Rahim Penebus Hutang

Rahim Penebus Hutang
Kota Bandung


__ADS_3

Kota Bandung adalah kota metropolitan terbesar di provinsi Jawa Barat dan terbesar ke tiga di indonesia. Sekaligus menjadi ibu kota provinsi Jawa Barat. Selain itu Bandung dahulunya disebut juga dengan sebutan Paris van Java karena keindahannya. Selain itu kota Bandung juga dikenal sebagai kota dengan mall dan factory outlet yang banyak tersebar di kota ini, dan saat ini berangsur-angsur kota Bandung juga menjadi kota wisata kuliner dengan berbagai makanan khas-nya seperti batagor dan siomay salah satunya yang juga tersebar diberbagai macam daerah.


Saat ini kota Bandung sedang diguyur hujan lebat sehingga Dinda dan Lily tidak dapat pulang ke rumah. Mereka masih berada di depan restoran menunggu hujan reda, karena jika saat ini mereka pulang menerobos hujan sudah pasti keduanya akan basah kuyup. Terlebih lagi Lily menggunakan sepeda motor membonceng Dinda, sudah pasti dia tidak akan bisa melihat jalan karena hujan yang sangat deras.


"Duh gimana kita mau pulang ya Din? Hujannya semakin deras, hari juga semakin sore," Lily mengeluh sembari mengusap-usap lengannya untuk mengurangi rasa dingin.


"Iya nih, tapi mau bagaimana lagi Ly. Kalau kita menerobos hujan sekarang, sudah pasti akan mengancam keselamatan kita," kata Dinda.


"Iya kamu bener Din. Tapi kamu nggak lagi buru-buru pulang kan?" Tanya Lily.


"Nggak kok. Kamu sendiri?" Tanya Dinda pula.


"Aku juga enggak kok," jawab Lily.


Sebuah mobil berhenti tepat di depan mereka, siapa lagi kalau bukan Gio yang megemudikan mobil tersebut. Meskipun ia bukan dari keluarga yang berada dan hanya bekerja di sebuah restoran, tetapi karena berkat kesabaran dan kegigihannya selama ini yang sangat rajin bekerja dari masa kuliah, membuatnya bisa memiliki sebuah mobil meskipun hanya mobil biasa. Menurut Gio itu telah menjadi kebanggaan sendiri buat dirinya karena bisa memiliki barang impiannya hasil dari jerih payahnya sendiri. Ia sangat ingin memiliki mobil dari masa sekolah agar bisa berpergian membawa keluarganya tidak terkena hujan maupun panas.


Gio turun dari mobil dengan memakai payung menghampiri Dinda dan Lily.


"Dinda, Lily, kalian mau pulang sama aku nggak? Biar aku antar kalian ke rumah masing-masing," tawar Gio.


Lily dan Dinda pun saling berpandangan karena bingung harus menjawab apa.


"Aku bawa motor Kak, kalau aku pulang dengan Kakak, gimana dong motor aku," kata Lily.


"Ya sudah Ly, kamu aja yang pulang sama Kak Gio, nanti motor kamu biar aku yang bawa pulang dan besok aku yang jemput kamu pergi kerja, gimana?" Usul Dinda.

__ADS_1


Lily tampak berpikir, sebenarnya ia sangat mau karena menurutnya ini adalah kesempatannya untuk berdua dengan Gio. Tetapi Lily bukanlah sahabat yang tidak punya perasaan, rela membiarkan sahabatnya sendiri kedinginan demi kebahagiaannya.


"Nggak usah Din, sebaiknya kamu aja deh yang pulang sama Kak Gio. Itu kan motor aku, aku nggak enak ah kalau kamu yang bawa motornya. Apalagi kamu juga lagi kurang enak badan kan," kata Lily.


"Iya Din yang dibilang sama Lily itu benar. Tapi kalau menurut aku, sebaiknya kalian berdua aja aku antar pulang. Nggak apa-apa besok aku jemput kalian berdua, gimana?" kata Gio yang tak ingin membedakan. Bagaimanapun juga dua wanita cantik itu adalah partner kerjanya, meskipun ia memang menyukai Dinda, tetapi baginya Lily adalah sahabatnya.


"Beneran nggak ngerepotin Kak?" Tanya Lily yang merasa tidak enak, sama halnya dengan Dinda.


"Nggak kok. Kasihan kalian berdua nggak pulang-pulang. Di sini juga dingin, lagipula ini hujan sepertinya nggak akan berhenti," kata Gio.


Mereka bertiga bersama-sama menatap hujan yang semakin deras, akhirnya Dinda dan Lily pun menyetujuinya dan menitip motor Lily kepada satpam yang menjaga restoran. Mereka langsung saja masuk ke dalam mobil Gio.


"Jadi kalian berdua duduk di belakang nih, nggak ada yang mau nemenin aku," kata Gio.


"Ly, mendingan kamu duduk di depan deh," kata Dinda.


"Kamu aja, soalnya aku mau baring di belakang," Dinda mencari alasan, sehingga Lily pun menurut dan segera duduk di bangku depan samping Gio sehingga membuat perasaannya tak karuan saat ini.


Sebenarnya Dinda memang sengaja melakukan hal itu, dia tersenyum begitu melihat Lily tersenyum bahagia bisa berada di samping Gio. Dinda yang sebenarnya sudah sangat memperhatikan Lily mengetahui jika sahabatnya itu menaruh hati kepada Gio, hanya saja Lily yang tidak mau mengakuinya. Tetapi Dinda sudah mengatur rencana agar Lily bisa dekat dengan pria yang disukainya itu. Dinda sendiri tak punya perasaan apapun terhadap Gio meski ia tahu Gio menaruh hati padanya. Dinda juga tidak mungkin tega untuk mengkhianati Lily dengan menyukai pria yang disukai sahabatnya itu. Terlebih lagi Sampai saat ini Dinda belum bisa melupakan Nathan, pria yang merupakan ayah dari anak yang sedang dikandungnya saat ini.


*****


Sementara itu, Nathan dan Dimas baru saja tiba di kota Bandung. Karena hujan lebat, mereka berdua pun tidak dapat untuk untuk langsung pergi ke lokasi pembangunan proyek sehingga memutuskan untuk berteduh di hotel tempat mereka menginap.


"Tuan Nathan, sebaiknya saat ini kita mencari makan dulu karena aku sudah sangat lapar. Dari tadi pagi aku belum sempat sarapan dan melewatkan makan siang karena kita langsung bergegas pergi ke sini," kata Dimas.

__ADS_1


"Ya kau benar, aku juga lapar. Bukankah di hotel ini juga ada restoran?" Tanya Nathan.


"Iya Tuan, letaknya ada di lantai dasar. Sebaiknya kita ke sana saja, jadi tidak perlu keluar. Apalagi hujan di luar masih sangat deras," kata Dimas.


"Baiklah," Nathan menyetujuinya, lalu mereka berdua pun menuju ke restoran yang ada di bawah penginapan itu.


"Kenapa di sini hujannya lebat sekali, padahal di Jakarta tadi panasnya sangat luar biasa. Bagaimana aku harus pergi ke lokasi proyek yang ada di lapangan? Aku harus segera membuktikan ke Papa kalau aku bisa mendapatkan kerjasama dengan Pak Alex. Aku benar-benar muak dengan hinaan yang keluar dari mulut Pak Tua," gumam Nathan dalam hati.


"Tuan … Tuan!" Panggil Dimas hingga Nathan pun tersadar dari lamunannya.


"Ya ada apa?" Tanya Nathan.


"Makanannya sudah datang Tuan, silahkan dimakan," ucap Dimas.


"Oh iya," jawab Nathan.


Nathan terlihat tidak berselera untuk makan meskipun perutnya lapar, dalam hatinya merasa sangat kesal, karena di saat dirinya sudah tahu tentang masalah yang sebenarnya terjadi dan ingin mencari keberadaan keluarga Dinda, ayahnya malah mengutusnya untuk pergi ke Bandung menyelesaikan masalah proyek. Tetapi itulah yang harus Nathan jalani karena ia masih berada di naungan perusahaan ayahnya. Ia ingin membuktikan kepada ayahnya jika ia bisa berhasil dan suatu saat nanti akan membangun perusahaan sendiri tanpa campur tangan dari orang tuanya.


*****


"Kak boleh nggak berhenti di apotik itu sebentar? Ada yang mau aku beli," kata Dinda.


Lalu Gio pun langsung saja memberhentikan mobilnya di depan apotik kecil yang bersebrangan dengan hotel dan restoran mewah.


Nathan yang saat itu sedang menatap keluar jendela tidak sengaja melihat sosok wanita yang tak asing baginya.

__ADS_1


...……… Bersambung ………...


__ADS_2