
Hingga pukul 03.00 dini hari, Dinda pun masih belum bisa untuk memejamkan matanya. Ternyata di saat yang bersamaan, Nathan juga melakukan hal yang sama, ia yang saat itu tidak dapat tidur karena memikirkan Dinda terus saja mengguling-gulingkan tubuhnya di atas kasurnya itu.
"Aku tidak bisa begini terus. Aku harus bertemu dan berbicara dengan Dinda dan secepatnya aku harus berpisah dengan Clara. Aku juga harus berbicara tentang ini semua kepada Mama. Tapi apa alasannya untukku berpisah dengan Clara, apa Clara mau berpisah denganku? Nathan … apa yang harus kau lakukan sekarang, aku benar-benar bingung," gumam Nathan dalam hati.
*****
Keesokan harinya, setelah pekerjaan di kantor sudah tidak terlalu banyak, Nathan memutuskan untuk segera pergi ke restauran untuk menemui Dinda. Akan tetapi saat tiba di restauran, Nathan sama sekali tidak melihat keberadaan sosok wanita yang dicarinya itu. Yang ia lihat hanya sahabat Dinda, yaitu Jeny yang saat itu sedang melayani pelanggan lain. Saat Jeny hendak melangkahkan kakinya pergi, Nathan pun segera memanggilnya.
"Ada apa Tuan?" Tanya Jeny yang menghampiri Nathan.
"Namamu Jeny kan?" Tanya Nathan.
"Iya benar Tuan, ada apa ya?" Tanya Jeny.
"Dinda dimana ya? Kenapa aku tidak melihatnya," Tanya Nathan.
"Oh … Dinda, ya tadi dia meminta izin hari ini tidak dapat masuk bekerja, katanya sakit Tuan," jawab jeny.
"Apa? Kau serius?" Tanya Nathan.
"Ya, aku serius," jawab Jeny.
"Ya sudah terimakasih, kau boleh kembali bekerja," ucap Nathan.
"Sama-sama Tuan," jawab Jeny lalu segera saja pergi meninggalkan Nathan.
Setelah mendapatkan kabar dari Jeny bahwa Dinda hari ini tidak masuk karena sakit, Nathan yang merasa begitu sangat cemas pun langsung saja pergi menuju ke rumah Dinda, tidak lupa ia membawa bingkisan berupa bunga dan juga buah-buahan. Jangan ditanya bagaimana perasaan Nathan saat ini? Sudah jelas gugup tetapi hatinya begitu bergejolak karena sebentar lagi akan bertemu dengan wanita pujaannya.
Akan tetapi setibanya di rumah Dinda, wajah Nathan menjadi muram karena ternyata ada seorang pria yang sedang mengunjungi rumah Dinda juga dan duduk di depan teras rumahnya bersama dengan Dinda.
"Tuan Nathan," ucap Dinda.
__ADS_1
Karena melihat Dinda saat ini sedang bersama dengan seorang pria, Nathan pun mengurungkan niatnya untuk memberikan Dinda bunga, dia hanya membawa buah-buahan tersebut untuk menjenguk Dinda. Sedangkan pria yang saat ini sedang bersama Dinda sangat tidak suka melihat Nathan.
"Ternyata kau! Untuk apa kau datang ke sini?" Tanya Gery yang melihat Nathan saat ini sudah mendekati mereka.
Nathan yang enggan melayani Gery itu pun langsung saja tersenyum dan berdiri di samping Dinda.
"Hai Din, aku tadi ke restauran dan Jeny bilang kau sakit, jadi aku memutuskan untuk datang ke sini. Ini ada buah-buahan untukmu, semoga kau lekas sembuh. Buah-buahan ini sangat baik untuk kesehatan," ucap Nathan.
Dinda menatap Nathan dengan seksama, ia merasa tersentuh dengan perhatian yang berikan oleh Nathan. Meskipun apa yang Nathan lakukan sama halnya dengan yang Gery lakukan tadi, tetapi Dinda tidak merasakan hal ini sebelumnya.
"Terimakasih Tuan," ucap Naya. Silahkan duduk!
Lalu Nathan segera saja duduk di kursi samping Dinda.
Seharusnya kau itu tidak berada di sini. Kau pikir aku tidak tahu kalau kau itu seorang pria yang telah beristri. Seharusnya kau tidak datang untuk menemui wanita lain," kata Gery.
"Dan seharusnya kau juga tidak berada di sini, kalau sampai orang tuamu itu tahu sudah pasti Dinda akan mengalami keburukan lain yang disebabkan oleh orang tuamu itu. Kau itu sama sekali tidak bisa melindungi kekasihmu, kau hanya bisa berlindung di bawah ketek orang tuamu itu, jadi lebih baik kau yang tidak usah mengganggu Dinda lagi. Biarkan Dinda memilih kebahagiaannya sendiri," kata Nathan.
"Lalu apakah menurutmu Dinda akan memilih bahagia bersamamu? Pria yang sama sekali tidak bisa melindunginya bahkan kau membiarkan Dinda menderita," kata Nathan.
Kini mata dua pria itu pun saling bertatapan tajam. Dinda yang melihat keduanya itu saling berdebat merasa bingung dan mencerna ucapan dari keduanya itu.
"Stop! Lebih baik sekarang kalian berdua pergi dan sini," usir Dina.
"Tapi Din, aku baru saja sampai," protes Nathan.
"Din, aku yang duluan ada disini. Jadi seharusnya dia yang pergi!" kata Gery.
"Aku mohon kalian berdua sekarang pergi dari rumahku, karena aku ingin beristirahat," kata Dinda, lalu ia pun segera saja masuk ke dalam rumah dan menutup pintu dengan kasar.
"Ini semua gara-gara kau," kata Gery.
__ADS_1
Nathan yang malas meladeni Gery itu pun segera saja masuk ke dalam mobilnya dan pergi dari rumah Dinda. Akan tetapi, Nathan juga mengirimkan sebuah pesan untuk Dinda.
Dinda segera mengambil ponselnya itu dan membaca pesan tersebut.
*****
Pada malam harinya, Dinda sudah bersiap-siap. Ia yang sudah berniat akan melupakan Nathan, tetapi entah mengapa ada satu gejolak di dalam hatinya yang sangat ingin bertemu dengan Nathan, sehingga Dinda memutuskan untuk memenuhi permintaan Nathan itu untuk menemuinya di sebuah hotel tempat biasa mereka bertukar peluh.
Akan tetapi bukan itu tujuan Nathan sebenarnya, ia mengajaknya bertemu di situ karena menurutnya itu merupakan tempat yang aman.
Kini Dinda telah tiba di hotel, Nathan yang melihat Dinda masuk pun langsung saja keluar dari balik pintu, lalu memeluk Dinda dari belakang. Nathan juga sesekali mengendus-edus leher Dinda seperti kucing, terlihat Dinda saat itu kegelian tetapi menikmatinya dan memegang tangan Nathan yang melingkar di perutnya itu .
"Din, aku mencintaimu. Tolong jangan menghindar dariku Din, aku merindukanmu. Untuk itu aku mengajakku bertemu di sini," ucap Nathan.
"Tapi kau tahu kan jika ini tidak boleh terjadi. Kau sudah memiliki istri. Aku tidak mau merusak hubungan rumah tanggamu, aku tidak mau dibilang pelakor Nathan," kata Dinda.
"Tapi aku sama sekali tidak pernah melakukan apapun terhadap Clara, aku dan istriku sama-sama tidak saling mencintai. Aku hanya melakukannya denganmu Dinda. Tolong, tolong beri aku kesempatan untuk membuktikan cintaku padamu. Aku juga berniat akan menceraikan Clara, supaya kita bisa bersama," ucap Nathan.
Dinda yang begitu sangat terkejut mendengar ucapan Nathan itu pun, segera saja melepaskan tangan pria yang melingkar di pinggangnya serta mendorongnya dengan sangat kasar.
"Aku rasa kau itu sudah tidak waras, bisa-bisanya kau mengucapkan kata perceraian itu dengan sangat mudah. Sebaiknya kau jangan pernah untuk memintaku bertemu lagi, lebih baik kau fokus aja dengan hubungan rumah tanggamu itu. Aku yakin kali ini aku akan hamil dan memberikan anak untuk kalian," kata Dinda dan ingin segera pergi.
Tapi dengan cepat Nathan menarik wajah Dinda lalu melu*** bibirnya itu dengan sangat lembut. Dinda yang awalnya terlihat memberontak, lama-kelamaan ia pun membalas melu*** bibir Nathan juga dengan tidak kalah gairahnya. Karena sebenarnya Dinda juga sangat merindukan pria yang saat ini sedang bersamanya itu.
...………… Bersambung ………...
Bonus Visual....
Clara Aditya Ranita
__ADS_1