Rahim Penebus Hutang

Rahim Penebus Hutang
24 Minggu.


__ADS_3

Clara langsung saja mengakhiri panggilan telepon tersebut, dengan begitu gugupnya ia pun berjalan menghampiri Nathan.


"Sayang, kamu ngapain keluar?" Tanya Clara.


"Aku kebangun karena haus dan mau minum, tapi aku lihat kamu tidak ada di kamar, maka dari itu aku mencari kamu dan ternyata ada di sini. Kamu lagi apa?" Jawab Nathan serta melontarkan pertanyaan.


"Oh … ini Roy, iya Roy nelpon aku, katanya ada project pemotretan gitu, jadi dia nawarin aku lagi, tapi udah aku tolak kok. Kamu tenang saja ya, aku kan sudah berjanji sama kamu tidak akan mau menerima project pemotretan lagi meskipun perut aku belum terlihat buncit," Clara beralasan. Terlihat jelas dari wajahnya sedang menyembunyikan sesuatu dari sang suami.


Akan tetapi Nathan mencoba untuk mempercayainya saja. "Oh gitu, tapi kenapa dia harus meneleponmu malam-malam?" Tanya Nathan lagi.


"Ya maklumlah, Roy kan tahu kalau siang hari aku selalu enggan mengangkat teleponnya. Jadi dia mencari waktu malam hari di saat aku sedang istirahat, karena merasa terganggu pasti aku akan menjawab teleponnya itu," kata Clara mencoba meyakinkan suaminya.


"Oh … ya sudah kalau gitu kita masuk. Kamu harus beristirahat, nggak baik ibu hamil berada di luar malam-malam seperti ini, udaranya dingin," ajak Nathan yang memberi perhatian kepada istrinya itu, lalu ia merangkul tubuhnya dan menuntunnya masuk ke dalam rumah.


Clara tersenyum, ia tidak menyangka jika Nathan benar-benar berubah menjadi suami yang perhatian dan baik untuknya.


Setelah mengambil minuman, Nathan dan Clara pun kembali masuk ke dalam kamar. Sejak memutuskan untuk memperbaiki hubungan rumah tangga mereka, Clara dan Nathan tidur di satu kamar, tetapi mereka belum melakukan hal lebih hanya sebatas berpelukan, cium kening, dan juga cium pipi. Nathan belum bisa melakukan hal lebih kepada sang istri seperti yang pernah mereka lakukan sekali. Ia masih saja terbayang wajah Dinda di dalam ingatannya, seiring berjalannya waktu ia sedang belajar untuk melupakan Dinda agar bisa mencintai Clara istrinya itu.


*****


Waktu terus berlalu, hari telah berganti minggu minggu berganti bulan dan tidak terasa kandungan Dinda memasuki usia 24 minggu. Sejak kandungannya memasuki usia 16 minggu, Dinda sudah tak lagi bekerja karena perutnya yang sudah terlihat sedikit membuncit. Tentunya ia tak mau sampai orang lain tahu tentang kondisinya saat ini. Sudah 2 bulan Dinda hanya bersembunyi di dalam rumah tanpa ada satu orang pun yang tahu termasuk tetangga-tetangga dekatnya. Orang tua Dinda memang sengaja menyembunyikan fakta tentang kondisi anak mereka saat ini karena permintaan dari Dinda sendiri.


Kedua orang tua Dinda merasa sangat bersalah dengan apa yang saat ini menimpa anaknya. Terutama Santi, ia sadar bahwa semua yang terjadi pada Dinda saat ini adalah berawal dari kesalahannya. Ia yang begitu menyayangi suaminya hingga mengorbankan anaknya sendiri. Akan tetapi semua itu sudah terjadi, Dinda sendiri sudah memaafkannya. Kali ini mereka hanya sedang menyusun rencana bagaimana Dinda nanti akan melahirkan tanpa diketahui oleh orang lain. Saat itu Ayah Dinda pernah mengusulkan di saat Dinda akan melahirkan nanti, ia dan ibunya harus pergi dari tempat tinggal mereka sekarang agar Dinda bisa melahirkan dengan aman dan merawat anaknya itu

__ADS_1


Lalu bagaimana dengan pemeriksaan kandungan Dinda selama dua bulan ini?" Mereka memesan dokter kandungan untuk datang ke rumah setiap bulan. Tak peduli berapapun biayanya, mereka akan tetap melakukan hal itu. Untungnya Ayah Dinda saat ini sudah bisa bekerja di kantoran lagi meskipun hanya sebagai karyawan biasa, ini juga berkat pertolongan dari orang baik.


Usaha kue yang sedang dijalani oleh Santi saat ini juga sudah mulai berkembang. Ia menitipkan kuenya tersebut di warung-warung dengan jumlah yang banyak, tentunya karena bantuan Dinda di rumah.


"Bu sepertinya kita harus menambah jumlah kue sus lagi deh, soalnya yang aku lihat kue ini yang paling laris, berbeda dengan kue yang lain," usul Dinda.


"Itu karena kue sus buatan kamu yang memang enak Din. Tapi tidak usah Dinda, cukup dengan jumlah yang sekarang saja dulu, yang penting habis kan setiap harinya. Ibu tidak mau kamu kelelahan, lebih baik kamu istirahat. Lihat tuh perut kamu sudah semakin besar," kata Santi yang begitu perhatian terhadap anaknya.


"Tapi Bu, aku tahu jika Ibu pasti banyak membutuhkan biaya kan? Apalagi dengan kondisi aku saat ini, ditambah lagi aku yang sudah 2 bulan tidak bisa bekerja di luar. Jadi aku nggak masalah kok Bu kalau harus membantu ibu membuat kue di rumah," kata Dinda, bukan bermaksud membantah tetapi ia hanya tidak suka berdiam diri di rumah.


"Sudah Sayang, sekarang kamu istirahat saja. Ini semuanya sudah selesai, Ibu akan mengantarnya ke warung-warung, ingat kamu nggak boleh kecapean dan jangan pernah membuka pintu jika ada yang datang ke rumah. Kamu tidak mau kan perjuangan kamu selama 2 bulan ini bersembunyi di dalam rumah sia-sia," pesan Santi.


"Iya Bu, Dinda ingat kok," kata Dinda, tentu saja ia tidak mau semua rencananya akan menjadi berantakan.


*****


"Bengong aja, lagi memikirkan apa Ly?" Tanya Gio sembari menepuk pelan pundak Lily lalu duduk di sebelahnya.


"Ih Kak Gio, bikin kaget aja. Aku hanya merasa sepi aja Kak nggak ada Dinda. Sudah 2 bulan aku nggak ketemu sama dia," kata Lily.


Gio tertegun, sebenarnya apa yang Lily rasakan Sama halnya dengan yang dirasakan juga. Akan tetapi berbeda kondisinya dengan Lily, karena Gio mengetahui masalah sebenarnya dan juga tentang kondisi Dinda. Saat ini Gio merasa sangat terpukul dengan keadaan Dinda dan memilih untuk tidak menemuinya dulu, ia juga ingin memberitahu kepada Lily tentang kondisinya, akan tetapi ia teringat akan janjinya waktu itu untuk selalu menjaga rahasia ini.


"Kak … kenapa jadi kamu yang bengong?" Tanya Lily.

__ADS_1


"Nggak bengong kok Ly, hanya saja gara-gara kamu ngomongin masalah Dinda, aku juga jadi kangen dengannya. Sudah lama kita nggak ketemu," ucap Gio beralasan.


Lily menatap Gio, ia tahu betul jika Gio yang sangat mencintai Dinda itu merasa sangat kehilangan wanita itu. Padahal bagi Lily ini adalah kesempatannya untuk mendekati Gio lagi, tetapi sepertinya Gio sama sekali tak menaruh hati kepadanya barang sedikitpun.


*****


Sepulang bekerja, Gio yang sudah mempunyai rencana itu pun segera saja melajukan mobilnya menuju ke rumah Dinda.


Setibanya di lokasi, Santi membukakan pintu dan mempersilahkan Gio untuk masuk.


"Maaf Bu kalau kedatangan aku mengganggu. Apa boleh aku bertemu dengan Dinda?" Ucap Gio tanpa basa-basi.


Santi yang sudah mengetahui tentang hubungan Gio dan Dinda itu pun segera saja memanggil Dinda dan menemui Gio.


"Ada apa Kak datang ke sini?" Tanya Dinda yang terlihat agak malu dengan kondisinya saat ini, terlebih lagi Gio selalu memperhatikan hal itu.


"Din aku mau ngomong sesuatu sama kamu dan juga Ibu kamu," ucap Gio.


"Ada apa Nak Gio?" Tanya Santi penasaran.


"Din, Bu, apa boleh kalau aku mau menikahi Dinda? Aku akan bertanggung jawab atas anak yang sedang Dinda kandung," ungkap Gio yang membuat Dinda dan Santi membelalakkan matanya tak percaya dengan ucapan pria itu.


...……… Bersambung ………...

__ADS_1


__ADS_2