
"Nathan, aku bisa kan memintamu untuk menyiapkan sarapan Keenan lalu mengantarnya ke sekolah. Aku harus segera pergi," kata Clara.
"Clara, kau ini benar-benar tidak tahu diri ya. Kau sama sekali tidak merasa bersalah setelah tadi malam kau tidak hadir di acara ulang tahun Keenan, dan sekarang masih jam 06.00 pagi kau sudah mau pergi lagi. Bahkan kau sama sekali tidak bisa mengurus anakmu, sekedar menyiapkan sarapan saja kau tidak sempat. Aku ini seorang suami, apa kau pikir ini semua tugasku!" Ucap Nathan murka, pagi-pagi sudah dibuat emosi oleh istrinya itu.
"Sudahlah Nathan, tidak ada aturannya seorang suami atau istri yang mengurus anak, keduanya sama saja. Lagipula bukankah Mamamu yang dari awal menginginkan cucu, jadi ini jelas menjadi tanggung jawabmu sepenuhnya. Kamu buatkan Keenan sarapan lalu antar ke sekolah. Seperti biasa supir mamamu yang akan menjemputnya pulang sekolah," kata Clara dengan enteng, tanpa beban apapun.
"Kau benar-benar keterlaluan Clara! Apa kau tahu tadi malam Keenan menunggumu di apartemen. Keenan khawatir karena sudah larut malam kau belum juga pulang, tapi saat kau pulang dan Keenan sudah tidur, apa kau ada melihatnya? Kau sama sekali tidak ada rasa bersalah, tidak ada terbesit rasa kasihanmu terhadap Keenan. Kenapa kau tidak menyempatkan waktu hari ini untuknya? Pasti setelah bangun nanti, Keenan akan bertanya-tanya dimana Maminya?" Ucap Nathan.
"Kamu tinggal jawab saja kalau aku sudah pergi. Aku tidak bisa berada di rumah saat ini Nathan, karena aku banyak pekerjaan. Aku juga bekerja keras untuk Keenan kok," hardik Clara.
"Aku tidak pernah menyuruhmu. Kau tidak perlu bekerja Clara. Apa kau pikir aku tidak bisa menghidupi kalian sampai kau harus bekerja," kata Nathan.
"Ini bukan soal cukup atau tidak Nathan, tetapi karena ini adalah hobiku, ini adalah duniaku dari sebelum aku mengenalmu. Jadi kau tidak ada hak untuk melarangku. Sudahlah aku tidak ada waktu untuk berdebat denganmu, kalau kau memang menyayangi anakmu itu, pasti kau tidak keberatan kan untuk mengurusnya," kata Clara.
"Mami … Mami mau kemana?" Teriak Keenan disaat Clara baru saja melangkahkan kakinya keluar dari pintu apartemen.
Akan tetapi Clara pura-pura tidak mendengarnya karena menurutnya itu akan membuang waktu saja. Ia pun segera keluar dari apartemen dan mengunci pintunya.
"Mami … Mami … Mami mau ke mana Mi. Hu … hu … hu … ." Keenan menangis sembari mengejar ibunya.
__ADS_1
Nathan yang saat itu sedang berada di kamar mandi dan mendengarnya segera keluar lalu menghampiri sang anak, jika Nathan terlambat sedikit saja sudah pasti Keenan sudah berada di luar mengejar Clara.
"Keenan, kamu mau kemana Sayang? Di sini saja sama Papi ya," ucap Nathan langsung memeluk anaknya.
"Tapi aku mau Mami Pi, kenapa Mami udah pergi lagi, kenapa Mami nggak ada mengucapkan selamat ulang tahun langsung ke Keenan. Apa Mami benar-benar tidak menyayangi Keenan?" Tanya Keenan dalam tangisan.
Sungguh miris rasanya, hati Keenan terasa begitu sakit mendengar pertanyaan akan hal itu. Bagaimana bisa seorang anak kecil diperlakukan seperti ini oleh ibunya sendiri, bahkan ia dapat merasakan jika ibunya sama sekali tak menyayangi dirinya. Tanpa sadar Nathan menjatuhkan air matanya, mengingat bagaimana dulu ia diperlakukan dengan baik dan penuh kasih sayang oleh kedua orang tuanya, tetapi saat ini Keenan malah sama sekali tidak mendapatkan kasih sayang dari ibunya sendiri.
"Benar-benar wanita tidak tahu diri, kau lihat saja Clara, aku pastikan kau akan menyesal telah menyia-nyiakan anakmu sendiri seperti ini," batin Gerald.
Setelah setengah jam membujuk Keenan untuk sarapan dan pergi bersekolah, akhirnya Keenan pun menyetujuinya dengan syarat sepulang sekolah nanti Nathan harus menjemputnya langsung dan mengajaknya untuk bertemu dengan teman barunya Nadine. Saat ini Nathan sama sekali tidak dapat berpikir apa-apa, baginya yang penting Keenan senang dan mau menuruti perintahnya.
*****
"Aduh sakit Mi, ampun … ," teriak Keenan saat mendapat cubitan dari sang ibu untuk yang ke sekian kalinya.
"Sudah Mami katakan sama kamu Keenan, jangan membuat masalah lagi di sekolah, tapi kau tetap saja membuat kesalahan, apa kau sama sekali tidak mendengar ucapan Mami," kata Clara.
"Heh stop Clara! Lagi-lagi kau memarahinya dan bermain fisik seperti itu. Apa kau tidak bisa bersikap lemah lembut sedikitpun terhadap anakmu!" Bentak Nathan yang menghampiri mereka di parkiran mobil.
__ADS_1
"Bagaimana aku bisa bersikap lemah lembut terhadap anak yang tidak pernah mendengar ucapanku sedikitpun," kata Clara.
"Hu … hu … hu … ." Terdengar suara tangisan dari mulut Keenan. Nathan segera saja memeluknya untuk memberikan ketenangan seperti yang biasa dilakukannya.
"Keenan hanya anak kecil Clara, seharusnya kau sadar kenapa Keenan bisa bersikap seperti ini. Baru saja guru Keenan mengatakan padaku, itu semua karena Keenan kurang perhatian orang tuanya. Terutama kau sebagai ibunya, kau sama sekali tidak pernah memperhatikannya. Aku heran apa kau sama sekali tidak pernah menyayangi anakmu sendiri hah," kata Nathan.
Memang tadi guru Keenan meminta berbicara tanpa Keenan, sehingga Clara pun membawa anaknya keluar terlebih dahulu.
"Kau tidak bisa menyalahkanku sepenuhnya Nathan, kau sendiri juga sibuk kan. Lagipula aku melakukan ini semua demi anakku, aku mendidiknya dengan caraku sendiri," kata Clara membela dirinya.
"Dari mana kau mendapatkan ajaran mendidik anak seperti itu?" Apa sewaktu kecil kau dididik seperti itu oleh orang tuamu? Tidak kan?" Tanya Nathan.
"Tentu saja tidak, karena aku anak yang baik. Aku selalu menurut apa perkataan orang tuaku," jawab Clara dengan angkuh.
"Dengar ya Keenan, sekali lagi kamu membuat masalah di sekolah. Mami akan kasih kamu hukuman berat," ancam Clara sehingga membuat Keenan ketakutan dan memeluk erat sang ayah.
"Stop Clara! Kau tidak perlu mengancam anakmu atau memarahi keenan seperti itu. Kau tidak malu yang memarahi anakmu sendiri di sekolahnya seperti ini. Sudahlah sekarang kau mau pergi kemana terserah, mau kembali ke pemotretanmu juga aku tidak peduli. Aku akan membawa Keenan ke rumah Mama," ucap Nathan.
"Owh oke, itu lebih baik," ucap Clara lalu masuk ke dalam mobil dan meninggalkan anak serta suaminya itu.
__ADS_1
Nathan hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan sang istri, jangankan tumbuh rasa cinta. Yang ada ia semakin neg terhadap wanita itu.
...……… Bersambung ………...