Rahim Penebus Hutang

Rahim Penebus Hutang
Meminta Penjelasan


__ADS_3

Pria tersebut melambaikan tangan dan tersenyum meskipun Dinda tak membalasnya, hanya Gery yang membalas lambaian tangan itu.


"Ups sudah ada yang nungguin tuh rupanya," sindir Jeny.


"Iya ya Sayang, lebih baik kita duluan aja yuk, nggak mau jadi pengganggu," sahut Gery.


"Apaan sih kalian berdua. Aku juga nggak tahu kenapa dia ada di sini, di depan mobil aku lagi. Tapi mungkin kebetulan aja dia lagi menunggu seseorang," kata Dinda.


"Kalau menurut aku ya Nathan itu mau menjemput dan bertemu kamu Din. Dan kita nggak mau ikut campur urusan kalian," ujar Gery.


"Iya benar kata Kak Gery. Lebih baik kamu temui aja dulu Nathan-nya, selesaikan dulu apa yang yang belum selesai Din," sambung Jeny.


"Semuanya sudah selesai Jen," ucap Dinda.


"Kalau sudah, kamu nggak akan pergi waktu itu Din. So kita berpisah sampai di sini aja ya Din, bye … ," ucap Jeny diiringi lambaian tangannya.


"Iya deh Jen bye … . Eh jangan lupa ya nanti kita telepon-teleponan, katanya kamu mau mampir kan ke toko aku," kata Dinda.


"Iya Din tenang aja, nanti aku pasti WA kamu kok," kata Jeny.


Setelah berpamitan, Jeny dan Gerry pun segera saja meninggalkan Dinda. Mereka juga tersenyum terhadap Nathan dan dibalas olehnya. Perdebatan yang dulu pernah terjadi antar Nathan dan Gery seakan sudah lenyap ditelan bumi.


Perlahan Dinda melangkahkan kakinya mendekati pria masa lalunya itu, yang Jeny katakan benar jika ada ada suatu hal yang belum selesai diantara mereka. Sehingga Dinda yang tadinya hendak kabur pun telah membatalkan niatnya.


"Hai Din, kamu apa kabar?" Tanya Nathan saat Dinda telah berdiri di depannya, tatapannya begitu sendu, ia terlihat sangat gugup karena setelah sekian lama tidak bertemu, kini bertemu kembali dengan wanita yang dicintainya.


Berbeda dengan Dinda, tatapannya tampak datar dan ekspresi yang menunjukkan bahwa ia sangat tidak menyukai kehadiran Nathan.


"Baik, kamu mau apa di sini dan kenapa kamu bisa ada di depan mobil aku?" Kata Dinda.


"Ya jemput kamu lah, yuk sekarang kita pulang," jawab Nathan dengan enteng.

__ADS_1


"Jemput aku? kemana supir aku?" Tanya Dinda mengernyitkan dahinya.


"Ya aku supir kamu. Sudah yuk sekarang kita pulang," ajak Nathan.


"Nathan, aku nggak main-main ya," ucap Dinda menatap serius.


"Aku juga nggak main-main Din. Kamu masuk aja deh dulu ke mobil, nanti aku jelaskan," kata Nathan.


Akhirnya Dinda pun menyetujuinya, ia masuk ke dalam mobil yang telah dibukakan pintunya oleh Nathan. Setelah itu Nathan juga segera menyusul dan melajukan mobilnya.


"Sekarang kamu jelaskan ke aku, kenapa kamu bisa pakai mobil aku? Dimana supir aku sebenarnya?" Tanya Dinda saat mereka dalam perjalanan.


"Jadi tadi aku ke toko kamu. Kata Bi Santi kamu pulang hari ini dan supir kamu nggak bisa jemput, jadi aku yang menggantikannya menjemput kamu ke bandara, untungnya aku belum terlambat," jawab Nathan apa adanya.


"Kamu ke toko aku? Dari mana kamu tahu soal toko aku? Atau jangan-jangan ibu kamu yang sudah menceritakan semuanya ke kamu?" Tanya Dinda. Hanya Cynthia lah orang satu-satunya yang Dinda curigai, tetapi bukankah ia sudah meminta tolong kepada Cynthia untuk tidak memberitahu kepada Nathan.


"Sebenarnya bukan Mama aku yang memberitahu aku. Mamaku sudah berusaha untuk menyembunyikannya sesuai janjinya padamu, tapi karena waktu itu Keenan yang meminta untuk datang ke toko kamu bertemu dengan Nadine, akhirnya semua itu terbongkar. Bukan hanya itu, aku juga sudah tahu semuanya Din," kata Nathan .


"Sudahlah Din, lebih baik kita berbicara setelah sampai di toko kamu saja ya," kata Nathan.


****


Tidak berapa lama kemudian, mereka telah tiba di kediaman Dinda. Dinda pun langsung saja turun dari mobil dan disambut hangat oleh ibu dan juga anaknya.


"Mama … !" Teriak Nadine yang berlari dan langsung saja menghamburkan pelukannya di pelukan hangat sang ibu.


"Sayangnya Mama, Mama kangen banget deh tiga malam nggak tidur sama kamu," ucap Dinda seraya menciumi pipi tembam Nadine serta rambutnya.


Ada sedikit kecemburuan yang muncul saat Nathan melihat akan hal itu. Dalam hatinya ia juga ingin melakukan hal yang sama terhadap anak perempuannya.


"Sama Ma, Nadine juga kangen banget sama Mama. Akhirnya Mama pulang juga. Untung aja Om Nathan baik mau jemput Mama di bandara, soalnya pak Tedy lagi saksi Ma dan kebetulan Om Nathan datang, jadinya Om Nathan yang menggantikannya. Kakek juga lagi kerja jadi nggak bisa juga deh buat jemput Mama," celoteh Nadine yang membuat Dinda tersenyum gemas karena tingkah laku anak geniusnya itu.

__ADS_1


Selama berada di kota Surabaya, hanya Nadine lah yang selalu terbayang-bayang di pikirannya, meskipun kerap kali melakukan video call tak membuat Dinda lepas dari rasa rindunya. Bukan berarti ia tidak merindukan kedua orang tuanya, tentu saja rindu, tapi yang paling ia rindukan adalah anaknya.


"Oh ya, jadi pak Tedy sakit ya Nak. Mama nggak tahu kalau pak Teddy sakit, kalau tahu pasti Mama sudah meminta supir lain untuk menjemput Mama," ucap Dinda.


Memang Dinda sudah terbiasa untuk menyewa supir secara berganti-ganti, tetapi setelah ia tahu bagaimana kondisi keluarga pak Tedy dan pak Tedy pun meminta untuk dijadikan supir pribadi, akhirnya Dinda pun menyetujuinya untuk menjadikan pak Tedy sebagai supir yang membantunya untuk mengantar pesanan ke mana-mana, karena Dinda juga merupakan orang yang baik dan selalu menolong orang lain yang sedang kesusahan.


"Ya sudah kalau gitu, nanti Nadine mau nggak ikut Mama kita jenguk pak Tedy," ucap Dinda.


"Mau dong Ma," jawab Nadine yang begitu bersemangat.


"Dinda, akhirnya kamu udah pulang juga," ucap Santi tersenyum.


Kini Dinda pun beralih menyalami dan memeluk sang ibu.


"Iya Bu, alhamdulillah semuanya berjalan lancar dan aku sudah punya ilmu baru yang akan aku praktekkan langsung nanti malam," jawab Dinda.


"Syukurlah," ucap Santi.


"Bu, ada yang mau aku tanyakan sama Ibu," ucap Dinda.


Santi melirik Nathan, ia sudah tahu jika Dinda pasti akan meminta penjelasan tentang Nathan saat ini.


Karena ini dianggap pembicaraan orang dewasa secara serius, Santi pun meminta Lala untuk membawa Nadine dulu dan mengajaknya bermain.


Kini Santi, Dinda dan Nathan duduk di ruang kelurga yang ada di rumah Dinda. Tentu saja tempatnya tertutup agar mereka leluasa untuk membicarakan hal yang bersifat rahasia.


"Jelaskan ke aku sebenarnya ini ada apa? Apa yang sudah terjadi? Tadi Nathan bilang dia sudah tahu semuanya. Apa yang sudah ibu ceritakan kepada Nathan?" Tanya Dinda.


Santi tak dapat lagi mengelak, akhirnya ia pun menceritakan semuanya tentang percakapannya 3 hari yang lalu kepada Cynthia dan Nathan. Dinda tampak kecewa mendengar pengakuan dari ibunya itu.


...……… Bersambung ………...

__ADS_1


__ADS_2