
Sudahlah. Lebih baik kau siapkan saja air hangat, aku gerah mau mandi," kata Nathan.
"Tidak bisa, kau juga biasanya menyiapkannya sendiri kan, aku ini lagi hamil. Aku capek," kata Clara, lalu ia pun pergi meninggalkan Nathan.
Nathan mengepal erat kedua tangannya, meskipun saat ini ia berusaha untuk fokus dengan rumah tangganya, tetapi Clara sama sekali tidak berubah, ia tetap saja tidak pernah melakukan tugasnya sebagai seorang istri yang membuat Nathan begitu sangat tersiksa. Seandainya bukan karena saat ini Clara sudah mengandung, sudah pasti Nathan akan meninggalkan istri yang tidak tahu diri itu.
Clara menggerutu di dalam kamarnya, ia begitu kesal karena Nathan sama sekali tidak pernah mau membuka hatinya, padahal ia sendiri saat ini sudah mulai merasakan mencintai Nathan pria yang menurutnya itu sangat sempurna. Ia juga sempat menyesal karena dulu pernah selingkuh padahal Nathan adalah pria yang tidak memiliki kekurangan apapun, hanya saja Clara yang lambat menyadarinya dan menurutnya kali ini adalah kesempatannya untuk memiliki Nathan seutuhnya. Terlebih lagi pria itu merupakan suaminya. Untungnya ia tidak terlambat untuk menendang wanita yang sudah hadir di dalam rumah tangganya karena ulahnya sendiri.
"Aku tahu Nathan kalau kau masih saja memikirkan wanita itu, kau tidak hanya menjadikannya sebagai penebus hutang dengan kau membeli rahimnya, tetapi kau juga telah mencintainya kan? Kau pikir aku bodoh. Tapi tidak semudah itu Nathan, kau salah jika kau berani bermain-main denganku," gumam Clara dengan tatapan tajam.
Meskipun mereka berdua sudah pernah tidur bersama, tetapi tetap saja Nathan tidak menginginkan untuk mereka tidur di satu kamar. Kecuali ada orang tua mereka yang datang berkunjung ke apartemen mereka, barulah mereka akan berpura-pura untuk tidur bersama, itupun tidak di atas kasur yang sama tentunya. Nathan lebih memilih untuk tidur di bawah ataupun di sofa. Ia masih sangat berharap Dinda akan kembali dan suatu saat nanti akan bisa bersama dengannya meskipun itu terasa sangat mustahil.
"Dinda kau ada dimana? Aku begitu membutuhkanmu Din, aku merindukanmu. Meskipun sudah tiga bulan kau pergi meninggalkanku, tetapi aku tidak bisa melupakanmu Dinda. Aku begitu mencintaimu, aku tidak akan menyerah sampai aku menemukanmu dan tahu bagaimana kabarmu saat ini. Kemana aku harus mencarimu Dinda? Tolong kasih aku petunjuk, rasanya aku hampir gila karena kau meninggalkanku. Aku benar-benar mencintaimu, aku berharap suatu saat nanti aku dapat bertemu denganmu lagi dan kita akan bersama selamanya," ucap Nathan di dalam doanya sebelum tidur.
*****
Keesokan harinya, Frans baru tiba di Indonesia setelah melewati beberapa jam di perjalanan dari Negara X, ia langsung saja menuju ke perusahaannya di kota Jakarta. Setelah mendengar kabar bahwa perusahaannya di Indonesia yang saat ini yang sedang dikelola oleh anaknya itu berantakan, membuat Frans menjadi murka dan langsung saja menyidang anak dan juga asistennya itu.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan Nathan? Mengurus perusahaan seperti ini saja kau tidak bejus. Kau juga Dimas, kenapa kau sama sekali tidak bisa mengatur Nathan, seharusnya sebagai asisten dan juga sahabatnya kau bisa menuntunnya untuk ke jalan yang benar, bukannya malah mendukung semua yang dilakukannya meskipun kau tahu itu salah. Kenapa perusahaan bisa hancur berantakan, saham menurun drastis, investor kabur, apa yang sebenarnya sedang terjadi? Kalian jelaskan padaku!" Pinta Frans dengan sangat murka.
"Ma-maaf Tuan," ucap Dimas ketakutan. Karena kali ini ia yang terkena imbasnya gara-gara ulah Tuannya.
"Pa, sudahlah. Kenapa juga Papa harus marah-marah, dengarkan aku dulu Pa. Aku sama sekali tidak melakukan apapun, aku sudah melakukan semuanya sesuai prosedur yang Papa perintahkan. Lagipula selama ini juga baik-baik saja kan? Aku yakin Pa kalau ada seseorang yang memang sengaja ingin menghancurkan perusahaan kita," kata Nathan mencoba membela dirinya.
"Ya tapi kau sama sekali tidak bisa menemukan siapa orang itu, bahkan saat ada yang mengkorupsi uang perusahaan kita, kau bilang sudah membereskannya dan memecatnya. Nyatanya apa yang terjadi, terulang kembali. Kau itu salah Nathan, kau sudah menangkap orang yang salah dan Kau membiarkan pelaku aslinya masih berkeliaran di perusahaan ini," kata Frans yang membuat Nathan terkejut dan membelalakkan matanya.
"Bagaimana bisa Papa mengetahui itu semua?" Tanya Nathan.
"Itulah kau yang terlalu bodoh, kau hanya memikirkan urusan pribadimu sendiri tanpa mementingkan perusahaan," tuding Frans.
"Lalu apa yang kau lakukan? Papa yang berada di luar Negeri saja bisa mencari tahu tentang semuanya, apa kau tahu jika bukan Pak Doni lah pelaku yang sudah mengkorupsi uang perusahaan, tapi ada orang lain yang saat ini sudah dicurigai dan masih Papa selidiki," kata Frans.
"Apa itu benar Pa? Jadi Pak Doni tidak bersalah," ucap Nathan, tubuhnya seakan bergetar karena merasa begitu bersalah.
Ia teringat dengan semua perlakuannya waktu itu. Bisa-bisanya ia menyalahkan Doni sampai-sampai waktu itu ia menyiksa keluarganya, bahkan Dinda sampai menjadi korbannya dengan menjual rahimnya itu kepadanya. Akan tetapi kalau tidak ada kejadian itu, mana mungkin Nathan bisa kenal dengan Dinda dan mencintai wanita itu.
__ADS_1
"Cepat bereskan masalah ini atau kau jangan pernah lagi mengurus perusahaan. Lebih baik kau cari saja pekerjaan sendiri tanpa bantuan orang tuamu," ancam Frans lalu pergi meninggalkan Nathan dan Dimas.
Nathan hanya terdiam saat ini, bukan perusahaan yang ia pikirkan tetapi tentang kesalahannya kepada keluarga Dinda. Terlebih lagi terhadap Doni yang sudah ia pecat secara tidak hormat dan malah menyalahkannya langsung tanpa tahu kejadian yang sebenarnya, padahal waktu itu Doni sudah sempat menjelaskan tetapi ia sama sekali tidak mempercayainya.
Saat itu Frans telah meninggalkan bukti-bukti tentang kecurangan orang lain dan menyatakan bahwa Doni tidak bersalah. Nathan dan Dimas dengan seksama melihat berkas tersebut.
*****
Prang …
Sebuah gelas tidak sengaja terjatuh saat Dinda sedang membersihkan meja.
"Dinda kamu kenapa? Sepertinya kamu terlihat sedang kurang enak badan, lebih baik kamu istirahat saja ya," kata Gio yang merupakan senior di restoran Naya bekerja.
Ya Naya memang bekerja di sebuah restoran berkat rekomendasi dari Lily sahabatnya. Lily sendiri sudah sangat lama bekerja di restoran tersebut.
"Kak Gio, aku minta maaf ya. Kepalaku memang sedikit agak pusing. Tapi aku nggak apa-apa kok Kak," ucap Dinda.
__ADS_1
"Beneran? Kalau kamu nggak enak badan lebih baik kamu istirahat saja, pekerjaan kamu ini biar aku yang lanjutkan," kata Gio yang merasa sangat khawatir melihat Dinda. Ia memang sejak pertama kali bertemu Dinda sudah menaruh hati kepadanya, karena selain cantik Dinda merupakan wanita yang sangat baik.
...……… Bersambung ………...