
Tidak hanya Ciara, bahkan Kenzo juga tampak terdiam karena menurutnya berbicara dengan Kenzie untuk saat ini sama sekali tidak ada gunanya. Karena pria tersebut sedang diliputi rasa benci dan juga amarah terhadapnya dan Ciara, yang dianggap telah berkhianat.
Hingga di saat itu pun Kenzie kembali melangkahkan kakinya pergi meninggalkan mereka, sedangkan Kenzo dan Ciara hanya terlihat diam saja tanpa mencegah atau menghalanginya sama sekali.
Salsa yang berdiri tidak jauh dari mereka dan melihat semuanya, langsung saja mendekati Ciara yang tampak sedih, bahkan terlihat air matanya yang sudah menetes.
"Ra, yang sabar ya," ucap Salsa sembari mengusap pelan pundak sahabatnya itu.
Sehingga Ciara pun langsung mengusap air matanya, mengganggukan kepala, serta tersenyum untuk menunjukkan bahwa ia baik-baik saja. Dan di saat itu pula Kenzo pun berjalan menghampiri dua wanita cantik tersebut.
"Ara, Salsa, ayo kita kerja saja sekarang," ajak Kenzo, sehingga mereka bertiga pun segera menuju ke ruang jenazah.
_____
Sementara itu Kenzie yang di saat ini berada di ruangannya, terlihat sangat kesal dan juga menahan emosi serta sesak di dalam dadanya. Ia tak menyangka akan sesakit itu rasanya saat bertemu dengan mantan kekasih dan juga saudaranya yang telah sah menjadi pasangan suami istri itu. Di dalam hatinya sudah diliputi rasa benci terhadap keduanya dan ia akan terus menganggap bahwa Kenzo dan Ciara adalah dua orang pengkhianat yang selamanya tidak akan pernah mendapatkan maaf darinya.
"Aku benar-benar benci dengan kalian berdua. Kenapa aku harus melihat kalian berdua di sini, harus sampai kapan aku menahan sakit hati ini? Aku benci dengan kalian," batin Kenzo seraya menatap tajam.
"Dokter, Dokter Kenzie, pasien ruang rawat 205 harus dioperasi sekarang juga karena kondisinya benar-benar sangat kritis," ucap salah satu perawat yang menghampirinya, sehingga membuat Kenzie pun tersadar dari lamunannya
"Oh, baik Sus! Kita ke sana sekarang," ucap Kenzie yang langsung saja pergi bersama suster tersebut.
Meskipun saat ini ia sedang memiliki masalah yang rasanya sangat berat, tetapi ia harus tetap fokus dan menyelesaikan pekerjaannya di rumah sakit. Jangan sampai karena masalah pribadinya itu malah membuat pekerjaannya selalu saja terbengkalai.
_____
"Ciara, aku ke kantor dulu ya. Untuk hari ini penelitiannya sudah cukup, aku harus segera memberi laporan kepada komandan," ucap Kenzo saat mereka masih berada di ruang jenazah, sedangkan Salsa berada di ruang laboratorium untuk melakukan penelitian selanjutnya.
Akan tetapi Ciara terlihat sedang melamun sehingga sama sekali tidak menanggapinya, entah apa yang sedang dipikirkannya saat ini.
__ADS_1
"Ciara," panggil Kenzo lagi.
"Iya Kenzie," jawab Ciara yang membuat Kenzo tersentak karena Ciara menganggap bahwa dirinya adalah Kenzie dan ia sangat yakin jika saat ini yang sedang dipikirkan istrinya adalah saudara kembarnya itu.
Ciara sendiri merasa terkejut dengan ucapannya, ia tidak sengaja menyebut nama pria yang masih sangat dicintainya.
"Maaf, maksud aku Kenzo. Ada apa?" Tanya Ciara.
"Maaf aku mengganggu lamunan indahmu, ternyata dari tadi kamu melamun karena sedang memikirkan Kenzie, pantas saja kamu tidak menggubris ucapanku. Aku hanya bilang kalau aku harus ke kantor sekarang, penelitian kita hari ini sudah cukup," pamit Kenzo yang langsung saja pergi meninggalkan Ciara.
"Kenzo, apa kamu tidak mau memakai mobilku?" Tawar Ciara.
Kenzo tak menjawabnya, ia hanya mengibaskan tangannya pertanda bahwa ia menolak dan terus melangkahkan kaki pergi meninggalkan wanita tersebut. Saat Ciara menyebut nama Kenzie membuatnya begitu terasa sakit, bagaimana caranya ia akan bersabar untuk menghadapi sikap Ciara kedepannya yang sudah pasti akan terus dibayang-bayangi oleh Kenzie, pria yang masih dicintai oleh istrinya tersebut.
*****
Hari-hari pun terus aja berlalu, meskipun saat ini Kenzo dan Ciara sudah menjalani pernikahan mereka selama dua bulan, tetapi Ciara tetap saja cuek dan bersikap acuh tak acuh terhadap Kenzo. Bahkan ia terlihat semakin tak peduli dan menganggap bahwa Kenzo tidak ada meskipun mereka tinggal di satu atap dan Kenzo sudah berusaha untuk bersikap baik dan juga perhatian, yang tentunya jika wanita lain pasti akan merasa senang mendapatkan perhatian tersebut dari suaminya sendiri.
Meskipun Kenzo adalah saudara kembar Kenzie dan mereka sangat sulit untuk di bedakan, tetapi tetap saja Ciara tahu bahwa hatinya saat ini hanyalah milik Kenzie, bukan Kenzo. Bahkan karena rasa cintanya yang begitu besar, Ciara bisa merasakan jika ia sedang bersama dengan siapa, meskipun keduanya berdandan sama persis.
Tok … tok … tok …
Terdengar suara ketukan pintu kamar Ciara. Karena sejak pulang dari rumah sakit tadi Ciara sama sekali tidak keluar kamar, ia juga tidak masak seperti biasanya dan membuat Kenzo pikir jika Ciara mungkin merasa kelelahan. Sehingga Kenzo pun memesan makanan di luar dan saat ini makanan tersebut sudah datang, ia berniat akan mengajak istrinya tersebut untuk menyantap makan malam bersama.
"Ra, apa kamu sudah tidur? Kamu belum makan 'kan dari tadi. kita makan dulu yuk, aku sudah memesan makanan untuk kita," ucap Kenzo diiringi ketukan pintu.
Tok … tok … tok …
Hingga beberapa kali Kenzo mengetuk pintu tetapi sama sekali tidak ada tanggapan dari Ciara, yang membuatnya pun merasa sangat khawatir.
__ADS_1
"Ciara, kamu baik-baik saja 'kan?" Tanya Kenzo, lalu ia pun mencoba untuk membuka pintu kamar Ciara dan ternyata tidak dikunci.
Sehingga segera saja Kenzo masuk ke dalam kamar tersebut dan sangat terkejut melihat Ciara yang di saat itu sedang meringkuk serta merintih kesakitan.
"Ara, kamu kenapa Ciara?" Tanya Kenzo.
Kenzo terpaksa masuk ke kamar Ciara meskipun sudah ada aturan bahwa ia sama sekali tidak boleh masuk ke dalam ruangan yang sangat privasi bagi istrinya itu, baik dalam kondisi apapun.
"Perutku sakit," ucap Ciara lirih.
"Sakit perut kenapa? Kita ke rumah sakit ya sekarang. Apa mungkin ini karena kamu belum makan," ucap Kenzo.
"Akh … Ini rasanya benar-benar sakit," rintih Ciara.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang Ra?" Aku benar-benar tidak tahu," tanya Kenzo, karena memang ini pertama kalinya ia menghadapi wanita dalam kondisi seperti saat ini.
"Kamu tidak perlu melakukan apapun. Ini sudah biasa aku rasakan setiap bulan, tapi bulan lalu rasanya tidak sesakit ini, jadi lebih baik sekarang kamu keluar dari sini. Kenapa kamu lancang masuk ke kamarku?" Tukas Ciara.
"Sudahlah Ciara tidak usah memikirkan hal itu, untuk sekarang yang terpenting adalah kondisi kamu. Katakan apa yang harus aku lakukan, apa ada obat yang bisa menyembuhkan rasa sakit ini?" Tanya Kenzo yang terlihat sangat cemas.
"Keluar Ken, aku hanya minta kamu keluar sekarang. Akh … ," rintih Ciara lagi.
Kenzo yang merasa panik dan tidak tahu harus melakukan apa, langsung saja keluar dari kamar Ciara dan mengambil ponselnya yang berada di ruang makan. Lalu ia pun menghubungi Dinda untuk menanyakan apa yang harus dilakukannya dalam kondisi seperti saat ini dan mendapatkan saran dari Ibunya tersebut.
Kenzo mengambil segelas air hangat dan juga memasukkan air hangat tersebut ke dalam botol, lalu membawanya kembali ke kamar Ciara.
"Ra, kamu minum dulu ya. Aku benar-benar tidak tahu apakah ini membantu, tapi kata Mama minum air hangat ini bisa mengurangi rasa nyeri di perut kamu. Kalau memang ada obat yang harus aku beli untuk meredakan rasa sakit kamu, aku akan pergi sekarang," ucap Kenzo seraya membantu Ciara untuk meminum air tersebut dan Ciara pun menerimanya tanpa penolakan sama sekali.
"Ini juga air hangat di dalam botol untuk mengompres perut kamu. Kamu kompres saja ya, aku tidak akan melihatnya," ucap Kenzo yang membalikan badannya agar Ciara bisa dengan leluasa menaruh botol tersebut di atas perutnya.
__ADS_1
Ciara benar-benar melakukan semua perintah Kenzo meskipun sebenarnya ia tidak pernah melakukan hal ini sebelumnya, ia tahu dan bisa merasakan jika saat ini suaminya itu benar-benar sangat tulus untuk merawatnya.
...*****...