Rahasia Perkawinan

Rahasia Perkawinan
Reno Pulang Ke Rumah


__ADS_3

Reno dirawat di rumah sakit Selama kurang lebih 1 bulan, akhirnya dia diperbolehkan pulang karena kondisi luka-luka fisiknya sudah mulai membaik.


Meskipun kini Reno tidak lagi bisa berjalan normal seperti dulu, dia harus duduk di kursi roda dan sampai saat ini Reno juga masih kesulitan untuk berbicara. Entah mengapa dia tidak bisa mengeluarkan kata-kata, Dia berbicara dengan memakai bahasa isyarat atau menuliskan sesuatu di kertas.


Selama itu juga, selain Novia yang mendampingi Reno, Tina juga nampaknya tidak mau kalah, dia juga ikut menunggui Reno di rumah sakit, terutama sehabis dia pulang bekerja.


Sebenarnya hal itu sangat membuat Novia risih dan kurang nyaman, namun apa daya, Novia juga tidak bisa menolak Tina, walau bagaimana Reno sudah menikahi Tina meskipun hanya nikah siri, dan saat ini Novia melihat kalau Tina sedang mengandung, dan sebagai wanita dia juga tidak tega berlaku kasar ataupun mengusir Tina, apalagi Tina itu adalah mantan sahabatnya dulu.


Semua barang-barang sudah disiapkan, Reno juga sudah nampak duduk di kursi roda, Sementara Pak Sukri sudah siap menunggu mereka di depan lobby untuk mengantarkannya pulang ke rumah.


Novia kemudian mendorong kursi roda Reno keluar dari ruangan perawatan yang selama ini menemani hari-harinya, Tina mengikutinya.


"Novia, Reno kan sudah pulang ke rumah, berarti mulai sekarang aku bisa tinggal di rumah Reno!" kata Tina.


"Tina, selama ini aku sudah membiarkanmu untuk berbuat apapun, tapi aku mohon kau jangan tinggal bersama dengan kami, aku takut tidak bisa mengontrol emosiku!" jawab Novia.


"Apa maksudmu? kamu tidak lupa kan kalau aku ini istrinya Reno juga? Jadi aku berhak dong berada di samping suamiku kapanpun!" bantah Tina.


"Iya aku tahu! tapi kamu juga harus mengerti perasaanku dan perasaan Vio! Apalagi sekarang Mas Reno sedang sakit! Aku tidak mau kita selalu berdebat, hal itu akan membuat dia semakin stres, aku mohon kamu memahami ini!" ujar Novia.


"Kamu ini egois sekali Novia! Pokoknya aku tidak mau kembali ke apartemenku, aku mau tinggal di rumah Reno!" cetus Tina.


Tiba-tiba Reno mengangkat tangannya, dia tidak tahan juga mendengar perdebatan antara Novia dan juga Tina, wajah Reno terlihat sedikit frustasi, salah satu yang menghambat kesehatan Reno adalah faktor psikologisnya, saat ini dia tidak bisa berbuat apapun, bahkan untuk mengurus dirinya sendiri pun dia tidak mampu.


Akhirnya Novia dan Tina pun menghentikan perdebatan mereka, mereka terus berjalan menyusuri koridor hingga sampai di lobby dan terlihat mobil yang dikendarai Pak Sukri sudah menunggu di depan lobby.


Tanpa menunggu lagi, mereka kemudian langsung berjalan ke arah mobil dan membantu Reno masuk ke dalam mobilnya itu, setelah itu mobil itu pun melaju meninggalkan Rumah Sakit menuju ke rumah Reno.


Sepanjang perjalanan menuju ke rumah Reno, tidak ada pembicaraan di antara mereka, suasana terlihat hening, mereka hanya berkecamuk dengan pikiran mereka masing-masing.


Hingga akhirnya mereka pun sampai di rumah Reno, David nampak sedang bermain bola di samping halaman rumah Reno, sementara Mbak Darmi sibuk menata meja makan, karena sebentar lagi mereka akan makan siang.


Melihat kedatangan Papanya, Vio nampak berlari-lari menghampiri Reno yang baru turun dari mobil dibantu oleh Novia dan Tina duduk di kursi roda.


"Sekarang Papa sudah tidak bisa jalan ya? Kok Papa duduk di kursi roda?" tanya Vio.


Reno hanya menganggukkan kepalanya sambil memeluk Vio, menumpahkan segala Kerinduan terhadap putranya itu, karena selama Reno dirawat di rumah sakit, Vio hanya beberapa kali saja menjenguknya. Novia sengaja membatasi Vio untuk sering-sering menjenguk Reno, karena Tina pun ada di situ, demi menjaga perasaan Vio.

__ADS_1


"Vio, Kita masuk dulu yuk! Biarkan Papa istirahat dulu nanti bisa main lagi!" kata Novia.


"Syukurlah akhirnya kalian sudah pulang, Vio begitu merindukan kalian!" ujar David yang juga berjalan mendekati mereka.


"Terima kasih David, sudah menjaga Vio, dan sekarang sudah tidak ada yang mengganggumu lagi!" ucap Novia.


Mereka pun berjalan masuk menuju ke dalam rumah Reno.


"Siapa bilang Vio menggangguku, justru kehadiran Vio memberikan warna dalam hidupku! Aku tak lagi merasa kesepian sekarang!" kata David.


Novia kemudian membantu Reno mendorong kursi rodanya menuju ke kamar mereka, kini kamar mereka sudah dipindahkan ke bawah, supaya Reno pun tidak kesulitan kalau mau keluar masuk kamar.


Tina yang hendak menyusul mereka tangannya langsung ditangkap oleh David, David menatap Tina sambil menggelengkan kepalanya.


"Kamu harus tahu diri Tina! Dalam hal ini kamu adalah orang ketiga, kamu tidak berhak mencampuri urusan mereka!" seru David.


"Kamu ini apaan sih David! selalu saja ikut campur urusanku! Reno itu kan juga suamiku!" cetus Tina.


"Iya, suami paksaan! Memangnya aku tidak tahu akal bulusmu! sudah, kamu duduk saja di situ, Awas berani macam-macam terhadap mereka apalagi sedikit saja kau menyakiti hati Novia, aku akan bertindak!" ancam David.


"Aku tahu kamu masih menyukai Novia, kalau aku jadi kamu, aku akan rebut dia, dan Reno akan menjadi satu-satunya milikku!" cetus Tina.


Mata David memerah, menahan kekesalannya terhadap sikap Tina yang terlihat tidak tahu diri itu. Tangannya sudah mengepal, andai saja Tina adalah laki-laki, David tidak akan segan-segan untuk memukulnya.


Tina kemudian duduk menghempaskan tubuhnya di sofa ruangan itu, sementara David menggendong Vio yang sedari tadi terbengong-bengong mendengar perdebatan mereka.


"Om David, tante Tina itu jahat ya? Aku juga tidak suka sama Tante Tina, gara-gara dia mama jadi sering menangis!" kata Vio yang kini ada dalam gendongan David yang kembali berjalan ke arah Taman.


"Vio, meskipun Tante Tina kelihatan jahat di mata Vio, tapi tetap dia orang yang lebih tua yang harus di hormati sama seperti Vio menghormati Papa dan Mama Vio, juga Om David, dan Vio tidak usah memperdulikan kata-kata Tante Tina, Vio harus mendengarkan kata-kata orang yang Vio percaya seperti mama, papa juga Om David!" ucap David.


"Iya Om!" sahut Vio.


Mereka kemudian duduk di bangku taman yang menghadap kolam ikan yang suaranya gemericik, dengan pantulan cahaya matahari yang membuat semakin jelas ikan-ikan itu menari Kian kemari.


David masih memangku Vio, kebersamaannya dengan Vio belakangan ini membuat David semakin melekat pada anak itu, sejak awal David meyakini kalau Vio adalah darah dagingnya, entah Perasaan dari batinnya atau apa namun David selalu menganggap Vio adalah anak kandungnya.


"Om David, tante Silvi kan sudah meninggal, Om David Kenapa tidak menikah lagi?" tanya Vio.

__ADS_1


David sedikit tercengang mendengar pertanyaan dari bocah berumur 5 tahun yang ada di hadapannya itu.


"Om David lebih bahagia bersama dengan Vio daripada menikah lagi!" jawab David.


"Tapi kenapa Om? Aku kan punya Papa dan Mama, Kalau Om David nanti menikah siapa tahu Om David punya anak!" kata Vio.


"Tidak sayang, Om David hanya ingin Vio, bersama Vio, main dengan Vio, Vio tidak keberatan kan?" tanya David.


Vio nampak menggelengkan kepalanya sambil memeluk David, dalam diri anak ini dia juga tidak mau kehilangan sosok David yang selama ini sudah menemani hari-harinya.


"Kata Mama orang yang sudah menikah itu akan punya anak! Tapi kenapa Om David dan tante Silvi tidak punya anak?" tanya Vio.


"Ya karena Tuhan belum kasih, tante Silvi sudah keburu dipanggil Tuhan!" jawab David.


"Berarti sekarang Om David Sendirian dong?" tanya Vio lagi.


"Iya Om David sendirian, Tapi sejak ada Vio, Om David tidak kesepian lagi!" jawab David.


"Kalau begitu Om David menginap saja di rumah aku, Biar Om David tidak kesepian lagi!" kata Vio.


"Tidak mungkin sayang, kan Om David punya rumah sendiri, Ya sudah Yuk kita masuk, Vio sudah waktunya makan siang, Om David juga mau pulang ke rumah nih!" ujar David yang kemudian langsung berdiri dan menuntun Vio.


"Om David makan sama aku di rumah ya!" ajak Vio.


"Tidak sayang, Om David makan di rumah saja, lagi pula Om David juga mau terusin kerjaan, tapi kalau Vio bosan Vio tinggal panggil Om David ya, nanti kita main lagi!" ucap David.


David kemudian melepas tuntunan tangannya, dan Melambaikan tangannya karena dia akan kembali ke rumahnya, Vio pun hanya bisa menatap David dengan tatapan sedikit kecewa, karena David pulang dan tidak bersama-sama dengannya di rumah untuk makan siang.


Sementara itu di ruang makan, Tina sudah nampak duduk bersiap akan makan karena di meja makan itu sudah tersedia berbagai macam makanan yang dimasak oleh Mbak Darmi.


Sedangkan Novia yang sampai saat ini masih berada di kamar bersama dengan Reno terlihat enggan sekali untuk pergi ke ruang makan, karena ada Tina di sana.


Entah mengapa kehadiran Tina membuat Novia kurang nyaman, apalagi Tina kini merasa berhak di rumah ini, dan berhak bersama dengan Reno, membuat Novia tak kuasa untuk menolak kehadiran Tina.


Tina yang sudah lapar, akhirnya mengambil makanannya duluan dan dia langsung memakannya tanpa basa-basi. Mbak Darmi yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Bu Tina tidak menunggu Bu Novia dan Vio makan sama-sama di sini?" tanya Mbak Darmi.

__ADS_1


"Aku sudah lapar untuk apa menunggu? Lebih baik aku makan saja duluan!" sahut Tina yang masih terus melanjutkan aktivitas makannya.


Bersambung ....


__ADS_2