
Semakin lama, ciuman itu semakin dalam dan bergairah. Karena tidak ada penolakan sama sekali dari Dinda, Nathan pun semakin berani melakukan hal yang lebih. Mereka yang tadinya dalam keadaan duduk, kini Nathan perlahan menuntun wanitanya itu untuk berbaring di atas kasur. Ia pun mulai melucuti pakaian Dinda satu persatu dan juga pakaiannya. Nathan terus saja memberikan sentuhan-sentuhan lembut yang membuat Dinda kewalahan serta sudah tidak tahan lagi untuk meminta segera dipuaskan.
"Ah … Nathan, aku sudah tidak tahan lagi, ayo lakukan sekarang," pinta Dinda diiringi suara ******* yang membuat Nathan semakin bergairah.
"Dengan senang hati aku akan melakukannya Sayang," ucap Nathan, lalu ia pun segera saja melakukan penyatuan.
Entah beberapa kali mereka melakukannya pada malam hari itu untuk melepaskan rasa rindu yang terpendam. Setelah puas dan lelah dengan permainan panas yang mereka lakukan di ranjang hotel, kini keduanya terlelap dengan posisi saling berpelukan dan polos tanpa busana, hanya ditutupi oleh selimut.
Baru kali ini Nathan dan Dinda benar-benar melakukannya karena hasrat yang bergejolak di dalam dada dan menginap berdua di hotel. Biasanya mereka melakukannya hanya karena ingin Dinda segera menyandung anak Nathan. Meskipun mereka juga melakukannya itu tanpa paksaan, tetapi tetap saja tidak pernah mereka menikmatinya seperti apa yang mereka lakukan pada malam ini.
*****
Pagi menyingsing dengan cepat, Dinda terbangun dan merasakan tubuhnya terasa begitu sangat lelah. Terlebih lagi ia juga merasakan perih pada kepemilikannya meskipun ini bukan yang pertama kali ia melakukannya dengan Nathan. Kemungkinan karena mereka yang biasanya melakukan hanya sekali dalam satu malam, tidak dengan tadi malam yang entah berapa kali mereka melakukannya hingga benar-benar terasa lelah. Nathan tidak ada puasnya jika Dinda tidak meminta untuk segera mengakhiri pergulatan mereka.
Dinda tersenyum saat melihat pria tampan yang saat ini berada di sampingnya itu masih dalam keadaan tertidur pulas. Akan tetapi mendadak Dinda terkejut setelah menyadari jika dirinya dan Nathan saat ini masih dalam keadaan polos. Dinda hendak beranjak dari tempat tidur ingin segera memakai pakaiannya, akan tetapi tiba-tiba saja Nathan menarik tubuh Dinda ke dalam pelukan eratnya sehingga Dinda sama sekali tidak bisa bergerak.
"Nathan, aku mau bangun. Aku harus memakai pakaianku," kata Dinda.
"Jangan pergi Sayang, aku masih mau di sini bersamamu," ucap Nathan yang semakin erat memeluk tubuh mungil wanita yang dicintainya itu.
"Tapi-," ucapan Dinda terhenti.
"Hust … please temani aku dulu ya. Aku tahu kalau kamu hari ini juga bekerja sift sore kan? Jadi tolong temani aku dulu," pinta Nathan.
"Tapi memangnya kamu hari ini tidak ke kantor?" Tanya Dinda.
__ADS_1
"Tidak, aku hari ini akan ke kantor siang. Karena aku masih ingin bersamamu," jawab Nathan tanpa membuka matanya sama sekali yang membuat Dinda begitu bahagia mendengarnya.
*****
"Untuk apa kau datang ke sini? Kau sudah berani mengkhianatiku dan sekarang berani-beraninya kau menampakan wajahmu itu di depanku mataku lagi!" Bentak Clara saat Bryan datang menghampirinya ke lokasi pemotretan.
"Clara come on lah, aku ini asisten pribadimu. Kau tidak akan bisa mengatur jadwalmu itu dengan sangat rapi tanpa aku," kata Bryan.
"Aku sama sekali tidak membutuhkanmu. Ada Roy managerku yang sudah mengatur semuanya," hardik Clara.
"Tapi tetap saja kan jadwalmu itu berantakan. Dan aku dengar kalau kau sampai batal pemotretan dan melewatkan kesempatanmu untuk ke Paris, bahkan kau digantikan oleh artis baru," kata Bryan.
Seketika emosi Clara meledak, ia pun langsung saja menampar pipi Bryan dengan sangat kuat.
"Kau tidak perlu mengucap apapun tentang hal itu, kau sama sekali tidak mengerti urusanku. Lebih baik sekarang kau pergi, urusi saja pacar barumu itu. Aku muak melihat wajahmu Bryan!" Usir Clara.
"Oke, aku akan pergi dari sini asalkan kau memberikanku uang. Uangku sudah habis Clara, kau juga belum membayar upahku sebagai asistenmu bulan ini," kata Bryan.
"Upah? Upah apa lagi yang kau minta Bryan? Aku rasa semua yang aku berikan itu sudah cukup untukmu. Kalau kau mau uang, lebih baik kau bekerja saja, enak sekali kau selalu memintanya dariku. Apa kau sama sekali tidak bisa hidup tanpa uangku?" Kata Clara.
"Sayang, kau kan tahu sendiri kalau selama ini aku hanya bekerja denganmu, jadi aku mau mendapatkan penghasilan dari mana selain darimu? Lagipula kita ini sepasang kekasih, kau tidak bisa mengabaikanku begitu saja," kata Bryan.
"Sepasang kekasih? Tapi kau menghianatiku dengan tidur bersama wanita lain," kata Clara.
"Kau sendiri sudah mengkhianatiku menikah dengan pria lain. Jadi kenapa aku tidak boleh mempunyai wanita lain?" Kata Bryan.
__ADS_1
"Tapi aku tidak pernah memberikan tubuhku untuk suamiku hanya demi kau, sedangkan kau terang-terangan melakukannya itu dengan wanita lain, dia sama sekali bukan istrimu," kata Clara yang tak mau kalah dengan Bryan, Pria brengsek itu.
"Clara-" ucapan Bryan terhenti.
"Stop! Sekarang aku tidak mau melihatmu lagi. Kita putus," kata Clara dengan sangat emosi.
"Tidak, aku tidak mau berpisah denganmu. Kalau kau tidak mau memberiku uang dan memutuskan hubungan ini, aku akan membongkar semuanya kepada suamimu," Bryan terpaksa mengancam.
Clara sontak terkejut, tentu saja ia tidak mau jika Nathan suaminya itu tahu tentang kebusukan yang ia lakukan.
"Ah sudahlah, sekarang berapa uang yang kau butuhkan, aku akan mengirimkannya untukmu," kata Clara yang akhirnya pun menuruti keinginan Bryan.
Bryan menyebutkan nominal uang yang dimintanya itu dan Clara pun langsung saja mengirim ke nomor rekening Bryan saat itu juga. Bryan sangat senang karena mendapatkan notifikasi pengiriman uang dari Clara melalui m-banking.
"Terimakasih Sayang, nanti malam aku akan menunggumu di apartemen. Aku janji akan memuaskanmu," kata Bryan dengan tersenyum penuh kemenangan, sedangkan Clara mengepal erat kedua tangannya menahan emosi.
Lalu Bryan pun segera saja pergi meninggalkan lokasi pemotretan dengan perasaan yang sangat bahagia.
"Clara … Clara, aku memang mencintaimu tetapi aku lebih mencintai uang dan tubuhmu itu. Aku tidak peduli jika kau memang ingin berpisah denganku, asalkan uang dan tubuhmu itu tetap kau berikan padaku," gumam Bryan dengan tersenyum smirk.
*****
Saat ini, waktu sudah menunjukkan pukul 11.00 siang, Dinda dan Nathan masih berada di hotel untuk menikmati hubungan terlarang yang baru saja mereka jalin. Ya Dinda dan Nathan telah memutuskan untuk berpacaran. Rasanya memang sudah gila karena Dinda bersedia menjadi kekasih Nathan meskipun ia tahu Nathan adalah pria yang sudah beristri, akan tetapi Nathan tidak mencintai istrinya itu. Dinda tidak tahu apa yang akan terjadi nanti, yang jelas saat ini ia benar-benar ingin menikmati masa bahagianya bersama dengan Nathan. Apalagi ia telah menyerahkan kesuciannya untuk Nathan seorang.
...……… Bersambung ………...
__ADS_1