
Deg …
Dinda dan Nathan sama-sama merasakan jantung mereka berdegup lebih kencang. Perasaan apa ini? Mereka berdua sama-sama tidak tahu, yang jelas rasanya begitu sangat tidak karuan. Lalu Dinda dan Nathan pun segera mengalihkan pandangan mereka serta menjadi salah tingkah. Kini Dinda kembali duduk di samping Nathan.
"Maafkan aku Din, aku tidak bermaksud seperti itu," ucap Nathan.
"Sudahlah Tuan, jika kau tidak ada keperluan lain, sebaiknya kau pergi saja dari sini," kata Dinda.
"Aku ingin berbicara denganmu Din," ucap Nathan sembari menatap mata Dinda.
"Berbicara soal apa?" Tanya Dinda.
"Aku ingin bertemu denganmu karena aku sama sekali tidak punya teman bercerita. Apakah boleh Aku bercerita denganmu? Aku tidak akan menuntut apapun, aku tidak akan memintamu untuk melayaniku. Karena sesuai kesepakatan, kita hanya berhubungan agar aku memiliki anak," kata Nathan.
Dinda tampak berpikir, apa yang dikatakan Nathan memang benar, hanya saja Dinda masih sedikit trauma dan belum bisa menerima apa yang sudah terjadi dalam dirinya. Tapi kenapa Nathan harus mencarinya untuk menjadi teman bicara? Bukankah Nathan memiliki istri jika ingin berbicara tentang keluarga dan mempunyai asisten yang sangat dekat dengannya jika ingin berbicara tentang istrinya. Entahlah, Dinda bisa stres jika memikirkan tentang orang lain.
"Baiklah! Aku akan mendengarkanmu. Apa yang ingin kau katakan padaku?" Tanya Dinda yang berusaha bersikap manis saat berbicara dengan pria yang ada di depannya itu.
Lalu Nathan pun mulai menceritakan masalah hidupnya pada Dinda. Tentang kondisi rumah tangganya dengan Clara, juga tentang bagaimana sikap Clara terhadap keluarganya.
Dinda dapat melihat jika saat itu Nathan begitu stres, entah kenapa muncul rasa iba di dalam hati Dinda. Lagi-lagi ia tidak tahu ada perasaan apa ini? Apakah ia benar-benar simpati atau hanya kasihan terhadap Nathan, atau juga ada perasaan lain. Tapi jika memang karena perasaan lain, menurut Dinda itu terlalu cepat, karena mereka belum lama kenal meskipun sudah melakukan hubungan terlarang.
"Apakah menurutmu sikap seperti itu yang mencerminkan sikap seorang istri?" Tanya Nathan yang terlihat putus asa.
"Meskipun aku belun menikah, tapi aku tahu seharusnya tidak seperti itu. Seharusnya dia memberikanmu anak, tapi dia malah memintamu untuk berhubungan dengan wanita lain, sedangkan dia sama sekali tidak mau kau sentuh," kata Dinda.
"Sekarang kau mengerti kan kenapa aku melakukan ini semua. Ini hanya demi orang tuaku, Mama ingin aku segera memiliki anak. Apalagi ayahku yang sudah tua itu, dia mengatakan jika aku mandul dan tidak bisa memiliki anak, maka dari itulah aku ingin membuktikan kalau aku bisa memiliki anak walaupun itu bukan dari rahim istriku, Clara," kata Nathan.
"Tapi kau tidak bisa terus seperti ini Tuan. Kau harus membujuk istrimu, kasihan kedua orang tuamu karena kalian membohonginya," kata Dinda.
Seketika Nathan menjadi murka, "Heh, aku tidak butuh nasehatmu."
__ADS_1
"Tapi bukankah kau bercerita padaku karena ingin mendengarkan pendapatku juga," kata Dinda.
"Aku memang membutuhkan teman bicara tapi tidak untuk menceramahiku," hardik Nathan.
"Terserah kau saja Tuan, aku capek. Sebaiknya sekarang kau pergi saja dari rumahku," kata Dinda mengusirnya.
Karena waktu sudah menunjukkan pukul 07.00 malam, Nathan pun segera saja pergi meninggalkan rumah Dinda. Ia juga ada janji akan bertemu dengan orang tuanya malam ini.
Dinda masuk ke dalam kamarnya, ia terus saja terbayang-bayang wajah Nathan bagaimana saat tadi mereka berdekatan, juga tentang ceritanya itu.
"Jadi seperti itu kisah Nathan? Apakah dia serius atau hanya mengada-ngada saja mencari simpatiku? Tapi untuk apa? Jika memang seperti itu, kasihan sekali dia," gumam Dinda.
*****
Nathan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, hingga tidak berapa lama kemudian ia pun telah tiba di kediaman orang tuanya. Saat itu Cynthia dan Frans sudah menunggunya di ruang makan.
"Ini dia anaknya, kenapa lama sekali kamu datang?" Tanya Frans dengan suara meninggi.
"Iya Pa jangan marah-marah terus, ingat sudah tua," sambung Nathan yang membuat Cynthia itu hanya geleng-geleng kepala saja.
Cynthia sudah terbiasa melihat perdebatan antara anak dan suaminya itu jika bertemu yang tidak pernah akur, akan tetapi ia juga tahu jika di antara ayah dan anak itu saling menyayangi.
Frans memutar bola matanya malas, lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Nathan dimana Clara?" Tanya Cynthia yang celingukan mencari keberadaan menantunya.
"Maaf Ma, Clara lagi banyak pekerjaan. Tadi aku sudah mengajaknya, tapi kata Clara dia ada pemotretan yang tidak bisa ditinggal. Tapi aku janji Ma, besok pasti aku akan membawa Clara ke sini," jelas Nathan.
"Oh gitu," ucap Cynthia, terlihat dari wajahnya yang begitu tampak kecewa.
"Apakah sepenting itu pemotretannya? Kamu itu bagaimana, seharusnya sebagai seorang suami kamu harus tegas. Masa iya hanya untuk makan malam bersama keluarga saja dia tidak bisa mengusahakannya," kata Frans yang terlihat tidak suka.
__ADS_1
"Jadi aku harus bagaimana Pa? Kalau kalian mau aku bercerai dengan Clara, aku siap akan bercerai sekarang," kata Nathan yang membuat kedua orang tuanya itu membelalakkan matanya.
"Nathan, kamu tidak boleh berbicara sembarangan seperti itu. Apa yang kamu pikirkan, kamu tidak boleh mempermainkan pernikahan," kata Cynthia yang membuat Nathan terdiam.
"Maaf Ma," ucap Nathan.
"Ya sudah, sekarang kamu duduk. Sudah lama kita tidak makan malam bersama," ajak Chintya.
Lalu Nathan pun segera duduk dan menikmati makan malam bersama keluarganya. Meskipun suasananya cukup canggung, tetapi makan malam itu tetap berlangsung hingga selesai dan setelah itu Nathan kembali ke apartemennya.
*****
Di sebuah pusat perbelanjaan, terlihat seorang Ibu paruh baya yang sedang kesusahan membawa barang belanjaannya. Saat itu tiba-tiba saja salah satu paper bag yang dipegangnya terjatuh dan ia kesulitan untuk mengambilnya.
Di saat yang bersamaan, seorang gadis muda yang saat itu kebetulan sedang berjalan-jalan di mall besama sahabatnya, melihat apa yang sedang terjadi itu. Ia pun segera saja menghampiri ibu tersebut dan menolongnya.
"Ini Tante barangnya," ucap Gadis itu sembari memberikan paper bag kepada ibu tersebut.
Ibu itu pun menatap gadis muda tersebut dan tersenyum, "Terima kasih ya Nak, kamu baik sekali."
"Sama-sama Tante, aku hanya kebetulan lewat dan melihat Tante lagi kesusahan. Biar aku bantuin ya Tante, mau dibawa ke mana belanjaannya?" Tanya gadis itu.
"Oh gitu, Tante mau ke mobil. Boleh kalau kamu memang mau membantu Tante," ibu tersebut tidak menolak. "Oh ya Nak, nama kamu siapa?" Tanyanya.
"Aku Dinda Tante," ucap Dinda.
"Nama yang indah. Nama Tante Cynthia," ucap Cynthia.
Mereka berdua pun berjabat tangan dan saling tersenyum.
...………… Bersambung ………...
__ADS_1