Rahim Penebus Hutang

Rahim Penebus Hutang
Ingin Berpisah


__ADS_3

"Maafkan aku Jen, aku hanya nggak mau membebanimu dengan masalah hidupku," ucap Dinda.


"Nggak Din, kenapa kamu bisa berbicara seperti itu. Aku ini sahabat kamu, kita udah lama bersahabat baik. Seharusnya kamu itu cerita ke aku kalau ada masalah Din, jangan dipendam sendirian. Tapi semuanya sudah terjadi, lalu bagaimana setelah kamu pergi meninggalkan Nathan pergi dari Jakarta, kamu kemana Din?" Tanya Jeny.


"Aku ke bandung Jen. Karena waktu itu kebetulan Ayah aku juga dapat tawaran kerja di sana. Dan aku nggak tahu kalau ternyata saat itu aku sudah hamil anak Nathan. Sekarang anak itu sudah lahir Jen, sudah berusia 6 tahun. Aku kasih dia nama Nadine, anaknya cantik, baik, sopan, perhatian banget sama aku, genius. Aku sangat bangga memilikinya, karena dia juga bagian dari Nathan satu-satunya yang aku punya. Aku nggak mungkin bisa hidup bersama Nathan, dia sudah memiliki istri dan anak, jadi bagiku memiliki Nadine saja sudah membuatku bahagia," ungkap Dinda dengan mata yang berkaca-kaca.


Tanpa sadar air mata Jeny pun menetes, ia merasa sangat sedih mendengar cerita dari sahabatnya itu. Lalu ia pun kembali memeluk Dinda untuk menenangkan hati sahabatnya itu. Ia tahu betul bagaimana rasanya ada di posisi Dinda dari dulu sampai saat ini. Sebenarnya Jeny juga mempunyai satu rahasia yang ingin ia sampaikan kepada Dinda. Tetapi melihat Dinda yang saat ini sedang bersedih, membuat Jeny pun mengurungkan niatnya dulu.


Hingga tanpa disadari satu jam pun telah berlalu, karena asyiknya mengobrol sampai-sampai makanan yang mereka pesan pun tidak habis. Tetapi itulah Dinda dan jeny, mereka memang selalu asyik mengobrol di saat jam makan siang sewaktu masih bekerja dulu.


"Jen, nggak kerasa ya udah 1 jam aja. Kita harus masuk ke kelas lagi," kata Dinda.


"Iya Din. Oh ya kamu tidur di kamar nomor berapa Din? Nanti setelah latihan berakhir, bisa nggak kita bertemu lagi, ngobrol-ngobrol lagi. Aku masih kangen banget sama kamu Din dan ada sesuatu juga yang ingin aku omongin sama kamu," kata Dinda.


Ya.memang mereka saat ini sedang mengikuti kursus pelatihan yang ada di Surabaya dan tentunya mereka juga sudah membayar langsung dengan biaya penginapannya.


"Aku tidur di kamar nomor 04, kamu sendiri dimana Jen?" Tanya Dinda lagi.


"Wah kebetulan banget ya, aku di kamar nomor 06 Din. Kalau gitu boleh kan kita ngobrol-ngobrol lagi nanti," kata Jeny.


"Ya bolehlah Jen, aku juga masih kangen banget sama kamu dan masih ingin ngobrol banyak sama kamu. Apalagi aku juga kan belum tahu tentang hidup kamu selama 6 tahun lebih ini, baru kamu aja kan yang tahu tentang aku," kata Dinda.

__ADS_1


"Iya dong, makanya aku masih mau ketemu kamu lagi untuk bercerita. Memang ada yang mau aku omongin juga tentang hidup aku," kata jeny.


"Oh ya? Pasti kamu sudah menikah kan Jen?" Dinda menebaknya.


"He … he … he … sok tahu kamu. Itu nanti aja deh aku ceritain, kalau cerita sekarang kita bisa terlambat lagi masuk kelasnya," ucap Jeny.


Lalu Dinda dan jeny pun berpisah dan segera saja masuk ke kelas latihan mereka masing-masing.


*****


"Kamu pulang larut malam seperti ini lagi?" Tanya Nathan, saat itu ia melihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul 02.00 dini hari.


Sontak Clara terkejut karena baru saja menghidupkan lampu, tiba-tiba melihat sosok Nathan yang menunggunya di ruang depan.


"Aku benar-benar tidak habis pikir denganmu Clara, kamu selalu saja sibuk dengan pekerjaanmu itu tanpa memikirkan suami dan anakmu sama sekali," ucap Nathan yang mulai emosi.


"Sudahlah Nathan, kenapa sih kamu lagi-lagi membahas soal ini? Kamu kan tahu ini pekerjaanku dan akhir-akhir ini aku lagi banyak sekali pekerjaan. Lagipula bukan hari ini saja kan aku pulang larut malam seperti ini. Kamu juga kan sudah terbiasa mengurus dirimu sendiri, sedangkan Keenan sudah ada Mama kan yang mengurusnya, kamu hanya tinggal membawanya pulang terus kamu menidurkannya saja, tidak ada yang repot kan? Lagipula kenapa kamu tidak tidur saja sih, biasanya kalau aku pulang kamu juga sudah tidur," kata Clara.


"Kau itu betul-betul sudah keterlaluan Clara, kau sama sekali tidak pernah memikirkan perasaan anakmu bahkan kau sendiri tidak tahu kan sekarang Keenan sedang berada di mana?!" Bentak Nathan.


"Memangnya Keenan ada dimana?" Tanya Clara.

__ADS_1


"Itulah kau, kau sama sekali tidak mau tahu tentang anakmu. Seharusnya sebagai seorang ibu, sedang sibuk sekalipun kau masih sempat menanyakan bagaimana kabar anakmu, sudah makan atau belum, ini tidak sama sekali. Bahkan di rumah pun kau selalu sibuk sampai tidak ada waktu untuk anakmu. Memang sebaiknya Keenan tidak tinggal di apartemen ini, sebaiknya Keenan tinggal bersama Mama. Setiap hari juga Keenan sudah dijaga oleh Mama. Aku rasa kau juga tidak ingin kan bertemu dengannya?" kata Nathan.


"Oh jadi Keenan di rumah Omanya, ya baguslah. Berarti dia juga tidak ingin bertemu denganku," kata Clara yang tidak merasa bersalah sedikitpun.


"Kau benar-benar keterlaluan Clara. Aku tidak menyangka kau akan bersikap seperti itu. Aku pikir kau akan kehilangan Keenan setelah tahu dia berada di rumah Mama, tapi ternyata kau malah sangat menyukainya," hardik Nathan.


"Stop! Nathan aku ini baru pulang kerja, aku capek dan mau istirahat. Kalau kau terus saja berbicara, aku tidak bisa istirahat. Kepalaku ini sudah pusing, kamu malah buat aku tambah stress lagi di rumah. Bukannya buat semangat, buat tenang istrinya, tapi malah menambah beban pikiran," kata Clara.


"Oh, kau pikir hanya kau saja yang stres dengan masalahmu. Aku juga punya masalah Clara dan mempunyai istri sepertimu itu tambah membuat aku stres," kata Nathan.


"Apa maksudmu? Jadi kau tidak ingin mempunyai istri sepertiku lagi?" Tanya Clara.


"Iya, aku sengaja menunggumu pulang meskipun sudah larut malam karena aku ingin berbicara serius denganmu," kata Nathan.


"Berbicara apa?" Tanya Clara.


"Aku ingin kita berpisah, aku sudah tidak kuat lagi menghadapi sikapmu. Oke selama ini aku bertahan, apalagi semenjak kehadiran Keenan. Karena menurut aku tidak baik jika kita berpisah sementara ada Keenan yang membutuhkan ibunya, tapi kelihatannya kau sama sekali tidak peduli dengan anakmu, kau sama sekali tidak membutuhkan anak dan suamimu. Kau hanya membutuhkan karirmu itu saja. Jadi aku ingin kita berpisah, mulai hari ini kau aku talak satu," ucap Nathan menatap Clara dengan sorotan mata tajam.


Duar …


Bagaikan disambar petir, Clara merasa sangat terkejut tak percaya jika Nathan bisa mengatakan hal itu padanya. Meskipun selama ini Clara tidak perduli terhadap Nathan dan Keenan, tapi bukan berarti Clara ingin berpisah dengan mereka.

__ADS_1


...……… Bersambung ………...


__ADS_2