapa dokumen yang harus pak Reno periksa!" kata Ambar sambil meletakan beberapa lembar dokumen di atas meja kerja Reno.


"Ya, nanti aku sempatkan periksa!" sahut Reno.


"Baik Pak, Oya, tempo hari itu, istri bapak datang ke sini, di menanyakan bapak!" kata Ambar.


"Oya?"


"Iya Pak, saat itu kebetulan Bapak tidak masuk kantor!" ujar Ambar.


"Tapi ... kau tidak bilang kan kalau ada wanita yang suka datang menemui ku?" tanya Reno cemas.


"Yah, saya sudah terlanjur bilang pak, kalau ada teman wanita Bapak yang suka datang!" sahut Ambar.


"Apa?? Kau ini lancang sekali!" sengit Reno.


"Tapi Bapak tenang saja, saya kan cuma bilang teman wanita, tapi tidak menyebutkan namanya!" sahut ambar.


"Bagus, kau harus hati-hati jaga mulutmu!" cetus Reno.


"Iya Pak, kalau begitu saya ijin kembali, permisi!" kata Ambar yang langsung berjalan keluar dari ruangan itu.


Setelah Ambar keluar dari ruangan Reno, Reno kemudian mulai memeriksa dokumen yang sudah bertumpuk di atas mejanya itu satu persatu.


Meskipun Kepalanya pusing melihat tumpukan dokumen yang belum sempat dia sentuh sejak saat lalu itu, namun dia tetap menyemangati dirinya sendiri, karena ini adalah proyek pentingnya, jangan sampai dia mengabaikan hal-hal yang penting.


Drrrt .... Drrrt ... Drrrt


Tiba-tiba ponsel Reno bergetar, ada panggilan telepon dari Tina, dengan sedikit kesal Reno kemudian mengusap layar ponselnya itu karena dia merasa terganggu pada saat jam kerja seperti ini.


"Halo, Tina, saat ini aku sedang bekerja, kau mengerti lah!" ucap Reno.


"Reno, kemarin kau kemana saja? Kenapa kau tidak datang ke apartemen??" tanya Tina.


"Sorry Tin, kemarin itu aku pulang bersama Vio, dan keluargaku sudah membaik, aku yang salah terlalu egois!" sahut Reno.


"Oooh, pantesan!" gumam Tina.


"Tina, sepertinya hubungan kita harus di akhiri, aku lebih memilih keluargaku, aku kenal betul Novia!" ucap Reno.


"Tapi Reno, bagaimana dengan hubungan kita??" tanya Tina.


"Cukup sampai di sini Tina, Aku tidak bisa meneruskannya kembali!" jawab Reno.


"Tidak! Aku tidak bisa terima ini!" ujar Tina.


"Maaf Tin, aku sedang banyak pekerjaan!" kata Reno yang kemudian langsung menutup panggilan teleponnya.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2