
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Dinda segera saja membuatkan kue ulang tahun yang telah dipesan oleh Keenan dan sesuai dengan permintaannya. Dengan sangat teliti dan tanpa lelah, Dinda menghias kue ulang tahun tersebut hingga tidak lama kemudian kue tersebut telah selesai.
Kue ulang tahun tersebut untuk acara nanti malam di sebuah restoran besar, itu artinya Dinda harus mengantarkan kue tersebut jauh sebelum acara dimulai. Mengingat lokasinya yang cukup jauh, belum lagi kemacetan yang biasa terjadi, Dinda memilih untuk mengantarkan kue itu sendiri untuk memastikan kuenya aman sampai di sana. Apalagi pegawainya yang bertugas untuk mengantarkan kue tidak berani untuk mengantarkan ke lokasi yang cukup jauh.
"Ma, Nadine ikut ya menemani Mama," pinta Nadine.
"Nggak usah Sayang, tempatnya jauh. Kamu di rumah aja ya sama Nenek dan Kakek," kata Dinda.
"Tapi Ma, Nadine mau menemani Mama. Nadine nggak mau Mama sendirian di jalan," kata Nadine.
"Mama kan nggak sendirian Sayang, Mama sama pak supir kok nanti," kata Nya.
"Pokoknya Nadine mau ikut, boleh ya Ma," pinta Nadine dengan tatapan mata mendamba.
Terbersit rasa khawatir di hati Dinda, bukan ia tidak mau mengajak anaknya itu, tetapi mengingat lokasinya adalah tempat dimana dulu menjadi kenangan pahit yang telah ia kubur dalam-dalam. Ia juga tidak menyangka jika pesanan kue ulang tahunnya kali ini lokasinya ada di sana, tetapi mau tidak mau ini adalah tanggung jawab Dinda dan ia harus menunaikan tanggung jawabnya tersebut, ia tidak mungkin mengecewakan pelanggannya.
"Ma boleh ya Nadine ikut." Nadine terus saja merengek sehingga membuat Dinda pun akhirnya mengizinkannya untuk ikut.
"Ya sudah, tapi kamu janji ya jangan lepas dari pengawasan Mama. Kamu harus tetap berada di samping Mama," kata Dinda.
"Oke Ma, Nadine janji akan selalu di samping Mama. Nadine nggak akan nakal kok Ma. Nadine nggak akan ingkari janji Nadine," ucap Nadine dengan senyuman yang mengambang membuat gadis kecil tersebut terlihat sangat menggemaskan.
"Janji ya," pinta Dinda sembari menjulurkan jari kelingkingnya.
"Janji!" Ucap Nadine lalu mengaitkan jari kelingking mungilnya ke jari sang ibu.
Dinda dan Nadine tersenyum lalu mereka berdua pun berpelukan erat. Dinda merasa sangat bersyukur dan bahagia karena telah dianugerahi anak genius seperti Nadine.
*****
Saat ini, waktu sudah menunjukkan pukul 03.00 sore. Nadine dan Dinda pun sedang bersiap-siap karena mereka akan menuju ke Jakarta pusat untuk mengantarkan kue ulang tahun Keenan. Tidak lupa pula Dinda meminta supir bayaran untuk mengantarkan mereka. Karena saat ini kondisi keuangan keluarga Dinda terbilang lumayan, mereka pun memiliki satu buah mobil yang biasa Dinda gunakan untuk mengantar kue yang lokasinya agak jauh. Sedangkan ayahnya sendiri sudah menggunakan mobil yang merupakan fasilitas dari kantor. Akan tetapi Dinda yang belum berani untuk membawa mobil dengan jarak jauh, sehingga ia pun memutuskan untuk menyewa supir untuk mengantarnya.
Kini Dinda dan Nadine pun sedang dalam perjalanan menuju ke lokasi, mereka berangkat dari rumah sekitar pukul 04.00 sore dan tiba di Jakarta pusat pukul 06.00 sore. Karena memang jalanan yang cukup macet pada sore hari itu.
__ADS_1
Mereka segera saja masuk ke dalam restoran bintang 5 dan langsung menuju ke lokasi birthday party, mencari orang yang menangani pesta tersebut untuk menyerahkan kue ulang tahun Keenan.
"Nadine, kamu tunggu di sini ya. Mama mau antar kue ulang tahunnya dulu ke sana," ucap Dinda sembari menunjuk.
"Iya Ma, Nadine duduk di sini ya tungguin Mama," ucap Nadine.
"Jangan kemana-mana ya Sayang, ingat pesan mama," ucap Dinda.
"Iya Ma, Nadine ingat kok," jawab Nadine.
Lalu Dinda pun segera saja berjalan mendekati orang yang saat itu sedang mengurus persiapan pesta ulang tahun. Sedangkan Nadine menunggu ibunya itu yang masuk ke dalam ruangan.
"Hai anak manis," sapa seorang wanita paruh baya yang membuat Nadine pun menoleh ke arahnya.
"Nenek," ucap Nadine lalu menyalami tangan ibu itu serta mencium punggung telapak tangannya.
Lagi-lagi Cynthia merasa tersentuh, hatinya terasa menghangat mendapatkan perlakuan seperti itu. Keenan saja yang cucunya sangat jarang melakukan hal tersebut jika tidak diingatkan.
"Makasih ya," ucap Keenan.
"Nadine sama siapa? Kok bisa ada di sini?" Tanya Cynthia.
"Nadine di sini sama Mama Nek mengantar kue ulang tahunnya teman," jawab Nadine.
"Sayang, teman yang kamu maksud ini cucu Nenek, namanya Keenan. Keenan udah tau kan ini namanya Nadine. Ayo kalian berdua berkenalan," ucap Cynthia.
Nadine yang sangat pintar itu pun langsung saja menjulurkan tangannya dan langsung mendapat balasan dari Keenan.
"Aku Nadine," ucap Nadine.
"Aku Keenan," ucap Keenan.
Keenan merasa sangat senang karena mendapatkan teman baru, terlebih lagi teman-teman di sekolahnya akhir-akhir ini banyak yang menjauhinya karena sifatnya yang suka jahil mengganggu mereka. Mungkin itu semua Keenan lakukan karena ia kurang mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari orang tuanya.
__ADS_1
"Oh ya, jadi sekarang Mama Nadine ada dimana?" Tanya Cynthia.
"Mama lagi di dalam situ antar kue ulang tahun Nek," jawab Nadine sembari menunjuk.
Cynthia hanya celingak-celinguk saja karena di dalam sana banyak orang, sehingga ia tidak bisa melihat wajah orang tua Nadine.
"Ya sudah kalau gitu Nenek temenin kamu ya di sini sama Keenan sampai Mama kamu datang," kata Cynthia.
"Nggak usah Nek. Kalau Nenek ada urusan, Nenek sama Keenan pergi aja. Nadine nggak apa-apa kok di sini sendirian," tolak Nadine.
"Sayang, Nenek sekarang berada di sini hanya mau memeriksa persiapan pesta, acaranya kan masih nanti malam," terang Cynthia.
"Oh … gitu ya Nek, ya udah kalau gitu aku mau. Aku juga senang kalau ditemenin sama Nenek dan Keenan," ucap Nadine.
Lalu Cynthia dan Keenan pun duduk di kursi samping Nadine.
Tidak beberapa lama kemudian, setelah mengantar kue tersebut Dinda pun keluar dari ruangan acara dan menghampiri anaknya.
"Nadine, maaf ya Mama lama," ucap Dinda.
Saat ini ia tidak dapat melihat wajah Cynthia karena membelakanginya. Akan tetapi karena mendengar suara yang tidak asing di telinganya, Cynthia pun segera saja menoleh untuk melihat apakah dugaannya itu benar.
"Nggak apa-apa kok Ma. Oh ya Ma ini ada Nenek dan Keenan yang memesan kue ulang tahun itu," ucap Nadine.
"Oh ya, Bu terima kasih ya sudah memesan kue ulang tahun di toko saya dan selamat ulang tahun untuk Keenan," ucap Dinda lalu segera saja mendekati Cynthia, dan tepat saat itu Cynthia juga menoleh ke arahnya.
"Dinda ... ."
"Tante ... ."
Ucap keduanya hampir bersamaan dan terlihat sama-sama terkejut.
...……… Bersambung ………...
__ADS_1