Rahim Penebus Hutang

Rahim Penebus Hutang
Curhatan Anak Kecil


__ADS_3

Nathan tampak terdiam mendengar pertanyaan dari dua orang yang disayanginya itu, ia berusaha tetap tenang dan menjawabnya, "Clara masih ada pemotretan penting yang tidak bisa ditinggalkan."


"Jadi Mami nggak akan ke sini ya Pi?" Tanya Keenan yang tampak begitu kecewa.


"Sayang, Mami hanya belum bisa ke sini. Tapi Mami kamu janji akan cepat menyelesaikan pemotretannya dan akan langsung ke sini," Jawab Nathan. Sedangkan Cynthia hanya diam saja menahan amarahnya.


"Ya sudah kalau gitu kita tunggu Mami datang ya Pi," ucap Keenan.


"Siap bos kecil," jawab Nathan yang membuat Keenan tertawa.


"Pi, Keenan punya teman baru loh, anaknya baik. Tadi dia dan mamanya yang mengantar kue ulang tahun Keenan," ucap Keenan dengan penuh semangat.


"Oh ya, memang siapa nama temannya, perempuan atau laki-laki?" Tanya Nathan.


"Namanya Nadine Pi. Dia perempuan cantik, dia juga baik deh sama Keenan. Keenan senang punya teman baru yang baik seperti Nadine," celoteh Keenan.


"Nadine? Kenapa sepertinya aku tidak asing ya dengan nama itu?" Batin Nathan.


Flashback on …


"Sayang, aku nggak sabar ingin melihat kamu hamil dan aku pasti akan menikahi kamu. Nanti setelah anak kita lahir, kita akan kasih namanya sesuai nama kita berdua," ucap Nathan.


"Oh ya memang kamu mau kasih nama anak kita siapa?" Tanya Dinda.


"Hm … siapa ya? Kamu punya ide nggak?" Tanya Nathan pula.


"Nathan, Dinda, Nadine kali ya," ucap Dinda.


Flashback off.


"Tidak … pasti ini hanya kebetulan saja," batin Nathan yang tersadar dari lamunannya.


"Wah kamu masih kecil saja udah tahu perempuan yang cantik dan baik," goda Nathan yang membuat anak kecil itu pun tersenyum malu.


"Oh ya Pi, Oma juga kenal loh sama mamanya Nadine. Soalnya tadi Oma berbicara dengan mamanya Nadine. Jadinya aku dan Nadine main berdua deh," ucap Keenan dengan polosnya, tentu saja kejujuran sang cucu membuat Cynthia tersentak.

__ADS_1


"Uhuk … uhuk … ." Mendadak Cynthia menjadi terbatuk-batuk.


"Ma, Mama tidak kenapa-napa kan?" Tanya Nathan sembari memberikan air minum untuk ibunya.


"Terimakasih Nak, Mama baik-baik saja kok," ucap Cynthia.


"Oh ya Sayang, memang siapa nama mamanya Nadine?" Tanya Nathan yang beralih ke anaknya lagi.


"Keenan lupa Pi, tapi Oma pasti tahu," jawab Kenan.


Kini keduanya melirik ke arah Cynthia seolah meminta jawabannya.


"Oh itu, Mama juga baru kenal kok. Wajar dong Mama ngobrol sama pemilik toko kue, memangnya salah? Sekedar Mengucapkan terimakasih saja. Mama juga ajakin dia dan Nadine buat ikut merayakan ulang tahun Keenan, tetapi ternyata mereka buru-buru mau pulang," terang Cynthia. Ia tidak mungkin menceritakan kepada Nathan siapa yang baru saja ditemuinya, karena ini juga merupakan permintaan Dinda agar tidak memberitahu anaknya itu.


"Oh … iya Ma tidak salah kok," ucap Nathan.


"Keenan, sekarang kita mulai saja ya acaranya. Nanti kemalaman lho," kata Cynthia sekaligus untuk mengalihkan pembicaraan tadi.


"Nanti ya Oma, Keenan mau tungguin Mami," jawab Keenan.


Sedangkan saat ini, Waktu sudah menunjukkan pukul 08.00 malam. Jika acaranya tidak segera dimulai, maka akan kemalaman. Mengingat banyaknya tamu undangan yang sudah hadir terutama anak-anak kecil, tentunya mereka sudah tidak sabar ingin memulai acaranya. Terlebih lagi mereka juga tidak mungkin pulang larut malam hari karena besok akan bersekolah.


"Tapi Keenan mau tunggu Mami." Kenan menangis dan tetap kekeh pada pendiriannya.


"Keenan sayang, kalau kamu seperti ini kasihan dong teman-temannya, mereka akan kecewa terus pulang. Keenan tidak mau kan teman-teman merasa kecewa," bujuk Cynthia pula.


Keenan tertunduk, ia sangat enggan untuk melangsungkan acara ulang tahunnya. Keenan tampak begitu sedih dan kecewa karena tidak melihat sosok ibunya yang sampai saat ini belum juga tiba. Akan tetapi karena ayah dan neneknya itu terus saja membujuk, pada akhirnya Keenan pun menyetujuinya untuk memulai acara meskipun dengan wajah yang cemberut.


Beberapa jam kemudian, acara pun telah selesai. Kini Nathan, Keenan dan Cynthia akan segera pergi meninggalkan restauran.


"Ma, biar aku antar Mama pulang dulu ya. Nanti baru aku dan Keenan pulang ke apartemen," ucap Nathan.


"Tidak usah Nathan, Mama pulang sama supir saja," tolak Cynthia. Sedangkan suami Cynthia saat ini sedang berada di luar Negeri, karena pekerjaannya di luar Negeri memang sangat banyak sehingga ia lebih banyak menghabiskan waktu di sana.


"Ya sudah Ma, kalau begitu Mama hati-hati ya," ucap Nathan.

__ADS_1


"Iya Sayang, kamu dan Keenan juga hati-hati ya," ucap Cynthia.


"Oke Oma," sahut Keenan, sedangkan Nathan hanya mengangguk saja.


Lalu mereka pun berpisah dan pulang ke kediaman masing-masing.


*****


"Ma, tadi waktu Nadine sedang bermain dengan Keenan, Keenan cerita soal papinya," ucap Nadine kepada ibunya sebelum mereka tidur.


"Oh ya? Memang Keenan cerita apa?" Tanya Dinda yang mendadak ingin tahu cerita tentang pria di masa lalunya itu. Nadine pun mulai menceritakannya kepada Dinda.


Flashback on...


"Nadine, Mama kamu baik ya dan pasti Mama kamu sayang banget sama kamu, nggak kayak Mami aku," kata Keenan.


"Kenapa kamu bisa bilang kalau Mami kamu nggak sayang sama kamu?" Tanya Nadine.


"Ya soalnya Mami selalu sibuk sama pekerjaannya, Mami nggak ada waktu buat aku dan malah selalu marah-marah sama aku. Aku aja setiap hari dititipin ke Oma karena Papi dan Mami sibuk kerja. Hanya Oma, Opa dan Papi yang sayang sama aku," jawab Nathan.


"Kamu nggak boleh ngomong seperti itu Keenan, gimana pun juga kamu harus bersyukur karena masih punya kedua orang tua, sedangkan aku udah nggak punya Papa lagi. Bahkan aku nggak pernah liat bagaimana wajah Papa aku. Tapi aku yakin pasti Papa aku tampan deh," ucap Nadine yang tampak sedih.


"Nadine kamu jangan sedih ya, nanti aku kenalin kamu sama Papi aku dan kamu boleh kok anggap Papi aku sebagai Papi kamu juga," ucap Kenan.


"Oh ya? Memangnya beneran boleh?" Tanya Nadine tak mempercayainya.


"Iya dong beneran," jawab Keenan.


"Janji ya," ucap Nadine seraya mengacungkan jari kelingkingnya seperti yang biasa ia lakukan bersama sang ibu.


Lalu Keenan pun mengucapkan kata janji dan menautkan jari kelingkingnya di jari kelingking Nadine sehingga membuat keduanya tersenyum. Tidak seperti obrolan anak kecil pada umumnya, tetapi itulah Nadine dan Keenan yang terlahir dengan kelebihannya sebagai anak yang genius.


Flashback off.


Tanpa disadari, Dinda meneteskan air matanya karena mendengar cerita dari anaknya itu. Bagaimana bisa seorang anak kecil seperti Keenan dan Nadine membahas soal keluarga, terlebih lagi Keenan menawarkan ayahnya untuk menjadi ayah Nadine yang jelas-jelas sebenarnya Nathan memanglah ayah kandung Nadine. Mereka adalah saudara yang memang sudah ditakdirkan untuk bertemu. Dinda merasa hatinya begitu perih, ia tidak tahu mau sampai kapan untuk menyembunyikan rahasia ini, apakah ia akan tetap membiarkan Nadine selamanya tidak akan mengetahui sosok ayahnya? Semua itu benar-benar membuat Dinda bingung. Dinda sendiri sampai saat ini sama sekali tidak ada keinginan untuk menikah dan mencarikan ayah pengganti untuk Nadine. Padahal umurnya sudah dibilang cukup matang, bahkan sudah bisa disebut sebagai perawan tua karena umurnya yang akan menginjak 31 tahun.

__ADS_1


...……… Bersambung ………...



__ADS_2