
Nathan sangat terkejut melihat seseorang yang menolongnya saat itu adalah wanita yang sangat dirindukannya dan dicarinya selama ini.
"Dinda? Dinda akhirnya aku menemukanmu. Ternyata benar kamu ada di kota ini," Ucap Nathan lalu memeluk Dinda dengan sangat erat.
Sedangkan Dinda sangat syok melihatnya. Kenapa Nathan bisa berada di sini? Bahkan tidak sengaja ia yang telah menolong Nathan tadi. Akan tetapi belum sempat Dinda mendapat jawaban tentang itu semua, tiba-tiba perutnya terasa sangat keram, mungkin karena benturan keras saat ia menolong Nathan. Dilihatnya juga ada darah yang mengalir yang keluar dari selangka****nya itu dan membasahi kakinya. Tentu saja Nathan dan Dinda sama-sama terkejut melihatnya.
"Dinda, kamu kenapa? Apa yang terjadi padamu?" Tanya Nathan sembari memegang pundak Dinda.
"Lepaskan! Kamu tidak perlu tahu apa yang terjadi padaku," kata Dinda. Ia segera saja bangkit ingin pergi, akan tetapi ternyata kondisinya saat ini sedang tidak baik-baik saja, Dinda merasakan kepalanya begitu sakit diiringi sakit perut yang luar biasa.
"Ahk … Dinda memekik sehingga membuat Nathan sangat terkejut.
Nathan pun dengan cepat menggendong tubuh Dinda membawanya ke dalam mobil tanpa peduli Dinda yang terus memberontak meminta untuk dilepaskan.
"Dimas cepat bawa Dinda ke rumah sakit," kata Nathan.
Mereka pun langsung saja membawa Dinda ke rumah sakit. Nathan membaringkan Dinda di kursi belakang dan berada di pangkuannya.
"Dinda, kamu bersabar ya. Kamu tahan, aku yakin kamu akan baik-baik saja. Kita akan segera sampai di rumah sakit," ucap Nathan.
"Sakit … perut dan kepalaku sakit sekali Nathan, aku tidak tahan," teriak Dinda.
Nathan sangat tidak tega melihat wanitanya itu kesakitan, kalau boleh ia meminta biarlah ia merasakan sakitnya, bukan Dinda.
"Sayang, bersabarlah. Sebentar lagi kita akan sampai ke rumah sakit, kamu akan segera diobati," ucap Nathan dengan wajah cemasnya.
"Dimas kau bisa lebih cepat tidak!" Bentak Nathan, sehingga Dimas pun menambah laju kecepatan mobilnya itu.
*****
Saat di rumah sakit, Nathan yang dilarang untuk masuk tetap saja memaksakan dirinya untuk menemani sang kekasih. Untung saja ada Dimas saat itu yang berhasil mencegah Nathan, ia pun mengalah dan menunggu Dinda di depan ruang IGD, sehingga Dinda bisa segera untuk ditangani. Nathan dengan sabar menunggu hasil pemeriksaan dengan perasaan yang tidak tenang.
__ADS_1
Krek …
Suara pintu terbuka, dokter yang tadi menangani Dinda pun keluar dari ruangan tersebut. Langsung saja Nathan dan Dimas menghampiri dokter dan menanyakan kabar Dinda.
"Tuan tenang saja, untungnya Nona Dinda cepat dibawa ke sini, jika tidak kemungkinan bayi yang sedang dikandungnya itu bisa saja tidak selamat," kata dokter.
"Apa bayi Dok? Tanya Nathan yang begitu syok pendengarnya, Sama halnya dengan Dimas.
"Iya bayi, apakah Tuan suami dari Nona Dinda?" Tanya dokter.
"Iya Dok saya suaminya," jawab Nathan tanpa berpikir apapun lagi.
"Ya untungnya janinnya masih bisa bertahan karena ibunya juga sangat kuat. Tetapi saya sarankan Anda harus benar-benar menjaga Nona Dinda Tuan. Jangan sampai kejadian seperti terulang kembali," kata dokter.
"Baik Dok, apa saya boleh menemuinya sekarang?" Tanya Nathan.
"Tentu saja boleh, silahkan Tuan!" Jawab dokter.
Tanpa mengucapkan terimakasih Nathan segera berlari mendekati Dinda. Saat itu dilihatnya Dinda yang sedang menangis tersedu-sedu, entah apa yang membuatnya saat ini bersedih. Padahal kandungannya baik-baik saja, atau mungkin karena pertemuannya dengan Nathan setelah tiga bulan tidak bertemu.
Akan tetapi, tiba-tiba saja ia melepaskan pelukan tersebut karena teringat kejadian tiga bulan yang lalu tentang peristiwa yang menyakiti hatinya hingga ia memutuskan untuk pergi.
"Dinda kenapa kamu mendorong ku seperti itu?" Tanya Nathan
"Tidak, ini tidak boleh terjadi Nathan. Kamu dan istrimu akan memiliki anak, kamu tidak boleh ada di sini menemuiku," kata Dinda.
"Tapi kamu juga hamil anakku kan," kata Nathan sembari menatap Dinda.
"Ya aku memang hamil, tapi ini bukan anakmu," kata Dinda.
"Lalu kalau bukan anakku, anak siapa? Aku tidak percaya, pasti kamu mengandung anakku kan? Tolong jujur padaku Dinda. Kenapa kamu harus menyembunyikan ini? Kenapa kamu pergi meninggalkanku padahal kamu hamil anakku," ucap Nathan yang penuh pertanyaan.
__ADS_1
"Sudah aku katakan jika ini bukan anakmu, lagipula kalau ini adalah anakmu apakah kamu akan memilih aku daripada istrimu itu? Tidak usah dijawab, sudah pasti kamu akan memilihnya, aku yakin. Tidak akan ada yang merestui hubungan kita, apalagi kalau mereka sampai tahu kita melakukan hubungan terlarang. Nathan, aku tegaskan padamu jika hubungan kita sudah berakhir, hubungan yang seharusnya tidak pernah terjadi. Jangan pernah menemui lagi dan aku katakan lagi padamu jika anak yang aku kandung bukan anakmu," ucap Dinda.
"Sayang ,kamu tidak apa-apa kan?" Tanya seorang pria yang saat itu masuk ke ruangan IGD.
"Kak Gio, akhirnya Kakak datang juga. Aku mau pulang Kak," kata Dinda.
Nathan sangat terkejut dan menatap pria tersebut yang telah lancang memanggil kekasihnya itu dengan mesra.
"Siapa kau? Kenapa kau lancang sekali memanggil kekasihku dengan sebutan Sayang." Nathan memukul Gio karena merasa sangat marah.
"Stop Nathan!" teriak Dinda.
"Tuan Nathan ini di rumah sakit," ucap Dimas yang mencoba untuk menenangkan tuannya itu.
Sedangkan Gio hanya tersenyum sinis sembari memegang luka kecil di sudut bibirnya itu akibat pukulan Nathan.
"Kak Gio Kakak tidak apa-apa kan?" Tanya Dinda yang terlihat begitu cemas sehingga membuat Nathan semakin murka, tetapi ia hanya dapat menahan emosinya itu.
"Aku baik-baik saja Sayang, sekarang juga kita akan pulang," kata Gio.
"Iya Kak. Oh iya Kak ini Nathan dia yang tadi membawaku ke rumah sakit," kata Dinda.
"Oh … ," ucap Gio.
"Nathan, Kak Gio adalah suamiku. Anak yang aku kandung ini adalah anak darinya," kata Dinda.
Bukan hanya Nathan, Gio juga sangat syok mendengar ucapan Dinda itu. Gio sama sekali tidak mengerti akan ucapan Dinda, akan tetapi tujuannya saat ini hanyalah ingin membantu wanita itu sehingga ia pun mengikuti apa yang Dinda lakukan.
"Ya itu benar, aku Gio dan aku adalah suami Dinda. Terimakasih karena kau telah membawa istriku kesini," ucap Gio.
"Tidak, aku tidak percaya. Kalian berdua pasti bersandiwara kan," bantah Nathan menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Untuk apa aku harus bersandiwara. Sudah aku katakan jika aku sudah menikah dan Kak Gio ini adalah ayah dari anak yang aku kandung. Untuk Apa lagi kamu mencariku Nathan, kamu sudah mempunyai istri dan kalian akan segera memiliki anak. Bukankah kita sama," kata Dinda yang membuat Nathan terdiam, ia tidak mempercayai ini semua, ia begitu menyayangi wanita ini sehingga tidak rela melihatnya dengan pria lain.
...……… Bersambung ………...