Rahim Penebus Hutang

Rahim Penebus Hutang
Membujuk Anak-Anak


__ADS_3

"Nadine, Keenan, sejak kapan kalian berdua ada di situ?" Tanya Nathan.


Lalu Keenan dan Nadine pun berjalan mendekati mereka.


"Pi, apa benar kalau Papi itu ayah kandungnya Nadine?" Tanya Keenan dengan tatapan mata sendu.


Nathan menatap mata anak-anaknya yang seolah meminta penjelasan darinya. Ia bingung harus menjelaskan apa kepada kedua anak geniusnya itu. Tetapi ini adalah saat yang tepat untuk menjelaskan sekaligus meminta izin kepada mereka berdua.


"Nadine, Keenan, biar Papi jelaskan ya. Jadi memang benar kalau Papi adalah ayah kandungnya Nadine," jawab Nathan.


Keenan dan Nadine membelalakkan mata serta menutup mulut layaknya orang dewasa karena tidak percaya. Nadine benar-benar tidak menyangka jika ayah dari sahabatnya itu adalah ayah kandungnya sendiri.


"Ma, apa itu benar Ma?" Tanya Nadine yang tidak bisa percaya begitu saja.


Dinda terdiam, ia menatap wajah sang anak lalu menganggukkan pelan kepalanya tak kuasa untuk menyembunyikan masalah ini lagi dari anaknya. Benar yang dikatakan Nathan dan ibunya bahwa Nadine berhak tahu siapa ayah kandungnya.


"Kok bisa Ma? Bukannya Mama bilang Papa Nadine udah meninggal," kata Nadine yang terdengar begitu miris di telinga Nathan, bagaimana bisa Dinda mengatakan kepada anaknya bahwa ia sudah meninggal.


"Kenapa Papi nggak pernah bilang selama ini kalau Nadine adalah anak Papi. Berarti Keenan dan Nadine saudara dong," tanya Keenan.


"Iya benar Keenan, jadi Nadine itu adik kamu," jawab Nathan.


"Begini saja Pak Doni, Bu Santi, bagaimana kalau kita berempat keluar dulu. Biarkan mereka berbicara," ajak Cynthia.


"Santi, Doni dan Frans pun menyetujuinya. Lalu mereka segera saja keluar dari ruangan tersebut.

__ADS_1


"Pi, Keenan ini kan anak Papi dan Mami, kalau Nadine adik Keenan, apa artinya Nadine juga anak Mami?" Tanya Keenan.


"Bukan Sayang, kamu memang anak Mami Clara, tapi Nadine adalah anak kandung Tante. Kalian saudara satu ayah." Dinda yang menjawab pertanyaan Keenan.


"Iya benar. Jadi seperti ini, dulu Papi dan Mama Dinda pernah menjalin hubungan tetapi di saat itu papa juga telah menikah dengan Mami Clara. Papi tidak tahu jika di saat itu Mama Dinda dan Mami Clara sama-sama sedang hamil, yaitu hamil kalian berdua. Maka dari itu umur kalian tidak berbeda jauh," kata Nathan.


Meskipun Nathan sebenarnya ragu untuk menjelaskan kepada anaknya, tetapi bagaimanapun juga ia harus tetap menjelaskannya. Lagipula dua anak genius itu pasti akan cepat menangkap dan mengerti apa yang di maksud oleh orang tuanya.


"Jadi itu alasan Papi berpisah dengan Mami?" Tanya Keenan yang membuat Nathan terkejut, anak kecil saja bisa berpikiran jika ayahnya meninggalkan ibunya demi wanita lain.


"Sayang, nggak seperti itu kok. Jadi dulu Mami dan Papi itu dijodohkan, kami berdua menikah tetapi sama sekali tidak pernah saling mencintai. Bahkan kamu sendiri bisa lihat kan kalau Mami kamu sama sekali nggak peduli dengan Papi, nggak peduli dengan kamu. Mami kamu hanya mementingkan pekerjaan dan dirinya sendiri. Dan kamu perlu tahu, orang yang dari dulu Papi cintai adalah mamanya Nadine. Maka dari itu sekarang Papi dan Mami kamu kan sudah berpisah, Papi ingin mengajar cinta Papi lagi yaitu Tante Dinda," ucap Nathan mencoba menjelaskannya.


"Maksudnya Om Nathan mau menikah dengan Mama Nadine?" Celetuk Nadine.


"Nadine, Om adalah Papa kamu. Maafkan Papa karena selama ini tidak pernah ada di samping Nadine, tapi jika Nadine dan Keenan menyetujui Papa dan Mama menikah, maka Papa janji akan selalu menyayangi Nadine sama seperti Papa menyayangi Keenan. Kalian berdua juga akan selalu bersama, kalian bisa main sama-sama terus, kalian akan hidup bahagia sebagai saudara," ucap Nathan.


Setelah beberapa jam berbincang, Nathan dan keluarganya berpamitan untuk pulang agar Dinda dapat berpikir jernih sambil berdiskusi terlebih dahulu dengan keluarganya termasuk Nadine. Tiga hari lagi, Dinda janji akan memberi jawabannya.


*****


"Kamu kenapa diam saja Sayang?" Tanya Cynthia kepada sang cucu saat mereka dalam perjalanan pulang.


"Jawab dong kalau Oma tanya," kata Nathan karena Keenan sama sekali tidak mau berbicara.


"Papi jahat, Papi mau menikah lagi. Papi benar-benar meninggalkan mami," ucap Keenan sembari melipat kedua tangannya dan diletakkan di atas dada.

__ADS_1


"Papi sama sekali tidak bermaksud jahat Keenan. Papi dan Mami kamu kan sudah berpisah dan itu artinya Papi boleh menikah lagi. Kenapa Keenan tidak senang kalau Papi menikah dengan Tante Dinda? Seharusnya kamu senang dong, nanti Keenan biasa selalu bermain dengan Nadine, kita tidak perlu lagi jauh-jauh datang ke sana karena nantinya kita akan tinggal bersama," ucap Nathan.


"Ya Keenan memang senang kalau bisa selalu bermain dengan Nadine, Keenan juga akan senang bisa bersama-sama dengan Nadine setiap hari, tapi Kenan tetap mau Mami. Keenan nggak mau kalau Tante Dinda yang menjadi ibu Keenan menggantikan Mami," ucap Keenan.


"Sayang, kamu dengar ya, tidak akan ada yang menggantikan posisi Mami kamu di hati Keenan. Tapi kamu harus mengerti dong," ucap Nathan.


"Nathan, sudah Nathan. Bagaimanapun juga Keenan ini hanya anak kecil, dia masih butuh waktu. Sebaiknya kamu diam saja dulu," kata Cynthia.


Hingga tidak berapa lama kemudian, mereka pun telah tiba di rumah. Keenan langsung saja turun dari mobil dan berlari menuju ke kamarnya.


"Nathan, kamu jangan ganggu Keenan dulu ya, biar nanti Mama yang akan berbicara padanya. Mama yakin Keenan pasti akan mengerti jika soal ini dibicarakan pelan-pelan dan diberikan pengertian, tidak usah terburu-buru seperti kamu," kata Cynthia.


"Iya Nathan, benar kata Mama kamu. Lebih baik kamu sekarang istirahat saja, biar Keenan menjadi urusan Mama kamu," kata Frans.


"Iya Ma, Pa, kalau begitu Nathan masuk kamar dulu," ucap Nathan dan ditanggapi anggukan oleh kedua orang tuanya.


Nathan pun segera saja melangkahkan kakinya menuju ke kamar untuk segera beristirahat, bukan hanya tubuhnya yang lelah, tetapi juga otaknya.


*****


Sementara itu, saat ini Dinda juga sedang mencoba untuk membujuk Nadine. Nadine yang sedari tadi enggan berbicara itu pun membuat Dinda kalang kabut dan merasa sangat bersalah.


"Nadine, kamu masih marah sama Mama? Mama minta maaf ya karena tidak pernah menceritakan ini sebelumnya sama kamu. Karena mama terlalu takut Sayang, Papa kamu sudah memiliki keluarga, kita tidak pantas untuk berada di antara mereka. kamu tahu betapa tersiksanya Mama selama ini menyembunyikan semuanya dari kamu, hati Mama sakit karena harus mengatakan kepada kamu bahwa Papa kamu sudah nggak ada. Tapi kalau Mama mengatakan yang sebenarnya, bagaimana caranya Mama mempertemukan kalian berdua. Itu semua benar-benar terasa berat buat Mama Nadine," ucap Dinda yang meneteskan air matanya.


Nadine ikut sedih melihat ibunya menangis, ia pun langsung saja menghamburkan pelukannya ke dalam dekapan sang ibu.

__ADS_1


...……… Bersambung ………...


__ADS_2