
Tidak lama kemudian Kenzie pun ikut masuk ke dalam rumah dan langsung menuju ke kamarnya.
"Argh … !" Teriak Kenzie seraya memukul-mukul kepalanya sendiri karena merasa sangat stres atas apa yang terjadi.
Kenzie benar-benar sangat marah dan merasa kecewa atas perbuatan saudara kembar dan mantan kekasihnya, tetapi benar apa kata ibunya bahwa dengan ia bersikap seperti sekarang tidak akan bisa mengembalikan keadaan seperti semula. Dari dalam lubuk hatinya yang paling dalam terbesit sedikit rasa bersalah atas sikapnya yang sudah keterlaluan terhadap saudara kembarnya itu, ia sangat menyayangkan kenapa hubungan persaudaraan mereka harus hancur hanya karena mereka mencintai satu wanita yang sama.
Lalu Kenzie pun keluar dari kamarnya dan masuk ke dalam kamar Kenzo yang saat ini sudah tampak sepi, meskipun semuanya masih tertata rapi dan sama sekali tidak ada yang berubah di sana. Di dalam kamar ini juga menyimpan banyak kenangan antara dirinya dan Kenzo, mereka sering berbagi cerita, tertawa, bahkan sedih bersama-sama.
Kenzie duduk di tepi ranjang dan matanya tertuju pada sebuah bingkai di atas nakas, di mana ada fotonya bersama saudara Kenzo saat saat masih kecil. Kenzie mengambil bingkai foto tersebut dan mengingatkannya pada kenangan masa lalu saat mereka masih berusia 8 tahun. Di mana ada sebuah perlombaan tetapi ia dianggap curang sehingga membuat salah satu temannya marah dan mengejeknya, ia pun menangis karena ejekan temannya itu dan kakinya juga terluka karena di dorong. Di saat itu Kenzo datang dan membelanya, serta membuat orang yang tadi telah membuatnya menangis langsung meminta maaf. Lalu Kenzo juga menghiburnya agar tidak menangis lagi dan juga menggendongnya, membawa pulang ke rumah.
Tak hanya itu saja, bahkan saat mereka beranjak remaja dan dewasa Kenzo lah yang selalu berada di dekatnya, membela, mendukung serta membantunya di dalam kesusahan. Meskipun umur mereka hanya berbeda 5 menit saja, tetapi baginya Kenzo benar-benar sosok kakak yang bisa memimpinnya karena Kenzo bisa bersikap lebih dewasa.
Tiba-tiba saja Kenzie menangis histeris dan air matanya mengalir deras karena mengingat kenangan masa lalu bersama dengan saudara kembarnya itu, ia tak pernah menyangka jika hubungan persaudaraan mereka akan menjadi seperti sekarang ini.
*****
"Stop Pak!" Ucap Kenzo kepada supir taksi saat berada di jalanan yang cukup sepi, tidak ada pemukiman sama sekali di sana.
Setelah membayar beberapa lembar uang kepada supir itu, Kenzo pun langsung saja keluar dari taksi dan tampak berjalan menelusuri jalan setapak yang ternyata menuju ke sebuah danau. Hanya ada sorotan lampu dari jarak jauh sehingga tempat tersebut terlihat gelap. Lalu Kenzo pun berdiri di tepi danau, berharap bisa menenangkan hatinya di sana.
Air matanya tampak mengalir deras bak air sungai saat ia mengingat kenangan masa lalunya bersama Kenzie, adik yang begitu disayanginya. Ia juga mengingat bagaimana harmonisnya keluarga mereka bahkan saat masih ada Keenan dan Nadine di kediaman Collin, tetapi sekarang semua seakan sirna dan yang ada hanyalah kebencian karena kesalahan yang ia lakukan.
__ADS_1
"Kenapa semuanya harus menjadi seperti ini. Apa salah jika aku mencintai seseorang, apa salah jika aku mencintai dan menikah dengan wanita yang aku cintai? Aku tahu Ciara kekasih saudaraku sendiri, tapi mau bagaimana lagi, aku juga harus bertanggung jawab dengan apa yang sudah aku lakukan. Tapi setelah aku bertanggung jawab dan berusaha menjadi suami yang baik, kenapa Ciara juga sama sekali tidak menghargaiku, kenapa dia malah ikut membenciku. Kenapa semua orang menyalahkanku, kenapa tidak ada orang lain yang membelaku selain Mama, kenapa?" Ucap Kenzo.
"Argh … !" Teriak Kenzo sembari melempar batu ke arah danau hingga sejauh mungkin.
Lalu ia pun meringkuk dan bersimpuh seraya menangis sejadi-jadinya. Saat ini hatinya benar-benar sangat rapuh dan hancur, tak tahu bagaimana harus menjalani kehidupannya saat ini.
*****
Sementara itu, Ciara tampak modar-mandir di kamarnya karena sampai saat ini Kenzo belum juga pulang ke rumah, padahal waktu sudah menunjukkan pukul 23.30 WIB. Ia benar-benar merasa tidak tenang, takut terjadi sesuatu dengan pria itu. Meskipun ia tidak mencintai Kenzo, tetapi bagaimanapun juga pria itu tetap suaminya. Apalagi sebelum pergi mereka sempat bertengkar hebat, lalu Kenzo pergi tidak membawa kendaraan yang membuat Ciara pun merasa cemas.
Lalu ia meraih ponselnya dan mencoba untuk menghubungi Kenzo tetapi nomor ponsel suaminya itu tidak aktif, yang membuat kekhawatirannya bertambah. Sehingga pada akhirnya ia memutuskan untuk menghubungi Dinda hingga beberapa kali tetapi ibu mertuanya itu juga tidak menjawab teleponnya, membuatnya menjadi bingung tidak tahu harus melakukan apa. Rasanya saat ini juga ia ingin keluar mencari dimana keberadaan Kenzo meskipun tadi Dinda sudah berpesan bahwa ia tidak boleh ke mana-mana.
"Halo Ma. Ma maaf ya aku mengganggu Mama malam-malam seperti ini," ucap Ciara.
"Ada apa Sayang, apa terjadi sesuatu denganmu?" Tanya Dinda.
"Ma, Kenzo belum pulang ke rumah. Tadi waktu Mama mengabari Kenzo dari sana aku pikir dia akan pulang ke rumah, ternyata dia tidak pulang dan aku kira mungkin Kenzo hanya pergi sebentar menenangkan pikirannya tapi sampai sekarang Kenzo belum juga pulang Ma," ucap Ciara yang terlihat panik.
"Ciara, kamu tenang ya. Mungkin Kenzo sedang ada di perjalanan pulang sekarang," ucap Dinda.
"Tapi bagaimana kalau dia tidak pulang juga Ma, aku takut terjadi sesuatu dengan Kenzo. Saat ini pasti kondisinya benar-benar sangat kalut, dia habis bertengkar denganku terus bertengkar dengan Kenzie dan juga Papi, pasti sekarang dia benar-benar sangat hancur. Bagaimana ini Ma, apa aku pergi saja mencari keberadaan Kenzo," ucap Ciara.
__ADS_1
"Jangan Ciara dan jangan berpikiran yang macam-macam Sayang. Kamu tetap di rumah ya, jangan sampai keluar karena kamu sedang hamil. Apalagi ini sudah malam, akan sangat berbahaya jika kamu keluar sendirian. Lagi pula kamu juga tidak tahu 'kan mau mencari Kenzo ke mana? Mama akan mencoba menghubungi teman Kenzo untuk mencari keberadaannya, mungkin temannya juga tahu di mana sekarang Kenzo berada," ucap Dinda.
"Iya Ma, terima kasih banyak ya Ma. Sekali lagi aku minta maaf karena sudah mengganggu Mama malam-malam seperti ini, aku mohon kabari aku segera ya Ma," ucap Ciara dan mengakhiri telepon tersebut.
_____
Hingga setengah jam lamanya Ciara menunggu, tetapi ia belum juga mendapatkan kabar apapun tentang Kenzo. Membuatnya benar-benar merasa sangat khawatir dan juga tidak bisa tidur, bahkan ia bolak-balik memeriksa ponselnya, berharap ada panggilan dari Dinda, Kenzo atau siapapun itu yang mengabari keberadaan suaminya saat ini, tetapi nyatanya sama sekali tidak ada.
Tok … tok … tok …
Hingga di saat itu pun terdengar suara ketukan pintu rumah yang membuat Ciara tersentak, ia juga merasa takut karena saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 00.00 WIB. Bagaimana jika itu orang jahat atau perampok yang ingin menyakitinya? Tetapi mungkin saja itu Kenzo karena ia memang mengunci pintunya dari dalam dan Kenzo sendiri juga tidak membawa kunci cadangan sehingga tidak mungkin bisa masuk jika ia tidak membuka pintunya.
Untuk membuktikannya, perlahan Ciara keluar dari kamarnya dan menuju ke pintu utama. Tetapi sebelum membuka pintu, karena ruangan itu gelap sedangkan di luar terang membuat Ciara bisa melihat siapa yang ada di depan rumah dengan mengintipnya dari jendela. Akan tetapi ternyata ia tidak bisa melihat jelas, hanya tahu jika yang mengetuk pintu adalah seorang pria.
"Cia-ra bu-ka pintu-nya." Terdengar suara seseorang yang mengucap dengan terbata-bata, yang membuat Ciara pun langsung saja membuka pintu karena mengenali suara suaminya.
Di saat pintu terbuka, Ciara merasa sangat terkejut melihat Kenzo yang langsung saja terjatuh dan tergeletak di atas lantai dalam kondisi yang memprihatinkan.
"Kenzo … !"
...*****...
__ADS_1