
Dengan mata yang basah, Novia menatap suaminya yang masih duduk di atas kursi roda itu, dengan hati yang bertanya-tanya apakah gerangan kesalahan yang telah diperbuatnya, sehingga Reno setega itu ingin menceraikannya.
"Mas Reno, Katakan padaku Satu Alasan, kenapa mas Reno ingin bercerai denganku? Apakah kesalahanku besar sehingga tidak ada pertimbangan lain selain menggugat cerai aku?" tanya Novia.
Reno hanya diam tanpa merespon pertanyaan dari Novia, bahkan untuk menulis kata-kata dalam buku pun dia tidak melakukannya, Reno hanya memandang lurus menatap gelapnya malam dari balik balkon kamarnya itu, dari pancaran matanya seolah ada duka dan kepahitan yang saat ini tengah dirasakan.
"Kenapa kamu diam saja Mas? berikan aku satu alasan sehingga kau menceraikan aku, selama ini aku berusaha memberikan yang terbaik untukmu, bahkan menjadikanmu raja dan memprioritaskan Mas Reno di atas segalanya!" tanya Novia sekali lagi.
Lagi-lagi Reno tidak menjawab, namun ada butiran bening yang menetes dari kedua bola mata Reno, Novia sungguh tidak mengerti dan untuk sedikit mengusir rasa sakit dalam hatinya, Novia pun bangkit lalu berjalan keluar dari kamarnya itu.
Dia kemudian menuju ke ruang keluarga dan menghempaskan tubuhnya di sofa ruang keluarga itu, di situlah Novia menangis sejadi jadinya.
Pada saat Novia menangis, tiba-tiba ada tangan yang menepuk lembut bahunya, kemudian tangan itu mulai merangkulnya dari belakang, dari sentuhannya Novia tahu kalau itu adalah Bunda Lasmi.
"Apa yang terjadi padamu sayang? Kenapa kamu menangis semalam-malam seperti ini?" tanya bunda Lasmi yang kini duduk di samping Novia sambil terus merangkul bahunya.
Novia tidak menjawab pertanyaan Bunda Lasmi, dia langsung memeluk Bundanya itu dan menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Bunda Lasmi.
Bunda Lasmi memahami, saat ini Novia sedang butuh seseorang tempat nya bersandar, Bunda Lasmi tidak lagi bertanya pada Novia, menunggu sampai Novia siap untuk mencurahkan seluruh isi hatinya.
Bunda Lasmi hanya mengusap-usap bahu Novia sambil sesekali mencium keningnya untuk memberikan kekuatan dan ketenangan, di dalam hati Putri semata wayangnya itu.
"Menangislah sepuasmu jikalau itu bisa menenangkan hatimu Novia, bunda akan di sini mendengarkan dan menemanimu!" ucap Bunda Lasmi.
Sejenak kemudian Novia Pun Menangis, mencurahkan seluruh perasaannya pada Bundanya itu, sampai Novia puas melampiaskan tangisannya dan emosinya pun sedikit mulai reda, barulah dia bisa menarik nafas panjang, dan siap menceritakan apa yang dia rasakan pada Bunda Lasmi.
Perlahan Novia menguraikan pelukannya, Dia kemudian duduk bersandar di sofa dan mendongakkan kepalanya menatap ke langit-langit ruangan itu, yang kini diterangi oleh lampu hias yang berwarna keemasan.
"Apakah kamu sudah siap menceritakan semua pada Bunda?" tanya bunda Lasmi.
Novia menganggukkan kepalanya, masih ada sisa-sisa air mata yang mengalir yang membasahi pipinya yang kini terlihat sedikit pucat.
"Bicaralah sekarang sayang, bunda akan mendengarkanmu!" ucap Bunda Lasmi.
"Bunda, Mas Reno akan menceraikan aku!" ucap Novia lirih.
"Apa? Menceraikanmu? Tapi kenapa? selama ini bahkan kamu mengurus dia dengan sangat baik, kamu bisa menerima dia dalam keadaan apapun, meskipun dia pernah mengkhianatimu!" kata Bunda Lasmi.
"Iya Bunda, aku juga menanyakan Apa alasan Mas Reno menceraikanku, tapi mas Reno tidak bisa menjawabnya!" jawab Novia.
"Biar Bunda saja yang bicara pada Reno, dia harus jujur pada Bunda, apa sebenarnya yang menyebabkan dia ingin menceraikanmu!" ujar Bunda Lasmi yang akan beranjak dari duduknya, namun dengan cepat Novia menarik tangan Bunda Lasmi, sehingga Bunda Lasmi kembali duduk di samping Novia.
"Jangan Bunda, ini sudah malam, Waktunya istirahat, Aku tidak ingin ada keributan di rumah ini, kalau memang Mas Reno ingin menceraikan aku dan tidak ingin lagi bersamaku, mudah-mudahan aku ikhlas!" tukas Novia
"Iya kamu ikhlas, Tapi bunda tidak akan pernah ikhlas anak bunda diperlakukan seperti ini, dengan tanpa alasan yang jelas! Apalagi Diantara Kalian ada Vio kan, sebenarnya Reno itu kenapa sih, apa ada yang tidak beres di otaknya?" tanya bunda Lasmi sedikit gemas.
"Aku tidak tahu bunda, aku hanya sedih saja Kenapa tiba-tiba Mas Reno melakukan itu padaku, kalau memang aku ini bukan yang terbaik untuknya, tapi setidaknya dia mengatakan satu saja alasan, kenapa dia menceraikan aku, sehingga hatiku menjadi tenang!" ungkap Novia.
Bunda Lasmi terdiam, Dia sedang memikirkan apa yang harus dilakukannya untuk menyelamatkan rumah tangga anaknya itu, wanita paruh baya itu juga terlihat Sedih ketika mendengar penuturan Novia mengenai surat cerai yang diajukan oleh Reno terhadapnya.
__ADS_1
"Kalau memang Mas Reno ingin berpisah dengan aku, aku pasrah saja bunda, mungkin ini adalah jalan yang terbaik! Bunda jangan sedih ya, Doakan aku akan selalu kuat!" ucap Novia yang kini kembali terisak.
"Novia, kalau menurut Bunda, mungkin saja Reno ingin berpisah denganmu karena dia merasa bersalah, saat ini dia tidak bisa menafkahimu bahkan usahanya pun sudah diambang kebangkrutan, terlebih lagi kini dia lumpuh dan tidak bisa berbuat apa-apa!" kata bunda Lasmi.
"Aku juga berpikir seperti itu Bunda, Padahal aku ikhlas jikalau kami harus hidup sederhana, aku juga akan berusaha terus membantu perekonomian keluarga, tapi kalau dia tidak bisa memberikan aku kesempatan, aku juga tidak bisa memaksanya Bunda!" ucap Novia yang kini menyandarkan kepalanya di pangkuan Bunda Lasmi, Novia terlihat begitu lelah, lelah lahir maupun batin.
"Baiklah Novia, besok pagi bunda akan bicara dari hati ke hati dengan Reno, Bunda janji tidak akan menghakimi dia atau memarahi dia, atas sikapnya terhadapmu, kamu tenang saja!" kata Bunda Lasmi.
"Iya Bunda, malam ini Bolehkah aku tidur di pangkuan Bunda? Aku sangat merindukan masa-masa kecil dulu, saat aku tertidur di pangkuan Bunda, dan Bunda menemaniku dan membelaiku sampai aku benar-benar tertidur!" pinta Novia.
"Tentu saja boleh sayang, tidur lah pangkuan Bunda, luruskan kakimu dan Pejamkan matamu, bunda akan membelai rambutmu sampai kamu benar-benar tertidur, lupakan sejenak masalah Reno, yakinlah kalau semuanya akan baik-baik saja!" ucap Bunda Lasmi.
Novia menganggukkan kepalanya, setelah itu dia menaikkan kedua kakinya di atas sofa, lalu mulai memejamkan matanya.
Sementara Bunda Lasmi nampak membelai-belai rambut Novia dengan penuh kasih sayang, meskipun Novia Tidak Langsung tertidur, namun Novia dapat merasakan kenyamanan dan kedamaian berada dalam pangkuan Bundanya itu, yang membuat dia selalu ingin berlama-lama berada di pangkuan Bunda Lasmi.
Sejenak Novia pun mulai melupakan semua beban pikirannya, dia harus beristirahat, dia harus siap menghadapi hari esok, setidaknya dia harus tegar demi Vio sang buah hatinya.
****
pagi itu Mbak Darmi nampak sedang menata meja makan, Vio dan Bunda Lasmi nampak tengah menikmati sarapan, sementara Novia baru saja bangun dari tidurnya karena semalam dia tidur begitu larut ditemani oleh Bunda Lasmi, setelah bangun tidur dia segera mandi untuk membersihkan dirinya.
Tadi malam Novia tidur bersama dengan Vio Setelah dia tertidur di sofa bersama dengan Bunda Lasmi, kini Novia nampak keluar dari kamar Vio Setelah dia baru selesai mandi.
Vio nampak sudah berseragam rapi, karena hari ini dia akan berangkat ke sekolah.
Pak Sukri sudah lama tidak lagi dipekerjakan sebagai sopir, demi menghemat pengeluaran, Novia sendiri yang mengantar jemput Vio, itu pun dengan menggunakan sepeda motor, karena salah satu dari mobil mereka dijual.
"Aku mau mengantarkan makanan ke kamar Mas Reno dulu Bun!" kata Novia.
"Sudahlah Jangan dipikirkan! Dia baru saja dia membuatmu menangis semalaman, biar Bunda saja nanti yang mengantarkan makanan, sekalian Bunda mau bicara empat mata sama Reno!" tukas Bunda Lasmi.
"Tapi Bun ..."
"Lebih baik kamu urus aja Vio, antarkan dia ke sekolah, atau dia akan terlambat sebentar lagi, ini bahkan sudah hampir jam 07.00 Novia!" lanjut Bunda Lasmi.
Novia kemudian langsung menyantap nasi goreng yang sudah tersedia di atas meja makan itu, meskipun hanya beberapa suap saja.
Setelah itu dia menuntun Vio untuk bersiap-siap berangkat ke sekolah dengan mengendarai sepeda motor yang sudah terparkir di halaman depan rumahnya.
"Novia, Biar aku saja yang mengantarkan Vio naik mobil! kasihan kalau naik motor terus, nanti dia bisa masuk angin!" seru David dari balik tembok di sebelah rumahnya.
"Tidak apa-apa! Biar Vio terbiasa naik motor, tidak selamanya hidup itu nyaman, dari kecil dia juga harus belajar merasakan sedikit ketidaknyamanan, dari situlah dia akan bertumbuh menjadi pribadi yang matang!" tukas Novia yang kemudian langsung menyalakan mesin motornya itu dan keluar dari gerbang rumahnya.
"Dadah Om David! Nanti sore kita main lagi ya!" Seru Vio sambil melambaikan tangannya ke arah David yang masih menatap mereka dengan tatapan kasihan.
David pun ikut melambaikan tangannya, Kendati hatinya begitu sedih melihat Vio yang kini diantar jemput hanya dengan menggunakan sepeda motor, padahal sejak Vio kecil ke mana-mana dia selalu naik mobil yang sejuk dan ber-ac, kini dia harus panas-panasan juga kehujanan karena naik motor.
Sementara Bunda Lasmi mulai menyiapkan makanan di atas nampan untuk diberikan pada Reno yang kini masih ada di dalam kamarnya.
__ADS_1
Biasanya setiap pagi Novia yang selalu menyiapkan sarapan untuk Reno, kalau Reno tidak sarapan di meja makan pasti Novia akan mengantarkannya ke kamarnya.
Namun pagi ini Bunda Lasmi mengambil alih tugas Novia, karena semalam Novia baru saja mencurahkan hati dan perasaannya, karena Reno yang memberikan surat cerai kepada Novia yang membuat hati Novia begitu hancur.
Setelah semuanya siap, sarapan di atas nampan dengan segelas susu hangat, Bunda Lasmi kemudian membawa Nampan itu menuju ke kamar Reno.
Pintu kamar itu tidak tertutup dengan rapat, dengan perlahan Bunda Lasmi pun mendorong pintu itu dengan punggungnya kemudian masuk ke dalam.
Reno masih duduk di kursi rodanya, sambil menghadap ke arah luar dari jendela balkon yang terbuka lebar itu, hangatnya cahaya matahari masuk dan menghangatkan sebagian wajah Reno yang terpantul sinar matahari pagi.
"Selamat pagi Reno, ini Bunda antarkan sarapan untukmu, makanlah!" sapa Bunda Lasmi sambil menyodorkan nampan yang berisi makan itu ke hadapan Reno.
"Tolong taruh di meja saja bunda, Aku belum ingin memakannya sekarang dan aku juga tidak lapar!" tulis Reno dalam buku yang selalu dia Bawa itu.
Bunda Lasmi kemudian meletakkan nampan itu di atas meja yang ada di sudut kamar itu, setelah itu dia kembali melangkah menghampiri Reno yang masih tidak bergeming dari tempatnya, Bunda Lasmi duduk di bangku yang ada di dekat jendela, hendak membicarakan hal yang penting pada Reno.
"Reno, Ada yang ingin Bunda bicarakan padamu, Bunda harap kamu bisa berbicara dengan Bunda Dari Hati dan dengan jujur!" ucap Bunda Lasmi.
"Bunda, aku sudah tahu apa yang hendak Bunda bicarakan padaku! Novia pasti sudah menceritakan semuanya pada Bunda!" tulis Reno lagi.
"kamu benar Reno, semalam itu Novia menangis di hadapan Bunda, katanya kamu menggugat cerai dia dan memberikan dia surat cerai, benarkah begitu Reno?" tanya bunda Lasmi.
Reno tidak nampak menulis di buku yang dia bawa itu, dia hanya menganggukkan kepalanya perlahan.
"Reno, Kalau bunda boleh tahu, Apa alasanmu menceraikan Novia? Seharusnya kamu bersyukur punya istri seperti Novia, yang mau menerima kamu apa adanya, dalam segala kelebihan dan kekuranganmu, Kamu tahu kan selama ini betapa dia dengan penuh ketulusan merawatmu!" ungkap Bunda Lasmi.
Reno kemudian mulai kembali menulis di buku nya itu, kali ini Reno menulis tidak secepat biasanya, seperti ada sesuatu yang sangat ingin dia sampaikan, Reno terlihat menulis dengan panjang dan hati-hati.
"Maafkan aku bunda, Novia tidak punya kesalahan apapun terhadap aku, aku yang bersalah padanya dan dia terlalu sempurna untukku, yang saat ini belum bisa memberikan dia kebahagiaan, aku menceraikannya supaya dia bisa memilih kebahagiaannya sendiri, karena denganku dia selalu susah, apalagi saat ini kondisiku seperti ini!" tulis Reno dengan tangan yang terlihat sedikit gemetar.
Bunda Lasmi membaca tulisan Reno dengan dada yang bergemuruh kencang, dia menyadari bahwa di antara Reno dan Novia kini tidak ada masalah yang besar, namun masing-masing dari mereka merasa tidak bisa saling membahagiakan satu dengan yang lain, karena keterbatasan, Bunda Lasmi sangat memahami hal ini.
"Reno, bukan berarti kalian harus berpisah kan? Apakah kau tidak memikirkan Bagaimana nasib Vio? Vio itu membutuhkan kalian saat ini, Bunda mohon jangan hanya karena alasan yang tak masuk akal, mengorbankan hati seorang anak!" ungkap Bunda Lasmi.
Reno nampak menarik nafas panjang, dia tidak langsung menjawab Bunda Lasmi melalui tulisan, matanya menatap lurus dengan tatapan yang hampa, seolah tidak ada lagi gairah dalam hidupnya.
Perlahan Reno pun kembali menulis kata-kata di dalam bukunya itu.
"Aku hanya ingin Novia bahagia, Vio juga bahagia!" tulis Reno.
"Bagaimana mereka mau bahagia, Kalau kamu sendiri menceraikan Novia, Siapa lagi yang akan membuat mereka bahagia kalau bukan kamu!" ujar Bunda Lasmi.
"Ada yang bisa membuat mereka bahagia Bunda!" tulis Reno lagi.
"Apa itu? Katakan pada Bunda!" tanya bunda Lasmi.
"David!" tulis Reno singkat.
Seketika itu Bunda Lasmi membulatkan matanya, darahnya seolah berdesir, tidak menyangka Reno akan menulis seperti itu, Apakah satu alasan mengapa Reno menceraikan Novia itu adalah David?
__ADS_1
Bunda Lasmi tercengang dan tidak bisa berkata apa-apa lagi, kepalanya terus berpikir, kenapa kini Reno berubah dan tidak lagi seperti dulu, yang selalu cemburu terhadap David, kini seolah Reno menyerahkan Novia begitu saja kepada David.
Bersambung ....