Rahim Penebus Hutang

Rahim Penebus Hutang
Cemburu.


__ADS_3

Mendengar tawaran Ciara tentu saja membuat Salsa sangat senang dan sama sekali tak menolak. Apalagi ia juga tahu selain memiliki hubungan dengan Kenzie, Ciara juga cukup dekat dengan saudara kembar kekasihnya itu.


"Terima kasih banyak ya Ciara, kamu benar-benar membuatku tenang. Tapi kira-kira apa yang ingin kamu lakukan?" Tanya Salsa.


"Hm … apa ya? Kalau sekarang belum terpikir sih, tapi kamu tenang saja, nanti pasti akan aku pikirkan dan aku yakin Sersan Kenzo pasti nggak akan cuek lagi sama kamu," kata Ciara.


"Ehm … Ciara, kamu itu benar-benar sahabat terbaik aku. I love you," ucap Salsa lalu merangkul tubuh teman baiknya itu.


"Nanti kalau sudah punya pacar pasti tidak akan mengucapkan kata itu lagi deh untuk aku," ujar Ciara.


"Ck, siapa bilang. Memangnya kamu yang sudah punya pacar jadi lupa sama temanya sendiri," hardik Salsa tak terima.


"Tuh 'kan aku dibilang lupa lagi sama teman. Ya sudah deh aku nggak jadi bantu," kata Ciara yang mengerucutkan bibirnya.


"Jangan gitu dong, maaf aku hanya bercanda Dokter Ciara. Jadi 'kan bantu aku, Dokter Ciara 'kan baik hati dan cantik," rayu Salsa.


"Ya jadi dong," jawab Ciara, lalu keduanya pun saling melemparkan senyuman.


*****


Saat sedang berada di ruang istirahat, Kenzo tampak duduk sendirian dan melamunkan sesuatu. Entah apa yang ada di dalam lamunannya saat ini, hanya dialah sendiri yang tahu. Hingga di saat itu pun ada salah satu temannya yang masuk ke dalam ruangan tersebut tetapi Kenzo sama sekali tak menyadari.


"Sersan Kenzo," panggil seorang pria bernama Farid yang berprofesi sama dengan Kenzo dan juga termasuk teman baiknya.


Karena tak digubris oleh temannya itu, membuat Farid pun menyentuh pundak Kenzo sehingga pria tersebut tersentak dan reflek menarik tangan Farid.


"Ampun, ampun Sersan Kenzo … ," pekik Farid yang merasa kesakitan.


"Maaf Sersan Farid, kamu benar-benar mengagetkanku. Aku pikir tadi siapa. Ada tanganmu sakit?" Tanya Kenzo.


"Sudahlah tidak usah kaku seperti itu, hanya kita berdua saja di sini. Aku juga baik-baik saja. Oh ya Kenzo, yang aku lihat sepertinya kamu sedang melamun. Apa yang sedang kamu pikirkan? Padahal saat ini kamu sedang tidak ada tugas 'kan," tanya Farid.


"Iya, justru karena tidak ada tugas itu yang membuatku sangat bosan. Kamu sendiri bagaimana, kasus yang sedang kamu tangani sudah selesai?" Tanya Kenzo.


"Belum, masih ada waktu satu hari lagi dan besok aku akan menyelidikinya kembali," jawab Farid.


"Oh … seperti itu. Oh iya aku mau tanya apakah kamu pernah mencintai seseorang tapi wanita itu sudah memiliki kekasih? Bahkan kekasihnya itu adalah orang terdekat kamu sendiri," tanya Kenzo yang memberanikan diri untuk bertanya, karena menurutnya juga tidak baik jika memendam perasaan ini sendiri yang rasanya membuatnya begitu tersiksa.

__ADS_1


"Kenzo, apa aku tidak salah dengar? Kamu bertanya padaku masalah cinta, ini aku benar-benar tidak sedang bermimpi 'kan?" Tanya Farid.


"Kamu tidak bermimpi Farid, ini aku benar-benar Kenzo yang menanyakan hal ini. Memang apa salahnya?" Tukas Kenzo.


"Karena kamu itu sama sekali tidak pernah membahas soal ini sebelumnya," kata Farid.


"Ya sudah jika kamu tidak mau menjawabnya," kata Kenzo yang mengalihkan pandangan dari temannya itu.


"Oke, oke, ya aku memang pernah mengalami hal seperti itu. Dia adalah kekasih sahabatku sendiri," jawab Farid.


"Lalu apa yang kamu lakukan, apakah wanita itu yang menjadi istrimu sekarang?" Tanya Kenzo.


"Bukan, justru karena wanita yang dulu aku cintai sudah berpacaran dengan sahabatku, aku mencoba untuk melupakannya. Meskipun sangat sulit tapi pada akhirnya aku mencintai wanita yang sekarang menjadi istriku," kata Farid.


"Kenapa kamu tidak pernah menceritakan padaku sebelumnya?" Tanya Kenzo.


"Apa kamu mau mendengarkannya Ken? Bahkan kamu sendiri saja tidak pernah berpacaran. Tetapi sekarang ini aku merasa curiga, apa kamu sedang mengalami hal seperti itu?" Tanya Farid menatap penuh curiga.


"Tidak, itu temanku kemarin yang bertanya. Aku tidak paham, seperti yang kamu katakan tadi jika aku tidak pernah berpacaran." Kenzo mengelak.


"Sejak kapan kamu peduli dengan urusan percintaan orang lain Ken. Kamu yakin, kamu tidak sedang berbohong padaku 'kan?" Tanya Farid.


Terdengar suara ketukan pintu dan juga terlihat seseorang yang memberikan hormat kepada keduanya, begitu juga dengan Farid dan Kenzo yang membalas memberi hormat.


"Maaf, Sersan Kenzo dicari Komandan Andreas dan sekarang juga harus menghadap padanya," kata salah satu Polisi Magang yang menghampiri keduanya.


"Baiklah, terima kasih. Saya akan ke sana sekarang," ucap Kenzo.


"Tidak usah dibahas lagi. Aku mau bekerja dulu," kata Kenzo yang menepuk pelan pundak temannya itu, lalu ia pun pergi meninggalkannya.


*****


"Hai, kamu lagi apa. Sudah makan belum?" Tanya Kenzo yang menghubungi sang kekasih lewat telepon.


"Hai juga, aku lagi rebahan aja di kasur. Hm … makan sudah kok satu jam yang lalu. Kamu sendiri?" Tanya Ciara dari seberang telepon.


"Aku lagi telepon pacar dan baru saja selesai makan," jawab Kenzie.

__ADS_1


"Syukurlah kalau begitu. Tapi ada apa kamu menghubungiku?" Tanya Ciara.


"Memangnya nggak boleh kalau menghubungi pacarnya sendiri? Aku 'kan kangen sama kamu," imbuh Kenzie.


"Gombal banget sih, bukannya tadi di rumah sakit kita sudah ketemu," ujar Ciara malu-malu.


"Siapa yang gombal, ini beneran Sayang. Kalau di rumah sakit itu beda dong Ra, hanya soal pekerjaan saja. Kapan ya kira-kira kita ada waktu untuk berkencan, sepertinya sangat sulit," kata Kenzie.


"Kapan ya? Itu tergantung waktunya saja dan kapan kita mau," ujar Ciara yang memberi kode dan tersenyum.


"Nanti kita atur ya. Oh ya Ra sebenarnya aku menelponmu karena ada yang ingin aku katakan juga," kata Kenzie.


"Oh ya, ada apa Ken?" Tanya Ciara.


"Jadi dua hari lagi itu acara anniversary pernikahan orang tua aku, mereka mau merayakannya di hotel. Kamu ikut ya, kamu 'kan pacar aku. Mama juga sudah mewanti-wanti kalau aku harus membawa kamu ke acara itu," ajak Kenzie dengan penuh harap.


"Bukannya aku nggak mau, tapi pasti ramai 'kan nanti di sana. Ada rekan bisnis Papi kamu, ada keluarga besar kamu, aku malu Ken," ungkap Ciara yang tidak percaya diri.


"Nggak perlu malu Ra, justru aku ingin seluruh dunia tahu kalau kamu itu pacarnya aku," kata Kenzie yang membuat Ciara begitu senang mendengarnya.


"Hm … iya deh. Ada Kenzo juga 'kan di acara itu?" Tanya Ciara.


"Ya tentu sajalah Sayang. Masa iya tidak ada Kenzo, 'kan Kenzo itu saudara kembarku," kata Kenzie.


"Iya juga ya, kenapa aku malah memberikan pertanyaan bodoh seperti ini. Bagaimana kalau aku ajak Salsa juga? Waktu itu 'kan aku pernah bilang sama kamu kalau sepertinya Salsa itu menyukai Kenzo, jadi ini adalah kesempatan kita untuk mendekatkan mereka. Aku sudah pernah bilang sama Kenzo jangan cuek-cuek sama Salsa tapi sepertinya Kenzo sama sekali nggak mau mendengarkanku," kata Ciara karena tiba-tiba muncul ide di dalam otaknya itu.


"Wah … kamu benar juga, lagi pula aku kasihan melihat saudara kembarku itu jomblo terus. Kalau begitu kamu ajak Salsa ya, bilang saja aku yang undang." Kenzie menyetujuinya.


"Oke kalau begitu, nanti aku akan menyampaikannya. Ya sudah aku mau tidur dulu ya, aku sudah ngantuk," ucap Ciara.


"Iya, aku juga mau tidur. Selamat tidur dan mimpi indah ya Sayang, i love you," ucap Kenzo.


"Selamat tidur juga Sayang, i love you too," balas Ciara mengakhiri telepon tersebut.


Lalu Kenzo dan Ciara sama-sama memeluk ponsel mereka dan tersenyum karena merasa sangat bahagia. Setelah itu meletakkan ponsel di atas nakas dan memejamkan mata hingga terlelap.


Ternyata di saat itu Kenzo kebetulan lewat dan mendengar ucapan terakhir Kenzo yang sedang menelpon Ciara. Yang membuatnya merasa cemburu tetapi tidak bisa berbuat apapun, hingga Kenzo pun masuk ke dalam kamar dengan perasaannya yang tidak tentu arah.

__ADS_1


Bersambung …



__ADS_2