
Setelah mengurus administrasi dan diperbolehkan pulang oleh dokter, Gio pun segera saja membawa Dinda pulang. Sedangkan Nathan saat ini hanya terdiam menatap punggung kedua pasangan itu menjauh dari pandangannya. Ia tak bisa terima, akan tetapi ia juga tak mungkin mengganggu kehidupan Dinda saat ini. Dalam hati kecilnya masih menyangkal jika Dinda dan Gio mempunyai hubungan, karena ia masih sangat berharap bisa hidup bersama dengan wanita yang dicintainya. Nathan mencoba untuk menerimanya, meskipun ia tahu itu akan sangat sulit.
*****
Kak aku minta maaf ya, aku yakin pasti kamu bingung kan dengan situasi saat ini. Tapi aku mau mengucapkan terima kasih karena disaat aku meminta Kakak untuk datang dan berpura-pura menjadi kekasihku, Kakak dengan cepat datang menjemputku di waktu yang sangat tepat," ucap Dinda saat mereka dalam perjalanan.
Gio menghembuskan nafas lega, di saat tadi situasinya terasa sangat tegang. "Din, apa bisa kamu jelaskan padaku apa maksud dari ini semua? Kenapa kamu mengatakan kalau kamu hamil dan kamu menjadikanku suami pura-pura? Sebenarnya ini ada apa?" Tanya Gio yang sejak tadi memendam rasa penasaran.
"Kak, aku akan menceritakan semuanya kepada Kakak. Tapi kamu janji ya jangan bilang ke siapapun. Karena sudah terlanjur Kakak berada di posisi ini, jadi menurut aku kamu memang harus tahu Kak. Lily aja nggak tahu tentang ini," kata Dinda.
"Kamu percayakan denganku, aku nggak mungkin membocorkan rahasia kamu kepada siapapun termasuk Lily," ucap Gio.
"Ya, aku percaya sama Kakak," kata Dinda.
Dinda yang tadi sebenarnya sudah tak tahu lagi harus berbuat apa untuk menghindari Nathan, hingga muncullah ide untuk menghubungi Gio lewat pesan WhatsApp dan meminta pertolongannya untuk melakukan sandiwara, tanpa sempat memberitahu Gio terlebih dahulu tentang apa yang sedang terjadi. Untungnya Gio dapat mengerti dengan apa yang ia lakukan tadi.
"Aku hamil dan pria tadi adalah ayah dari anak yang aku kandung Kak," kata Dinda.
Chit …
__ADS_1
Sontak saja Gio terkejut dan langsung mengerem mobilnya itu secara mendadak, membuat Dinda pun begitu terkejut. Untungnya di di belakang sana sedang tidak ada kendaraan lain sehingga tidak menyebabkan kecelakaan lalu lintas.
"Maaf Din aku ngerem mendadak, kamu baik-baik saja kan?" Gio merasa sangat bersalah dengan tindakannya, untung saja tidak menyebabkan Dinda terluka.
"Aku nggak apa-apa Kak. Aku tahu Kakak pasti kaget kan mendengarnya? Tapi inilah kenyataannya Kak," kata Dinda.
Gio tertegun, ia tak menyangka jika seorang Dinda wanita yang sangat ia kenal dengan baik, ternyata hamil diluar nikah. Tetapi tentu saja Gio merasa penasaran dengan apa penyebabnya sampai-sampai Dinda harus menghindari pria tersebut, padahal yang ia lihat tadi, Nathan begitu mencintainya.
"Maaf Din, jujur aku memang kaget mendengarnya. Sebaiknya sekarang kita cari tempat untuk mengobrol dulu aja gimana? Sepertinya mengobrol di dalam mobil ini penuh ketegangan," kata Gio.
"Iya Kak," jawab Dinda menyetujuinya.
Gio membawa Dinda ke sebuah taman yang tempatnya agak sepi sehingga mereka berdua bisa berbicara secara leluasa. Mereka duduk di sebuah kursi taman yang agak jauh dari kerumunan orang pada umumnya.
"Sudah aku katakan kalau Kakak sudah terlanjur berada dalam posisi ini dan aku akan menceritakan semuanya kepada Kakak," kata Dinda.
Lalu Dinda pun mulai menceritakan tentang masalah kehidupan dirinya tiga bulan yang lalu di Jakarta, dari mulai masalah yang menimpa keluarganya hingga ia menjual rahim kepada Nathan. Lalu ia dan Nathan menjalin hubungan terlarang, tetapi ternyata Nathan menghamili istrinya juga. Saat itu juga ada kejadian yang telah menyakiti hatinya sehingga membuat ia memutuskan untuk pergi dari kota Jakarta. Saat berada di Bandung, barulah Dinda mengetahui faktanya bahwa ia hamil.
Meskipun saat ini Dinda tidak menatap wajah Gio saat berbicara, tetapi Gio dapat melihat jika Dinda merasakan sedih yang begitu dalam, tatapannya kosong dan terlihat sangat sendu. Gio merasa sangat kasihan terhadap apa yang dialami oleh wanita yang dikaguminya ini, ia tak menyangka jika Dinda memiliki masalah di luar nalarnya meskipun hari-harinya terlihat begitu ceria. Gio memberanikan diri untuk memegang tangan Dinda dan meraih tubuhnya itu untuk bersandar di bahunya.
__ADS_1
"Din maaf ya kalau aku lancang, tapi kalau kamu mau menangis di sini, kamu nangis aja ya. Mudah-mudahan kamu bisa sedikit tenang," ucap Gio.
Dinda pun menerimanya dengan bersandar di pundak Gio dan menangis pilu. Kini Gio beralih meraih tubuh Dinda ke dalam dekapan hangatnya, kembali lagi Dinda menangis sejadi-jadinya. Dengan berani layaknya seorang kekasih, Gio pun mengusap punggung Dinda dengan sangat lembut agar wanita yang sedang berada di pelukannya itu merasa lebih tenang.
*****
Tak disangka ternyata sedari tadi ada dua pasang mata yang mengikuti mereka dan melihat apa yang saat ini terjadi.
"Tuan, sebaiknya kita pulang saja. Saya rasa benar jika pria itu adalah suami dari Nona Dinda," kata Dimas yang melihat Nathan saat ini begitu murka dengan mengepal erat kedua tangannya, tatapannya begitu tajam seakan ingin menerkam Gio sebagai musuhnya.
Nyatanya Nathan tak mampu lagi untuk mengucap kata apapun, hatinya begitu hancur. Apakah ini yang dirasakan Dinda saat mengetahui jika ia sudah menghamili sang istri waktu itu? Karena saat mengetahui fakta bahwa Dinda telah menikah dan hamil, membuatnya begitu sangat sakit hati dan tidak bisa menerimanya. Tapi itulah kenyataannya.
Kini Nathan pun memilih pergi dari taman tersebut daripada hatinya semakin hancur melihat kemesraan pasangan suami istri itu. Dimas dengan setia mengikuti tuannya lalu ikut masuk ke dalam mobil dan mengemudi seperti biasa.
"Dimas, apa aku tak berhak bahagia? Kenapa di saat aku menemukan Dinda dan berharap akan bisa bersama dengannya, ternyata Dinda sudah memiliki pria lain," kata Nathan.
"Tuan, maaf bukan aku bermaksud lancang. Tapi bukankah Anda sendiri sudah menikah dan sebentar lagi akan memiliki anak? Bagaimana perasaan Nona Clara jika mengetahui suaminya mengejar-ngejar wanita lain apalagi ingin bersama dengannya. Tuan, Sebaiknya Anda pikirkan juga bagaimana perasaan Nona Clara, bukankah saat ini Nona Clara sudah berubah, dia lebih banyak tinggal di rumah dan cuti dari pekerjaannya. Dia sudah memilih hamil dan ingin menjadi istri seutuhnya," kata Dimas mencoba memberi pengertian kepada Nathan. Karena itu jugalah yang ia ketahui selama ini.
Nathan terdiam, tak biasanya ia mendengarkan kata-kata Dimas. Tapi apa yang dikatakan Dimas kali ini memang benar, padahal Clara sudah mencoba untuk menjadi istri yang baik meskipun Nathan tidak pernah menghargainya. Terkadang clara juga mencoba belajar memasak tetapi Nathan sama sekali tidak mau menyentuh makanan yang rasanya sama sekali tidak enak, sehingga Clara patah semangat dan tidak mau lagi untuk mencobanya. Seharusnya sebagai suami, Nathan harus mendukung apa yang istrinya lakukan.
__ADS_1
...……… Bersambung ………...