Rahim Penebus Hutang

Rahim Penebus Hutang
Merasa Kagum


__ADS_3

"Dinda kamu di sini rupanya? Aku mencari kamu yang tiba-tiba menghilang begitu saja," kata Jeny yang menghampiri mereka.


Memang tadi Dinda tidak sempat memberitahu Jeny saat akan pergi, ia mendadak pergi saat melihat Cynthia sedang kesusahan dan segera menolongnya. Sedangkan Jeny saat itu sedang sibuk memilih baju di toko tersebut hingga baru menyadari jika sahabatnya sudah tidak ada di sekitarnya.


"Oh … jadi Dinda di sini lagi belanja sama temannya ya?" Tanya Cynthia.


Jeny menatap Dinda bingung seolah minta diberitahu siapa ibu paruh baya itu.


"Iya Tante, aku lagi belanja sama sahabat aku ini. Kenalkan ini sahabat aku, namanya Jeny Tan," ucap Dinda.


"Hai Tante, aku Jeny sahabatnya Dinda," ucap Jeny.


"Hai Jen, saya Tante Cynthia. "Tante sama Dinda baru saja kenalan tadi, Dinda menolong Tante karena Tante sedang kesusahan bawa barang-barang ini dan sempat terjatuh malah. Tuh Dinda bantu bawa lagi. Tante salut deh sama sahabat kamu," pujinya yang membuat Dinda tersenyum malu dan wajahnya memerah seperti kepiting rebus.


"Oh … gitu, kalau Dinda memang seperti itu Tante, dia tidak pernah pandang bulu untuk menolong siapapun. Baik udah dikenal maupun belum dikenal. Maka dari itu aku pun juga bangga punya sahabat seperti Dinda Tante," ungkap Jeny yang membuat Dinda merasa semakin malu.


"Tante, Jeny, sudah dong jangan berlebihan seperti itu memujinya. Apalagi Tante, Tante kan belum terlalu kenal sama Dinda, kita baru saja kenal," kata Dinda.


"Walaupun baru kenal, tapi Tante sudah bisa menilai sikap kamu dari awal dan Tante percaya kalau kamu benar-benar gadis yang baik. Pasti sahabat kamu juga gadis yang baik," kata Cynthia.


"Iya dong Tante, aku juga baik dong," kata Jeny menyombongkan diri dan mereka pun bertiga sama-sama tersenyum bahagia.


"Iya, Tante percaya kok. Oh iya, kalian berdua udah pada makan belum?" Tanya Cynthia.


"Kebetulan belum Tante, soalnya kita tadi belanja dulu. Kita belum lama sampai," jawab Jeny.


"Iya Tante, kita memang baru sampai," ucap Dinda pula.


"Oh … bagus dong kalau gitu, kalian mau nggak menemani Tante makan? Kebetulan Tante di sini hanya sendirian dan belum makan," ajak Cynthia.


"Boleh Tante, kita juga belum makan," jawab Jeny yang langsung saja menyetujuinya.

__ADS_1


Tetapi Dinda tiba-tiba mencolek pinggang Jeny dan berbisik di telinganya, "Jen apa-apaan sih kamu, malu dong."


"Ya nggak apa-apa lah sekali-sekali, Tante ini kan orang kaya. Pasti kita akan ditraktir," bisik Jeny pula.


"Loh kenapa kalian bisik-bisik gitu, jadi kalian mau kan temenin Tante? Tante sendirian loh ke sini, Tante juga lapar belum makan siang," kata Cynthia dengan memasang wajah memelas berharap Dinda akan menerima ajakannya.


"Udah Din, ayo, kasihan loh Tante Cynthia. Memang kamu tega membiarkan Tante Cynthia kelaparan," pujuk Jeny.


"Ya udah deh, yuk. Aku mau Tante," Jawab Dinda yang akhirnya menyetujuinya.


Kini ketiga wanita cantik itu pun menuju ke sebuah restoran yang ada di dalam mall tersebut untuk menikmati makan siang bersama.


"Kalian pesan aja ya, pesan yang banyak, pokoknya semua ini Tante yang bayar," ucap Cynthia saat mereka sudah berada di dalam restauran.


"Ini beneran Tante?" Tanya Jeny.


"Ya benar dong," jawab Cynthia.


Memang Jeny itu selalu bersikap blak-blakan tidak tahu malu sangat berbeda sekali degan Dinda. Bahkan Dinda sendiri terkadang suka di buat malu karena kelakuan sahabatnya itu. Akan tetapi walaupun seperti itu, Jeny merupakan sahabat yang sangat baik dan sangat perhatian terhadapnya, sehingga membuat Dinda begitu menyayangi Jeny.


"Kalian berdua mau pulang kemana? Mau sekalian sama Tante nggak?" Tawar Cynthia.


"Oh nggak usah Tante, makasih ya. Karena kita berdua masih ada urusan lain. Jadi Tante duluan saja," kata Dinda yang kali ini menjawabnya. Ia tahu jika Jeny yang menjawab sudah pasti tidak akan menolaknya.


Jeny pun kali ini hanya diam saja, ia mengikuti apa kata sahabatnya itu.


"Oh begitu, terimakasih banyak ya kalian sudah bantuin Tante. Lain kali kalian harus mampir ke rumah Tante, alamat rumah Tante ada di jalan xxx," ucap Cynthia.


"Sama-sama Tante, terimakasih juga ya Tante sudah traktir kita makan. Kita nanti pasti akan mampir ke rumah Tante," ucap Dinda.


"Tante tunggu ya," kata Cynthia.

__ADS_1


Lalu Cynthia pun segera saja masuk ke dalam mobilnya dan melaju hingga ia lenyap dari pandangan mata Dinda dan Jeny.


"Memangnya kita mau kemana habis ini, ada keperluan apa?" Tanya Dinda.


"Ya pulanglah, urusan tidur. Mau ke mana lagi coba," jawab Dinda Ketus.


"Lah bukannya kamu bilang tadi kita masih ada urusan ya? Aku pikir beneran," kata Jeny.


"Ya enggaklah, kalau aku nggak jawab seperti itu tadi, sudah pasti kamu akan menyetujuinya kan," ujar Dinda.


"Hehehe tahu aja kamu Din. Ya udah yuk kalau begitu kita pulang, udah kenyang banget nih aku. Jarang-jarang kan kita makan enak seperti tadi, bahkan makanan enak di restauran tempat kita bekerja saja hanya bisa kita lihat saja kan," kata Jeny.


Dinda dan Jeny pun segera saja memesan taksi online dan pulang ke rumah mereka masing-masing, karena hari ini mereka akan bekerja pada shift sore.


*****


Sebulan pun telah berlalu Dinda dan Nathan terkadang suka bertemu hanya untuk sekedar bercerita atau menanyakan bagaimana kondisi Dinda, apakah Dinda sudah mengandung anaknya atau belum? Tapi Dinda sama sekali belum merasakan tanda-tanda bahwa dirinya sedang hamil. Bahkan ia juga sudah mencoba memeriksanya menggunakan alat tes kehamilan, tetapi hasilnya nihil.


Hingga suatu malam, Nathan mengajak Dinda bertemu lagi di suatu kamar hotel tempat dimana mereka bertukar peluh untuk pertama kalinya pada sebulan yang lalu. Dinda pun segera saja menemui Nathan sesuai jam yang telah disepakati.


"Apakah malam ini kita akan melakukannya lagi?" Tanya Dinda.


"Apa kau mau?" Tanya Nathan pula.


"Ya, sesuai kesepakatan jika aku belum mengandung anakmu, maka aku akan tetap melayanimu sampai aku hamil," jawab Dinda.


"Kau benar-benar tidak keberatan?" Tanya Nathan.


"Jika aku keberatan juga tidak ada gunanya kan Tuan, aku sudah menyetujuinya dan menandatangani surat kontrak itu. Lagipula aku juga sudah pernah tidur bersamamu dan melepas kesucianku untukmu," kata Dinda yang entah mengapa membuat Nathan tersentuh.


Bukan hanya Dinda, bahkan Nathan sendiri baru pertama kali tidur bersama wanita, yaitu Dinda. Nathan juga tak bisa memungkiri bahwa akhir-akhir ini ia selalu memikirkan Dinda, Dinda yang ada di dalam otaknya, ia rindu akan belaian kasih sayang dari Dinda. Tapi Siapa lah dia? Nathan sadar bahwa ia hanyalah seorang pria yang beristri yang haus akan kasih sayang dan telah mendapatkannya itu dari wanita lain bukan istrinya.

__ADS_1


Akhirnya pada malam itu pun Dinda dan Nathan melakukan hubungan yang seharusnya dilakukan oleh pasangan suami istri seperti yang sudah mereka lakukan sebelumnya.


...……… Bersambung ………...


__ADS_2