
Setelah makanan selesai dibuat, Dinda pun segera saja menuju ke tempat dimana pelanggan yang dimaksud oleh Jeny tadi. Hatinya sedikit dag dig dug, ia tidak tahu siapakah pelanggan yang mau bertemu dengannya itu.
"Permisi Tuan, makanan Anda sudah siap," ucap Dinda sembari mengintip pria yang saat itu sedang menunduk dan fokus di depan laptopnya.
Saat pria itu menoleh, betapa terkejutnya Dinda ternyata pria tersebut adalah Steven. Pria yang pernah menjadi seniornya di kampus. tetapi dalam waktu setahun dia sudah lulus kuliah dan bekerja di luar Negeri. Tetapi kini Steven adalah seorang CEO di salah satu perusahaan ternama di Jakarta.
"Hai Din," sapa Steven seraya menampilkan senyum manisnya.
"Ini beneran Kak Steven?" Tanya Dinda yang tak mempercayai apa yang dilihatnya sembari menaruh makanan ke atas meja di depannya.
"Iya ini aku Steven. Ternyata kamu masih ingat sana aku," jawab Steven.
"Iya Kak masih," ucap Dinda tersenyum.
Bagaimana mungkin Dinda melupakan senior tampan yang saat itu pernah menolongnya.
"Kak silahkan dinikmati hidangannya, kalau nanti ada yang kurang, Kakak bisa kasih tahu aku," kata Dinda.
"Tentu saja ada yang kurang," kata Steven.
Dinda megngernyitkan keningnya, bagaimana bisa Steven mengatakan jika makanan itu ada yang kurang, sedangkan dia sama sekali belum menyentuhnya. Sementara Steven tersenyum melihat Dinda yang tampak bingung itu.
"Kamu kenapa jadi melamun di situ? Maksud aku bukan makanan ini yang kurang, tapi di sini ada yang kurang. Kamu bisa nggak duduk dulu menemani aku makan?" Tanya Steven.
"Tapi Kak, aku sedang bekerja. Aku takut kalau nanti Manager melihatnya, aku akan dimarahi," kata Dinda.
"Sebentar saja. Kalau Manager kamu itu marah, aku yang aku tanggung jawab," kata Steven.
Karena merasa tidak enak dengan Kakak seniornya itu, Dinda pun segera saja duduk di seberang Steven untuk menemaninya.
"Kamu apa kabar Din?" Tanya Steven.
__ADS_1
"Aku baik Kak. Kak, sejak kapan kamu ada di Indonesia? Karena yang aku tahu, setelah lulus kuliah kamu pindah ke luar Negeri," Kata Dinda.
"Wah … ternyata kamu mencari tahu informasi tentangku juga ya Din," kata Steven yang merasa bangga.
"Bukan seperti itu Kak, kebetulan aku pernah mendengarnya saja dari anak-anak kampus," jawab Dinda. Ya, Steven memang merupakan kakak Senior idola para wanita di kampus, sehingga dengan cepat berita Steven itu pun tersebar dan menjadi perbincangan para wanita di kampusnya itu.
Tanpa Dinda sadari, ada seseorang yang jaraknya tidak jauh sedang memperhatikan mereka. Akan tetapi tentu saja Dinda tidak mengenali orang tersebut, karena ia sedikit menyamar agar identitasnya tidak diketahui. Pria misterius itu segera saja keluar dari restauran setelah membayar pesanan yang belum disentuhnya sama sekali. Ia merasa jengkel melihat kedekatan Dinda bersama pria lain. Lalu ia pun segera saja pergi meninggalkan restauran.
*****
Saat Nathan sedang berada di perjalanan, ponselnya berdering dan ada panggilan masuk dari Clara. Ia pun segera saja menjawab telepon tersebut.
"Ada apa? Tumben sekali kau meneleponku. Apa ada hal yang sangat penting atau ada sesuatu yang kau inginkan?" Tanya Nathan. Karena memang tidak biasanya Clara meneleponnya jika tidak ada hal yang penting.
"Ya kau benar sekali, kau memang suamiku yang sangat mengerti," kata Clara.
"Tidak perlu berbasa-basi, apa maumu?" Tanya Nathan ketus.
"Kenapa tidak kau langsung saja yang menyampaikannya," hardik Nathan.
"Aku tidak tega Nathan, bagaimanapun juga kau kan anaknya, pasti kau akan lebih pandai membujuk seperti biasanya," kata Clara.
"Kau saja tidak tega, bagaimana denganku? Aku lebih tidak tega lagi menolak keinginan Mama. Apa kau sama sekali tak bisa meluangkan waktu sebentar saja untuk bertemu dengan orang tuaku, Papa juga menanyakan ke Keberadaanmu. Kau boleh bersikap semaumu padaku, tapi tidak kepada orang tuaku Clara," bentak Nathan.
Ia memang selalu saja dibuat uring-uringan saat menghadapi sikap Clara yang berstatus sebagai istrinya tetapi sifatnya 100% berbeda jauh dari yang namanya seorang Istri.
"Aku benar-benar tidak bisa Nathan, karena ini juga penting. Kalau aku membatalkan pemotretan malam ini, itu artinya aku menolak kesempatan besar," kata Clara.
"Terserah kau saja," hardik Nathan lalu mematikan ponselnya.
Nathan sama sekali tak habis pikir dengan Clara, bagaimana bisa ia sebagai menantu yang sangat diidam-idamkan oleh ibunya ternyata bersifat berkebalikan. Clara sama sekali tak peduli dengan mamanya, bahkan saat mengetahui mamanya itu ingin memiliki seorang cucu, ia malah meminta Nathan berjuang sendiri untuk mendapatkannya. Nathan benar-benar sudah tidak tahan lagi. Sebenarnya sudah lama ia ingin menyampaikan tentang sikap Clara itu kepada orang tuanya, tetapi ia takut akan membuat ibunya bersedih.
__ADS_1
"Akh … !" Teriak Nathan sembari memukul setir mobilnya. Pikirannya saat ini benar-benar kalut, ia juga terus saja memikirkan Dinda di kala itu, tetapi Dinda sama sekali tidak mau menemuinya. Dengan sangat terpaksa Nathan pun pergi ke rumah orang tua Dinda, karena menurutnya hanya ini satu-satunya cara agar Dinda mau menemuinya.
*****
Dinda baru saja tiba di rumah setelah lelahnya bekerja, ia masuk ke dalam rumahnya dan sangat terkejut melihat Nathan yang sudah duduk di dalam rumah bersama kedua orang tuanya.
"Tuan Nathan, untuk apa kau datang ke sini?" Tanya Dinda.
"Dinda, jaga sikapmu itu. Bagaimanapun juga kamu belum hamil anak Tuan Nathan, jadi sudah pasti kalian akan tetap berhubungan sampai kamu benar-benar hamil," kata Santi.
"Santi, kamu tidak perlu membentak Dinda," ucap Doni.
"Tapi Bu, hasil kehamilan itu tidak bisa dilihat dalam waktu tiga hari, kita harus menunggu supaya tahu aku hamil atau tidak. Sebelum masa itu apa tidak bisa Tuan Nathan tidak menggangguku dulu," ucap Dinda.
"Kamu-" ucapan Santi terhenti karena Nathan memotongnya.
"Heum Paman, Bibi, bisa aku bicara berdua dengan Dinda?" Tanya Nathan.
Kedua orang tua Dinda yang mengerti akan hal itu pun segera saja pergi. Kebetulan saat ini mereka berdua sedang ada urusan lain. Lalu Dinda pun menghampiri Nathan dan duduk di kursi seberangnya.
"Katakan ada apa kau datang ke sini?" Tanya Dinda.
"Aku hanya ingin bertemu denganmu. Kenapa kau menghindariku?" Tanya Nathan.
"Memangnya untuk apa lagi kita bertemu? Bukankah yang kau inginkan sudah kau dapatkan," kata Dinda.
"Apa maksudmu? Apa kau benar-benar berpikir jika aku hanya menginginkan tubuhmu? Kau tahu kan itu semua semata-mata hanya karena aku ingin memiliki anak dari rahimmu, dan kau belum memberikannya," kata Nathan.
"Aku sudah memberikan tubuhku padamu, memang saat ini belum ada hasilnya, tapi aku yakin kalau aku akan hamil," kesal Dinda.
Dinda beranjak dari tempat duduknya dan hendak pergi, tetapi dengan reflek Nathan menarik tangannya hingga ia terjatuh tepat di atas pangkuan Nathan dengan mata mereka yang saling bertatapan.
__ADS_1
...……… Bersambung ………...