
"Jen kenapa malah diam? Katanya mau cerita, buruan dong. Aku kan jadi penasaran," kata Dinda yang melihat sahabatnya itu masih saja terdiam. "Terus kenapa lagi kamu kelihatan gugup seperti itu?"
"Din, tapi kamu janji ya jangan marah kalau aku cerita ke kamu," pinta jeny yang tampak khawatir.
"Marah? Kenapa aku harus marah?" Tanya Dinda mengerutkan dahinya, ia bingung akan permintaan sahabatnya itu.
"Ya jadi cinta pertama aku sewaktu dulu itu adalah Kak Gery," ucap Jeny.
"Gery siapa?" Tanya Dinda. Ia berpikir tidak mungkin jika Gery yang dimaksud oleh jeny adalah mantan kekasihnya, anak dari pemilik restoran tempat mereka dulu bekerja.
"Gery siapa lagi Din, jelas Gery anak bos kita dulu," jawab Jeny.
Dinda sedikit terkejut mendengarnya hingga ia pun membelalakkan matanya menatap jeny seolah meminta penjelasannya.
"Din, please kamu jangan marah. Jadi sebenarnya aku juga baru tahu kalau ternyata Kak Gery itu adalah orang yang dulu pernah menolong aku dari bullying di sekolah. Ya mana aku tahu, dulu kan kita masih kecil dan kucel, aku baru masuk kelas 1 SMP dan Kak Gery itu kelas 2 SMP. Hingga akhirnya Kak Gery pindah sekolah. Tadinya setelah ketemu Kak Gery di restoran, aku sempat berpikir bahwa itu adalah Kak Gery cinta monyet aku, tapi aku buang jauh-jauh pikiran itu Din, apalagi setelah aku tahu ternyata Kak Gery adalah pacar kamu. Ceritanya panjang, hingga akhirnya aku dan Kak Gery sama-sama tahu kalau kita ada di masa lalu itu dan ternyata setelah pulang dari luar Negeri, Kak Gery selama ini mencari keberadaan aku, maka dari itu aku dan Kak Gery pun akhirnya dekat dan menjalin hubungan. Awalnya sama seperti kamu Din, ibunya Kak Gery nggak setuju dengan hubungan kami, beliau sangat menentang hingga sampai setahun kami berpacaran. Kak Gery pun berusaha untuk memperjuangkan aku, dia menyesal karena dulu tidak sempat memperjuangkan kamu Din, dia tidak mau lagi hal itu terjadi. Akhirnya lama-kelamaan ibunya Kak Gery menyerah dan terpaksa merestui kami menikah. Walaupun awal pernikahan ibu Kak Gery sama sekali tak menyukaiku, tapi aku terus berusaha Din hingga akhirnya setelah 1 tahun menikah, ibunya Kak Gery sakit dan akulah yang merawatnya. Semenjak saat itu ibu mertua aku mulai menerima aku, sikapnya juga berubah jadi baik kepadaku meskipun aku belum bisa mempunyai keturunan, belum bisa memberikan cucu untuknya," terang jeny.
Wajah Dinda tampak murka, jeny yang menatap Dinda pun merasa takut. Ia yakin jika Dinda saat ini pasti begitu marah dan kecewa terhadapnya karena telah menikah dengan mantan pacarnya. Jeny sendiri sadar, mungkin ia sudah menjadi sahabat yang tidak baik karena sudah menikah dengan masa lalu sahabatnya sendiri. Tetapi apakah salah jika ia ingin bahagia? Lagipula waktu itu jeny sangat ingin memberitahu Dinda, tetapi ia tidak tahu dimana keberadaan Dinda.
"Din, kamu marah ya sama aku? Please jangan marah ya. Aku juga nggak tahu kenapa ini bisa terjadi. Ini adalah takdir hidup aku yang sudah ditentukan oleh Tuhan. Aku juga waktu itu sudah berusaha cari kamu untuk memberitahu soal ini, tetapi aku tidak menemukan kamu. Tolong jangan marah ya," ucap Jeny.
"Heh … heh … wahahaha … ."
Wajah Dinda yang tadinya tampak murka kini berubah menjadi tertawa terbahak-bahak yang membuat Jeny kebingungan sekaligus merasa lega.
"Jadi kamu pikirnya aku marah? Ya ampun Jen, ya nggak mungkin lah aku marah. Justru aku senang, aku senang karena akhirnya sahabat aku bisa bahagia, bisa menemukan jodohnya. Lagipula Gery itu kan hanya masa lalu aku, kamu juga tahu kan kalau aku sama sekali sudah tidak mencintai Gery. Semenjak hari itu aku sudah mencintai Nathan, tapi kamu tahu sendiri lah, aku semalam juga sudah cerita ke kamu," ucap Dinda.
"Dinda, makasih ya Din. Makasih banget, kamu itu benar-benar sahabat terbaik aku. Oh ya, aku janji saat di Jakarta nanti meskipun rumah kita agak jauh, tapi aku akan main ke rumah kamu, aku mau berkunjung ke toko kue kamu dan cicip² kue chef Dinda dong," kata jeny.
__ADS_1
"Boleh, boleh. Aku juga akan mampir kok nanti ke restoran kamu. Kabarin ya kalau restorannya sudah launching," kata Dinda.
Memang jeny sudah mengatakan setelah kursus dari sini nanti, ia akan membuka restoran sendiri dan chef-nya adalah dirinya sendiri dengan dibantu oleh sang suami.
"Iya dong. Kamu tenang aja, kamu akan jadi orang pertama yang aku kabarin di saat restoran aku nanti launching," ucap Jeny.
"Uh … gemesnya, so sweet banget sih sahabat aku," ucap Dinda.
Mereka berdua pun tersenyum bahagia lalu saling berpelukan.
"Sayang!" Panggil seorang pria hingga Jeny dan Dinda pun menoleh ke arahnya.
Ternyata pria tersebut adalah Gery, suami jeny yang baru saja tadi diceritakan olehnya
"Kak Gery sudah sampai?" Tanya jeny.
"Dinda," ucap Gery.
"Hai Ger, apa kabar?" Tanya Dinda.
"A-aku baik Din," jawab Gery tampak gugup.
"Nggak usah gugup gitu lah Ger, aku sudah tahu kok tentang hubungan kamu dan jeny. Dan jujur aku senang banget, aku hanya berharap kamu jangan pernah ya nyakitin hati jeny sahabat aku. Mudah-mudahan kalian berdua selalu bahagia," ucap Dinda.
"Aamiin," ucap Gery dan Jeny secara bersamaan.
"Makasih ya Din. Oh ya kamu sendiri gimana sekarang? Sudah menikah?" Tanya Gery.
__ADS_1
"Ya begitulah," jawab Dinda yang enggan menceritakannya kepada Gery. Lagipula Jeny istrinya itu juga sudah mengetahuinya, sudah pasti nanti Jeny akan menjelaskan kepadanya.
"Ya sudah, kalau gitu kita langsung pulang saja ya sekarang. Nanti kita ketinggalan pesawat lagi," kata Jeny. Ia tahu jika saat ini Dinda merasa tidak nyaman dengan pertanyaan dari suaminya.
"Iya Sayang. Din kamu mau barengan sama kita kan? Itu taksi online-nya sudah sekalian aku pesan untuk mengantar kita ke bandara," ajak Gery.
"Ya Din, bareng kita aja ya," ajak Jeny pula.
"Ya sudah boleh," jawab Dinda.
Lalu mereka bertiga pun langsung saja masuk ke dalam taksi, taksi segera melaju menuju ke bandara.
*****
Setelah menghabiskan waktu penerbangan selama 1 jam 30 menit, kini Dinda dan Gerald dan Jeny telah tiba di bandara Soekarno Hatta Jakarta.
"Din, kamu dijemput siapa? Mau sekalian bareng kita aja nggak, kebetulan supir kita udah jemput. Biar kita antar kamu pulang ke rumah sekalian," tawar Jeny.
"Nggak usah Jen, aku juga udah dijemput juga kok sama supir. Udah menunggu di depan," tolak Dinda.
"Oh gitu, ya udah kita langsung ke depan aja ya, kita berpisah di depan," kata Gery.
"Oke," jawab Dinda.
Saat Dinda, Jeny dan Gery tiba di depan, mereka bertiga sama-sama terkejut melihat sosok pria yang sudah menunggu Dinda di depan mobilnya itu.
...……… Bersambung ………...
__ADS_1