Rahim Penebus Hutang

Rahim Penebus Hutang
Berusaha Melupakan


__ADS_3

"Akh … lebih cepat lagi Sayang, aku sudah hampir sampai."


"Eugh … sebentar lagi, aku juga mau sampai Honey."


Suara desa*** terdengar mengisi seluruh ruangan di sebuah kamar pada apartemen. Dia adalah Clara bersama kekasihnya yang saat ini sedang memadu kasih di atas ranjang. Bukan hanya sekali ini ia melakukannya, tetapi sudah menjadi aktivitas rutin mereka setiap kali bersama.


Clara memang sudah memiliki kekasih sebelum ia menikah dengan Nathan, kekasih Clara sama sekali tidak keberatan Clara menikah dengan Nathan, asalkan Clara tetap menghidupinya dan selalu memenuhi kebutuhan biologisnya, serta tidak menyerahkan tubuhnya itu kepada Nathan.


"Ough …"


Suara ******* terdengar dari mulut keduanya saat mereka bersama-sama telah mencapai puncak kenikmatan.


"Thanks Honey, kau selalu menjadi yang terbaik. Pelayananmu selalu memuaskan dan tidak pernah mengecewakanku," ucap Bryan.


"Ya Sayang, kau juga selalu memuaskan ku," ucap Clara pula.


"But Honey, kau benar-benar tidak pernah berhubungan dengan suamimu itu kan?" Tanya Bryan.


"Tentu saja tidak, kau pikir aku ini wanita seperti apa. Memang statusku adalah istri sah Nathan. Tapi aku sudah menyerahkan tubuhku ini untukmu seorang, bahkan kau juga kan yang telah mengambil keperawananku dari awal," kata Clara.


"Ya tapi kau malah menikah dengan pria itu. Harusnya aku yang bertanggung jawab," kata Bryan.


"Kau terlalu lamban Bryan, sudah aku katakan padamu kalau ini semua keinginan orang tuaku. kau bersabarlah sedikit Sayang, aku pasti akan segera menceraikannya dan kita akan menikah," kata Clara.


"Aku tunggu janjimu Honey," ucap Bryan lalu kembali melu*** bibir milik kekasihnya itu.


Clara pun membalas hingga ciuman itu semakin dalam dan memanas. Akan tetapi tiba-tiba saja Clara menyudahinya karena teringat sesuatu.


"Kau kenapa?" Tanya Bryan, ia tak terima karena Clara menyudahinya begitu saja.

__ADS_1


"Aku ada pemotretan siang ini, kau mau mengantarku atau aku akan pergi sendiri," kata Clara.


"Tentu saja aku akan mengantarmu seperti biasa," jawab Bryan tersenyum.


Setelah mengenakan pakaian, mereka pun segera saja pergi meninggalkan apartemen Bryan.


*****


Nathan tiba di perusahaan, ia langsung saja menemui ayahnya yang saat ini sedang berada di ruangannya.


Tok …tok … tok …


Nathan mengetuk pintu lalu masuk ke dalam ruang Direktur. Dilihatnya sang ayah saat itu sedang duduk di kursi kebesarannya dan menatapnya dengan tajam tetapi sama sekali tak membuatnya takut.


"Dari mana saja kamu?!" Bentak Fransisco Edward Collin.


"Aku baru saja sampai Pa, aku kesiangan," jawab Nathan.


"Heh mana mungkin wanita itu tahu keberadaanku, sudah jelas tadi malam dia tidak pulang ke apartemen," gumam Nathan dalam hati.


"Sudahlah sekarang itu tidak penting. Yang mau Papa tanyakan, kemana larinya uang perusahaan sebanyak 10 miliar? Apa benar ada yang mengkorupsinya? Siapa yang mengkorupsi uang sebanyak itu Nathan?" Tanya Frans, ia sangat terkejut saat melihat laporan keuangan perusahaanya di Indonesia.


"Ya Papa benar, memang ada yang mempermainkan keuangan perusahaan kita, tetapi aku sedang berusaha untuk mencari tahu," kata Nathan.


"Kenapa lama sekali kamu mencari tahunya Nathan, kamu harus segera menemukan siapa dalang dari ini semua, jebloskan keparat ke dalam penjara. Aku tidak akan mengampuni pengkhianat di perusahaan kita," kata Frans, ucapannya itu memang terdengar tidak main-main.


Jelas saja Nathan sudah mengetahui siapa pelakunya, tetapi ia tidak mungkin memberitahu kepada ayahnya karena ia sudah menganggap semuanya tidak ada masalah. Orang tersebut sudah menjual anak perempuannya kepada dirinya, jadi ia tidak mungkin mengingkari janjinya tersebut. Terlebih lagi Nathan juga sudah penandatangani surat kontrak yang dibuat sendiri olehnya.


"Sudahlah Pa, Papa jangan marah-marah terus. Papa sudah tua, aku takut nanti Papa semakin tambah tua dan penyakit Papa akan kumat terus Papa meninggal. Kasihan Mama Pa, ya walaupun Mama masih muda dan bisa dengan mudah mencari pengganti Papa, tetapi tetap saja Mama saat ini sangat mencintai Papa," ucap Nathan, ia memang selalu mengatakan hal itu dengan maksud mengajak ayah tuanya itu bercanda untuk mencairkan suasana.

__ADS_1


"Jaga ucapanmu itu Nathan! Anak seperti apa kamu yang selalu mendoakan orang tuanya cepat mati. Aku sedang berbicara serius!" Frans menatap murka.


"Aku juga serius Pa. Aku juga tidak mungkin mendoakan Papa cepat mati, Papa hanya salah paham. Kapan Papa pulang dari luar Negeri? Kenapa pagi-pagi sekali Papa sudah sampai di perusahaan?" Tanya Nathan mengalihkan pembicaraan lain.


"Papa sudah tiba di Indonesia dari tadi malam, kamu saja yang tidak bisa dihubungi dan tidak pernah mau tahu tentang ayahmu," jawab Frans.


"Itu tidak benar Pa, mana mungkin aku tidak ingin tahu tentang ayahku tercinta," kata Nathan.


"Sudahlah! Kamu tidak perlu banyak bicara, sekarang bergerak cepat cari tahu siapa yang sudah mengkorupsi uang perusahaan kita, atau Papa sendiri yang akan mencari tahu," kata Frans.


Nathan terkejut mendengarnya, ia tidak mau sampai ayahnya tahu, itu berarti akan ketahuan juga apa yang sedang dilakukannya di belakang kedua orang tuanya.


*****


"Dinda, kamu kenapa? Kamu sakit?" Tanya Jeny yang merupakan rekan kerja Dinda di restauran juga sahabatnya.


"Oh iya Jen, aku sedikit pusing. Maaf ya aku jadi tidak konsen. Ada apa?" Tanya Dinda pula.


"Di sana ada pelanggan yang meminta kamu untuk mengantar makanannya. Tadi waktu aku antar minumannya, dia bilang kenapa bukan kamu yang mengantarnya? Aku jawab saja kamu lagi sibuk. Tapi ya itu katanya makanannya nanti harus kamu yang antar," kata Jeny.


Dinda terdiam, dalam pikirannya terlintas bahwa pria tersebut adalah Nathan. Dinda tidak mau bertemu dengan Nathan, sudah tiga hari ia berusaha menghindari pria tersebut dengan sangat susah payah, meskipun dalam otaknya selalu saja terbayang-bayang pria yang sudah menjamah tubuhnya itu, meskipun tanpa paksaan apapun.


"Siapa ya kira-kira?" Tanya Dinda.


"Aku juga tidak tahu Din, sebaiknya kamu ke sana saja. Sebelumnya aku tidak pernah melihatnya di sini. Mungkin dia pelanggan baru yang sengaja datang ke sini untuk menemuimu," ujar Jeny.


Dinda semakin dibuat penasaran, akan tetapi ada sedikit kelegaan di dalam hatinya karena sudah pasti itu bukan Nathan. Jika Nathan, pasti jeny pernah melihat sebelumnya, karena Nathan sudah beberapa kali datang ke sini, bahkan Jeny melihat pertengkaran mereka waktu itu.


Lalu Dinda membuang jauh-jauh pikirannya itu tentang Nathan. Memang Nathan selalu mengirim pesan dan meneleponnya, bahkan mengajaknya untuk bertemu, tetapi Dinda sama sekali tidak membalas pesan atau menjawab telepon tersebut. Ia benar-benar ingin melupakan kejadian yang telah dilewatinya satu malam bersama pria beristri itu. Walaupun sebenarnya di dalam hatinya ia terkadang masih memikirkan Nathan, seandainya Nathan tidak beristri mungkin Dinda akan meminta Nathan untuk mempertanggungjawabkan apa telah dilakukannya.

__ADS_1


...……… Bersambung ………...


__ADS_2