
Novia mengerutkan keningnya, dia bingung saat tiba-tiba Tina mematikan panggilan ponselnya tanpa pamit terlebih dahulu.
Samar-samar Novia mendengar ada suara laki-laki yang memanggil nama Tina, apakah itu mungkin suami Tina? Novia terus berpikir, karena Novia merasa bahwa suara itu sangat tidak asing baginya.
Akhirnya Novia pun meletakkan ponselnya, dia masih duduk menunggu kepulangan Reno suaminya, meskipun sebenarnya hatinya begitu lelah, tapi dia tetap menunggu Reno di sini, memastikan kalau Reno akan pulang dan besok mereka akan berlibur bersama, demi menyenangkan Vio.
Karena kelelahan dan mengantuk, akhirnya Novia pun tertidur di sofa ruang keluarga itu tanpa sadar.
Novia terperanjat saat dirinya tiba-tiba terbangun dan berada di ruang keluarga.
Dia menengok ke arah jam dinding, waktu sudah menunjukkan jam 05.00 pagi, Novia segera bangun dan berjalan ke arah depan, tidak ada mobil Reno di sana, hati Novia mulai gundah, berarti semalaman itu Reno benar-benar tidak pulang.
Novia menyandarkan punggungnya di tembok, berusaha menenangkan hati dan pikirannya yang kini kembali berkecamuk, mungkinkah Reno akan menggagalkan rencana liburan yang sudah dia janjikan pada Vio?
Novia kemudian kembali ke ruang keluarga, dan mengambil ponselnya, kemudian dia kembali menelepon Reno. Tapi lagi-lagi Reno tidak aktif dan berada di luar jangkauan, membuat Novia semakin gundah Gulana.
Novia mulai berpikir, Reno kini mulai berubah, ada rahasia yang tersembunyi yang Novia tidak tahu, selama ini Novia pikir dia yang memiliki rahasia bersama dengan David, namun ternyata Reno pun demikian.
Novia menangis di sofa ruang keluarga itu tidak tahu harus berbuat apa, dan tidak tahu harus mengatakan apa kalau Vio terbangun dan menanyakan di mana Papanya.
"Ibu, ibu menangis? Bapak tidak pulang ya Bu? Semalam itu sebenarnya saya tahu ibu tidak tidur, menunggu di ruangan ini, tapi saya tidak berani mendekati ibu, takut Ibu sedang ingin sendiri!" kata Mbak Darmi tiba-tiba yang baru muncul dari arah dapur. Novia buru-buru mengusap wajahnya yang basah itu
"Iya mbak, Mas Reno tidak pulang semalam, entah sekarang dia berada di mana, sebenarnya bukan itu masalah utamanya, tapi Vio!" ucap Novia yang kini kembali menangis
Mbak Darmi mendekat dan menepuk lembut bahu Novia.
"Iya saya tahu Bu, seharusnya hari ini kan pagi-pagi kalian akan berlibur ke pantai, tapi bapak malah tidak pulang, yang sabar ya Bu, kita masih bisa ke pantai kok tanpa bapak supaya Vio senang!" hibur Mbak Darmi.
"Tidak mungkin Mbak, tidak mungkin Vio senang kalau liburan tanpa Papanya, justru karena papanya sudah menjanjikan dia liburan, Aku bingung harus bagaimana Mbak!" ungkap Novia yang kini terlihat mulai frustasi.
__ADS_1
Mbak Darmi menarik nafas berat, Dia sangat paham apa yang dirasakan oleh majikannya itu, meskipun dia tidak tahu harus berbuat apa, apalagi Mbak Darmi sangat mengenal sosok Novia.
"Begini saja Bu, kita tetap siapkan untuk liburan hari ini, yang penting liburannya tidak gagal, meskipun tidak ada Bapak, kita coba saja ya Bu, daripada tidak jadi pergi sama sekali, kasihan Vio!" ucap Mbak Darmi.
"Iya mbak, tolong siapkan semua bekalnya, Aku ingin ke kamar dulu sebentar!" sahut Novia yang kemudian beranjak dari tempat itu lalu berjalan naik ke atas menuju ke kamarnya.
Pada saat Novia naik ke atas menuju ke kamarnya, kesempatan ini dipergunakan oleh Mbak Darmi untuk cepat-cepat keluar dari rumah, dan pergi ke tetangga sebelah, ke rumah David.
Mbak Darmi harus melakukan sesuatu untuk menyenangkan Vio, dia ingin minta tolong pada David untuk menemani Vio dan Novia berlibur ke pantai, karena Mbak Darmi tau kedekatan David dan Vio.
Beberapa kali mbak Darmi memencet bel rumah David, dan tak lama kemudian David pun muncul dengan mata yang masih terlihat merah karena sedang tidur.
"Ada apa Mbak Darmi?" tanya David sambil mengucek matanya itu.
"Pak David, bisa saya minta tolong? Hari ini sebenarnya Pak Reno menjanjikan Vio dan Bu Novia untuk berlibur ke pantai, tapi Semalam Pak Reno tidak pulang, kasihan ibu! Ibu kelihatan begitu sedih, membayangkan betapa kecewaannya Vio kalau sampai liburannya gagal hanya karena papanya tidak datang!"ungkap Mbak Darmi.
"Keterlaluan sekali Reno! Bisa-bisanya dia tidak pulang semalam, padahal ada anak dan istri yang menunggu di rumah!" sungut David.
"Oke Mbak, Saya mau mandi dan siap-siap dulu, nanti setelah itu saya akan ke sebelah!" jawab David.
"Terima kasih Pak David! Tapi saya mohon jangan bilang sama bu Novia kalau saya mengatakan ini semua sama Pak David ya!" mohon Mbak Darmi.
"Tenang saja Mbak, pokoknya nanti saya akan datang ke sebelah, semuanya akan baik-baik saja!" ucap David.
Sambil tersenyum Mbak Darmi akhirnya membalikkan tubuhnya dan kembali berjalan cepat menuju ke rumah Novia untuk menyiapkan segala sesuatunya.
Vio kini terlihat sudah rapi berpakaian dengan koper Mininya dia keluar dari kamarnya dan langsung duduk di ruang makan.
Novia nampak turun dari lantai atas juga dengan membawa tasnya, setelah itu dia pun duduk bergabung dengan Vio di meja makan, sementara Mbak Darmi sibuk menyiapkan bekal dan menata makanan untuk sarapan di meja makan.
__ADS_1
"Mama, Papa mana? Kok dia tidak turun makan?" tanya Vio.
"Sudah Vio sarapan saja duluan sama Mama, Pokoknya hari ini Vio harus senang ya, dan menikmati liburan di pantai!" kata Mbak Darmi yang berusaha untuk berbicara sebelum Novia menjawab pertanyaan Vio.
Mereka kemudian mulai menikmati sarapan di meja makan itu, Novia juga berusaha untuk memakan makanannya meskipun dia sama sekali tidak ingin makan dan nafsu makannya pun kini menjadi hilang.
"Vio, Kita liburannya bertiga saja ya sama Mbak Darmi, sepertinya Papa tidak bisa ikut, mungkin karena banyak pekerjaan!" ucap Novia hati-hati.
"Jadi Papa tidak ada Ma? Kan Papa sendiri yang janji kalau mau ajak kita jalan-jalan ke pantai! Masa Papa ingkar janji sih!" seru Vio yang kemudian langsung menghentikan aktivitas makannya wajahnya terlihat begitu kecewa.
"Vio sayang, tapi kan liburan ke pantainya jadi, Meskipun tidak ada Papa, tapi kita bisa kok pergi bertiga saja sama Mbak Darmi, Vio jangan sedih ya Sayang!" kata Novia yang kemudian langsung memeluk Vio.
Namun Vio langsung melepaskan pelukannya dan berlari ke kamarnya.
Novia kembali menangis melihat sikap Vio seperti itu, dia tahu kalau Vio benar-benar kecewa terhadap Papanya.
Tiba-tiba dari arah depan David muncul dengan sudah berpakaian rapi dan tersenyum melihat Novia, Novia terkejut melihat kedatangan David yang tiba-tiba itu
"David! mau apa kamu ke sini?" tanya Novia Ketus.
"Mau mengajakmu dan Vio liburan ke pantai!" sahut David dengan santai.
"Kamu tahu dari mana Kalau kita mau ke pantai? Kamu jangan macam-macam ya!" ujar Novia yang kini mulai berdiri dari tempatnya.
"Sudah, kamu jangan egois memikirkan gengsimu sendiri, sekarang prioritas kita adalah Vio, mana Vio? Apakah dia ada di kamarnya?" tanya David celingak celinguk.
Novia menganggukan kepalanya, dia tidak tahu lagi harus berkata apa pada David, yang kedatangannya memang tepat pada waktunya.
"vio! Vio! Sini sayang, kita jalan-jalan ke pantai sama Om David ya! Sama Mama juga, sama Mbak Darmi, kita senang-senang di sana!" Panggil David sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar Vio yang tertutup itu.
__ADS_1
Tak lama kemudian pintu kamar Vio pun terbuka, dan David langsung mengangkat Vio dalam gendongannya, melihat kedatangan David wajah Vio yang tadinya begitu masam dan mendung kini tiba-tiba tersenyum dengan ceria.
Bersambung ...