Rahim Penebus Hutang

Rahim Penebus Hutang
Dilema


__ADS_3

"Dasar cowok brengsek, bisa-bisanya dia mengkhianati aku. Aku sudah berusaha menjaga tubuhku dengan tidak memberikannya kepada suamiku sendiri, tetapi malah dia yang mengkhianati aku tidur dengan wanita lain. Bryan brengsek!" Teriak Clara sembari memukul setir mobilnya berkali-kali.


Hampir saja ia menabrak seseorang yang saat itu sedang menyebrang karena tidak fokus menyetir. Lalu Clara menepikan mobilnya untuk beristirahat sejenak.


"Tidak bisa seperti ini, aku harus balas dendam. Dasar pria bajing**! Lihat saja, kau pasti akan tahu apa akibatnya karena sudah berani bermain-main denganku Bryan. Kau pikir siapa dirimu? Aku yang selama ini sudah membuatmu hidup enak. Tapi kau malah enak-enakan dengan wanita lain, sialan!!" Teriak Clara dan lagi-lagi memukul setir mobilnya.


Setelah perasaannya cukup tenang, ia pun kembali melanjutkan perjalanannya itu.


Sementara Nathan saat ini masih berada di kamar hotel, ia terus saja terbayang wajah Dinda yang baru saja pergi meninggalkannya.


Rasanya ia sudah gila, ia yang sudah tiga tahun hidup bersama dengan Clara saja tidak pernah merasakan hal seperti ini. Nathan pikir ia hanya mencintai Alexa dan sangat sulit untuk melupakannya, tetapi ternyata semenjak ia mengenal Dinda, kini ia mulai menaruh hatinya kepada wanita itu.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Mana mungkin juga Dinda mau berhubungan denganku yang berstatus seorang suami. Aku harus mengambil keputusan, aku harus berpisah dengan Clara. Tapi bagaimana dengan Mama? Mama sangat tidak menyukai perpisahan. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Akh … !!" Teriak Nathan sembari mengacak-ngacak rambutnya sendiri untuk mencurahkan rasa kegalauannya.


Nathan merebahkan dirinya di atas tempat tidur, pikirannya selalu saja terbayang wajah cantik Dinda. Rasanya ia benar-benar sudah menyukai Dinda, bukan hanya sekedar kagum. Ia sadar jika ini terlalu cepat dan sangat salah, tetapi namanya perasaan tidak ada yang bisa mengaturnya. Itu semua adalah takdir dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya saat ini.


*****


Dinda tiba di rumahnya, ia langsung saja menuju ke kamar mandi dan membersihkan diri. lagi-lagi ia menangis dan meringkuk. Kali ini bukan hanya karena merasa sangat jijik dengan dirinya sendiri atau karena telah melakukan hubungan terlarang bersama pria beristri, tetapi karena perasaannya yang saat ini tidak karuan. Terlebih lagi setelah ia mendengar langsung bahwa Nathan juga mempunyai perasaan yang sama dengannya. Ingin rasanya Dinda mempunyai hubungan khusus dengan Nathan, tetapi terpikirkan lagi olehnya jika ia tidak mau menjadi pelakor dalam hubungan rumah tangga orang lain. Dinda harus ingat dengan tujuan utamanya adalah untuk memberikan anak kepada Nathan, karena pria itu telah membeli rahimnya.


Tok … tok … tok …


Doni mengetuk pintu kamar mandi karena mendengar suara air keran yang dibuka tetapi tidak mendengar suara guyuran air.


"Dinda, apa kamu ada di dalam kamar mandi?" Panggil Doni.


Dinda pun tersentak, ia segera saja mengatur nafasnya agar suaranya tidak terdengar seperti orang yang sedang menangis, lalu mematikan keran air tersebut.

__ADS_1


"Iya Yah Dinda di dalam lagi mandi," sahut Dinda.


"Kenapa kamu mandinya malam-malam seperti ini? Ini sudah jam 11.00 malam Dinda, tidak baik mandi di malam hari seperti ini," kata Doni.


"Iya Yah, kebetulan tadi Dinda lembur jadi ngerasa gerah. Makanya Dinda mandi," jawab Dinda beralasan.


Meskipun ayahnya tahu jika ia sudah melakukan hubungan dengan Nathan waktu itu, tetapi Dinda tidak mau jika ayahnya tahu jika ia mengulanginya lagi. Karena ayahnya berharap itu adalah pertama dan terakhir kalinya Dinda melakukannya. Sebagai seorang ayah, Doni sangat tidak rela melihat anaknya sendiri menjual diri kepada pria kaya demi kepentingan keluarganya, apalagi itu semua sama sekali bukanlah kesalahan yang ia lakukan, melainkan karena ia dijebak oleh rekannya. Tetapi apalah daya Doni yang hanya orang miskin sehingga ucapannya sama sekali tidak didengar oleh atasannya.


"Iya Ayah, Dinda sebentar aja kok. Hanya membersihkan diri," ucap Dinda.


"Ya sudah, tapi jangan lama-lama ya. Setelah itu kamu langsung istirahat," kata Doni.


"Iya yah," jawab Dinda.


Lalu Doni pun segera saja masuk ke dalam kamar, sedangkan Dinda melanjutkan mandinya kembali.


"Ada apa Yah?" Tanya Santi yang melihat raut wajah suaminya itu sedikit berbeda.


"Dinda mandi malam-malam? Tumben," ucap Santi.


"Iya, katanya lembur jadi gerah," jawab Doni.


"Oh … seperti itu. Ya sudah sekarang kita tidur saja, sudah malam," ajak Santi.


"Iya Bu," jawab Doni.


*****

__ADS_1


Karena rasa kekecewaannya terhadap sang kekasih, Clara pun pergi ke suatu klub malam untuk menghibur dirinya. Ia memesan begitu banyak minuman beralkohol sampai dirinya mabuk berat. Hingga pukul 02.00 dini hari, klub tersebut akan ditutup, pelayan bingung melihat Clara yang saat itu sudah mabuk berat bahkan sudah tidak sadarkan diri. Hanya sesekali terdengar suaranya mengigau.


Pelayan tersebut pun bingung apa yang harus dilakukannya sekarang. Tiba-tiba muncul ide karena saat itu ia melihat ponsel Clara yang tidak dikunci. Ia pun segera saja mengambil ponsel Clara dan melihat panggilan terakhir yaitu nomor Nathan. Pelayan tersebut segera saja menghubungi Nathan.


"Halo untuk apa kau meneleponku malam-malam seperti ini, menganggu saja!" bentak Nathan dari seberang telepon.


Kebetulan ia memang tidak dapat tidur karena terus memikirkan Dinda.


"Halo, apa ini Tuan Nathan?" ucap pelayan klub.


"Iya benar, siapa kau, kenapa ponsel Clara ada padamu?" Tanya Nathan pula.


"Tuan, aku pelayan di klub X. Saat ini ada seorang wanita yang mempunyai ponsel ini sedang mabuk berat dan tidak sadarkan diri. Apakah Tuan keluarganya, bisakah Anda menjemput Nona ini? Karena klub ini akan segera ditutup," ucap pelayan tersebut.


"Dasar menyusahkan, bisa-bisanya kau ada di sana sampai mabuk parah sendirian," umpat Nathan.


"Ya sudah aku akan segera ke sana," ucap Nathan lalu memutuskan panggilan telepon begitu saja.


Sebenarnya ia sangat malas untuk mengurusi Clara, apalagi untuk soal yang seperti ini. Tetapi bagaimanapun juga, Clara adalah istrinya. Jika terjadi sesuatu dengan Clara, sudah pasti orang tuanya ataupun orang tua Clara akan menyalahkannya. Akhirnya dengan sangat terpaksa ia pun melajukan mobilnya menuju ke klub untuk menjemput Clara.


Tidak Berapa lama kemudian, Nathan pun telah tiba di klub X. Ia langsung saja menghampiri Clara yang saat itu sedang menyandarkan kepalanya di atas meja sambil menggerutu yang tidak jelas.


"Heh Clara, bangun kau!" teriak Nathan sembari mengguncang tubuh Clara.


"Duh … ada apa sih Bryan," ucap Clara sembari memandang wajah Nathan lalu memejamkan matanya kembali.


"Heh kau ini, bisa-bisanya kau menyusahkanku. Ayo kita pulang," ajak Nathan yang langsung saja memapah istrinya itu dan membawanya ke mobil.

__ADS_1


"Bryan, kenapa kau tega sekali menyakitiku Bryan, padahal aku sudah menyerahkan semuanya untukmu. Bahkan aku tidak pernah melayani suamiku hanya demi kau Bryan," oceh Clara dalam tidak sadarnya.


...……… Bersambung ………...


__ADS_2