Rahim Penebus Hutang

Rahim Penebus Hutang
Positif


__ADS_3

Mendengar namanya disebut, Dinda pun segera saja menoleh ke arah siapa yang telah menyebut namanya itu. Sedangkan Cynthia juga merasa terkejut karena anaknya mengenali wanita yang belum lama dikenalnya itu.


"Tuan Nathan, kenapa sepertinya Tuan begitu terkejut melihatku? Bukan kah Tuan sudah terbiasa melihatku bekerja di sini?" Tanya Dinda.


"Aku bukan terkejut karena melihatmu ada di sini Dinda, tapi aku terkejut karena kau memanggil Mamaku dengan sebutan Tante. Apa itu artinya kau sudah mengenal Mamaku?" Tanya Nathan.


"Mama?" Tanya Dinda.


Sedangkan Cynthia merasa kebingungan melihat mereka berdua yang saat itu terlihat sudah sangat mengenal lama pun segera saja menanyakannya.


"Nathan, Dinda, kalian sudah saling mengenal?" Tanya Cynthia.


"Ini Ma-" ucapan Nathan terhenti karena Dinda memotongnya.


"Iya Tante, kebetulan Tuan Nathan ini adalah pelanggan di restauran ini, dia selalu mengadakan meeting bersama kliennya di sini. Jadi aku sudah mengenal Tuan Nathan Tante," jelas Dinda beralasan.


"Nah iya Ma itu benar," sahut Nathan yang membenarkannya.


"Oh … seperti itu. Syukurlah kalau kalian sudah saling kenal," ucap Cynthia.


"Syukur kenapa Ma? Terus Mama kok bisa kenal sama Dinda?" Tanya Nathan.


"Jadi Tante Cynthia mamanya Tuan Nathan?" Tanya Dinda pula.


"Ya syukurlah karena Mama tidak perlu mengenalkan kalian lagi. Iya Dinda, Tante ini mamanya Nathan dan pria yang barusan Tante cerita tadi kalau anak Tante sudah beristri Tetapi istrinya sama sekali tidak pernah mau melihat Tante, ya ini dia si Nathan," jawab Cynthia.


"Mama cerita ke Dinda? Terus Mama kenal Dinda dimana? Di sini juga?" Tanya Nathan.


"Tidak, Mama saja baru tahu kalau Dinda kerja di sini. Mama bisa kenal sama Dinda karena kemarin Dinda menolong Mama saat lagi kesusahan bawa barang belanjaan di mall," jawab Cynthia.


"Oh … jadi Dinda ini wanita yang pernah Mama ceritakan kalau Mama kagum sama dia," tebak Nathan.


"Iya kamu benar, Mama tidak menyangka ternyata kamu juga sudah mengenalnya," jawab Cynthia yang terlihat sangat bahagia.


"Jadi benar yang Mama maksud adalah Dinda, aku tidak menyangka. Padahal selama ini Mama tidak pernah sedekat ini sama orang lain, bahkan dengan menantunya saja Mama tidak dekat. Aku yakin kalau aku pisah dengan clara dan bersama Dinda, pasti Mama akan menyetujuinya," Gumam Nathan dalam hati.


"Ya ampun … kenapa dunia ini begitu terasa sempit sekali sih. Disaat aku sedang menghindar dari Nathan dan mencoba untuk melupakannya, ternyata aku malah bertemu lagi dengan Nathan dan orang tuanya. Bagaimana aku harus menghadapi Nathan saat ini?" Gumam Dinda dalam hati.


"Dinda, Nathan, kenapa kalian bengong?" Tanya Cynthia menatap keduanya bergantinya.

__ADS_1


"Tidak ada apa-apa kok Tante," jawab Dinda.


"Iya Ma, tidak ada apa-apa kok," jawab Nathan pula.


"Kompak sekali ya kalian berdua melamunnya, kompak juga jawabannya," kata Cynthia dan ditanggapi senyuman oleh Dinda dan Nathan.


"Tante, karena sudah ada Tuan Nathan yang menemani Tante, Dinda permisi ya. Kebetulan aku juga masih banyak pekerjaan," ucap Dinda.


"Oh begitu, ya tidaka apa-apa Din. lagipula kita juga jadi tidak bebas mau cerita kalau ada anak Tante ini," kata Cynthia melirik Nathan.


"Mama, memangnya Mama mau bicara apa sama Dinda?" Tanya Nathan.


"Ada lah, urusan wanita," jawab Cynthia.


"Ya sudah Tante, Tuan Nathan, aku permisi ya," pamit Dinda lalu segera saja pergi.


Kini tinggal Cynthia dan Nathan yang berada di meja makan tersebut untuk menikmati makan siang bersama.


"Kamu mau apa ada di sini Nathan?" Tanya Cynthia.


"Ya mau makan lah Ma," jawab Nathan. Sangat idak mungkin jika ia jujur pada ibunya ingin bertemu dengan Dinda.


"Memangnya sudah waktunya jam makan siang?" Tanya Cynthia.


Memang benar Nathan baru saja selesai meeting dengan kliennya yang lokasinya itu tidak jauh dari restauran tempat Dinda bekerja.


*****


"Aduh Clara, kamu kenapa sih salah terus. Kenapa kamu tidak bisa fokus dari tadi. Ini kita lagi pemotretan penting," kata Marvin yang merupakan Bos Clara.


"Maaf Pak, aku benar-benar lagi tidak enak badan hari ini," ucap Clara.


"Kamu itu bagaimana sih, kan sudah dibilang kalau kamu harus selalu menjaga kondisi kamu, kalau dalam kondisi seperti ini terus kamu akan gagal bagaimana?" ucap Marvin.


"Iya Pak maaf. Kita coba sekali lagi ya," pinta Clara.


"Ya sudah, sekali lagi ya Clara," ucap fotografer.


Akan tetapi, tiba-tiba saja clara merasakan kepalanya begitu sangat sakit. Pandangannya juga berkunang-kunang hingga pada akhirnya ia pingsan di tempat.

__ADS_1


"Clara," ucap Marvin segera menghampirinya.


"Inces Clara," ucap Roy yang juga mendekati Clara.


Beberapa kali mereka membangunkan Clara tetapi sama sekali Clara tidak sadar. Akhirnya mereka yang sangat panik segera saja membawa Clara ke rumah sakit.


*****


Setibanya di rumah sakit, Clara langsung saja dibawa ke ruang pemeriksaan. Clara yang saat itu masih menjalani pemeriksaan pun tersadar dan sontak terduduk karena menyadari dirinya berada di rumah sakit.


"Nona, sebaiknya Anda berbaring saja dulu. Karena Anda masih di dalam tahap pemeriksaan," kata dokter.


"Memangnya ada apa denganku Dokter? Kenapa aku harus diperiksa?" Tanya Clara.


"Tadi Anda pingsan Nona. Manager Anda yang membawa Anda ke sini," jawab Dokter.


Memang dokter tersebut sudah mengenal Clara karena ia merupakan model go internasional, sedangkan dokter tahu Roy adalah managernya karena Roy sendiri yang mengatakannya tadi.


"Jadi bagaimana hasil pemeriksaanku?" Tanya Clara.


"Sebentar, saya akan melihatnya," jawab dokter. Lalu dokter kembali dengan membawa hasil tes yang dibawa oleh Suster.


"Bagaimana dokter?" Tanya Clara.


"Ini hasilnya Nona Clara. Selamat ya karena ternyata Anda positif hamil," ucap Dokter.


"Apa?" Clara membelalakkan matanya, ia sangat syok mendengar pernyataan dari Dokter.


Bagaimana mungkin Clara bisa hamil? Padahal selama ini ia selalu bermain aman dengan Bryan. Saat ini Clara dan Bryan sedang tidak bertegur sapa, ia sangat marah kepada Bryan. Lalu bagaimana dengan kehamilannya? Siapa yang akan bertanggung jawab? Rasanya kabar ini akan membuatnya menjadi gila.


"Saya benar-benar hamil Dok?" Tanya Clara yang tidak mempercayainya.


"Iya benar Nona, selamat ya sekali lagi," ucap dokter.


"Terima kasih Dokter," ucap Clara yang sama sekali tak menunjukkan wajah bahagianya.


Setelah itu pun Clara langsung diperbolehkan pulang dan akan diantar oleh managernya itu.


"Jadi Dokter bilang apa tentang kondisimu?" Tanya Roy saat dalam perjalanan.

__ADS_1


"Tidak bilang apa-apa. Kalian tenang saja, tidak perlu mengkhawatirkanku," kata Clara, ia tidak mau sampai ada yang mengetahui kondisinya saat ini.


...……… Bersambung ………...


__ADS_2