
Kenzo dan Dinda merasa sangat lega karena pada akhirnya Ciara pun menyetujui. Meskipun Kenzo tahu jika Ciara menerimanya karena terpaksa tetapi ia cukup senang karena menurutnya ini merupakan awal yang baik dan itu artinya Ciara juga tak mungkin berpikir pendek lagi untuk menggugurkan kandungannya.
"Terima kasih banyak Ciara, akhirnya kamu setuju untuk menikah denganku. Aku janji akan bertanggung jawab sepenuhnya, aku akan bekerja keras untuk menghidupimu dan Anak kita nanti," ucap Kenzo.
"Aku menerima pernikahan ini karena terpaksa, hanya demi anak di dalam perut ini. Sebenarnya aku juga tidak tega untuk menggugurkannya, benar apa kata Tante Dinda bahwa anak ini tidak bersalah, dia juga tidak minta untuk hadir di dalam kandungan ini tapi kita yang membuat kesalahan dan membuatnya hadir di sini. Bagaimanapun juga aku harus tetap menjaga dan melahirkannya dan aku mau menerima pernikahan ini karena aku tidak mau dia lahir tanpa seorang ayah, hanya itu. Aku minta maaf Tante, Kenzo, aku sama sekali tidak mencintaimu Kenzo, aku hanya mencintai Kenzie. Jadi aku setuju untuk menikah tapi menikah dengan syarat," ucap Ciara.
"Menikah dengan syarat, syarat apa Ciara?" Tanya Dinda.
"Apa syaratnya Ra, katakan saja," kata Kenzo.
"Setelah kita menikah nanti tidak masalah kalau kita harus tinggal di satu atap yang sama, tapi aku tidak mau kita tidur di kamar yang sama Ken," ucap Ciara.
"Maksudmu kita pisah ranjang?" Tanya Kenzo untuk memastikan.
"Iya, tolong mengerti kondisiku sekarang ini Kenzo. Kamu tahu sendiri aku tidak mencintaimu, aku mau menikah hanya karena demi anak ini. Jadi aku minta tolong jangan melanggar syarat dariku. Kamu tenang saja, aku akan melakukan kewajibanku sebagai seorang istri dengan memasak, mencuci pakaianmu, tapi aku minta maaf karena tidak bisa untuk yang satu itu. Kalau kamu keberatan kita tidak usah menikah," ucap Ciara.
"Aku setuju, dengan syarat apapun itu aku setuju," ucap Kenzo dengan sangat yakin.
Dinda merasa terkejut mendengar permintaan Ciara, tetapi ia juga mengerti dan tidak mau ikut campur. Karena dengan Ciara mau menikah dengan Kenzo saja sudah membuatnya senang, mungkin dengan mereka nikah nanti rasa cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya.
"Lalu kapan aku bisa berbicara dengan orang tuamu untuk menyampaikan masalah pernikahan ini? Kita tidak bisa menundanya terlalu lama Ciara, kalau bisa kita harus segera menikah," kata Kenzo.
Sekarang juga aku akan telepon Mami," ucap Ciara.
"Iya Ciara, memang lebih baik sekarang.Tante juga akan ikut berbicara dengan orang tua kamu," kata Dinda.
"Lalu bagaimana dengan Om Nathan Tante, apa Om Nathan akan setuju? Karena yang aku lihat Om Nathan begitu marah," kata Ciara yang merasa sangat khawatir.
"Kamu tenang saja ya Ciara, kalau masalah Om Nathan nanti biar Tante yang akan membujuknya kalau memang suami Tante itu tidak setuju," kata Dinda dan ditanggapi anggukan kepala oleh Ciara.
Di saat itu pun Ciara langsung saja menghubungi orang tuanya yang sangat sibuk di luar negeri. Ya kedua orang tua Ciara merupakan pebisnis, baik ayah maupun ibunya. Di saat Ciara mengabarkan berita kehamilan serta ia akan menikah, membuat kedua orang tua Ciara itu begitu marah. Bahkan memaki Ciara sebagai wanita yang tidak tahu diri, membuat malu karena tidak bisa menjaga dirinya sendiri. Tetapi bagaimanapun Ciara adalah anak mereka dan sebagai orang tua mereka pun akan mengusahakan untuk datang di pernikahan Ciara dan Kenzo.
__ADS_1
Hal yang paling menyakitkan lagi orang tua Ciara tidak mau tahu tentang segala urusan pernikahan itu, mereka sama sekali tidak mau ikut dan meminta tidak perlu diadakan secara besar-besaran karena akan membuat malu jika rekan-rekannya atau keluarga besar di Indonesia mengetahuinya. Hal tersebut membuat Ciara menangis dan menutup teleponnya, ia benar-benar tidak menyangka jika akan memiliki ayah dan ibu yang tidak memiliki perasaan sama sekali meskipun ia adalah anak satu-satunya.
"Ciara yang sabar ya Sayang," ucap Dinda lalu memeluk calon menantunya itu.
"Tante dengar sendiri 'kan Mami dan Papiku itu sama sekali tidak ada yang peduli denganku Tante, mereka seperti tidak menganggapku sebagai seorang anak. Aku tidak mau jika anak yang ada di dalam kandunganku ini akan bernasib sama denganku Tante, tidak mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya. Dari kecil aku selalu dititipkan dengan Nenek, hingga pada akhirnya Nenek dan Kakek meninggal. Mami dan Papi selalu saja sibuk sendiri, apalagi sekarang. Semenjak mereka pindah ke luar negeri dan aku memutuskan untuk tetap berada di Indonesia mewujudkan cita-citaku sebagai dokter, itu sama sekali tidak ada dukungan dari mereka Tante. Maka itu mereka sama sekali tidak pernah peduli padaku, mereka sama sekali tidak pernah menanyakan kabarku dan setelah mendengar kabar ini mereka sangat marah tetapi juga tidak akan pernah peduli sehingga langsung menyerahkan semuanya kepadaku dan juga keluarga Tante," ucap Ciara diiringi air matanya yang mengalir deras.
"Tante tidak tahu jika kondisi keluargamu seperti ini, tapi kamu tenang saja ya kamu akan menjadi menantu Tante, Tante janji akan menyayangimu sebagai anak tante sendiri," ucap Dinda seraya mengusap lembut punggung Ciara untuk menenangkannya.
Ciara menangis tersedu-sedu di dalam pelukan Dinda, ia berpikir mungkin ini memang sudah takdir jalan hidupnya. Meskipun ia harus menikah dengan pria yang sama sekali tidak dicintainya, tetapi paling tidak ia memiliki calon ibu mertua sebaik Dinda yang terlihat begitu tulus menyayanginya.
Kenzo sendiri merasa sangat kasihan dengan hidup Ciara, ia berjanji akan menjadi suami yang baik untuk wanita itu nantinya meskipun usianya saat ini masih terbilang sangat muda.
*****
Setelah pulang dari kediaman Ciara, Dinda membawa Kenzo pulang ke rumahnya dan di saat itu Kenzie juga sudah pulang ke rumah. Begitu juga dengan Nathan yang tampak risau menunggu kepulangan istrinya tersebut. Saat melihat Dinda pulang membawa Kenzo, membuat Nathan sangat terkejut dan juga terlihat marah menatap istri dan anaknya tersebut.
"Kamu dari mana saja Ma, kenapa kamu pergi sama sekali tidak mengabariku dan sekarang kamu pulang malah membawa anak ini. Sudah aku katakan biarkan saja dia pergi, biarkan dia merenungi kesalahannya. Untuk apa kamu membawanya pulang lagi ke sini," ucap Nathan.
"Apa yang ingin kalian sampaikan, hal penting apa? Apakah masih ada lagi hal yang lebih penting selain rasa sakit hati Kenzie saat ini," tukas Nathan.
"Kenzie, Kenzie dan Kenzie. Papi hanya mementingkan perasaan Kenzie tapi tidak memperdulikan bagaimana perasaannku sekarang. Aku tahu aku salah Pi, tapi sudah aku katakan aku tidak sengaja melakukannya, kami dijebak. Papi juga sudah kenal 'kan siapa aku, aku tidak mungkin sengaja ingin mengkhianati saudara kembarku sendiri, begitu juga dengan Ciara yang sangat mencintai Kenzie," ucap Kenzo yang merasa kecewa karena merasa jika saat ini ayahnya itu pilih kasih.
Dari kemarin kalian hanya mengatakan dijebak tetapi sama sekali tidak bisa membuktikannya kalau kalian memang benar-benar dijebak. Lalu apa yang ingin kalian sampaikan? Jangan membuang-buang waktuku di sini," tukas Nathan.
"Aku dan Ciara akan menikah. Ciara setuju aku bertanggung jawab atas anaknya, karena dia juga tidak mau anak itu lahir tanpa seorang ayah," ucap Kenzo.
Plok … plok … plok …
"Hebat, benar-benar sangat hebat. Tidak cinta, tidak sengaja melakukan tapi bersedia untuk menikah," ucap Kenzie yang tiba-tiba saja muncul di hadapan mereka seraya menepuk tangannya.
"Kenzie, aku bisa jelaskan masalah ini. Kami memang melakukannya tidak sengaja dan kami dijebak, aku janji akan segera menemukan bukti itu. Ciara juga sudah tidak punya pilihan lain Ken, kamu juga tidak mungkin mau tanggung jawab karena itu bukan anakmu 'kan? Ciara frustasi dan mau mengugurkan kandungannya, apa kamu mau Ciara menghilangkan nyawa seorang bayi yang tidak berdosa dan seandainya itu memang benar-benar terjadi apa kamu mau menikah dengan Ciara, tidak juga 'kan?" Tukas Kenzie.
__ADS_1
"Tentu saja tidak, untuk apa juga kalau setiap harinya aku akan dibayang-bayangi pengkhianatan kalian berdua," ujar Kenzie.
"Kalau begitu biarkan aku yang akan bertanggung jawab dan Ciara juga mau menikah denganku tapi dengan syarat," kata Kenzo.
"Dengan syarat, syarat apa?" Tanya Kenzie.
Lalu Kenzo pun menceritakan semuanya kepada Kenzie dan ayahnya tentang apa yang menjadi permintaan Ciara.
"Ck, terserah kalian saja mau menikah atau apapun itu aku tidak peduli dan jangan harap aku akan hadir di pernikahan kalian," ucap Kenzie lalu membalikkan tubuhnya dan pergi.
"Kenzie, kamu mau ke mana Kenzie? Walaupun kamu marah terhadap Kenzo dan Ciara, paling tidak hargai Mama di sini sebagai ibu kamu, Kenzie … !" Teriak Dinda yang membuat langkah kaki Kenzie terhenti, tetapi tak menoleh sama sekali.
"Untuk apa Ma, Mama juga sudah tidak peduli lagi denganku. Mama malah mendukung Kenzo yang jelas-jelas sudah salah," ucap Kenzie yang tersenyum kecut lalu kembali melangkahkan kakinya menuju ke mobil dan pergi entah ke mana.
"Lalu bagaimana dengan Papi, apa kamu juga tidak mau hadir di pernikahan Anak kamu sendiri?" Tanya Dinda, mengingat sikap keras kepala Nathan sehingga menuruni anak-anaknya itu.
"Sebagai laki-laki sejati Kenzo memang harus bertanggung jawab, tapi bukan berarti Papi sudah memaafkan kesalahan anak ini. Mau menikah ya sudah menikah saja tapi jangan pernah menggunakan sepeserpun uang Papi dan kamu juga Ma jangan sekali-sekali membantu Kenzo Kalau kamu tidak ingin melihat kemarahanku meledak," tegas Nathan lalu pergi meninggalkan anak dan istrinya tersebut.
Dinda tampak menghela nafas panjang lalu menghembuskannya lagi secara perlahan, ia benar-benar merasa sangat pusing dan membutuhkan kesabaran ekstra untuk menghadapi sikap Nathan dan Kenzie saat ini.
"Ma maafkan aku ya Ma, gara-gara aku Kenzie marah sama Mama, Mama dan Papi juga jadi bertengkar terus," ucap Kenzo.
"Kenzo, kamu jangan berbicara seperti itu ya. Papi dan Adik kamu saja yang benar-benar keras kepala dan tidak mau mengerti. Oh iya kamu tenang saja ya, yang penting sekarang Kenzie dan Papi sudah tahu kalau kamu dan Ciara akan menikah. Soal biaya biar Mama yang akan kasih untuk kamu, uang Mama sendiri bukan uang Papi. Mama 'kan punya tabungan, kamu juga tahu kalau Mama dari dulu punya bisnis toko-toko kue dan sampai sekarang toko kue Mama pun masih berjalan. Jadi Mama ada uang, kamu tenang saja ya," kata Dinda.
"Terima kasih ya Ma, hanya Mama yang dari dulu sampai saat ini selalu mendukungku," kata Kenzo lalu memeluk ibunya tersebut.
"Jangan berbicara seperti itu Sayang, Mama ini adalah Ibu kamu. Mama yang sudah melahirkan kamu, merawat kamu dan membesarkan kamu. Sebesar apapun kesalahan yang kamu lakukan tidak akan mungkin membuat Mama membencimu Sayang, Mama tahu kamu sudah membuat kesalahan tetapi kamu juga berhak untuk mempertanggungjawabkan semuanya dan diberi kesempatan," ucap Dinda.
"Iya Ma, terima kasih banyak ya Ma," ucap Kenzo yang menangis tersedu-sedu di dalam pelukan ibunya tersebut.
...*****...
__ADS_1