
"Din, kau mau kemana?" Tanya Nathan saat melihat Dinda sudah memakai pakaiannya dan hendak beranjak pergi.
"Mau pulang lah, memang mau kemana lagi?" Jawab Dinda ketus.
"Kau tidak bisa meninggalkanku begitu saja Din," cegah Nathan.
Dinda mengernyitkan dahinya dan bertanya kepada Nathan, "Tapi kenapa?"
"Karena aku masih membutuhkanmu di sini," kata Nathan.
"Tidak ada perjanjiannya dalam kontrak kalau aku harus menemanimu kapanpun kau butuh. Lagipula selama sebulan ini bukankah kita sudah sering bertemu, aku juga selalu mendengarkan ceritamu, tapi bukan berarti kau bisa mengaturku kapan aku harus ada untukmu," hardik Dinda.
"Tapi aku benar-benar membutuhkanmu Dinda," kata Nathan.
Dinda tidak menggubris ucapan Nathan itu, ia pun segera saja melangkahkan kakinya hendak keluar dari kamar hotel tersebut.
"Din, jujur aku nyaman kalau lagi dekat sama kamu," ucap Nathan yang mendadak ucapannya itu menjadi sangat lembut.
Dinda menghentikan langkahnya, ia sangat terkejut mendengar ucapan yang keluar dari mulut Nathan. Dinda membalikkan tubuhnya dan kini menghadap ke arah Nathan.
"Kamu ngomong apa, apa maksudmu?" Tanya Dinda.
"Aku serius Din aku merasa nyaman selama dekat sama kamu," ungkap Nathan.
__ADS_1
Deg …
Jantung Dinda seakan berdetak lebih kencang, perasaannya menjadi tak karuan, karena sebenarnya apa yang Nathan rasakan sama hal-nya dengan yang ia rasakan. Tetapi Dinda tidak mau mengakuinya karena Nathan mempunyai istri. Menurut Dinda, sangat tidak pantas jika ia mempunyai perasaan lebih terhadap suami orang.
"Din, kamu duduk dulu di sini. Ada yang ingin aku sampaikan padamu," ucap Nathan.
Perlahan Dinda pun melangkahkan kakinya menghampiri Nathan, lalu duduk di tepi ranjang tepat samping Nathan. Nathan menghadapkan wajahnya ke wajah Dinda, hingga kini mata mereka saling bertatapan.
"Selama ini aku sudah menceritakannya padamu bagaimana tentang kondisi rumah tanggaku dengan Clara. Clara benar-benar tak pernah menghargai aku sebagai suaminya, dia menganggapku tak ada Din. Aku mau jujur kalau aku tidak pernah melakukan apapun dengan Clara, berhubungan selayaknya suami istri seperti yang kita lakukan. Aku dan istriku bersentuhan hanya sekedar berpegangan tangan atau mencium kening, itupun hanya bersandiwara di depan orang tua kami. Kami tidak pernah berciuman bibir. Semiris itu hubungan rumah tanggaku dengan Clara Din, bahkan untuk bertemu saja kami jarang. Sungguh, kau yang pertama, aku juga melepaskan keperjakaanmu hanya denganku. Kamu bisa bayangkan bagaimana tersiksanya aku sebagai suami, setiap hari hanya bisa melihat kemolekan tubuh sang istri tanpa bisa menyentuhnya yang berstatus sebagai istri sah ku. Aku malah mendapatkannya itu darimu Din. Jadi apa salah jika aku mempunyai perasaan yang lain terhadapmu? Bukan hanya sebagai teman ranjang atau karena aku telah membeli rahimmu, tapi juga karena kenyamanan yang aku rasakan saat bersamamu," ucap Nathan.
"Tidak, ini tidak bisa, ini tidak boleh terjadi Tuan. Sesuai perjanjian, kau hanya membeli rahimku, kalau aku sudah hamil anak darimu maka aku akan menyerahkannya pada kalian, setelah itu, kita tidak akan pernah mempunyai hubungan apapun lagi," kata Dinda yang tak ingin lagi mendengar apapun dari Nathan, segera saja ia beranjak pergi meninggalkan Nathan sendirian.
"Dinda tunggu!" Panggil Nathan.
Dinda menulikan telinganya. Kali ini ia tidak akan goyah, ia tetap pada keputusannya untuk meninggalkan Nathan. Dinda berjalan keluar dari hotel untuk mencari taksi, lalu ia pun masuk ke dalam taksi tersebut dan meminta supir untuk mengantarnya menuju ke rumah sahabatnya, Jeny. Seharusnya ia merasa senang karena ternyata Nathan juga mempunyai perasaan yang sama dengan dirinya, tetapi itu tidak mungkin. Seandainya Nathan itu bukan suami orang, sudah pasti Dinda akan merasa sangat bahagia. Ini semua telah membuatnya dilema, ia yang sebelumnya tidak pernah merasakan cinta malah kali ini mencintai suami orang lain. Dinda benar-benar bingung tidak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang, tidak mungkin jika ia harus merusak rumah tangga orang lain demi keegoisannya sendiri. Karena tujuannya dari awal hanya ingin memberikan anak kepada pasangan suami istri itu.
Setelah lelahnya menjalani beberapa sesi pemotretan hari ini, Clara memutuskan untuk pergi ke apartemen kekasihnya, Bryan. Karena menurutnya jika bertemu dengan sang kekasih, maka lelahnya itu akan hilang karena mendapatkan sentuhan hangat dan manja dari pujaan hatinya itu. Dari pada harus pulang ke apartemen Nathan, pria yang sama sekali tidak dicintainya itu. Entah apa yang membuat Clara tergila-gila pada Bryan, padahal dari segi apapun dan manapun tetap Nathan yang lebih segala-galanya.
Setibanya di apartemen Bryan, Clara sedikit merasa curiga karena saat itu ia melihat ada sepasang high heels milik wanita. Tidak mau berlama-lama lagi, Clara yang sudah tampak murka itu pun segera saja menekan password apartemen Bryan dan membuka pintunya. Tujuan utamanya adalah mencari Bryan di kamarnya. Clara membuka pintu kamar yang ternyata tidak di kunci, ia sangat syok melihat Bryan yang saat ini sedang bersama wanita lain tanpa sehelai benangpun dan melakukan adegan panas di atas ranjang.
Seketika emosi Clara pun memuncak, ia yang sudah tidak tahan lagi melihat pemandangan di depan matanya itu pun langsung saja menghampiri Bryan dan wanitanya yang saat ini sedang menikmati permainan mereka.
"Apa yang kau lakukan Bryan?!" Teriak Clara sehingga Bryan dan wanitanya itu pun terkejut dan melihat ke arah Clara.
__ADS_1
Bryan dengan refleks mendorong wanita yang ada di bawahnya itu hingga terjatuh, lalu wanita itu pun segera memunguti pakaian yang berserakan di atas lantai dan masuk ke dalam kamar mandi.
"Clara, kenapa kau bisa ada di sini? Bukankah kau bilang malam ini hendak pulang ke apartemen suamimu?" Tanya Bryan yang begitu terlihat sangat panik.
"Sekarang jawab aku, apa yang kau lakukan Bryan? Kalau aku tidak datang ke sini, sudah pasti aku tidak akan mengetahui kelakuan busukmu di belakangku," kata Clara.
"Aku bisa menjelaskannya Sayang," ucap Bryan.
"Apalagi yang mau kau jelaskan padaku Bryan, aku sudah melihatnya secara langsung, dengan mata kepalaku sendiri," ucap Clara yang tampak sangat kecewa.
"Tapi-" ucapan Bryan terpotong.
"Sudahlah, aku sudah melihatnya dengan sangat jelas. Aku benar-benar tidak menyangka kalau kau hanyalah pria busuk. Sudah berapa lama hah kau berhubungan dengan wanita itu? Siapa dia?" Tanya Clara.
"Aku juga tidak tau, aku baru saja mengenalnya. Sayang, kau harus percaya padaku," pinta Bryan.
"Baru mengenalnya dan kau sudah melakukan hal itu dibelakangku? Dasar pria brengsek! Aku benar-benar muak kepadamu Bryan, aku benar-benar jijik," kata Clara.
"Maafkan aku Clara, aku khilaf," ucap Bryan.
Clara menyeringai, lalu ...
Plak ...
__ADS_1
Sebuah tamparan mendarat di pipi Bryan, Clara merasa sangat puas karena bisa melampiaskan emosinya saat ini, setelah itu ia pun segera saja pergi meninggalkan apartemen Bryan dengan perasaan yang sangat kecewa.
...……… Bersambung ………...