
"Dinda," gumam Nathan yang semakin menajamkan matanya.
"Tuan, ada apa?" Tanya Dimas saat mendengar tuannya itu bergumam menyebut nama seseorang.
"Dimas, aku melihat Dinda di sana," kata Nathan sembari menunjuk ke arah luar.
Lalu Dimas pun melihat ke arah yang ditunjuk oleh Nathan, akan tetapi ia sama sekali tidak melihat sosok yang disebut oleh Nathan tadi.
"Dimana Tuan? Aku sama sekali tidak melihatnya," kata Dimas.
"Dinda," ucap Nathan, lalu ia pun segera berlari keluar untuk memastikannya.
Nathan menerobos hujan deras menyeberangi jalanan menuju ke apotek untuk menemui sosok wanita yang selama ini telah dicarinya. Akan tetapi setibanya di apotek tersebut, ia sama sekali tidak melihatnya yang membuat Nathan pria gagah itu menangis sejadi-jadinya.
"Dinda … di mana kamu Dinda, aku yakin kalau yang aku lihat tadi adalah kamu. Apa kamu sengaja menghindariku setelah kau melihatku. Tapi kenapa?" Ucap Nathan dengan isak tangisnya.
"Maaf Tuan, dimana Nona Dinda yang Tuan maksud? Aku sama sekali tidak melihat Nona Dinda di sini. Aku yakin Tuan hanya berhalusinasi atau wanita tadi hanya mirip saja," kata Dimas yang membuat Tuan Mudanya itu murka.
"Diam kau! Aku tidak mungkin salah lihat atau berhalusinasi seperti yang kau katakan. Aku yakin kalau yang aku lihat tadi Dinda," bentak Nathan.
Dimas tertegun, ia lebih memilih diam meskipun ia yakin jika tuannya tersebut hanyalah berhalusinasi. Ya Dimas memang mengetahui apa yang terjadi antara Nathan dan Dinda, Dimas berpikir jika saat ini Nathan hanya merasa sangat bersalah sehingga menganggap wanita lain seperti Dinda.
****
"Din kamu beli apa, kok cepat sekali?" Tanya Lily.
"Oh ini, aku tadi hanya membeli obat saja. Karena akhir-akhir ini kan aku sering sakit kepala, kebetulan stok obat sakit kepala di rumah sudah habis," Dinda menjawab dangan tempo cepat.
"Oh begitu," ucap Lily.
__ADS_1
"Tapi Din, nggak boleh selalu sering-sering meminum obat seperti itu tanpa resep dokter. Kamu nggak mau periksa ke dokter saja? Atau mau langsung kita berdua yang mengantar kamu ke dokter?" Tawar Gio.
"Nggak perlu Kak, aku sudah terbiasa seperti ini, nanti setelah minum obat, aku juga baik-baik aja," kata Dinda.
"Oh gitu, ya sudah terserah kamu aja Din," kata Gio.
Tidak Berapa lama kemudian, mereka pun telah tiba di rumah Lily. Kebetulan rumah Dinda juga sudah tidak jauh lagi dari sana. Karena lokasi rumah Dinda yang melewati jalan sempit, juga tidak memungkinkan untuk mobil masuk ke gang rumahnya sehingga Dinda pun memutuskan untuk turun bersama di rumah Lily.
"Din, kamu yakin nggak mau aku antar sampai rumah?" Tanya Gio.
"Yakin Kak, gang-nya sempit Kak. Pas ukurannya dengan mobil Kakak. Ini cuacanya juga lagi hujan deras, aku takut nanti mobil Kakak kenapa-napa lagi," kata Dinda.
"Ya ampun Din, kamu malah memikirkan mobil. Aku lebih takut kamu yang kenapa-napa," kata Gio yang membuat Lili dan Dinda tampak canggung.
"Ya sudah Kak makasih ya," ucap Dinda dan Lily lalu keduanya pun turun tepat di depan teras rumah Lily itu.
"Ly, aku pulang dulu ya. Makasih untuk hari ini," ucap Din.
"Din, tunggu sebentar!" kata Lily yang langsung masuk ke dalam rumahnya.
Lalu Lily pun keluar lagi dengan membawa sebuah payung.
"Kamu bawa payung aku aja ya supaya kamu nggak terlalu kena hujan," kata Lily.
"Aku kira ada apa. Nggak usah Ly, kalau aku lewat tepi nggak akan kena hujan kok, paling basah sedikit aja," tolak Dinda.
"Ambil ini Din, ingat loh kamu tuh lagi nggak sehat. Nanti kalau kamu kehujanan terus demam, besok kamu nggak bisa kerja gimana? Bukannya kamu paling anti ya nggak masuk kerja," kata Lily.
"Kamu tahu aja Ly, terimakasih banyak ya. Payungnya besok aku kembalikan," kata Dinda tersenyum saat menerima payung tersebut.
__ADS_1
"Iya Din santai aja," kata Lily yang juga tersenyum.
"Ya udah aku pulang dulu ya Ly, da … ," ucap Dinda sebagai salam perpisahan.
"Da … ," balas Lily.
Setelah Dinda menjauh dari rumahnya, Lily pun segera saja masuk ke dalam rumahnya.
****
Saat malam hari, hujan sudah tampak reda meskipun cuacanya sangat dingin. Nathan sedari tadi tidak dapat memejamkan matanya karena terus saja terpikir wajah Dinda yang dilihatnya di apotek tadi. Ia sangat yakin jika wanita tadi benar-benar Dinda, meskipun Dimas mengatakan jika ia hanya berhalusinasi. Mungkin matanya bisa saja salah, tetapi ia yakin dengan hatinya yang mengatakan bahwa wanita itu adalah Dinda. Apakah benar jika saat ini Dinda memang berada di kota Bandung? Apakah ini petunjuk buat Nathan, lalu kemana Nathan harus mencari Dinda saat ini? Itu semua benar-benar membuat Nathan merasa sangat stress, padahal ia harus tidur lebih awal agar besok pagi-pagi sekali ia bisa mengunjungi lokasi proyek setelah tadi tertunda karena hujan deras.
Keesokan harinya, dengan kondisi mata yang begitu lengket karena Nathan sama sekali tidak dapat memejamkan matanya tadi malam, ia pun berusaha untuk tetap membuka matanya saat sedang berada di lokasi proyek pembangunan. Nathan saat ini terlihat tidak fokus dengan terus saja menguap sembari mencoba untuk membuka matanya lebar-lebar meskipun gagal. Untungnya ada Dimas yang selalu mendengarkan setiap penjelasan dari penanggung jawab proyek.
"Tuan Nathan, Tuan Dimas, jadi proyek ini akan segera selesai dan saya yakin jika semuanya akan berjalan lancar sesuai dengan rencana," kata penanggung jawab proyek itu.
"Baik, terima kasih. Lanjutkan saja pekerjaanmu," kata Dimas.
"Baik Tuan, saya permisi," ucap penanggung jawab proyek tersebut lalu pergi meninggalkan Nathan dan Dimas.
"Tuan, apa kau masih sanggup untuk berjalan-jalan melihat proyek ini? Kalau tidak lebih baik kita kembali dulu ke hotel supaya Tuan bisa beristirahat," kata Dimas.
"Kau meremehkanku? Aku masih sanggup. Sekarang juga kita harus melihatnya, jangan hanya mendengar ucapan orang tadi tapi kita harus membuktikannya langsung," kata Nathan.
Saat mereka sedang berjalan mengelilingi proyek untuk melihat para pekerja juga bagaimana kondisi bangunan, Nathan yang sangat mengantuk itu tidak sengaja menyentuh suatu tiang hingga besi yang ada di atasnya hendak terjatuh.
Seorang wanita yang saat itu sedang mengantar makanan untuk para pekerja proyek karena yang biasanya mengantar tidak masuk sehingga ia memutuskan untuk menggantikannya, melihat jika ada sesuatu dari atas sana yang hendak terjatuh dan akan mengenai seseorang yang ada di bawahnya. Ia pun segera saja berlari untuk menyelamatkan orang tersebut. Untungnya ia tidak terlambat, di saat itu ia mendorong Nathan hingga mereka berdua pun terjatuh ke tanah dengan posisi yang saling berpelukan. Sedangkan besi yang terjatuh tadi pun meleset dan hampir saja mengenai mereka berdua. Tentu saja suasana jadi riuh dan para pekerja berlari untuk menghampiri bos mereka itu.
...……… Bersambung ………...
__ADS_1