Rahasia Perkawinan

Rahasia Perkawinan
Kegelisahan Novia


__ADS_3

Dengan tangan yang sedikit gemetar, Novia kemudian kembali membuka lipatan kertas itu, lalu membacanya perlahan, rasanya dia tidak percaya dengan apa yang baru saja dibacanya itu, membuat tubuhnya serasa lemah tak berdaya.


"Novia, semalam aku bermimpi, kalau anak yang saat ini sedang kamu kandung itu adalah darah dagingku, dan aku memiliki keyakinan kalau itu memang benihku, aku mohon kamu terima saja pemberian yang tidak seberapa ini, supaya hatiku menjadi lega dan tenang, aku berjanji ini akan menjadi rahasia kita berdua, asalkan kamu mau menerimanya itu sudah cukup!" -David-


Tanpa di komando, air mata Novia mengalir deras di pipinya, dia benar-benar sangat menyesal akan kejadian malam itu, malam terkutuk itu yang membuat kini jiwanya tidak tenang.


"Ada apa Bu? Kenapa ibu menangis?" tanya Mbak Darmi yang tiba-tiba datang dan menatap bingung ke arah Novia. Novia buru-buru mengusap kasar wajahnya.


"Ah, tidak apa-apa Mbak, aku hanya terharu saja, ternyata bingkisan ini dari teman lamaku, dia sengaja memberikan aku kejutan sampai aku benar-benar terkejut!" jawab Novia berbohong.


"Oalaah, kirain Ibu menangis kenapa, Oh ya Bu, itu di depan sepertinya ada tamu, saya baru membukakan gerbang, Katanya sih dia teman ibu!" kata Mbak Darmi.


Tanpa bertanya lagi, Novia langsung bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah depan, dia yakin pasti Tina sudah sampai di rumahnya.


Sebuah mobil sedan berwarna putih nampak terparkir di garasi rumah Novia, dan seorang wanita cantik bertubuh tinggi semampai dan berambut panjang sebahu turun dari dalam mobil itu.


Novia sudah berdiri di depan teras rumahnya menunggu kedatangan tamunya itu yang adalah Tina sahabatnya.


Mereka pun kemudian saling berpelukan, dan Novia langsung menggandeng tangan Tina masuk ke dalam rumahnya.


"Wah, rumahmu estetik sekali, sepertinya nyaman sekali kamu menjadi Nyonya di rumah ini!" Puji Tina sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan itu.


Mereka kemudian duduk berbincang di sofa ruang keluarga rumah itu, tak lama kemudian Mbak Darmi muncul dari arah dapur sambil membawakan minuman dingin dan beberapa makanan ringan.


"Siang ini kamu mau makan apa Tin? Biar nanti aku pesankan sama Mbak Darmi!" tanya Novia.


"Ah, baru juga aku datang, sudah di tanya mau makan apa, aku sih gampang, makan apapun jadi! Oh ya, Sepi sekali rumahmu, di mana suamimu?" tanya Tina balik.


"Mas Reno sedang ke Malaysia Tin, ibu mertuaku sedang sakit, tapi paling besok juga Mas Reno sudah kembali!" jawab Novia.


"Ooh!" gumam Tina sambil menyeruput minuman dinginnya.


"Tin, memangnya kamu tidak punya calon untuk masa depanmu?" tanya Novia tiba-tiba.

__ADS_1


"Yah, cowok mah di mana-mana juga banyak Nov, yang tampan saja bertebaran, cuma kan aku harus benar-benar pilih dan selektif, apalagi pernikahan itu untuk sekali seumur hidup kan!" jawab Tina sambil menghela nafas panjang.


"Semoga saja kamu bisa menemukan yang terbaik Tin!"


"Hei, kamu ini sedang Kenapa sih Nov? Sepertinya kamu kok galau lagi, gimana David? Rumahnya itu yang sebelah situ kan!" kata Tina sambil menunjuk ke arah sebelah rumah Novia yang dari jendela terlihat.


"Iya Tin, itu rumah David dan istrinya!" sahut Novia.


"Wow, tidak disangka ya kalian bisa bertetangga seperti ini! Lalu bagaimana dengan kalian, pastinya kamu jadi dilema dan sungkan banget ya, walaupun kalian sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi, tapi sepertinya bayang-bayang masa lalu itu akan selalu mengikutimu!" ungkap Tina.


"Itulah Tin, perasaanku jadi tidak menentu, aku tahu aku dan David memang tidak ada hubungan apapun lagi saat ini, masing-masing kami sudah berkeluarga, hanya saja entah mengapa sejak kehadirannya menjadi tetanggaku, pikiranku agak sedikit terusik!" ungkap Novia.


"Nov, sebagai sahabat, aku hanya menyarankan, pertahankanlah rumah tanggamu, apalagi Reno itu kan baik sekali, juga kelihatan sangat mencintai kamu, lupakan saja David!" kata Tina.


Novia terdiam, benar yang dikatakan oleh Tina, seharusnya memang dia melupakan David, tidak peduli dia bertetangga atau tidak.


David adalah bagian dari masa lalunya, saat ini Novia sudah bersama dengan Reno, tidak sepantasnya Novia masih terpaut pada David, apalagi kini David juga sudah memiliki keluarga kecilnya sendiri.


"Apa? David mengirimkan bingkisan? Berani sekali dia!" seru Tina yang terlihat sedikit terkejut.


"Sssst, kecilkan suaramu Tin! Kalau mbak Darmi mendengarnya, bisa bahaya!" ujar Novia sambil meletakkan telunjuknya di depan bibirnya.


"Ups! Sorry!" ucap Tina.


"Ya, asal kamu tau, di dunia ini cuma kamu yang tau masalahku!" lanjut Novia.


"Oya Nov, memangnya kamu benar-benar yakin kalau anak dalam perutmu ini anaknya David?" tanya Tina setengah berbisik.


"Aku tidak tau Tin, dan aku tidak ingin mencari tau, aku menganggap ini adalah anak Mas Reno, tapi David, merasa kalau ini adalah benihnya! Aku memang wanita tak baik, aku jahat!" tiba-tiba Novia menangis.


Tina lalu memeluk Novia sambil menepuk-nepuk lembut bahu sahabatnya itu.


"Tenanglah Nov, jangan seperti ini, kasihan bayimu!" ucap Tina.

__ADS_1


"Lalu aku harus bagaimana Tin?" tanya Novia terisak.


"Lupakan David Nov, rajut masa depanmu bersama Reno!" jawab Tina.


"Tapi David selalu membayangiku Tin, aku takut!" lanjut Novia.


Tina kemudian mengurai pelukannya lalu menatap dalam wajah Novia yang kini terlihat basah oleh air matanya.


"Aku punya saran, mungkin lebih baik kau minta Reno untuk pindah rumah, Kalau perlu kalian pindah ke luar kota, supaya pikiranmu lebih tenang!" usul Tina.


"Pindah? Lalu apa alasanku meminta Mas Reno untuk pindah rumah? Bukankah nanti dia akan curiga kalau tiba-tiba aku memintanya untuk pindah rumah?" tanya Novia.


"Ya Bilang saja kalau kamu pengen cari suasana baru, kalau kamu pengen suasana yang lebih tenang, atau bisa juga kamu beralasan kalau itu adalah keinginan bayimu!" Jawab Tina.


Novia terdiam, mungkin benar juga apa yang disarankan oleh Tina sahabatnya.


Siapa tahu melalui pindah rumah, Novia akan lebih tenang, dia tidak lagi dibayang-bayangi oleh masa lalunya.


"Aku akan pikirkan saranmu Tin, meskipun Mas Reno memberikan rumah ini juga sudah sangat sempurna, jauh dari keramaian, dan semua fasilitas disediakan, rasanya aku tidak memiliki alasan yang pantas kalau aku harus memintanya pindah rumah!" ungkap Novia.


"Ya makanya, dicoba saja dulu, itu kan hanya sekedar saran, kalaupun tidak memungkinkan untuk pindah, karena kandunganmu yang sudah besar itu, mungkin kamu bisa menundanya nanti!" ujar Tina.


Kriiiing ... Kriiing ... Kriiiing


Tiba-tiba terdengar suara deringan telepon, Mbak Darmi dari arah belakang tergopoh-gopoh berjalan menuju ke meja telepon, lalu mengangkat telepon itu.


Dan tak lama kemudian Mbak Darmi melangkah mendekati Novia dan Tina yang masih duduk di sofa ruang keluarga itu.


"Siapa yang telepon Mbak?" tanya Novia.


"Itu Bu, Bapak yang menelepon!" jawab Mbak Darmi.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2