Rahasia Perkawinan

Rahasia Perkawinan
Kondisi Silvi


__ADS_3

Hubungan Reno dan Novia berangsur membaik, apalagi di antara mereka sudah ada Vio yang menjadi satu-satu alasan Reno kembali seperti dulu lagi.


Sejak kejadian itu, David sudah jarang terlihat menampakkan diri lagi, apalagi kini Vio sudah semakin jarang main ke tempat David karena Silvi sedang sakit.


Hari ini hari libur, biasanya Reno, Novia juga keluarga David berolahraga bersama mengelilingi kompleks di pagi hari. Namun sudah lama sekali mereka tidak berolahraga bersama lagi, apalagi dengan terjadinya masalah yang lalu itu.


Reno dan Novia berencana akan menjenguk Silvi yang kini masih dirawat di rumahnya, hanya sesekali saja dia ke rumah sakit untuk kontrol, tapi Silvi lebih senang dirawat di rumah.


Kini semua orang sudah tahu tentang penyakit Silvi yang cukup parah itu, Silvi mengalami sakit kanker rahim stadium lanjut, dan sudah beberapa kali dia kemoterapi.


Selama Silvi sakit, David terlihat sibuk mengurus Silvi, bolak-balik kontrol, membeli obat-obatan herbal, bahkan kini David sedikit mengabaikan pekerjaan online-nya, yang selama ini dia tekuni.


Pagi ini Reno, Novia dan Vio terlihat keluar dari rumahnya, lalu ke sebelah ke rumah David, dan antara keduanya kini memiliki hubungan yang baik bahkan sudah seperti saudara.


Silvi yang duduk di ruang tamu rumahnya itu tersenyum ketika melihat kedatangan Reno dan Novia bersama dengan si kecil Vio.


"Ayo duduk, Sudah lama kita tidak mengobrol! Rasanya aku sangat ingin sekali seperti dulu, bisa berolahraga pagi bersama-sama!" ucap Silvi.


"Sudahlah Silvi, saat ini yang terpenting adalah kesehatanmu, pokoknya kamu harus rutin minum obat, dan memotivasi diri sendiri untuk bisa sembuh total!" kata Novia yang kini duduk tepat di samping Silvi.


"Aku bahagia berada di antara orang-orang yang peduli padaku, juga untuk suamiku Bang David, meskipun aku sangat sedih karena mungkin aku tidak akan bisa memberikan Bang David keturunan!" ungkap Silvi. Ada mendung yang menyelimuti wajah tirusnya itu.


"Kamu jangan bilang begitu, ada hal yang bisa menutupi segalanya, dan itu adalah cinta!" lanjut Reno.


"Kami berencana akan pergi ke Singapura untuk pengobatan Silvi, doakan perjalanan kami lancar dan Silvi akan kembali sembuh seperti sedia kala!" kata David yang sedari tadi hanya diam saja.


"Ya, apapun yang kalian lakukan, kami akan terus mendukung kalian!" ucap Reno.


"Jadi kapan kalian akan berangkat ke Singapura?" tanya Novia.


"Besok kami sudah berangkat ke Singapura, aku juga sangat ingin sekali sembuh, supaya aku bisa terus mendampingi Bang David Sampai tua nanti!" jawab Silvi.


Ada yang tersentuh di sudut hati Novia, Silvi terlihat begitu mencintai David dengan segenap hatinya, bahkan dia bertekad untuk tetap hidup dan bersemangat demi David.


Dari Silvi, Novia belajar tentang arti cinta dan kesetiaan yang sesungguhnya.


Setelah mengobrol panjang lebar, akhirnya Reno Novia dan Vio pun kembali pulang ke rumah yang hanya tinggal beberapa langkah saja.


Setelah mereka sudah berada di dalam rumah, Reno langsung memeluk Novia dari belakang, sementara Vio langsung lari untuk bermain di ruang keluarga.


"Sayang, maafkan aku ya, mataku sungguh buta, sudah menuduhmu berbuat macam-macam terhadap David!" bisik Reno.


"Aku juga minta maaf Mas, selama ini aku tidak jujur padamu, mengenai kehadiran David sebagai tetangga kita!" jawab Novia.


"Sekarang semuanya sudah jelas dan selesai, aku mulai memahami, memang kalian tidak pernah ada apa-apa, yang lalu biar berlalu, kita rajut kembali masa depan kita bersama dengan Vio, buah hati kita!" ucap David yang langsung memeluk Novia dan mengecupi wajahnya.


Mbak Darmi yang melihat dari balik jendela dapur nampak tersenyum bahagia, majikannya itu sudah kembali utuh, dan kembali romantis seperti dulu.


****


David dan Silvi sudah berangkat ke Singapura, kini rumah sebelah terlihat semakin sepi, mereka hanya menitipkan rumah dan kendaraan mereka pada Reno dan Novia, entah berapa lama mereka akan berada di Singapura.


Seperti biasanya, Novia terlihat sibuk menyiapkan sarapan pagi untuk suami dan buah hatinya, kini wajahnya sudah terlihat cerah dan ceria, ada Rona kemerahan yang menghiasi wajah Novia yang kini bersinar dan tak lagi pucat seperti sebelumnya.


Senyumnya makin mengembang, manakala dia melihat Reno yang baru turun dari tangga dan langsung duduk manis di ruang makan bersama dengan Vio, Mereka terlihat saling bicara dan bercanda.


"Ayo cepat dimakan sarapan kalian, atau kalian nanti akan terlambat! " kata Novia sambil memberikan piring yang berisi aneka hidangan pada Reno dan Vio.


"Sekarang papa dan mama tidak berantem lagi kan?" tanya Vio sambil menikmati hidangan yang ada di hadapannya itu.


"Tentu saja tidak sayang, lagi pula Papa sudah berjanji tidak akan pernah membuat mama sedih lagi!" jawab Reno.


"Asik! Aku senang sekali kalau Papa dan Mama tidak bertengkar, Aku tidak mau seperti Kevin temanku, Mama dan Papanya sudah berpisah dan dia kelihatan sedih setiap hari!" ungkap Vio.


Spontan Novia langsung memeluk buah hatinya itu, ada perasaan bersalah terhadap Vio, mungkin selama ini mereka tidak menyadari bahwa ketika orang tua ada perselisihan, secara tidak langsung mereka melukai hati anak.


"Mama dan Papa tidak akan bertengkar lagi Sayang, jadi Vio jangan kuatir lagi ya!" ucap Novia.


Setelah mereka selesai sarapan, Reno pun langsung berangkat mengantarkan Vio terlebih dahulu ke sekolahnya, setelah itu dia langsung meluncur ke kantornya.


Baru saja Reno tiba di parkiran kantornya itu, tiba-tiba ponselnya berdering, ada nomor telepon tak dikenal yang meneleponnya, karena penasaran Reno kemudian mengusap layar ponselnya itu.


"Halo!"


"Halo Reno, ini aku Tina, Kenapa kamu tega sekali memblokir nomorku?" tanya Tina yang ternyata si penelepon itu.


"Tina? sekarang Aku sudah kembali pada keluargaku, dan hubungan kita juga sudah berakhir bukan?" sahut Reno


"Oh ya? sudah berakhir ketemu? Jadi selama ini Kau Anggap Apa hubungan kita? Apakah aku ini hanya pelampiasan nafsumu saja? "tanya Tina.


"Maafkan aku Tina, saat itu aku benar-benar khilaf, karena kau tahu sendiri aku sedang punya masalah dengan Novoa, tapi sekarang semuanya sudah jelas dan aku tidak akan lagi meninggalkan keluargaku hanya demi keegoisan Semata!" jawab Reno.

__ADS_1


"Oke, tapi bagaimana tanggung jawabmu terhadap aku?" tanya Tina lagi.


"Apa yang harus aku pertanggungjawabkan padamu? kau ini aneh sekali, katanya kau sudah menikah dengan orang Jepang!" sahut Reno.


" Reno, saat ini aku sedang hamil, dan aku hamil benih kamu!" ucap Tina.


Reno terkejut, apa yang diucapkan Tina bagaikan petir yang menggelegar di siang bolong.


Kini hatinya mulai tidak karu-karuan, Benarkah apa yang dikatakan oleh Tina, rasanya Reno tidak mempercayainya.


"Kau bohong Tin! Aku tidak percaya! mana tahu itu beniku atau bukan, toh aku juga tidak sering-sering melakukan itu padamu!" sergeh Reno.


"Kamu benar-benar biadab Reno! Kamu sudah melakukannya tapi kamu tidak mengakuinya, aku hamil siapa lagi kalau bukan karena kamu? selama ini kan aku hanya berhubungan denganmu!" ujar Tina.


"Tidak! kamu jangan macam-macam Tin! Aku baru kembali harmonis Dengan istriku, dengan keluarga kecilku, aku mohon kau jangan merusaknya!" ucap Reno.


"Aku tidak mau tahu! Pokoknya kamu harus bertanggung jawab, karena bayi yang ada dalam kandunganku ini butuh status, atau kamu mau semua rahasia ini aku bongkar di hadapan Novia?!" ancam Tina.


"Kamu memang musuh dalam selimut Tina! Tidak pantas Novia memiliki sahabat sepertimu! Sekarang katakan saja kau butuh uang berapa, aku akan berikan padamu asal kau pergi jauh-jauh dari hidupku!" sengit Reno.


"Aku tidak butuh uang Reno, aku butuh kamu!" sahut Tina.


"Apa maksudmu?" tanya Reno.


"Sekarang kau datang ke apartemenku, kita bicara baik-baik di sana!" sahut Tina.


"Oke, kali ini aku mengalah, Kita bicara dengan kepala dingin dan aku harap kau tidak bertindak gegabah!"


"Sekarang juga aku tunggu kau datang ke aparteenku!" kata Tina sebelum menutup panggilan teleponnya.


Reno menjambak rambutnya frustasi, dia sama sekali tidak pernah menyangka bahwa buah dari perbuatannya akan seperti ini, sebelumnya dia tidak pernah membayangkan.


Ada rasa penyesalan yang begitu dalam di atas dirinya, dia menyadari kesalahannya itu, tapi kesalahan yang diperbuatnya itu menghasilkan buah yang lain.


Kemudian Reno langsung Memutar Balik setirnya dan keluar dari kantor, dia datang ke apartemen Tina.


Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk sampai di apartemen Tina, Karena Tina tinggal di apartemen yang letaknya dekat dengan kantornya


Tanpa membuang waktu, Reno segera turun dari mobilmu dan bergegas menuju ke kamar apartemen Tina, dia bermaksud untuk bicara baik-baik dengan sahabat istrinya itu.


Setelah sampai di kamar apartemen Tina, Lina nampak duduk sambil tersenyum melihat kedatangan Reno


"Bagus Reno, kau penuhi permintaan, itu baru namanya laki-laki!" ucap Tina


"Benih yang ada di dalam kandunganku ini adalah hasil perbuatanmu rem maka dari itu aku hanya ingin meminta kau bertanggung jawab atasnya! "jawab


"oke, aku akan mengirimkan uang untuk kebutuhan bayi itu, dan aku akan jamin kelak dia bisa bersekolah sampai tinggi, dan aku akan memberikan dia asuransi kesehatan dan pendidikan!" ungkap Reno.


"Enak saja! kau pikir segalanya bisa ditutup dengan uang? Aku tidak sudi Kau hanya menghargai bayi ini dengan sejumlah uangmu!" itukas Tina yang merasa tidak terima dengan keputusan Reno.


"Lalu apa maumu? Katakan sekarang juga!" seru Reno yang terlihat mulai emosi.


"Oke, kamu dengarkan baik-baik aku hanya ingin status untuk bayi ini, aku ingin kau menikahiku ucap Tina.


"Tidak mungkin! Aku tidak mungkin menikahimu, Aku tidak pernah mencintaimu dengan sungguh-sungguh, dan apa yang aku lakukan dulu itu adalah satu kesalahan!" sergah Reno.


"Tapi bayi ini akan semakin besar, kau juga harus menghargai perasaanku, tidak mungkin kan kau menjadi Ayah yang menelantarkan bayi ini!" ucap Tina.


Reno terdiam, Apapun alasan yang dia paparkan tetap tidak merubah keputusan dan keinginan dari Tina.


"Tina, aku tidak mungkin menikahimu, karena saat ini aku sudah punya keluarga, mohon kau Mengertilah itu!" ucap Reno.


"Aku tidak peduli, Pokoknya kau harus menikahi aku, kalau kau tidak menikahiku, ku pastikan Novia akan tahu hubungan kita!" ancam Tina lagi.


"Oke, Beri waktu aku untuk berpikir, nanti aku akan kabari secepatnya Berikan aku waktu!" ucap Reno akhirnya.


"Baiklah, aku akan tunggu jawabanmu secepatnya, ingat Reno, kartu ada di tanganku, sedikit saja Kau bertindak salah, nasibmu juga pasti akan berubah!" ujar Tina.


"Aku harus segera ke kantor, nanti aku akan mengabarimu lagi!" kata David yang kemudian langsung membalikkan tubuhnya dan berjalan Kembali menuju ke parkiran, tempat di mana mobilnya terparkir.


Sepanjang perjalanan menuju ke kantor pikiran Reno benar-benar kacau, baru saja dia kembali menemukan keharmonisan dalam rumah tangga, tiba-tiba badai itu kembali datang.


Reno semakin merasa bersalah, terlebih kini ada bayi yang ada di dalam kandungan Tina, meskipun Reno tidak merasa, namun Reno tidak menyangkal kalau dia pernah berbuat dosa terhadap Tina, meskipun mereka sama-sama mau.


Saat Reno tiba kembali di kantornya, hari sudah terlihat siang, karena matahari kini berada di atas kepala Reno.


Tanpa menunggu lama Reno kemudian langsung masuk ke dalam kantornya itu, dan dia terus berjalan menaiki lift menuju ke ruangannya.


Reno terkejut saat membuka pintu ruangannya itu, Novia sudah duduk di sana menunggunya sambil tersenyum. Di atas meja sudah terlihat ada rantang yang pasti berisi aneka makanan, karena memang ini sudah mendekati jam makan siang.


"Sayang, kau ada di sini?" tanya Reno bingung.

__ADS_1


"Iya Mas, tadi aku masak banyak dan kupikir Kau pasti lapar, apalagi hari ini aku masak lumayan enak, tapi tadi Mas Reno dari mana? kata Ambar Sejak pagi Mas Reno belum datang ke kantor?" tanya Novia balik.


"Oh, tadi aku ada janji dengan salah satu investor, kebetulan memang mendadak, jadi apa boleh buat aku tidak boleh mengecewakan orang yang sudah percaya pada perusahaan ini!" jawab Reno sedikit gugup.


Reno menjadi tidak tenang karena dia sudah membohongi Novia.


"Ya sudah kalau begitu, kita makan sama-sama yuk Mas, cobain deh masakanku!" kata Novia yang mulai berdiri dan membuka rantang makanannya itu satu demi satu.


Sebenarnya Reno tidak lapar sama sekali, apalagi sekarang banyak pikiran-pikiran yang menggelayutinya, terlebih tentang Tina yang mengatakan kalau dirinya hamil karena Reno.


"Lho kok malah bengong? Ayo dimakan mas, ini semua buat Mas Reno lho, Aku paling hanya mencicipinya sedikit!" ucap Novia.


Reno pun dengan terpaksa menyuapkan makanannya itu ke mulutnya kendatipun rasa lapar sama sekali tidak hinggap padanya.


"Mas Reno kenapa dari tadi kok diam saja?" tanya Novia yang masih menemani Reno untuk menikmati sarapannya.


"Tidak apa-apa sayang, aku hanya sedikit pusing karena pekerjaan yang menumpuk!" kata Reno beralasan.


Tapi mas Reno kelihatan seperti ada beban, sebenarnya Mas Reno sedang memikirkan apa sih?" tanya Novia.


"Tidak sayang, aku memang benar ada beban, karena pekerjaan yang belum selesai, Oh ya, ngomong-ngomong terima kasih ya makanannya, semuanya enak!" Puji Reno.


"Sama-sama Mas, kalau begitu aku pulang dulu ya Mas, lanjutkan pekerjaanmu, semoga semuanya cepat selesai!" ucap Novia.


Novia kemudian mulai membereskan meja dan rantang yang masih tergeletak, untuk dibawanya pulang kembali.


Setelah selesai, Novia kemudian mencium tangan suaminya itu untuk pamit kembali pulang ke rumah. Reno memeluk Novia dengan erat dan mengecupi wajahnya.


Lalu setelah itu Novia melangkah keluar dari ruangan Reno, menuju ke parkiran, di mana mobilnya terparkir. Kemudian dia langsung melajukan mobilnya itu menuju ke rumahnya.


Setelah Novia pergi, kini Reno sendiri menghempaskan tubuhnya di sofa yang ada di sudut ruangan itu.


Dia sangat tidak berkonsentrasi untuk bekerja hari ini, sejak dia mengetahui bahwa Tina mengaku hamil anaknya.


Reno tidak bisa mengetahui apakah Tina benar-benar hamil anaknya atau tidak, karena dia juga merasa pernah melakukan hubungan intim bersama dengan Tina dan karena perbuatannya itu Reno teramat sangat menyesal.


Reno juga teringat ancaman Tina yang mengatakan bahwa dia akan membongkar semua rahasia hubungannya dengan Novia kalau Reno tidak menuruti keinginan Tina, untuk menikahinya.


Reno benar-benar bingung dan Dilema, dia bagai makan buah simalakama, sesungguhnya Reno tidaklah bersungguh-sungguh bersama dengan tina, pada saat itu Tina hanya sebagai pelampiasan saja saat Reno merasa marah dan kesal terhadap Novia dan David, tapi dia tidak menyangka kalau akibatnya akan separah ini.


Drrrrt .... Drrrt ... Drrrt


Lagi-lagi ponsel Reno bergetar, Dia kemudian meraih ponsel yang ada di atas meja, melihat ke layar dan ternyata Tina yang meneleponnya.


Rasanya Dia tidak ingin mengangkat telepon wanita itu, tapi dia juga takut kalau Tina akan berbuat nekat dan akan membahayakan dirinya juga keluarganya.


"Halo!"


"Halo Reno, Bagaimana? Apa kamu sudah mengambil keputusan? kamu akan menikahiku atau kau ingin rahasia kita terbongkar?" tanya Tina lagi.


"Kau benar-benar binatang Tina! Aku tidak menyangka kalau kau akan sejahat itu padaku, juga pada istriku! menyesal aku telah jatuh ke dalam bucuk rayumu waktu itu!" cetus Reno.


"Aku tidak peduli dengan Sumpah serapahmu itu Reno, yang penting keinginanku terkabul, kau akan menikahi aku secepatnya, ingat ya secepatnya!" sahut Tina yang kemudian langsung mematikan panggilan teleponnya itu.


Reno hanya mengepalkan tangannya dengan gigi yang bergema retak menandakan bahwa dia benar-benar kesal rasanya ingin sekali dia memaki Tina bahkan melempar wanita itu ke jalanan, tapi akal Sehatnya masih jalan.


****


Sementara itu Novia yang keluar dari parkiran kantor Reno nampak melanjutkan mobilnya itu menuju ke sebuah Cafe, yang letaknya juga tidak jauh dari kantor Reno.


Itu adalah Cafe yang berada di bawah kantor tempat di mana Tina bekerja.


Novia bermaksud datang ke cafe untuk menemui Tina sahabatnya, namun kali ini Novia tidak telepon Tina terlebih dahulu, dia tidak janjian dia hanya memberikan sedikit kejutan untuk Tina melalui kehadirannya yang tiba-tiba berada di cafe.


Setelah Novia sudah tiba di Cafe, Dan setelah dia turun dari mobil yang sudah terparkir manis di depan halaman Cafe itu, Novia kemudian langsung masuk ke dalam dan duduk.


Setelah duduk barulah Novia mengeluarkan ponselnya untuk memberitahu Tina kalau dia sudah berada di bawah kantornya itu.


"Halo, Novia ada apa?" tanya Tina Setelah dia mengangkat panggilan telepon dari Novia.


"Tin, tebak aku ada di mana sekarang?" tanya Novia.


"Jangan main tebak-tebakan, katakan saja sekarang kamu ada di mana Nov? "tanya Tina balik.


"Oke aku beritahu ya, sekarang aku berada di kantormu!" sahut Novia.


"Apa? kamu serius?" tanya Tina nyaris tak percaya.


"Ya sudah, kamu datang saja ke cafe dan lihat apakah ada aku di situ!" ucap Novia.


"Baik, kamu tunggu aku di sana ya!" ucap Tina yang langsung bergerak turun untuk menemui Novia sahabatnya, yang kini sudah duduk manis di cafe.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2