
"Din maafkan Ibu, pasti kamu kecewa terhadap Ibu. Tapi ibu sudah tidak sanggup lagi untuk menyembunyikan semuanya. Lagipula bukankah Nathan juga berhak tahu jika Nadine itu adalah anaknya," ucap Santi.
"Nathan nggak perlu tahu Bu. Bukankah selama ini baik-baik saja kalau Nathan tidak tahu. Nadine juga sudah bahagia kok," ujar Dinda yang terlihat mulai emosi.
Din kamu tidak perlu marah-marah seperti itu kepada ibu kamu, justru apa yang Ibu kamu lakukan itu sudah benar. Selama ini aku juga mencari kamu Din. Aku masih mencintai kamu dan aku akan menikahi kamu," ungkap Nathan yang membuat Dinda tercengang mendengarnya.
"Kamu ngomong apa? Kamu cinta sama aku? Kamu sudah gila ya, kamu itu sudah punya anak dan istri Nathan. Apa pantas kamu mencintai wanita lain," kata Dinda.
"Tapi aku dan Clara tidak pernah saling mencintai. Bahkan kita bisa mempunyai anak juga karena keinginan Mama dan kalau kemarin aku tahu kamu sudah hamil Nadine, aku tidak mungkin membiarkan kamu pergi Din. Aku pasti akan bertanggung jawab," kata Nathan menatap Dinda dengan serius.
Dinda terdiam, ia teringat 6 tahun lalu di saat itu ada seorang wanita datang menghampirinya dan memintanya untuk pergi jauh dari kehidupan keluarganya, karena dia sedang hamil. Siapa lagi wanita itu kalau bukan Clara, ia sengaja menghampiri Dinda karena tahu jika Nathan sudah menaruh hati padanya. Tentu Clara tidak mau Nathan akan meninggalkannya hanya karena wanita lain yang bukan siapa-siapa. Untuk itulah Dinda yang merasa sangat mencintai Nathan pun terpaksa pergi meninggalkan Nathan, ia tidak mau mengganggu rumah tangganya.
"Aku sudah menalak Clara Dinda, aku juga sedang mengurus surat perceraian kami. Kami akan bertemu di sidang dan berpisah, setelah itu aku bisa menikah dengan kamu. Tolong percaya sama aku Dinda, aku tahu kamu masih mencintai aku kan," kata Nathan dengan percaya diri.
"PD banget ya kamu, siapa yang bilang kalau aku masih mencintai kamu. Cinta untuk kamu sudah aku kubur dari lama Nathan," ucap Dinda menolak hatinya.
"Tapi kamu tidak pernah berhasil kan untuk melupakan aku. Buktinya sampai sekarang kamu belum juga menikah," ujar Nathan.
"Itu masalah hidup aku, urusan pribadi aku. Kenapa sekarang aku belum menikah atau sudah menikah itu bukan urusan kamu. Nathan, lebih baik sekarang kamu pergi dari rumah aku dan jangan pernah kembali lagi!" Usir Dinda.
"Oke, aku akan pergi. Tapi ingat Dinda, aku akan kembali lagi setelah aku dan Clara resmi bercerai. Aku pastikan semua ini akan cepat selesai dan kita akan menikah. Pikirkan baik-baik Dinda, ini semua demi Nadine. Apa kamu mau membiarkan Nadine selamanya tidak mengetahui siapa ayah kandungnya, apa kamu selamanya mau mengatakan kepada Nadine jika ayah kandungnya sudah meninggal padahal jelas-jelas dia sudah bertemu dengan ayah kandungnya. Kamu mau itu terjadi selamanya? Nadine itu perempuan, bukankah di saat menikah nanti juga membutuhkan ayah kandungnya," ucap Nathan.
__ADS_1
Tanpa sadar butiran bening keluar dari sudut mata Dinda, rasanya begitu pedih mendengar ucapan yang keluar dari mulut Nathan.
"Pergi kamu sekarang, pergi!" Teriak Dinda.
"Nathan, tolong sekarang kamu pergi dulu ya. Biarkan Dinda tenang, nanti biar Bibi yang berbicara dengan Dinda," kata Santi mencoba memberi pengertian kepada Nathan.
"Iya Bi tolong aku ya. Aku akan kembali lagi ke sini," ucap Nathan dan ditanggapi anggukan oleh Santi.
Lalu Nathan pun segera saja pergi meninggalkan rumah Dinda, sedangkan Dinda langsung masuk ke kamarnya dan mengunci pintu. Ia menangis sejadi-jadinya tanpa satu orang pun yang berani mengganggunya saat ini.
"Kenapa dia harus kembali lagi di saat hidup aku sudah mulai tenang, kenapa? Kenapa dia berhasil mengobrak-abrik isi hatiku? Aku sudah bersusah payah melupakannya dan disaat aku sudah bahagia dengan kehidupan aku sendiri, kenapa sekarang dia datang lagi. Apa aku tidak pantas bahagia, apa aku harus terus berada di dalam bayang-bayangannya? Kenapa?!" ucap Dinda yang terus bermonolog dengan dirinya sendiri.
*****
"Tante, apa Tante yakin Clara benar-benar menerima perceraian itu? Bukankah seperti yang Tante bilang Clara sangat menolaknya," tanya Dinda.
"Ya mau bagaimana lagi, tetap saja saat ini proses perceraian sudah diterima oleh pengadilan dan mereka juga sudah menjalani sidang pertama, itu artinya mereka akan segera berpisah. Dan di saat mereka nanti resmi berpisah, Nathan pasti akan langsung datang melamar kamu menjadi istrinya. Tante harap kamu bisa menerima ketulusan Nathan yang terlihat selama ini benar-benar mencintai kamu Dinda, dia benar-benar serius," kata Cynthia.
Dinda tampak berpikir, ia tidak tahu harus bicara apa. Di dalam hatinya masih ada rasa ragu dan bimbang, kenapa Nathan harus melakukan ini semua? Dia rela berpisah dengan sang istri hanya demi dirinya. Padahal ia sudah mati-matian selama ini untuk pergi dari hidup Nathan.
*****
__ADS_1
Enam bulan pun telah berlalu, kini Nathan dan Clara sudah resmi berpisah. Hak asuh Keenan juga jatuh di tangan Nathan setelah Nathan memberitahu pengadilan bagaimana sikap Clara terhadap anaknya selama ini, tentunya juga dengan bukti. Sebenarnya Clara sendiri sama sekali tidak memperjuangkan hak asuh itu, yang ia perjuangkan hanyalah Nathan.
Sementara itu Anton terlihat sangat marah karena mengetahui sikap Clara selama ini, berbeda dengan Vira yang sebenarnya sudah tahu dan malah diam-diam mendukung di belakang.
Nathan, Clara dan kedua orang tua mereka tampak keluar secara bersamaan dan bertemu di depan.
"Terima kasih karena selama ini kau telah menjadi istriku Clara. Hari ini kita sudah resmi berpisah, aku harap kau bisa bahagia karena sudah terbebas dari aku dan juga Keenan," ucap Nathan.
"Oke, sekarang kau boleh menang karena berhasil menceraikan aku. Tetapi perlu kau ingat Nathan, kau tidak akan pernah bahagia hidup bersama wanita itu," ancam Clara.
Nathan sedikit terkejut karena ternyata Clara tahu tujuannya berpisah dengan Clara salah satu alasannya karena untuk wanita lain. Tapi sudahlah, Itu juga tidak penting, yang terpenting saat ini mereka telah berpisah dan Nathan pun sama sekali tidak merasa takut dengan ancaman yang keluar dari mulut Clara, wanita yang sangat licik itu.
"Jeng, saya benar-benar kecewa dengan Anda. Saya tidak menyangka Anda sebagai orang tua malah membela dan mendukung perpisahan di antara rumah tangga anak kita. Tapi Anda lihat saja, Anda pasti akan menyesal karena telah kehilangan menantu sebaik Clara," ucap Vira yang begitu terlihat sangat murka.
"Saya jamin, saya tidak akan pernah menyesal," ucap Cynthia singkat, padat, dan jelas sehingga membuat Clara dan Vira yang mendengar itu pun semakin kesal.
Sedangkan Frans dan Anton hanya diam saja, karena Anton sendiri sudah sangat kecewa dengan sikap anaknya itu.
...……… bersambung ………...
__ADS_1