
Novia terpaku sambil menatap David yang masih terbaring lemah di atas ranjangnya itu. Baru saja Silvi mengatakan kalau David meracau tentang Vio bayinya.
Jantung Novia terasa berdebar dengan keras. Entah ini firasat atau apa, tapi kenapa semua serba kebetulan. Apakah benar Vio ada ikatan batin dengan David?
"Mbak Novia, kalau boleh, Izinkan Vio untuk datang sekedar diperlihatkan pada Bang David, Siapa tahu saja Bang David bisa cepat sembuh!" ucap Silvi.
Novia terdiam, dan tidak langsung menjawab permintaan Silvi, apakah mungkin dia akan membawa Vio ke rumah sakit, hanya sekedar menunjukkan pada David? Bukankah semua orang akan bingung kenapa harus Vio yang datang?
"Bagaimana Mbak? Bisakah sebentar saja Vio dibawa ke sini Demi kesembuhan Bang David?" tanya Silvi.
"Maaf Silvi, kalau untuk Vio aku harus izin dulu dengan mas Reno, apalagi Vio itu kan masih kecil sekali, yang sabar dulu ya Silvi!" jawab Novia.
"Iya deh mbak, mudah-mudahan saja Bang David bisa segera sembuh, aku benar-benar khawatir!" kata Silvi, raut wajahnya terlihat mendung.
"Silvi, sepertinya aku harus segera pulang, sebentar lagi Mas Reno juga pulang ke rumah, kasihan Vio di rumah, takutnya dia butuh Asi!" ucap Novia.
"Ya sudah deh Mbak, Kasihan juga Vio ditinggal lama-lama, terima kasih ya, karena sudah mau datang dan bawa banyak makanan begini!" sahut Silvi.
"Iya Silvi sama-sama, kamu yang sabar ya, jangan kecapean, menunggu orang sakit harus makan banyak buat tenaga!" kata Novia sambil memeluk Silvi dan menepuk lembut bahunya.
Kemudian Novia melangkah meninggalkan ruang perawatan itu, dia terus berjalan menyusuri koridor Rumah Sakit menuju ke parkiran, di mana Pak Sukri telah menunggunya.
"Sudah selesai Bu?" tanya Pak Sukri pada saat Novia berjalan mendekati mobil yang dia parkirkan di parkiran rumah sakit itu.
"Sudah Pak, yuk kita langsung pulang, takutnya di jalan macet, kita malah lama sampai di rumah!" ajak Novia yang langsung masuk ke dalam mobil.
Pak Sukri menganggukan kepalanya, setelah itu dia langsung melajukan mobil yang dikendarainya itu berjalan perlahan keluar dari rumah sakit.
Baru sekitar 10 menit perjalanan, tiba-tiba saja mobil yang dikendarai Pak Sukri berhenti perlahan karena di depan sana terlihat macet yang cukup panjang.
__ADS_1
"Aduh, kok bisa macet sepanjang ini sih?" gumam Pak Sukri.
"Iya ya Pak, padahal kan ini belum sore, belum jam pulang kerja, tapi kenapa macetnya panjang seperti ini?" tanya Novia.
Kemudian Pak Sukri membuka kaca jendela mobil dan menanyakan perihal kemacetan itu pada penjual Asongan yang kebetulan melintas di samping mobil nya.
"Macet kenapa ya bang? tumben!" tanya Pak Sukri.
"Itu Pak, ada kecelakaan beruntun di perempatan lampu merah sana, jadi terpaksa semua jalur pada macet, karena banyak yang jadi korban!" jelas si pedagang asongan itu.
"Ya ampun, mau sampai kapan kita sampai rumah! Trimakasih Bang!" sungut Pak Sukri yang kemudian langsung menutup jendela mobilnya kembali.
"Berarti kita terjebak macet! Bagaimana ini pak? Apa tidak ada jalan alternatif lain?" tanya Novia cemas.
"Kita sudah terjebak Bu, kita sudah tidak bisa mundur atau putar arah semuanya macet!" jawab Pak Sukri.
Novia menarik nafas panjang, tidak menyangka dia akan terjebak macet seperti ini, kalau tahu begitu dia akan datang ke rumah sakit lebih siang tadi.
Ponsel Novia bergetar, Novia kemudian merogoh ponsel yang ada di dalam tasnya itu, ada telepon masuk dari rumah, pasti Mbak Darmi yang menelponnya, Novia kemudian langsung mengusap layar ponselnya itu.
"Halo Mbak!"
"Halo Bu, Ibu sudah sampai mana? ini Vio dari tadi menangis terus Bu, Padahal saya sudah berikan asinya!" tanya Mbak Darmi.
"Aku masih di jalan mbak, ini sedang terjebak macet parah, aku juga bingung bagaimana caranya bisa sampai di rumah dengan cepat!" jawab Novia.
"Oh, Ibu lagi kena macet ya, ya sudah deh bu, semoga ibu cepat sampai di rumah ya, kasihan Vio Bu, siapa tahu dia mau menyusu langsung dari ibu!" kata Mbak Darmi.
"Iya Mbak, tolong jaga Vio ya mbak, abaikan pekerjaan yang lain, yang penting Vio tetap dalam gendongan Mbak ya, terima kasih ya Mbak!" ucap Novia yang kemudian langsung mematikan layar ponselnya itu.
__ADS_1
Novia terlihat bingung, dia sangat ingin sekali cepat-cepat sampai rumah untuk memeluk dan menyusui Vio segera, tapi dia juga mengalami hal yang tidak terduga di jalan, Novia benar-benar bingung.
"Pak Sukri, Ini kira-kira sampai jam berapa ya macetnya?" tanya Novia.
"Saya juga tidak tahu Bu, tapi ini macetnya panjang sekali, karena belum ada mobil ambulans yang datang ke tempat kejadian, karena macet parah begini!" jawab Pak Sukri.
Novia menghembuskan nafas frustasi, dia sendiri juga tidak tahu apa yang harus dilakukannya, kalau dia turun, dia juga tidak mungkin naik ojek online untuk sampai ke rumahnya, karena akses jalan yang tertutup oleh macet.
Kalau berjalan kaki juga rasanya tidak mungkin, karena jarak sampai ke rumahnya masih lumayan jauh.
Drrrt .... Drrrt .... Drrrt
Kembali terdengar ponsel Novia yang bergetar, Novia lalu mengambil ponselnya dari dalam tasnya, kini Reno yang meneleponnya, Novia buru-buru mengusap layar ponselnya itu.
"Halo Mas Reno!"
"sayang, aku baru sampai rumah, Kamu di mana? Itu Vio menangis dari tadi, kata Mbak Darmi kamu ke rumah sakit!" tanya Reno.
"Iya Mas maaf, aku cuma menengok Silvi sebentar, karena kasihan dia sendirian, aku mengantarkan makanan buat dia, tapi siapa sangka aku kejebak macet begini!" jawab Novia.
"Kalau hanya ingin mengirimkan makanan, kan kamu bisa suruh Pak Sukri, tanpa harus kamu ikut ke sana, ya sudahlah biar aku yang urus Vio, mudah-mudahan kamu bisa cepat pulang!" ucap Reno yang kemudian mematikan panggilan teleponnya.
Novia menggigit bibirnya, apa yang dikatakan Reno itu memang benar, kalau hanya ingin mengirimkan makanan saja, tidak harus Novia yang pergi sendiri ke rumah sakit, dia bisa menyuruh siapapun atau bisa memakai jasa pengiriman online.
Novia merasa tertegur atas tindakannya sendiri, dia mengakui kalau dirinya salah, seharusnya dia lebih berpikir, apalagi kini ada bayi yang sudah rewel menunggunya.
Tapi sebenarnya, Novia datang ke rumah sakit bukan semata-mata hanya Untuk mengantarkan makanan saja, tapi ada hal yang lain yang saat ini hanya ada di dalam hati Novia.
Kini Novia hanya pasrah sampai kemacetannya benar-benar reda, dan dia tidak tahu sampai kapan dia akan berada di jalan yang semakin lama semakin padat ini.
__ADS_1
Bersambung ...