
Tidak mau menunggu berlama-lama, Nathan yang sangat antusias itu pun meminta untuk langsung menikah setelah 1 bulan lamaran.
Hari-hari telah berlalu hingga kini tiba saatnya hari pernikahan Nathan dan Dinda. Tidak lupa mereka berdua mengundang seluruh kerabat, sahabat dan juga teman-teman dekat mereka berdua. Dinda juga mengundang Gio dan Lily sahabatnya di Bandung. Tentu saja mereka datang di hari bahagia sahabatnya itu.
Begitu juga dengan Jeny dan Gery, mereka pun tampak hadir dengan perut Jeny yang sudah terlihat agak membuncit. Ya sejak kepulangannya dari pelatihan, ia tidak tahu jika saat itu ternyata sudah hamil, karena berkat kegigihan dan usahanya selama ini. Tentu saja selain ingin menghadiri hari penting sahabatnya, Jeny juga ingin memberitahu kabar bahagia yang terjadi pada dirinya itu.
*****
Acara ijab kabul berjalan dengan sangat lancar, Dinda yang begitu terlihat sangat anggun dan juga Nathan yang sangat tampan membuat semua orang yang melihat mereka berdua merasa iri dan juga kagum. Mereka berdua benar-benar pasangan yang terlihat begitu sempurna dan serasi.
Dinda dan Nathan berjalan bergandengan tangan di atas panggung diiringi dengan kedua anak mereka yang berdiri di samping mereka masing-masing. Sungguh kebahagiaan yang tidak bisa diungkapkan bagi mereka berdua saat ini, ternyata setelah perjalanan panjang dan melewati berbagai rintangan, akhirnya jodoh telah mempersatukan mereka kembali.
"Selamat ya sahabatku sayang, aku nggak nyangka banget akhirnya kamu dan Nathan akan berjodoh," ucap Jenny.
"Thanks ya, kalian sudah mau punya anak aja," kata Nathan yang melirik Jeny.
"Kamu apa-apaan sih malah merhatiin perut jeny," hardik Dinda.
"Kan memang kelihatan Sayang," ucap Nathan.
"Hm ia deh," ucap Dinda.
"Udah, udah. Selamat ya buat kalian berdua, mudah-mudahan Dinda cepat menyusul nanti seperti aku ini," ucap Jeny.
"Aamiin, tapi kita juga udah punya anak dua kok Jen. Tenang aja yang ketiga, keempat, kelima dan seterusnya nanti nyusul," kata Nathan.
"Banyak banget, memangnya kalian mau punya anak berapa?" Tanya Jeny
"Kalau bisa sih dua lusin cukup lah," jawab Nathan enteng.
"Hah dua lusin? Kamu pikir anak kucing apa," gerutu Dinda.
__ADS_1
"Selamat ya buat kalian berdua, mudah-mudahan menjadi keluarga yang bahagia sampai maut memisahkan," ucap Gery.
"Aamiin … , makasih ya Ger, Jen, kalian udah jauh-jauh datang ke sini. Ya udah silahkan duduk, dinikmati hidangannya," ucap Dinda.
"Iya sama-sama Din. Oke, lagipula bayi dalam perut aku udah nggak sabar nih mau makan," kata Jeny.
"Bayi atau mamanya yang lapar," kata Dinda.
"Kayaknya mamanya sih Din, semenjak hamil ini makannya jadi banyak. Lihat aja tu Jeny udah mulai gendutan kan," kata Gery.
"Ih biarin aja, yang penting kamu masih cinta kan sama aku," hardik Jeny.
"Iya dong, mau kamu seperti apapun, aku tetap cinta sama kamu," ucap Gery yang membuat mereka pun tersenyum.
Kini giliran Lily dan Gio yang mendekat untuk memberikan selamat kepada mereka berdua.
"Kalian berdua menginap dimana? Kenapa nggak nginap di rumah aku aja," Tanya Dinda.
"kita nginap di penginapan Din. Nggak enak dong ganggu calon pengantin tadi malam," jawab Lily.
"Apaan sih Din, ya nggaklah. Kita berdua kan belum nikah," jawab Lily.
"Bercanda, tapi ya udah cepetan kalian nikah nyusul kita," ucap Dinda.
"Iya tenang aja, sebentar lagi setelah kalian, kita berdua kok yang akan menikah," kata Gio.
"Kita tunggu ya undangannya," kata Dinda.
Semua yang hadir tampak bahagia menghadiri acara pernikahan Dinda dan Nathan, begitu juga dengan Keenan dan Nadine yang saat ini sedang bermain bersama.
"Keenan, aku nggak nyangka deh ternyata selain sahabat kita adalah saudara," ucap Nadine.
__ADS_1
"Iya Nadine aku juga, mudah-mudahan Papi dan Mama bahagia dan kita berdua bisa menjalin hubungan sebagai saudara dengan baik," ucap Keenan.
"Aku juga berharapnya seperti itu Keenan," kata Nadine.
Santi, Doni, Cynthia dan Frans yang saat ini sedang berada di dekat mereka pun ikut tersenyum bahagia.
*****
Hingga malam pun tiba, satu persatu tamu undangan bergantian memberi selamat kepada kedua mempelai dan berangsur pulang hingga acara pernikahan telah selesai.
Nathan dan Dinda menginap di hotel tempat acara mereka digelar, sebelum nantinya mereka akan pindah ke rumah yang telah dihadiahkan oleh Nathan untuk Dinda sebagai salah satu hadiah pernikahan mereka. Sedangkan Keenan dan Nadine di bawa pulang oleh Oma dan Neneknya terlebih dahulu, karena nanti setelah orang tua mereka pindah rumah barulah Keenan dan Nadine akan ikut serta.
Kini pasangan pengantin baru itu pun sudah berada di dalam kamar pengantin mereka.
"Sayang, bisa bantu bukain kancing gaun aku nggak? Kayaknya nyangkut nih," kata Dinda yang terlihat kesusahan.
Tentu saja dengan sangat cepat Nathan pun mendekati istrinya itu dan perlahan membuka kancingnya, sungguh pemandangan yang sangat indah di depan mata yang sudah lama tidak ia lihat. Sehingga Nathan menelan salivanya secara kasar, ia sangat terpesona melihat punggung mulus milih sang istri dan ingin segera mencicipinya.
"Sayang, mandinya nanti aja ya," ucap Nathan.
"Loh memang kenapa?" Aku udah gerah Sayang," kata Dinda.
"Jujur aku sangat merindukan kamu sejak kita melakukannya dulu. Nanti aja ya mandinya, aku udah pengen banget nih, udah lama banget aku menahannya," kata Nathan.
Dinda tersenyum, karena tidak mendengar jawaban apapun dari Dinda yang mengartikan bahwa ia setuju, Nathan pun segera saja membalikkan tubuh sang istri hingga mereka berdua berhadapan.
Nathan mulai menempelkan bibirnya di atas bibir milik sang istri lalu perlahan mulai melu***nya, Dinda memenjamkan matanya itu sembari menikmati ciuman lembut yang diberikan oleh Nathan, lalu mengalungkan tangannya di leher sang suami. Dinda juga membalas ciuman tersebut dengan penuh gairah, mereka saling melu*** dan bergantian menyesap lidah sambil sesekali bertukar saliva. Nathan semakin memperdalam ciuman mereka lalu menggendong istrinya ala koala tanpa melepas pagutan mereka dan membawanya ke atas kasur lalu merebahkannya secara perlahan. Kini ciuman itu beralih turun ke leher, dan juga dada milik sang istri.
"Ahg … ," desa*** nikmat keluar dari mulut Dinda yang membuat Nathan tidak sabar ingin melakukan hal lebih.
Segera saja Nathan melepas bajunya dan gaun Dinda, juga penghalang dadanya hingga kini mereka berdua sama-sama polos. Nathan begitu kagum melihat dua bukit kembar yang menyembul di depan matanya seolah meminta disantap. Dengan sangat rakus Nathan segera saja menyesapnya dengan tangan satunya menjelajahi seluruh tubuh sang istri yang membuat istrinya itu mendesah dan tertahankan.
__ADS_1
Karena keduanya sudah tidak tahan lagi, Nathan pun segera saja menyatukan miliknya yang sudah tampak mengeras ke lembah kenikmatan yang sudah menunggunya. Suara erangan dan desa*** terdengar dari mulut keduanya mengisi ruangan saat ini. Dinda dan Nathan benar-benar merasakan kenikmatan yang luar biasa saat mereka telah mencapai puncaknya secara bersamaan. Meskipun ini bukanlah pertama kali mereka melakukannya, tetapi terasa sangat berbeda karena mereka telah menjadi pasangan suami istri yang sah.
...……… Bersambung ………...