Rahasia Perkawinan

Rahasia Perkawinan
Kondisi Vio


__ADS_3

David memarkirkan mobilnya di parkiran rumah sakit yang luas itu, kemudian dia segera turun dari mobilnya sambil menggendong Vio.


Sementara Novia mengikutinya dari belakang. Mereka kemudian langsung mengantri di dokter anak, kebetulan siang ini sedikit antrian, jadi mereka tidak lama menunggu, kemudian mereka langsung masuk ke dalam ruang praktek dokter.


Seorang dokter memeriksa kondisi Vio dan tubuh Vio juga kelihatan lemas, karena sejak pagi-pagi tadi dia tidak bisa menikmati makanannya, karena terus-menerus muntah.


"Bagaimana kondisi anak saya dokter?" tanya Novia cemas.


"Kalau menurut gejalanya, dan sesuai dengan pemeriksaan sih, sepertinya dia mengalami sakit tipes!" kata Sang dokter.


"Apa? Sakit tipes? Tapi kemarin itu dia masih baik-baik saja dok, dan saya juga sangat menjaga makanannya!" sahut Novia.


"Banyak faktor yang bisa menyebabkan sakit itu Bu, menurut saran saya, karena anak ibu mengalami sedikit dehidrasi, sebaiknya dirawat saja di sini, supaya pemulihannya cepat!" usul sang dokter.


" Jadi Vio harus dirawat di sini ya dokter? Baiklah, berikan yang terbaik untuk anak saya, apapun itu saya ingin anak saya cepat sembuh!" kata Novia akhirnya.


"Oh ya, apakah ini suami ibu, ayah dari Vio?" tanya Dokter sedikit ragu.


"Oh bukan Dokter, dia itu tetangga saya yang kebetulan mengantarkan kami ke rumah sakit, karena suami saya sedang bekerja!" jawab Novia cepat.


"Baiklah kalau begitu, sebentar lagi Perawat akan mengantarkan Vio ke ruang rawat, semoga kondisinya cepat pulih!" ucap sang dokter.


Novia kemudian berjalan gontai menyusuri koridor rumah sakit untuk mengurus administrasi, sementara David menunggui Vio di ruangan.


Kini Perasaan hati Novia bercampur aduk, di sisi lain dia memikirkan perubahan Reno, namun disisi lain saat ini dia juga membutuhkan perhatian.


Setelah membayar deposit rumah sakit, Novia kemudian kembali berjalan ke ruangan Vio dirawat, dia sengaja tidak menggunakan asuransi dari perusahaan Reno, Novia ingin membayar biaya rumah sakit dengan uang tabungannya sendiri.


Kalau Novia memakai asuransi dari perusahaan Reno, Novia akan semakin merasa bersalah kalau ternyata Vio memang bukan darah daging Reno.


Saat masuk ke dalam ruang perawatan, Novia menghentikan langkahnya, Vio nampak di infus dan kini dia tertidur dengan lelap, di sampingnya David juga ikut tertidur seolah mereka adalah ayah dan anak sungguhan.


Tidak mau berlama-lama berada dalam satu ruangan dengan David, Novia kemudian keluar dari ruangan itu dan dia menunggu di bangku yang berada tepat di depan ruangan perawatan Vio.


Novia ragu-ragu, Apakah dia akan mengatakan pada Reno mengenai Vio yang dirawat di rumah sakit.


Novia tahu kalau Reno amat menyayangi Vio, pasti dia juga khawatir mengenai kondisi Vio, namun di sisi lain, ada rasa bersalah yang terus menggelayuti Novia, dan Karena rasa bersalah itu membuat Novia tidak bisa berbuat apa-apa.


Novia kemudian merogoh ponselnya yang ada di dalam tas tangannya itu, kemudian dia mulai menelpon Mbak Darmi.


"Halo!"


"Halo Mbak Darmi, Vio dirawat di rumah sakit mbak, Dia kena gejala tipes dan dehidrasi, tolong siapkan pakaian ganti aku dan Vio, lalu titip ke Pak Sukri untuk diantar ke rumah sakit, nanti ruangannya aku akan beritahu Mbak Darmi!" kata Novia.


"Ya Tuhan, kasihan Vio, Semoga dia cepat sembuh, kalau begitu nanti saya siapkan semua keperluan ibu dan Vio ya, pokoknya kasih tahu aja kalau ada yang kurang, biar nanti saya titip sama Pak Sukri!" jawab Mbak Darmi.


"Oh ya Mbak, kalau nanti mas Reno pulang, tolong bilang kalau aku menjaga Vio di rumah sakit!" kata Novia.


"Baik bu, Memangnya Bapak belum tahu ya kalau Vio dirawat di rumah sakit?" tanya Mbak Darmi.


"Belum Mbak, Biarkan saja dulu, pokoknya kalau bapak pulang bilang seperti itu saja ya Mbak!"Jawab Novia.


"Iya Bu!"


Kemudian Novia mematikan panggilan teleponnya.

__ADS_1


****


Sementara itu, di ruangannya, Reno nampak gelisah, apalagi Kini dia sedikit hilang kepercayaan akan istrinya yang sangat dia cintai itu.


Sejak dia mengetahui kalau David tetangga sebelahnya itu ternyata adalah mantan kekasih Novia di masa lalu, Entah mengapa hatinya menjadi tidak tenang, dia menyayangkan sikap istrinya yang tidak terbuka terhadapnya.


Padahal kalau sejak awal Novia menceritakan kalau David adalah mantan kekasihnya dulu, mungkin Reno masih bisa menerima.


Namun Reno baru mengetahui setelah hampir 5 tahun dia menikah dengan Novia, dan selama itu pula karena merasa kalau dia dibohongi, ada rasa sakit yang Reno rasakan dalam hatinya.


Entah mengapa kini dia tidak bergairah melakukan hal apapun, semangatnya hilang dan bahkan dia sudah enggan pulang ke rumah.


Ceklek!


Tiba-tiba ruangan Reno dibuka dari luar, seorang wanita datang menghampirinya dan langsung duduk di sampingnya.


"Biasa kan kalau masuk ke ruangan itu ketuk pintu dulu!" cetus Reno.


"Ah, biasanya juga aku langsung masuk, Ada apa? Apa masih galau dengan istrimu itu?" tanya wanita itu.


"Sudahlah, kau jangan tanyakan itu lagi, kepalaku pusing!" sahut Reno sambil menjambak rambutnya frustasi.


"Oke, kau bisa ceritakan apapun padaku, atau kita bisa ke hotel, supaya kau bisa lega dan leluasa menumpahkan semua hasratmu!" ungkap wanita itu.


"Kenapa kau tidak bilang padaku sebelumnya, Kalau Novia Masih berhubungan dengan David diam-diam, kenapa kau tidak mengatakannya dari dulu padaku?" tanya David sambil menatap wanita yang kini ada di hadapannya itu.


"Kau lupa Reno? kalau aku dan Novia itu kan bersahabat, ya aku harus menjaga rahasia sahabatku lah, Tapi karena kamu sudah terlanjur tahu ya apa boleh buat!" sahut wanita itu.


"Sudahlah, sore ini temani aku ke klub, Kepalaku benar-benar pusing!" ujar Reno.


"Ya Ya aku tahu, tapi bukankah kau duluan yang menggodaku? Tapi sudahlah, mungkin kita sama-sama membutuhkan!" sahut Reno.


Wanita itu kemudian menggeser posisinya, dan kini ada di atas pangkuan Reno, dengan lembut dia mengusap wajah Reno dan mengecup bibirnya.


Mulanya Reno cuek, namun akhirnya dia tidak tahan juga, dia langsung merengkuh pinggang wanita itu dan ******* bibirnya hingga mereka terjatuh di atas sofa ruangan itu.


"Jangan kau bocorkan hubungan kita pada Novia!" ucap Reno dengan nafasnya yang menderu.


"Tidak akan, aku tidak mungkin membuka rahasia kita karena kau tahu Novia adalah sahabatku, dia sangat percaya padaku!" ucap wanita itu sambil menatap Reno dengan tatapan dalam.


Mereka pun kemudian melanjutkan permainan mereka, dengan ruangan sebagai saksi bisu mereka.


****


Vio masih terbaring di atas ranjang pasien, dengan selang infus yang masih tertancap di tangan mungilnya.


Saat ini Novia masih berusaha untuk menyuapi Vio sedikit demi sedikit, kendati anak itu agak susah untuk memakan makanannya, tapi tiap berapa jam Novia dengan telaten menyuapi buah hatinya itu.


Tiba-tiba David masuk ke dalam ruangan sambil membawa beberapa bungkus makanan.


"Novia, ini Kamu makanlah dulu, sejak tadi kau belum makan apa-apa, apalagi menunggu orang sakit, nanti kamu kecapean lho!" kata David


"Kamu kenapa belum pulang David? Aku pikir kau sudah pulang ke rumahmu!" cetus Novia.


Aku tidak akan pulang, mana bisa aku tidur juga kalau melihat keadaan Vio seperti ini, kamu tenang saja Nov, aku akan menunggu di ruang tunggu!" kata David.

__ADS_1


"Mama, Papa di mana?" tanya Vio tiba-tiba.


"Sayang, Papa kan masih kerja, belum pulang, makanya Vio cepat sembuh, biar kita bisa cepat pulang ke rumah!" jawab Novia.


"Tapi aku kan tidak melihat Papa dari kemarin Ma, aku kangen sama papa Ma!" rengek Vio.


"Vio jangan khawatir, di sini ada Om David, kalau Vio mau apa-apa Vio bisa panggil Om David, Om David bisa jaga Vio di sini!" kata David yang sejak tadi masih berdiri di situ.


"Iya tapi kan Om David bukan papaku, papaku itu Papa Reno!" tukas Vio.


"Sudahlah David, sebaiknya kau keluar dari sini, aku tidak mau berlama-lama bersamamu di sini, lagi pula di sini kan ada Vio, Apa kau tidak mengerti juga?" ujar Novia.


"Baiklah, aku akan menunggu di luar, Vio makan yang banyak ya, setelah itu kamu pasti cepat sembuh, kasihan kan Mama!" kata David sebelum beranjak meninggalkan ruangan itu.


Novia menarik nafas panjang, kemudian dia melanjutkan menyuapi Vio, namun Vio sudah terlebih dahulu menggelengkan kepalanya, lagi-lagi Anak itu tidak mau makan, hanya sekitar tiga suap saja dia mau menelan makanannya itu.


"Kalau Vio tidak mau makan terus, bagaimana Vio akan cepat sembuh?" tanya Novia sambil menatap ke arah putranya itu.


"Tapi mulutku pahit Ma, aku juga mual aku nggak mau makan sekarang, nanti saja ya Ma!" rajuk Vio.


Novia kemudian meletakkan piring makan Vio di nakas, kalau anak itu dipaksa makan juga, bisa-bisa dia malah muntah dan semua isi perutnya keluar.


Novia kembali mengambil ponselnya yang ada di atas nakas, dan mulai menelpon Mbak Darmi.


"Halo Bu!"


"Mbak Darmi, Apakah Bapak sudah pulang?" tanya Novia.


"Belum Bu, ini saya sudah panaskan makan malamnya, tapi Bapak belum pulang juga!" jawab Mbak Darmi.


"Baiklah Mbak, kalau bapak pulang tolong sampaikan apa yang aku bilang tadi ya mbak!"


"Iya Bu!"


Kemudian Novia kembali mematikan panggilan teleponnya.


Novia menghela nafas panjang, lagi-lagi Reno belum pulang, padahal waktu sudah menunjukkan pukul 09.00 malam.


Tidak ada lagi tempat untuk Novia mengadu, kemudian dia mulai memencet nomor telepon Tina sahabatnya, sekedar untuk mencurahkan seluruh isi hatinya.


"Halo!"


"Halo Tina, kamu di mana Tin?" tanya Novia.


"Aku? Aku sedang berada di luar kantor, Ada apa Nov?" tanya Tina balik.


"Tina, sudah beberapa malam ini Mas Reno selalu pulang terlambat, bahkan dia pulang pagi ke rumah, apa yang harus aku lakukan Tin? Jujur aku sangat pusing dan galau, apalagi sekarang Vio anakku sedang sakit!" ungkap Novia.


"Oh ya? Kenapa kamu tidak coba menghubungi ponselnya saja Nov?" tanya Tina.


"Aku beberapa kali menghubungi Mas Reno, tapi dia tidak pernah mengangkat telepon aku! Aku sedih Tin, jujur selama pernikahan, belakangan ini aku sedih karena dia, padahal aku tidak pernah berselingkuh dengan siapapun, aku hanya sedikit saja menyimpan kebohongan dan itu pun sudah terungkap!" jawab Novia.


"Yang sabar ya Nov, nanti suatu hari suamimu pasti akan kembali kok, mungkin dia sedang butuh waktu sendiri, Oh ya, apakah Vio sakit? Berikan aku alamat di mana dia dirawat, mungkin besok aku akan menjenguk Vio!" kata Tina.


"Baiklah Tin, nanti aku akan kasih tahu ruangan Vio, aku tunggu kedatanganmu besok ya!" ucap Novia.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2