
Malam pun datang, Nathan begitu gelisah, ia sudah tidak sabar lagi ingin menemui pujaan hatinya yang saat ini entah berpikiran apa tentang dirinya. Ia pun segera saja meraih kunci mobilnya di atas nakas lalu turun ke lantai bawah hendak pergi meninggalkan rumah orang tuanya itu.
"Kamu mau ke mana Nathan?" Tanya Cynthia yang bertemu dengan anaknya di ruang depan.
"A-aku … aku mau pulang Ma," jawab Nathan gugup.
"Kamu jangan coba-coba membohongi Mama ya, Mama sudah kenal siapa kamu. Mama sudah hafal betul bagaimana sifat kamu kalau kamu sedang berbohong, kamu terlihat sangat gugup Nathan," kata Cynthia.
"Ma, aku benar-benar mau pulang, aku tidak membohongi Mama. Aku mau pulang bertemu dengan Clara, baru saja Clara kasih kabar ke aku kalau dia sudah siap pemotretan dan akan pulang," kata Nathan.
"Kamu tidak lagi mencari alasan dengan membohongi Mama kan?" Tuding Cynthia.
"Tidak Ma, untuk apa juga aku membohonginya Mama, tidak ada untungnya Ma. Aku memang mau pulang ke apartemen. Kalau Mama tidak percaya, nih lihat saja ada chat dari Clara," kata Nathan sembari menyodorkan ponsel di tangannya itu lalu memperlihatkan isi pesan dari Clara.
Memang di situ Clara mengatakan jika ia sudah selesai pemotretan dan akan pulang ke apartemen, tapi bukan berarti Nathan memang ingin menemuinya. Itu hanya alasan Nathan saja karena semuanya serba kebetulan. Cynthia melirik Nathan lalu ia pun membaca pesan tersebut dan percaya dengan ucapan yang anaknya katakan tadi
"Ya sudah Mama minta maaf, sekarang kamu boleh pulang, temui istri kamu, jaga dia baik-baik. Dan satu lagi bilang sama Clara suruh dia mengurangi sesi pemotretannya, dia juga harus menjaga kandungannya itu. Mama tidak mau kandungannya kenapa-napa karena Clara kecapean bekerja. Kamu ingat itu pesan Mama," kata Cynthia.
Nathan memutar bola matanya malas, tentunya ia sangat enggan untuk berbicara seperti itu kepada Clara, terlebih lagi Clara hanya berpura-pura hamil. Bagaimana jika mamanya tahu bahwa Clara itu hanya bersandiwara? Sedangkan memang mereka saat ini sedang mengusahakan anak dari rahim Dinda, meskipun Clara juga sudah menginginkan untuk mempunyai anak langsung dari rahimnya sendiri. Entah angin apa yang membuat Clara berubah pikiran seperti itu setelah apa yang telah Nathan lakukan kepada Dinda. Belum lagi soal penyelidikannya terhadap Clara, semua itu masih menjadi tanda tanya di dalam hati Nathan.
Setelah menyalami orang tuanya itu dan tak lupa pula mengecup keningnya bak seorang kekasih, Nathan pun segera saja melangkahkan kakinya hendak pergi.
"Kamu hati-hati ya Sayang," kata Cynthia.
"Iya Ma," jawab Nathan.
__ADS_1
"Kalau sudah sampai di apartemen kabarin Mama ya. Mama akan bertanya juga sama Clara langsung, jadi kalau kamu membohongi Mama, Mama akan tahu. Jangan berani-berani untuk menemui Dinda lagi Nathan," pesan Cynthia.
Nathan sama sekali tidak menggubrisnya, ia langsung saja pergi meninggalkan rumah orang tuanya itu.
*****
Nathan terpaksa mengurungkan niatnya untuk bertemu dengan Dinda, kali ini dia lebih memilih untuk langsung pulang ke apartemen karena ada hal penting juga yang harus ia bicarakan dengan Clara dan menurutnya masalah ini harus cepat selesai.
Setibanya di apartemen, saat itu Clara sudah menunggunya dengan pakaian dinas yang sangat menggoda iman pria normal seperti Nathan. Tetapi bukannya menyukainya, Nathan malah memarahi sang istri yang menggunakan pakaian yang sangat tidak sopan menurutnya.
"Cepat ganti pakaianmu, kau mau menggodaku dengan memakai pakaian kurang bahan seperti itu? Aku tidak tertarik denganmu!" Bentak Nathan.
Clara mengernyitkan dahinya, "Apa? Pakaian kurang bahan?" batinnya.
"Heh, cantik apanya? Aku tidak suka kau memakai pakaian itu di dalam rumah ini," kata Nathan.
"Memang apa salahnya Nathan? aku memakai pakaian ini untuk suamiku, di depan suamiku dan kita harus melakukannya malam ini," kata Clara.
"Kau terlalu percaya diri Clara, apa kau pikir aku akan menyentuhmu," hardik Nathan.
"Ya kau harus menyentuhku, kau lupa jika aku sudah mengatakan kepada Mama kalau aku ini sedang hamil, jadi kau harus menghamiliku dengan segera," kata Clara.
"Apa kau lupa dengan perjanjian kita? Bukankah kau sendiri yang mengatakan jika Dinda tidak hamil juga bulan ini, baru kita akan melakukannya, sedangkan saat ini belum ada tanda-tanda bahwa Dinda hamil atau tidak," kata Nathan.
"Lalu kapan kau akan memastikan wanita itu hamil atau tidak?" Tanya Clara.
__ADS_1
"Satu minggu, beri aku waktu satu minggu lagi untuk membuktikan Dinda hamil atau tidak," jawab Nathan
"Oh jadi namanya Dinda? Pelayan restauran itu namanya Dinda, cocok. Oke, aku akan memberimu waktu satu minggu. Tapi ingat dengan janjimu Nathan, kalau wanita itu tidak hamil kita harus melakukannya, aku janji akan segera hamil anakmu. Aku akan ikut program hamil agar kita segera memiliki anak," kata Clara.
Rasanya sangat enggan melayani istri yang sama sekali tidak dicintainya itu, tapi mau bagaimana lagi memang Clara lah istri sahnya dan seharusnya ia mempunyai anak dari rahim istrinya bukan orang lain.
"Sudahlah aku mau ke kamar, aku lelah dan ingin beristirahat. Kalau kau masih mau memakai pakaian kurang bahan itu terserah kau saja, tapi lebih baik di dalam kamarmu, jangan berkeliaran di luar kamar," kata Nathan, lalu ia segera saja meninggalkan Clara menuju ke kamarnya.
"Well, sekarang kau bisa menolakku. Walaupun aku tahu Nathan sebenarnya kau itu sangat tergoda melihat tubuhku, kau hanya terlalu naif padahal wanita itu bukan siapa-siapa. Lihat saja apa yang akan aku lakukan terhadap wanita itu, aku pastikan dia tidak mungkin hamil, aku tidak mungkin membiarkan wanita lain mengandung anakmu," gumam Clara dengan tatapan tajam.
*****
"Dinda, apa kamu yakin benar-benar yakin ingin resign?" Tanya Jeny yang terlihat sangat sedih saat Dinda mengatakan akan berhenti dari pekerjaannya.
"Iya Jen, aku yakin. Aku benar-benar sudah sangat lelah. Kamu tahu sendiri kan bagaimana Gery masih saja mencoba untuk mendekatiku, aku tidak mau terkena masalah lagi, aku tidak mau orang tua Gery salah paham lagi dan akan semakin membuat hidupku dan keluargaku menderita. Lebih baik aku memilih untuk menjauh daripada hal itu terjadi lagi," kata Dinda dengan sangat yakin.
Sebenarnya bukan hanya masalah itu saja yang membuatnya ingin menjauh, tetapi ia tidak mungkin menceritakan masalahnya dengan Natan kepada Jeny meskipun Jeny adalah sahabatnya. Biarlah hanya ia dan Nathan yang tahu masalah ini.
"Dinda, aku benar-benar sedih karena harus berpisah denganmu," ucap Jeny dengan matanya yang berkaca-kaca sembari merangkul tubuh sahabatnya itu.
"Jen jangan sedih seperti itu dong, aku jadi ikut sedih," ucap Dinda yang sebenarnya juga sangat sedih harus berpisah dengan sahabat baiknya.
"Gimana aku nggak sedih Din, kamu bukan hanya memutuskan untuk resign dari restauran ini, tapi kamu juga akan meninggalkan kota ini. Aku pasti akan sangat kehilangan kamu," ucap Jeny.
...……… Bersambung ………...
__ADS_1