
Karena mendapat perlakuan yang sangat lembut dari Nathan, tanpa sadar membuat Dinda pun perlahan membalas ciuman dari Nathan yang juga sangat bergairah itu hingga permainan di atas ranjang kian memanas. Nathan terus memberi sentuhan tiap sentuhan di setiap lekuk tubuh pasangan ranjangnya itu sehingga suara desa*** terus terdengar dari mulut Dinda. Nathan pun langsung saja menyatukan milik mereka, dengan susah payah dan perlahan akhirnya dinding pertahanan milik Dinda berhasil diterobos oleh kepunyaan Nathan. Dinda dan Nathan benar-benar menikmati apa yang sedang mereka lakukan saat ini hingga keduanya sama-sama mencapai puncaknya.
Dinda meneteskan air matanya, ia tidak menyangka benar-benar telah menyerahkan tubuhnya kepada Pria beristri yang ingin memiliki anak dari rahimnya. Masa depannya telah hancur, kesucian yang selama ini ia jaga untuk suaminya nanti, sudah ia serahkan kepada pria yang sama sekali tidak mempunyai hubungan apapun dengannya. Tetapi Dinda berusaha ikhlas menerima semua ini demi keselamatan keluarganya, tak ada juga yang bisa ia sesali, toh semua sudah terjadi. Nasi telah menjadi bubur dan tak akan mungkin bisa lagi menjadi nasi.
Lalu bagaimana dengan Nathan? Terlintas dalam pikirannya ia juga menyesal telah merenggut keperawanan gadis, dilihat dari cairan berwarna merah yang saat itu menodai seprai. Akan tetapi sebagai seorang pria normal, Nathan juga merasa senang karena akhirnya ia bisa merasakan bagaimana nikmatnya hubungan di atas ranjang, meskipun seharusnya ia lakukan bersama sang istri bukan dengan wanita lain.
Setelah melakukan hubungan terlarang itu, tampak Nathan dan Dinda sama lelah hingga keduanya merebahkan diri di atas kasur empuk dalam kamar hotel tersebut. Dinda yang sangat malu pun langsung saja menutup tubuhnya dengan selimut, tapi ternyata kini ia berada di dalam selimut yang sama dengan Nathan hingga tubuh mereka berdua saling bersentuhan dan terlihat canggung. Nathan yang biasanya selalu angkuh dan selalu memasang wajah datar kini mencoba tersenyum untuk mencairkan suasana.
"Terimakasih karena kau telah menyerahkannya untukku," ucap Nathan sembari mencium kening Dinda.
Dinda pun membalas senyuman Nathan lalu menganggukkan kepalanya, entah mengapa perasaannya itu begitu senang karena mendapat perlakuan manis dari Nathan. Mungkin karena Dinda sama sekali tidak pernah berpacaran meskipun ada beberapa pria di kampus yang menyukainya.
"Kalau kau lelah, lebih baik malam ini kita tidur saja dulu di sini dan pulang ke rumah besok pagi. Aku juga sangat lelah," kata Nathan.
"Lalu bagaimana jika istrimu mencarimu?" Tanya Dinda.
"Dia tak pernah mau tahu aku ada dimana adalagi mencariku. Kau mau kan menginap di sini bersamaku?" Tanya Nathan.
"Heum … ," jawab Dinda singkat.
__ADS_1
Lalu Nathan pun meraih tubuh mungil Dinda kedalam pelukan hangatnya. Lagi-lagi Dinda merasa begitu bahagia mendapat perlakuan manis dari pria yang sudah beristri itu. Begitu juga Nathan, ia merasakan sesuatu yang bergejolak di dalam hatinya. Kini mereka yang sama-sama lelah itu pun terlelap dengan posisi saling berpelukan.
*****
Pagi menyingsing dengan begitu cepat, Nathan mengerjap-mengerjapkan matanya mendengar suara berisik ponselnya yang saat itu ada panggilan masuk dari Dimas, asisten pribadinya. Nathan pun segera saja menjawab telepon tersebut.
"Halo Tuan Nathan, Anda dimana?" Tanya Dimas berteriak.
Nathan menjauhkan ponsel dari telinganya karena merasa sakit mendengar suara asistennya itu seakan akan memecah gendang telinganya.
"Kau ini bisa berbicara lebih pelan sedikit tidak? Gendang telingaku hampir saja pecah!" Bentak Nathan.
"Pak Tua?" Tanya Nathan untuk memastikan.
"Iya Tuan, lebih baik sekarang Tuan langsung saja ke perusahaan, jika dalam setengah jam Tuan tidak datang ke perusahaan, maka Tuan Frans pasti akan marah besar. Tuan Frans juga sudah berulang kali menghubungi Tuan, tetapi tidak ada jawabannya," kata Dimas yang begitu tampak panik.
"Memangnya sekarang sudah jam berapa? Tanya Nathan.
"Jam 09.00 Tuan," jawab Dimas.
__ADS_1
Benar saja, saat itu Nathan langsung melihat jam tangannya yang ada di atas nakas, ia begitu syok setelah mengetahui ternyata memang sudah sangat terlambat untuk pergi ke Perusahaan. Ditambah lagi ia melihat pada ponselnya ada beberapa panggilan tak terjawab dari ayahnya, sudah pasti ayahnya itu akan murka jika Bertemu dengannya nanti.
"Ya sudah. Katakan saja pada Pak Tua jika aku akan datang sebentar lagi. Aku akan segera ke sana," kata Nathan lalu menutup panggilan telepon.
Pak Tua, ya itulah panggilan yang selalu Nathan lontarkan untuk ayahnya. Selain usia ayahnya yang terpaut 10 tahun dari ibunya, Frans juga selalu saja marah-marah kepadanya, sehingga membuat Nathan memiliki julukan itu. Akan tetapi itu bukan berarti Nathan tidak menyayangi ayahnya, meskipun ia sering membantah apa perkataan ayahnya itu, ia tetap menyayanginya, terlebih lagi dia ingat betul bagaimana perjuangan orang tuanya dulu hingga mereka bisa memiliki perusahaan dan Nathan bisa memimpin perusahaan yang ada di Indonesia saat ini.
Nathan teringat akan sesuatu, ia melihat ke arah sampingnya ternyata sudah tidak ada wanita yang tadi malam telah melepas adrenalin bersamanya.
"Sy*t! Dimana wanita itu? Kenapa dia pergi tanpa membangunkanku," umpat Nathan..
Akan tetapi seketika wajahnya tersenyum karena mengingat dan terbayang kejadian yang telah ia lakukan bersama Dinda tadi malam. Nathan pun segera saja membersihkan diri dan memakai pakaiannya, lalu menuju ke perusahaan.
*****
Dinda baru saja tiba di rumahnya, keadaan rumah sangat sepi karena ayahnya kini bekerja sebagai kuli bangunan demi menafkahi keluarganya. Sedangkan sang Ibu membantu berjualan kue bersama salah satu tetangga yang berbaik hati menawarkan pekerjaan itu untuknya.
Dinda masuk ke dalam kamar mandi, ia meringkuk di sudut kamar mandi sembari menangis tersedu-sedu meratapi nasib dirinya, kejadian yang tadi malam ia lakukan bersama Nathan selalu terbayang dipikirannya. Dinda begitu kecewa terhadap dirinya sendiri, saat ini ia yang sudah tidak suci lagi. Dinda tidak tahu bagaimana nasib masa depannya nanti, apakah akan ada pria yang mau menerima dirinya apa adanya, dengan dalam keadaan sudah tidak perawan? Ya itulah yang ada di dalam pikiran Dinda saat ini, ia benar-benar kalut bahkan untuk pergi bekerja pun ia tidak bersemangat. Untungnya dia sudah meminta izin kepada sang Manager jika hari ini akan masuk kerja shift sore dan sang Manager pun menyetujuinya. Dinda segera membersihkan diri, dirasanya di bawah sana sedikit perih karena permainan panasnya tadi malam bersama Nathan. Hatinya begitu pedih jika mengingat semuanya, meskipun ia juga sempat menikmatinya. Dinda berharap jika ia bisa segera hamil supaya tidak akan pernah lagi berhubungan dengan pria yang telah beristri itu.
...……… Bersambung ………...
__ADS_1