
Hari ini Reno terlihat memarkirkan Mobilnya di sebuah klinik, dia berencana akan berkonsultasi dengan dokter secara pribadi.
Perkataan David mengenai kesuburan Reno yang harus dikonsultasikan pada dokter terus terngiang-ngiang di telinga Reno.
Selama ini dia memang tidak pernah mengecek kesuburan, karena dia yakin kalau benihnya itu adalah benih yang bagus dan berkualitas, dan tidak pernah terpikir olehnya untuk memeriksakannya ke dokter.
Namun entah mengapa kini hatinya mulai meragu, apalagi waktu itu Tina juga mengatakan bahwa belum tentu Vio itu adalah darah daging Reno.
Mulanya Reno tidak percaya dengan ucapan Tina, tapi setelah David mengatakan kalau Setelah sekian tahun namun Novia juga tidak kunjung hamil, timbul keraguan di benak Reno, apakah mungkin kalau dia sebenarnya mandul.
Kalau itu benar, berarti bayi yang ada dalam kandungan Tina sudah jelas bukan anaknya, dan juga Vio. Tiba-tiba Reno merasakan sesuatu yang sesak di dadanya.
Reno berjalan menyusuri koridor klinik itu dan masuk ke dalam ruangan dokter, karena sebelumnya dia memang sudah ada janji dengan dokter.
"Silakan duduk pak Reno!" kata Sang dokter sambil tersenyum.
Reno kemudian duduk di hadapan sang dokter kemudian dia merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah tabung kecil berukuran jari, lalu disodorkannya ke arah dokter.
"Ini sampel benih saya dokter, silakan dokter periksa, apakah benih ini berkualitas atau tidak!" kata Reno.
"Baik Pak Reno, saya akan mulai memeriksa kondisi benih anda dan nanti akan keluar hasilnya!" ucap sang dokter.
"Terima kasih Dokter, Saya akan menunggu!" jawab Reno.
Dokter itu kemudian mulai membawa sampel benih Reno ke ruang laboratorium, sementara Reno menunggu di ruang tunggu yang ada di depan ruangan itu.
****
Sementara itu di Semarang, Novia sedang membantu Bunda Lasmi memasak untuk makan malam.
Setelah beberapa hari dia menginap di rumah Bunda Lasmi, Novia terlihat lebih tenang, wajahnya juga sudah tidak lagi pucat seperti saat pertama kali dia datang.
"Novia, Bunda mau tanya, setelah ini apa rencanamu?" tanya bunda Lasmi.
"Aku tidak tahu Bunda, aku masih belum punya rencana apapun!" jawab Novia
"Tapi mau sampai kapan kamu seperti ini terus sayang, kan kasihan juga Vio, dia harus ikut Mamanya menunggu, Bunda sih tidak masalah kamu mau menginap berapa lama di sini, ini juga rumahmu, tapi janganlah pernah lari dari permasalahan yang ada, semuanya itu harus dihadapi!" ungkap Bunda Lasmi.
Novia terdiam mendengar penuturan Bunda Lasmi, dia juga menyadari kalau dia tidak bisa terus lari dari kenyataan, bersembunyi di sini, sementara tidak ada penyelesaian apapun dan malah itu akan membuat Vio Semakin menjadi korban.
__ADS_1
"Aku butuh waktu Sebentar lagi bunda, untuk menata hati dan pikiranku sehingga aku tidak salah mengambil keputusan!" kata Novia.
"Ya silakan saja, di sini bunda hanya memberi nasihat untuk kebaikan kalian kedepannya, apalagi rumah tanggamu dan Reno kan bukan baru kemarin sore, setiap rumah tangga pasti akan ada badai, tapi tergantung kita Bagaimana menghadapi badai itu!" ucap Bunda Lasmi.
"Iya Bunda, aku juga sedang memikirkan dan mempertimbangkan, tapi aku butuh waktu untuk berpikir, aku tidak bisa buru-buru mengambil keputusan, Aku harap Bunda mengerti!" jawab Novia.
"Iya nak, Bunda dan rumah ini selalu terbuka untukmu kapanpun! Jadi kamu jangan khawatir tidak ada tempat mengadu, mudah-mudahan persoalanmu cepat selesai, paling tidak demi Vio!" ujar Bunda Lasmi.
Setelah selesai memasak, mereka kemudian mulai menata makanan yang sudah matang itu di meja makan besar, yang biasanya hanya dinikmati oleh Bunda Lasmi seorang diri, namun kali ini ada anak dan cucunya yang datang yang membuat Bunda Lasmi sebenarnya begitu gembira karena rumahnya jadi terasa ramai.
Beberapa asisten rumah tangga nampak membantu menata meja makan itu, sambil menunggu makan malam siap, Novia berjalan kembali ke kamarnya, dia ingin sejenak beristirahat sebelum jam makan malam tiba.
Vio sejak tadi terlihat sedang bermain bola dengan sopir Bunda Lasmi dan seorang asisten rumah tangga yang selalu menemani ke mana Vio hendak bermain.
Drrrrt... Drrrt... Drrrrt
Baru saja Novia merebahkan tubuhnya, tiba-tiba ponselnya bergetar, Novia kemudian langsung meraih ponselnya itu menatap ke layar yang ada di ponselnya.
Novia sedikit mengerutkan keningnya, saat melihat siapa yang meneleponnya, ternyata David yang meneleponnya, tumben sekali David menelpon ke ponselnya, padahal itu jarang terjadi, Novia berpikir apa dia membawa suatu kabar? Akhirnya tanpa berpikir lagi, Novia mengusap layar ponselnya itu untuk menjawab panggilan dari David.
"Halo David, Ada apa kamu meneleponku?" tanya Novia to the point.
"Kabarku baik, Vio juga, sementara aku belum bisa kembali ke Jakarta!" kata Novia.
"Tidak apa-apa kamu menenangkan diri di sana Nov, semoga saja akan ada jalan yang terbaik!" ujar David.
"Terima kasih David, meskipun kita punya masa lalu, tapi paling tidak sekarang kita lebih cocok menjadi teman baik!" ucap Novia.
"Yah, kita lihat saja takdir seperti apa yang akan kita alami nanti, cuma satu hal yang harus kamu tahu, sejak kepergian Silvi, Aku tidak mau lagi menjalin hubungan atau menikah dengan siapapun, Kecuali Kamu!" kata David.
Novia terhenyak mendengar perkataan David, entah mengapa dadanya kini kembali terasa sesak, dia tidak tahu apa yang harus dikatakan kepada David, yang sepertinya berharap untuk kembali bersama seperti dulu.
"Maaf David, saat ini aku sedang mengalami masalah rumah tangga, Aku tidak mau kamu ikut campur di dalamnya, dan saat ini statusku masih sah istri mas Reno!" ucap Novia.
"Tidak apa-apa Novia, Aku maklum, aku kan hanya mengungkapkan isi hati saja!" jawab David.
"Baiklah David, sepertinya sebentar lagi aku akan makan malam, kalau ada kabar apapun mengenai Mas Reno atau apapun itu, aku mohon beritahu aku ya!" kata Novia
"Iya!" jawab David
__ADS_1
"Terima kasih David, Sampai jumpa lagi!" ucap Novia yang kemudian langsung mematikan panggilan teleponnya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 07.00 malam, biasanya di rumah Bunda Lasmi Makan malam adalah di jam 07.00 malam, Novia cepat-cepat merapikan dirinya dan kemudian keluar dari kamar itu menuju ke ruang makan kembali.
Vio terlihat antusias duduk menghadap meja makan yang kini penuh dengan aneka hidangan itu, sepertinya anak itu sudah lapar dan dia tidak sabar untuk menikmati semuanya.
Setelah beberapa waktu lamanya menginap di rumah Bunda Lasmi, sepertinya Vio mulai terbiasa dan dia mulai betah tinggal di sini, karena dia tidak lagi menanyakan soal sekolahnya.
*****
Sementara itu Reno berjalan gontai menyusuri koridor klinik menuju ke tempat di mana mobilnya terparkir.
Di tangannya memegang sebuah kertas hasil pemeriksaan dari laboratorium mengenai kesuburan benihnya.
Setelah diteliti dan diperiksa, ternyata benih Reno mengalami masalah, terlalu encer dan sulit untuk membuahi, sehingga kecil kemungkinan untuk dia bisa memiliki keturunan.
Reno dinyatakan mandul oleh dokter, meskipun dokter tidak mengatakan secara langsung, namun tersirat dari pembicaraan dan dari hasil pemeriksaan laboratorium, bahwa Reno memiliki kualitas benih yang buruk, sehingga dia akan kesulitan memiliki keturunan.
Reno menghempaskan tubuhnya di jok mobil dan memukul kemudi yang ada di hadapannya itu, menuangkan segala perasaan yang saat ini sulit digambarkan oleh kata-kata.
Dia harus menerima kenyataan bahwa dirinya mandul, Sebenarnya bukan itu saja yang membuat dirinya sedih dan frustasi, Dia teringat Vio, perkataan Tina waktu itu kembali terngiang-ngiang di benaknya.
Mungkinkah kalau Vio itu benar-benar bukan anak kandungnya? Mungkinkah benih yang dikandung oleh Novia itu bukan benihnya tetapi benih David?
Ini adalah mimpi terburuk Reno, selama hidup Reno yang bergelimang harta dan dipenuhi oleh kesuksesan harus menerima kenyataan pahit, bahwa dirinya benar-benar mandul, dan mirisnya itu baru diketahuinya saat ini, saat dia sudah menjalani rumah tangga selama sekian tahun, dan saat masalah rumah tangga sedang menimpanya.
Kemudian Reno langsung terburu-buru menyalakan mesin mobilnya, lalu meluncur keluar dari parkiran klinik menembus kegelapan malam.
Reno terus melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, pikirannya saat ini benar-benar kalut, wajah Vio terbayang-bayang dalam benaknya, dia tidak dapat membayangkan kalau anak yang dia sayangi selama ini ternyata bukan anak kandungnya.
Braaakkk!!!
Tiba-tiba dari arah berlawanan, meluncur sebuah truk kontainer yang langsung menabrak mobil Reno yang saat itu sedang melaju dengan kecepatan tinggi.
Kecelakaan maut pun tak terelakkan lagi, mobil Reno masuk ke dalam bawah mobil truk kontainer dan seketika itu juga jalanan itu menjadi macet dan mulai berkerumun orang-orang.
Tak lama kemudian terdengar suara ambulans dan mobil polisi yang langsung datang ke tempat kejadian.
Bersambung ...
__ADS_1