
Novia kemudian mengangkat gagang telepon, untuk berbicara dengan Reno yang meneleponnya itu. Baru saja beberapa jam Reno pergi, dia sudah telepon saja.
"Halo Mas!" sapa Novia.
"Halo sayang, aku baru sampai di Kuala Lumpur, tiba-tiba aku teringat kamu, dan sangat ingin meneleponmu, kamu baik-baik saja kan?" kata Reno.
"Aku baik-baik saja Mas, Mas jangan terlalu mengkhawatirkan aku!" sahut Novia.
"Oh ya Sayang, tadi aku sudah bilang sama Mbak Darmi, biar malam ini dia tidur di kamar kita, biar nanti dia bawakan kasur tambahan ke kamar, supaya dia bisa menjagamu saat tidur!" ucap Reno.
"Mas Reno terlalu berlebihan ah! Aku ini sudah bisa menjaga diriku sendiri Mas, Aku bukan anak kecil!" sahut Novia sedikit kesal.
"Sayang, aku ingat biasanya kalau malam hari kamu selalu ingin pipis, kalau tiba-tiba nanti kamu terjatuh di kamar mandi kan Mbak Darmi Jauh, tidak akan ada yang mendengarmu!" kata Reno.
"Mas, aku tidak apa-apa! Percayalah padaku, pokoknya Mas Reno urus aja ibu di Malaysia, jangan terlalu memikirkan aku!" sergah Novia.
"Maafkan aku sayang, mungkin karena rasa cintaku yang terlalu dalam padamu, sehingga membuat aku selalu mengkhawatirkanmu!" ucap Reno.
"Sudah Mas Reno tenang saja, aku bisa menjaga diriku sendiri! Kalau ada apa-apa aku pasti akan bilang sama Mas Reno!" kata Novia.
"Baiklah kalau begitu, aku percaya padamu, kalau begitu aku mau lanjut ke rumah ibu, Jangan bosan ya kalau aku sering menelepon!" ucap Reno.
"Iya Mas!" jawab Novia yang kemudian langsung menutup teleponnya itu.
Kemudian Novia kembali berjalan menuju ke sofa ruang keluarga, di mana Tina sudah menunggunya di sana.
"Perasaan si Reno itu baru berangkat tadi pagi-pagi deh, ternyata dia tidak tahan lama-lama jauh darimu!" goda Tina sambil mengedipkan sebelah matanya pada Novia.
"Yah, dia memang kadang-kadang suka berlebihan! Kadang-kadang dia terlalu posesif, terlalu khawatir bahkan membayangkan hal yang belum terjadi!" sahut Novia yang kemudian langsung menghempaskan tubuhnya di sebelah Tina.
"Ya Bagus dong Nov, itu baru namanya suami idaman, mencurahkan seluruh hidupnya dan hatinya untuk istrinya, kamu lihat saja di luar sana, banyak laki-laki yang pada selingkuh!" ujar Tina.
"Iya aku paham Tin, tapi semakin dia bersikap seperti itu, Aku semakin merasa bersalah padanya, entah mengapa!" gumam Novia.
"Yang sabar Nov, aku sendiri juga bingung memberikan saran padamu, berada di posisimu memang sulit, seperti makan buah simalakama!" sahut Tina.
__ADS_1
"Sudahlah Tin, aku pesankan makan ya lewat online, hari ini aku tidak masak, Kita pesan makan saja di restoran, terus makan di rumah deh!" ujar Novia yang kemudian langsung mengambil ponselnya dan membuka beberapa menu makanan di restoran terdekat melalui online.
"Eh Nov, Aku sangat ingin makan ayam asam manis, tolong kau pesankan ya!" seru Tina.
"Beres Bos, kali ini apapun yang kau minta aku pasti akan penuhi!" jawab Novia sambil tertawa.
Selama beberapa hari belakangan ini, baru sekarang Novia bisa tertawa lepas bersama Tina.
****
Hari ini adalah jadwal Novia untuk memeriksakan kandungannya ke dokter kandungan di rumah sakit.
Reno juga masih berada di Malaysia, Kemungkinan dia akan pulang besok sesuai jadwal.
Novia sudah nampak bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit, dia juga tidak sabar ingin melihat calon bayinya melalui USG, seperti yang setiap bulan dia rasakan, menjadi calon ibu adalah sesuatu yang luar biasa.
"Bu, saya temani Ibu kontrol Ke rumah sakit ya, kata bapak saya suruh menjaga ibu dan menemani Ibu ke rumah sakit!" kata Mbak Darmi yang tiba-tiba datang menghampiri Novia yang baru saja mengambil kunci mobilnya itu.
"Tidak usah Mbak, aku bisa ke rumah sakit sendiri kok, Mbak Darmi di rumah saja, mengerjakan pekerjaan yang lain!" sahut Novia.
"Ya tidak apa-apa Mbak, anaknya Pak Supri kan sedang sakit, wajar Pak Supri minta cuti!" sahut Novia.
"Tapi Bu, nanti kalau Bapak tanya bagaimana? Apalagi Bapak pernah bilang Ibu jangan menyetir mobil sendiri, kan hamilnya sudah besar!" kata Mbak Darmi mengingatkan.
"Ya sudah mbak, aku tidak jadi naik mobil sendiri ke rumah sakit, aku pesan taksi online saja!" jawab Novia yang kemudian langsung mengembalikan kunci mobil itu ke tempatnya.
Novia teringat, beberapa kali Reno memang melarangnya untuk membawa mobil sendiri kemanapun, lebih baik naik taksi online atau di antar Pak Supri daripada harus membawa mobil sendiri, apalagi kandungan Novia semakin hari semakin membesar.
Novia kemudian mulai membuka aplikasi di ponselnya, berniat akan memesan taksi online untuk mengantarnya ke rumah sakit.
"Jadi saya tidak usah menemani Ibu? Tapi nanti kalau Bapak tanya Bagaimana Bu?" tanya Mbak Darmi lagi.
"Mbak, bilang saja Aku ingin kontrol sendiri, lagi pula rumah sakitnya kan dekat, cuma 15 menit dari rumah, setelah kontrol aku juga langsung pulang kok!" jawab Novia.
"Ya sudah deh Bu, tapi ibu hati-hati ya, kalau ada apa-apa langsung telepon ke rumah!" kata Mbak Darmi cemas.
__ADS_1
Novia menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, setelah itu terdengar suara klakson dari depan gerbang, rupanya taksi online yang dipesan oleh Novia sudah menunggunya di depan gerbang.
Novia kemudian langsung melangkah menuju Gerbang diikuti oleh Mbak Darmi.
Tak lama kemudian, Novia langsung naik ke dalam taksi online itu dan langsung meluncur ke rumah sakit.
Sekitar 15 menit perjalanan, Novia sudah sampai di rumah sakit, rumah sakit siang itu terlihat tidak terlalu ramai pengunjung, Novia langsung berjalan ke poli kandungan, dan mulai mengantri di sana.
Novia terperangah ketika melihat pasangan suami istri yang baru saja keluar dari ruangan dokter kandungan, karena Novia sangat mengenal suami istri itu, mereka adalah David dan Silvi.
Rasanya Novia ingin sekali bersembunyi agar mereka tidak melihatnya, namun mata Silvi terlanjur melihat keberadaan Novia yang sedang duduk mengantri di Poli kandungan itu. Silvi terlihat menarik tangan David untuk mendekati Novia.
"Eh ternyata Mbak Novia kontrol di rumah sakit ini!" seru Silvi. David juga sedikit terkejut melihat kalau Novia ada di situ.
"Iya, hari ini jadwal aku kontrol!" jawab Novia singkat.
"Lho, Pak Reno mana Mbak Novia? Mbak Novia kontrol sendiri?" tanya Silvi.
"Iya, kebetulan Mas Reno sedang ada di Malaysia, ibunya sakit!" sahut Novia.
"Ya ampun, bisa kebetulan begini ya, terus tadi naik apa Mbak?" tanya Silvi lagi.
"Naik taksi!" sahut Nokia.
"Naik taksi? Kalau begitu nanti pulangnya sama-sama kita saja, kan kita tetanggaan, Iya kan Bang David?" usul Silvi sambil menoleh ke arah David yang sejak tadi hanya diam termangu
"I-Iya, nanti pulangnya barengan saja!" sahut David sedikit gugup.
"Eh tidak usah repot-repot! Lagian kan kalian sudah selesai dari dokter, aku masih ada 3 antrian, tidak apa-apa aku pulang naik taksi saja!" tukas Novia.
"Tidak masalah kami menunggu, lagi pula setelah ini kami mau makan dulu di kantin rumah sakit, kau tenang saja!" kata David yang kemudian langsung menggandeng tangan Silvi melangkah meninggalkan tempat itu.
Novia hanya bisa termangu menatap kepergian mereka, lagi-lagi takdir mempertemukan mereka di sini.
Bersambung ....
__ADS_1