
Tidak semua anak seusia Nadine memiliki kepintaran seperti itu, tapi itulah Nadine, dia benar-benar anak genius yang berhasil Dinda lahirkan sendirian tanpa dampingan seorang suami seperti seorang wanita yang melahirkan pada umumnya. Hanya dukungan dari kedua orang tuanya lah yang membuat Dinda menjadi kuat dan semangat. Saat ini hidupnya begitu terasa sempurna dan bahagia dengan kehadiran anak geniusnya itu. Ia merasa bersyukur karena keputusannya dulu untuk mempertahankan anaknya tidak salah, meskipun hari-hari yang ia lalui pernah terasa sangat berat. Baginya saat ini, ia sama sekali tak membutuhkan seorang suami di sampingnya asalkan ia selalu bisa bersama dengan anaknya itu.
"Sayang, Mama nggak sedih gara-gara itu kok. Maafkan Mama ya karena udah bikin kamu sedih karena tidak memiliki seorang ayah," ucap Dinda pula.
"Ma, nggak apa-apa kok. Nadine juga udah bahagia hidup bersama Mama, Nenek dan Kakek. Nggak apa-apa kok kalau gak ada Papa, yang penting kita doakan aja ya Ma semoga Papa di sana bahagia. Kata Bu Guru kalau orang yang udah meninggal itu tempatnya di surga, Papa pasti senang deh Ma di sana banyak bidadarinya," ucap Nadine dengan dengan wajah polosnya dan tersenyum.
Dinda terharu, lalu meraih tubuh mungil anaknya itu di dalam pelukannya. Hatinya terasa sakit mendengar ucapan dari sang anak, apakah ia berdosa karena sudah mengatakan kepada Nadine jika ayahnya sudah meninggal padahal masih hidup?
*****
"Keenan no Keenan, stop! Sudah Mami katakan jangan lari-lari, kamu bisa jatuh. Kenapa kamu sama sekali tidak mendengar ucapan Mami sih, kamu itu sudah besar, kenapa kamu susah sekali untuk diatur," kata Clara karena anaknya itu berlarian mengajaknya untuk main, Keenan sama sekali tak mau mendengar ucapannya.
Clara yang merasa sangat kesal itu pun segera menghampiri sang anak lalu mencubit kakinya dengan kuat.
"Aduh … hu … hu … hu … sakit, sakit Mi," Keenan menangis dan merintih kesakitan.
Nathan yang saat itu baru saja pulang dari kantor sangat terkejut mendengar tangisan Keenan, lalu menghampiri mereka berdua.
"Papi … !" Teriak Keenan dan berlari menghampiri Nathan. Nathan pun segera saja membentangkan kedua tangannya lalu memeluk anaknya itu.
__ADS_1
"Sayang Papi, kamu kenapa?" Tanya Nathan.
"Sakit Pi," jawab Keenan dengan linangan air matanya.
"Ada apa sih Clara? Kenapa kamu selalu saja mengajak Keenan ribut. Apa kamu sama sekali tidak bisa akur dengan anak kamu sendiri?" Tanya Nathan.
"Anak kamu nih, sama sekali tidak pernah dengar kalau diomongin sama Maminya. Tapi coba saja kamu yang ngomong, pasti Keenan selalu nurut," hardik Clara.
"Hu … hu … sakit Pi," Keenan kembali merintih sembari memegang kakinya.
"Apa yang sakit Sayang?" Tanya Nathan.
Saat itu Nathan melihat memang di kaki Keenan terdapat bekas merah akibat dari cubitan Clara.
"Ngadu saja bisanya, anak laki-laki kok cengeng," gerutu Clara.
"Diam kamu!" Bentak Nathan. "Kamu ini benar-benar keterlaluan ya, kalau kamu memang marah terhadap anak, jangan menyakitinya seperti ini. Kasih dia pengertian, omongin baik-baik. Kalau dia tidak mau dengar dan kamu mau cubit, cukup pelan saja sebagai peringatan, tidak sampai berbekas seperti ini. Kenapa kamu tega sekali terhadap anak kamu sendiri Clara. Dia ini masih kecil, sikapnya juga tergantung bagaimana kamu mengajarinya."
"Kalau dia mau menuruti ucapanku, aku juga tidak akan melakukan hal itu Nathan, aku ini sudah capek bekerja, pulang ke rumah harus urus anak, urus rumah, bagaimana coba aku tidak stress. Kamu juga melarang aku untuk mencari pembantu, apalagi pengasuh," keluh Clara.
__ADS_1
"Kamu ini benar-benar keterlaluan ya. Kita hanya tinggal di apartemen ini bertiga, tapi kamu membutuhkan ART dan pengasuh, lalu apa gunanya kamu sebagai seorang ibu? Kamu sendiri kan yang salah, dulu kamu bilang tidak mau lagi menjadi model, tapi nyatanya setelah Keenan berusia 2 tahun kamu malah menggeluti dunia itu lagi. Itu kesalahan kamu sendiri, apa kamu tidak merasa puas dengan menitipkan Keenan kepada Mamaku seharian? Hanya malam hari saja waktu kita bersama dengannya. Kamu sama sekali tidak bisa mengurusnya dengan baik," kata Nathan.
"Ah sudahlah aku capek, urus saja anakmu itu," kata Clara lalu masuk ke dalam kamarnya.
Nathan hanya geleng-geleng kepala saja melihat kelakuan sang istri, ia yang mengira Clara benar-benar sudah berubah ternyata sifat buruknya itu kembali lagi bahkan semakin menjadi-jadi sejak dia kembali pada dunianya.
Lalu Nathan pun menggendong Keenan Edward Collin, anak lelaki tampan berusia 5 tahun yang memiliki perawakan sempurna dan lebih dominan mirip ke ibunya, hanya hidungnya saja yang mancung persis seperti Nathan, tetapi wajahnya itu tidak ada kemiripan dengannya.
"Sudah ya Sayang, kamu jangan nangis lagi. Sekarang kita ke kamar kamu ya, Papi bacakan kamu dongeng sebelum tidur, gimana?" Kata Nathan mencoba menghibur sang anak. Sehingga Keenan pun menjadi diam dan merasa tenang berada di gendongan ayahnya.
Keenan mengangguk dan tersenyum. Anak seusia Keenan tentunya dapat merasakan kasih sayang yang sebenarnya dari orang-orang di sekitar, ia sendiri dapat merasakan jika ibunya itu tidak menyayanginya. Ia selalu saja dimarahi saat ayahnya itu tidak berada di rumah.
Begitulah kisah rumah tangga Nathan dan Clara. Pada awalnya dengan kelahiran Keenan membuat hubungan keluarga mereka harmonis, sejak Clara memutuskan untuk menjadi seorang ibu di rumah. Akan tetapi semuanya berubah semenjak ia kembali lagi ke dunia modeling, karena menurutnya mengurus anak di rumah itu sama sekali bukan keinginannya, hidupnya terasa sangat membosankan. Ia pun terlihat tidak menyayangi anaknya sendiri, karena bagaimanapun itu adalah anak dari hasil hubungannya dengan pria yang dulu pernah menyakiti hatinya. Jika bukan karena waktu itu ia sudah hamil duluan dan karena permintaan ibu mertuanya yang ingin memiliki cucu, sudah pasti ia tidak akan pernah mau untuk memiliki anak. Terbukti setelah kelahiran Keenan, Clara langsung saja mengikuti program KB agar dia tidak hamil lagi. Karena hubungannya dan Nathan sudah baik-baik saja seperti layaknya orang yang berumah tangga, tentunya ia juga sudah melakukan hubungan suami istri dengan Nathan seperti halnya yang terjadi. Nathan menyetujui keinginan Clara untuk bekerja lagi karena saat itu ia berjanji akan membatasi jadwal pemotretannya hanya siang hari. Meskipun Clara menepati janjinya itu. Tetapi terkadang rasa lelahnya bekerja selalu ia bawa-bawa ke rumah dan melampiaskannya itu kepada sang anak.
Keenan sendiri sebenarnya merupakan anak yang baik, akan tetapi karena ibunya yang selalu bersikap kasar kepadanya membuat Keenan terkadang suka berbuat ulah di sekolahnya dengan mengganggu teman-temannya. Sudah beberapa kali Nathan maupun Cynthia dipanggil ke sekolah karena perbuatan Keenan. Akan tetapi itu semua tak mengubah rasa sayang mereka terhadap Keenan. Nathan sangat menyayangi Keenan meskipun ia tidak tahu keadaan yang sebenarnya, baginya Keenan adalah anak kandungnya yang sangat ia cintai.
...………… Bersambung ………...
Visual Keenan Edward Collin...
__ADS_1